Ayunda Syaharani

Ayunda Syaharani
Cobalah dulu!


__ADS_3

"Ini pengarangnya siapa Raffa?"


Raffa membalikkan buku itu menampakkan cover buku itu dan menunjukkan nama pengarangnya.


"MasyaAllah, Ayunda?" Mama Raffa sangat salut,


"Sebentar deh ... ini kan buku yang tadi kamu beli


waktu pameran buku, berarti tadi Ayunda ikut pameran buku di sana?"


"Iya Ma." Raffa bangkit dari duduknya di taman itu dan berbaur bersama Murad dan grandpa nya yang sudah cukup kelelahan bermain dengan cucunya yang cukup aktif itu.


"Hei! Sini jagoan Daddy, ayo ikut Daddy!"


"Enggak mau Daddy. Murad masih pingin maen sama Granpa."


"Hayo, mau lari ke mana kamu anak manis? Granpa akan tangkap kamu." goda Papa Raffa kepada cucunya yang makin senang dan tertawa karena kakeknya tak henti bermain kejar-kejaran.


Melihat hal yang ada di depannya sekarang, Raffa merasa akan sulit untuk Raffa menarik hati putranya itu.


Ia kembali duduk di kursi taman itu bersama sang Mama yang masih asik dengan buku yang ditunjukkan Raffa padanya.


Sembari duduk Raffa memantau putranya dari kursi taman tempat di mana ia duduk bersama Mamanya.


Sudah cukup sore mereka pun berniat untuk kembali pulang. Adzan ashar telah berkumandang Raffa dan keluarga pun berhenti di sebuah masjid yang terletak di kiri jalan dari arah mereka.


Acara pameran sudah selesai beberapa jam yang lalu.


Mereka keenam sahabat itu, sedang dalam perjalanan kembali ke hotel. Mengetahui sudah masuk waktu Ashar mereka pun membelokkan mobil ke sebuah masjid yang terletak di kiri dari arah mereka.


Adzan berkumandang dengan syahdunya.


Para jamaah berdatangan untuk turut shalat jama'ah di masjid.


Ayunda dan sahabatnya telah turun, sebagian mereka juga sudah menuju tempat wudhu. Sedangkan untuk Ayunda sendiri, ia masih tengah membereskan beberapa barangnya di mobil itu. Saat sudah selesai membereskan barangnya, Ayunda berniat keluar menyusul sahabatnya, namun saat masih di luar masjid, Ayunda mendapati seorang anak kecil yang cukup tak asing lagi bagi Ayunda.


"Hai Murad sayang!"


Ayunda menyetarakan posisinya dengan Murad.


"Daddy kamu di mana sayang? Kenapa kamu sendirian di sjni?"


.


"Daddy sama granpa, Murad sama Grandma"

__ADS_1


"Tante temenin kamu cari Grandma kamu yaa? Biar kamu aman."


"Ayo sini, tante gandeng kamu!"


Tangan keduanya itu pun saling memegang. Murad pun tampak begitu nyaman dan senang dengan seorang wanita yang menggandengnya saat ini. Sementara itu, Grandma yang tengah mencari di mana keberadaan cucunya kini tak lagi khawatir, cucunya dalam genggaman orang baik yang pernah dikenalnya dan selalu ia do'akan dalam sujudnya. Tanpa tunggu lama, Mama Raffa sebagai grandma langsung menuju ke tempat Ayunda bersama Murad yang sedang celingak-celinguk mencari dirinya.


Dari arah belakang, seseorang memegang bahunya. Ia pun tau kini siapa orang itu,


"Murat sayang ... lihat siapa ini!" Ayunda yang masih ingat betul dengan wajah Mama Raffa langsung mengangguk dan tersenyum ramah. Ya bagaimana ia tak mengenali wanita yang berada


di depannya saat ini. Wanita yang pernah berkata akan selalu mendoakannya di setiap sujudnya.


"Grandma" merentangkan kedua tangannya dan memeluk grandmanya.


"Ayunda? Kamu Ayunda kan, Nak?" memastikan kembali.


Seraya mengulurkan tangan ingin berjabat tangan Ayunda menyakinkan bahwa memang benar ia adalah Ayunda.


"MasyaAllah makin cantik aja, kamu Nak!"


"Terima kasih Tante."


Tanpa basa basi dan tanpa tunggu lama sebuah pertanyaan pun keluar begitu saja dari mulut Mama Raffa,


"Ayunda, kamu sudah menikah. Nak? Maksudnya gini, Tante ingin tau suami kamu kalau kamu memang sudah menikah. Dalam setiap sujud Tante, Tante selalu berdoa yang terbaik untukmu, Nak Ayunda."


Seulas senyum penuh makna terpampang nyata di sudut pipi Mama Raffa. Ayunda sendiri yang tau itu kurang tau akan maknanya tapi seperti menyiratkan do'a dan harapan besar di dalamnya.


