
Dari suatu arah seorang laki-laki dengan cukup terburu-buru serta dengan nafas terengah-engah memanggil dan menghampiri Ayunda yang masih berada diluar mobil bersama Mas Rey setelah menata beberapa karangan bunga yang Ayunda dapat ke dalam mobil.
"Ayunda ... Ayunda. Tunggu aku!"
Mendengar kalimat perintah itu mereka (adik dan kakak) berhenti diam di situ menunggu sang pemangil tadi sampai ke mereka. Tak dapat dipungkiri mereka berdua juga amat ingin tau apa yang ingin laki-laki itu sampaikan pada Ayunda.
"Selamat Ayunda atas kelulusanmu dengan gelar Cum laude yang kamu peroleh"
"Terimakasih Robbi, Selamat untuk kelulusanmu juga!"
"Dan ... ini buat kamu Ayunda," Robbi memberikan setangkai bunga mawar bersama coklat kepada Ayunda dengan wajah yang ia pun malu-malu sendiri,
"dari aku ... Robbi."
"Wah! Terimakasih banyak Robbi," Ayunda menerima bunga dan coklat pemberian Robbi,
"sebenarnya kamu enggak perlu repot-repot gini loh, Robb."
"Tidak juga Ayunda, aku malah seneng. Jangan lupa coklatnya dimakan!"
"Iya, nanti saya akan bantu Ayunda untuk memakan coklatnya. Kamu tenang saja!" Reyhan mengatakan itu dengan santai dan seenaknya.
"Jangan terlalu dimasukin hati omongan Kakakku. Nanti, pasti aku makan kok. Sekali lagi terimakasih."
Robbi yang merasa sangat senang dengan perkataan dan pembelaan Ayunda padanya, kini tengah senyam-senyum sendiri dengan salah tingkah. Kemudian ia berlalu pergi dari Ayunda dan Raffa.
"Itu siapa sih, Ayunda?"
"Temen sekelasku Mas Rey."
"Kayaknya dia ada perasaan deh sama kamu"
"Sudahlah, Mas. Rey jangan dibahas! Jangan lupa nanti coklatnya Mas Rey makan!"
Adik kakak itu dibuat tertawa dengan setangkai mawar dan coklat Silver **** dengan ukuran mini yang diberikan oleh Robbi untuk Ayunda. Belum lagi tingkahnya yang malu-malu sendiri saat memberikannya.
Masih asik bercanda dan tertawa seorang wanita berumur 43 tahunan yang merasa mengenal adik kakak yang sedang asik itu mencoba mendekati mereka seraya memastikan apakah adik kakak itu adalah Ayunda dan Reyhan atau bukan.
"Reyhan? Ayunda?" Sapa Bu Yeni sekaligus memastikan.
"Assalamu'alaikum Bu Yeni" Ayunda membalas.
"Tumben Kakakmu ikut ke kampus kamu, Ayunda?"
"Ini Bu Yeni soalnya tadi habis sidang skripsi dan ternyata banyak banget yang kasih karangan bunga dan aku juga bawa karangan bunga buat temen-temenku, jadi makanya Mas Rey ke sini."
"Bu Yeni ucapkan selamat untuk kelulusan kamu, Nak Ayunda!"
Ayunda membalas ucapan selamat dari Bu Yeni dengan begitu ramah.
"Enggak nyangka yaa, sudah berjalan empat tahun saja" tutur Bu Yeni merasa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin ia bertemu dengan gadis di depannya itu, apalagi pertemuan itu terjadi saat ada Raffa bersamanya.
__ADS_1
"Ah, Nak Raffa. Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik untukmu" batin Bu Yeni yang tiba-tiba teringat Raffa dan kehidupan yang harus dijalani Raffa setelah tiga tahun berlalu dan kini berjalan empat tahun.
"Iya Bu, benar sekali!" Membalas pernyataan Bu Yeni yang menegaskan bahwa waktu berjalan dengan begitu cepat.
"Kira-kira setelah lulus rencananya mau apa, Nak Ayunda?" Bu Yeni masih asik bertanya,
"lanjut S 2 atau nikah dulu saja?"
"Pinginnya keduanya, Bu. Tapi, kalau di depan sana nanti dipertemukan dengan jodoh saya, insyaAllah nikah dulu sajalah, Bu. Bagaimana pun Rasulullah SAW sangat senang dengan umat-Nya yang mengikuti sunnah-sunnah beliau SAW."
"Semoga lekas dipertemukan dan dipersatukan. Aamiin"
Ayunda dan Reyhan ikut mengaamiinkan setelah itu mereka pergi untuk kembali pulang.
Bu Yeni masih menatap kepergian Ayunda bersama Reyhan. Dalam hati ia berdo'a semoga di masa mendatang ini, Ayunda adalah pengganti yang lebih baik yang Allah siapkan untuk seorang laki-laki yang amat dia sayangi seperti anaknya sendiri.
~
Malam harinya di sebuah rumah tepatnya di kota M.
Seorang anak laki-laki dengan usia sekitar 3 tahun, begitu bahagia saat mengetahui orang yang paling ditunggu anak laki-laki itu telah kembali pulang.
Dengan penuh kegembiraan anak kecil itu berhambur ke pelukan orang yang paling ditunggunya itu.
“Daddy” panggilnya dengan memeluk.
“Oh! Hai lihat jagoan Deddy, udah makan belom sayang? ” ucap laki-laki itu, seolah-olah berbicara dengan bayi berusia 3 tahun itu, kemudian selangkah menghampiri wanita yang telah susah payah seharian menjaga bayi berusia tiga tahun.
“Udah makan Nak? Udah?” tanyanya lagi dengan duduk diantara wanita dan laki-laki yang sudah semakin mendekati lanjut usia, walaupun begitu alhamdulillah mereka diberikan kesehatan selalu oleh Allah.
Meskipun ada Baby sister yang membantunya karena masih berusia 3 tahun sulit untuk melepaskan cucu kesayangannya itu ke baby suster begitu saja.
“Iya sudah deddy. Murad sudah makan, sudah minum susu juga tadi, sama grandma”
“Bagus, anak pinter!” mencium anak itu dengan menyatukan hidung mereka yang sama-sama mancungnya
“Tapi, nanti Murat mau tidurnya sama Deddy”
“Iya donk sayang, nanti kita tidur bersama. Deddy bersih-bersih dulu. Okay?”
Anak kecil bernama lengkap *Muhammad Akhtar Murad al-Ghifari* itu pun mengangguk dengan penuh semangat.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00.
Sudah saatnya untuk si kecil untuk tidur, dengan dilantunkan shalawat oleh sang Deddy tak butuh waktu lama anak kecil bernama Murat itu pun tidur dengan nyenyak.
Lelaki yang dipanggil Deddy itupun mencium kening Murat dengan begitu lembut dan dalam. Sekejap saat ia memejamkan matanya saat mencium kening Murat tampak ada sebuah bayangan yang ikut hadir bersama mereka, spontan lelaki itu mengucapkan sebuah nama seseorang.
“Azzalia” lalu matanya nyalang mencari ke mana bayangan tadi pergi. Ia pun beristighfar dan mengambil wudhu.
Setiap melihat Murad nya setiap itu pula kalau boleh jujur lelaki itu ingin menangis. Rasanya tak sanggup membiarkan Muratnya kesepian seperti ini. Kalau sudah seperti ini, peristiwa beberapa tahun yang lalu terlintas begitu saja dihatinya.
__ADS_1
Sebuah peristiwa yang tak pernah disangka akan terjadi sesudah kebahagiaan yang hampir lengkap menyertai rumah tangganya.
Hari itu ....
“Mas, sakit Mas, sakit. Aku tidak kuat lagi. Mas,” Jerit seorang wanita di ruang bersalin beberapa tahun lalu.