Sudah iqamah mereka segera memasuki masjid sebelum tertinggal shalat berjamaah.


Malam sudah menghampiri, pertanda waktu istirahat sudah dimulai.


Ayunda bersama Hanum, Hanum sudah nampak tidur lebih dulu karena sangking capeknya. Ayunda? Ayunda sedang menatap jendela hotel yang memperlihatkan indahnya pemandangan kota M dari hotel dimana ia berpijak saat ini.


"Murad? Dia anaknya pak Raffa. Mereka begitu mirip, sama-sama tampannya."


"Andai saja ... Astaghfirullah." Ayunda yang sadar tak seharusnya ia berandai-andai Murad menjadi anaknya bersama Raffa, sudah jelas-jelas Raffa tidak berjodoh dengannya. Ia harus bisa menerima kenyataan itu, ia harus ikhlas melepaskan semua itu. Melupakan tak semudah membalikkan telapak tangan. Ayunda ingat betul kalimat itu karena pada kenyataannya memang begitu yang ia rasakan juga.


"Pak Raffa, memang sendiri sekarang. Tapi bukan berarti aku bisa dan pantas masuk dalam hidupnya? Ya walaupun jika ada kesempatan hatiku menginginkan."


Ayunda menggalau.


Kemudian mengobati kegalauannya dengan membaca Ayat suci Al-Qu'ran.


Di sisi lain,

__ADS_1


Mama Raffa mengatakan perihal pernikahan kepada putra semata wayangnya itu.


"Menikah? Menikah sama siapa Ma? Raffa belum,"


"Kenapa kamu belum siap Raffa? Kamu enggak kasian sama anakmu? Dia butuh kasih sayang seorang Ibu, dia butuh sosok Ibu. Dan kamu, kamu juga butuh sosok yang akan mengurus kamu lahir dan batin." Mama Raffa, "Usia Papa dan Mama sudah semakin tua, Raffa. Kami ingin melihat kamu memulai hidup baru lagi."


"Ma, enggak semua wanita berhati tulus. Bagaimana kalau mereka hanya mencintai Daddy nya Murad, tapi tidak dengan Murad? Raffa tidak bisa Ma."


"Raffa tidak semua wanita seperti itu, sayang." Mama Raffa menegaskan. Kemudian meneruskan apa yang ingin diutarakannya dengan pelan dan halus.


"Ada seorang wanita, yang Mama yakin dia akan mampu mencintai Murad dengan tulus sama seperti dia mencintai kamu dengan tulus"


"Mama ngomong apa sih Ma? Siapa yang mencintai Raffa dengan tulus?"


"Sayang kamu ingat buku yang kamu tunjukkan pada Mama tadi, Mama tadi bertemu dengan penulisnya."


"Jadi, maksud Mama Ayunda?"


Mama Raffa mengangguk bahagia, sedangkan Raffa teringat akan bayangan Ayunda yang tampak akrab dengan seorang laki-laki saat berada di pameran buku siang tadi. Dan adegan keakraban itu melintas begitu saja dihati dan fikiran Raffa. Sehingga tadi siang, karena melihat pemandangan itu, Raffa memilih untuk mundur saja.


"Sudahlah Ma. Ayunda pasti sudah menemukan cintanya hari ini. Dia pasti sudah memulai hidup baru. Tiga tahun sudah berlalu Ma."


"Kamu salah Raffa, sudah gitu sok tau pula menebak kisah hidup seseorang." celetuk Mama Raffa dengan santainya.


"Raffa dengarkan Mama! Ayunda belum menempuh hidup baru atau hal semacamnya yang kamu fikirkan."


"Mama deh yang keliatannya sok mengerti ini ..."


"Beneran Raffa, Mama emang tau dan ngerti. Tadi Mama sendiri yang menanyakannya pada Ayunda. Bahkan dia minta di do'akan agar lekas dipertemukan dengan sosok yang terbaik untuknya."


Raffa diam termenung. Jujur saja ia menginginkan hal yang dimaksud Mamanya itu, tapi disatu sisi Raffa sadar siapa dirinya, ia adalah Daddy dengan seorang anak.


"Tapi Ma, Raffa enggak yakin kalau Ayunda masih mau sama Raffa."


"Ya Walaupun kami sempat bertemu dan dari netranya seakan-akan berkata bahwa ia masih menaruh rasa tapi itu hanya penafsiranku sendiri, Ya Allah" batin Raffa.


"Ayolah Raffa, Cobalah dulu!"


"InsyaAllah Ma, lusa Raffa akan bersilaturahmi ke kediaman Bu Yeni, jadi sekalian saja Raffa menyampaikan niat Raffa"


"Mama yakin Raffa pada pertemuan kali ini, kalian insyaallah akan dipersatukan dalam kehalalan"


Raffa hanya tersenyum menanggapi Mamanya.


Dalam hatinya mengaaminkan dengan kesungguhan ucapan Mamanya.

__ADS_1


~


__ADS_2