"Mas, Mas tolong dengerin aku. Mas, tolong jaga anak ini kalau dia sudah lahir di dunia"
“Dokter, tolong istri dan anak saya Dok! Mereka kesakitan”
“Tolong selamatkan keduanya Dok, saya mohon!”
“Iya Pak, kami akan berusaha untuk menyelamatkan keduanya. Mohon Bapak tenang agar istri Bapak juga bisa tenang!”
“Silakan Bapak dampingi istri dan dikuatkan dan diberi dukungan”
Proses persalinan itu pun terjadi begitu saja, dengan sekuat tenaga wanita itu menarik nafasnya dan mengeluarkannya seraya mengejan dengan sekuat tenaga. Dan akhirnya setelah perjuangan yang mamakan waktu dan tenanga cukup lama, bayi mungil berjenis kelamin laki-laki terlahir di dunia. Jeritan suara tangis bayi itu membuat senyum merekah dihati sang Ayah.
Tak teringgal sang Ibu juga sempat memberikan seulas senyum pada bayinya dan setelah itu, ibu bayi tiba-tiba pingsan dan dalam kondisi kritis karena kekurangan banyak darah, hingga dimenit ke sekian sang Ibu dinyatakan syahid. Padahal waktu itu, sepasang pasutri itu sangat bahagia karena akan dikaruniai buah hati sebagai pelengkap dalam rumah tangga mereka. Namun, kembali lagi semua berjalan atas kehendak Allah. Semua yang bernyawa akan menemui ajalnya. Tak pandang muda ataupun tua itu semua sudah ada dalam Genggaman-Nya.
“Semoga Momy mu tenang di alam sana, sayang”
laki-laki yang dipanggil Daddy oleh Murad mengenang kepergian Ibu Murad.
Lelaki itu mengecup putranya sekali lagi dan setelah itu ikut tidur memeluk Murat dengan eratnya.
Dibalik pintu kamar yang ditempati Daddy dan anak itu, seorang wanita yang dipanggil Grandma oleh anak kecil yang bernama Murat tampak lega dan bahagia ketika melihat dua laki-laki beda usia itu, Ayah dan anak sudah sama-sama tidur.
Wanita yang dipanggil grandma itupun berangsur masuk ke dalam kamarnya dan sang suami.
“Gimana Ma? Sudah pada tidur?” tanya suaminya
“Alhamdulillah, sudah Pa”
“Alhamdulillah. Istirahatlah Ma, kamu pasti capek mengurus cucumu seharian”
“Iya Pa.” Menselonjorkan kakinya, kemudian suaminya memanggilnya lagi,
“Ma, sekarang usia Murad sudah tiga tahun. Apa Mama tidak ingin putra kita menikah kembali?”
“Mama pingin lah Pa. Orang tua mana sih Pa yang betah lihat anaknya sendiri terus?”
“Kalau begitu Mama cobalah berbicara dengan Daddy-nya Murad agar mau menikah lagi. Untuk kebaikan Murat dan dia juga Ma."
“Iya Pa, besok akan coba Mama bicarakan sama Raffa.”
ucap wanita yang ternyata adalah Mama Raffa.
Jadi itulah cerita kehidupan Raffa tiga tahun yang lalu.
Di saat Raffa dan Azzalia sangat berbahagia keluarga mereka akan lengkap ternyata pada saat persalinan istri Raffa yakni Azzalia harus kehilangan banyak darah sehingga dinyatakan syahid.
__ADS_1
Umur tidak ada yang tau dan tidak dapat pula ditawar. Tugas kita sekarang, sebagai manusia memperbanyak kebaikan dalam hidup kita yang cuma sekali. Dan janganlah pula diantara kita mengharapkan kematiannya karena hal tersebut tidaklah baik. Seperti hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Anas (An-Nasa'i), dalam hadis tersebut dijelaskan bahwasanya dilarang untuk kita (manusia) berharap akan kematian sebab kesengsaraan yang menimpa.
~