
Detik dan menit terus berjalan hingga jam demi jam pun berpindah dan terlewati. Berbagai suasana telah mengampiri kehidupan. Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti mempunyai masalah. Karena memang dunia adalah tempat lelah, selain itu juga tempat untuk beramal sholih dan memanen saat diakhirat apabila segala amal kita diterima di Sisi-Nya.
Harapan besar dalam hidup adalah mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Kesuksesan dunia dan akhirat. Untuk mendapatkan kesuksesan juga kebahagiaan sudah pasti memerlukan usaha keras, kerja keras, berdo'a juga amal sholih. Karena kesuksesan memang membutuhkan yang namanya proses.
Seperti yang dilakukan Ayunda sekarang ini, Ayunda banyak belajar dari pengalamannya menulis essay. Memerlukan usaha dan tekad yang kuat untuk menghasilkan satu karya tulisan yang logis dan sistematis. Tak sampai disitu sebab masih ada babak penilaian setelah proses essay pengumpulan essay itu. Babak penilaian merupakan babak kecemasan dan kepasrahan bagi Ayunda. Dia telah berusaha terlepas dari menang atau kalah ia akan ikhlas.
Dekat dengan Raffa menjadikan Ayunda lebih punya cita-cita dalam hidupnya. Menjadikan Ayunda secara pelan tapi pasti mengerti bahwa hidup tidak melulu mengurus persoalan hati tapi juga yang lain, urusan umat misalnya. Dengan membuat karya tulis ia setidaknya bisa menebar kebaikan didalamnya.
Siang itu selesai mengumpulkan karya tulis essay, Ayunda berniat untuk langsung pulang saja, tapi niat itu dicegah oleh seseorang yang cukup Ayunda kenal.
"Kak Bella" ucap Ayunda,
"Lepaskan tangan saya Kak!"
titah Ayunda cukup tegas karena tak mau kalau terjadi keributan lagi. Tau sendiri Bella biasanya seperti apa saat sedang ada maunya
"Enggak" balas Bella tegas, "Enggak akan aku lepasin"
"Terus kamu maunya apa?"
"Aku mau .... " Bella terputus-putus,
"kamu terima maafku, Ayunda!"
Ayunda merasa heran sendiri dibuatnya tak habis fikir dengan ucapan Bella barusan.
"Ayunda aku serius"
"Sudahlah Kak aku enggak apa kok. Aku sudah memaafkan Kakak jauh sebelum Kakak meminta maaf dan memperlakukan ku seperti ini"
Mata berbinar penuh rasa haru dan bahagia tercetak begitu jelas disudut mata Bella yang mendengar jawaban Ayunda. Jawaban Ayunda tadi membuat Bella kembali tenang terlepas dari rasa bersalahnya.
__ADS_1
Ayunda sudah bersiap akan pergi tapi lagi-lagi langkah nya dicegah oleh Bella. Meskipun begitu, Ayunda tetap memasang wajah sabarnya.
"Ayunda" Bella menyebut nama Ayunda, "kamu dengar berita tentang "cincin" yang dipakai pak Raffa?"
"Ah itu lagi" batin Ayunda yang rasanya cukup lelah dan tak mau memikirkan hal itu
Namun Ayunda mengangguk dan berusaha untuk tetap bersabar. Sementara itu, Bella masih melanjutkan pertanyaannya.
"Bagaimana kalau itu benar? Aku rasanya enggak rela Ayunda ... enggak rela" Bella cukup khawatir, "kecuali, kalau sama kamu aku bisa lebih rela karena aku tau bagaimana karakter kamu. Kalau dengan wanita lain? Rasanya aku enggak bisa rela begitu saja"
"Kak Bella ini ngomong apa?" Ayunda berusaha menyadarkan Bella, "masalah jodoh enggak ada yang tau. Siapa pun jodohnya kita harus rela dan ikut senang"
"Tapi Ayunda ...." berniat masih menyangkal,
"ah ya sudahlah semoga aja pak Raffa enggak nikah dulu dan itu benar-benar cuma hoax"
Di depan Bella Ayunda hanya diam dan tersenyum menanggapi ucapan Bella. Pamit dan berlalu pergi.
Kini langkah kaki Ustadzah kesayangan Audri itu terhenti pada satu tempat. Sebuah tempat yang akan selalu menenangkan hati setiap insan muslim yang mendatanginya.
Sejenak menatap pintu masjid hingga tak lama kemudian adzan berkumandang Ayunda meneruskan langkah memasuki masjid. Kaki kanannya sudah terangkat dengan teriring doa masuk masjid yang dilafadzkannya dalam hati.
Dalam ibadah shalatnya, Ayunda berusaha untuk tetap khusyuk. Jamaah sudah pada berhamburan pergi sekarang tinggal Ayunda sendiri di masjid itu. Ayunda mengadu pada Tuhannya akan masalah yang dihadapinya.
"Ya Allah Yang Maha Halus yang membolak-balikan hati tetapkanlah hati ini diatas agama-Mu. Aamiin" terdengar do'a penutup penuh makna usai pengaduan masalah hatinya
Di depan Masjid sahabat-sahabat Ayunda sudah menunggu Ayunda untuk keluar. Dari arah lain mereka berpapasan dengan Bella, Winda dan Tasya. Senyum tulus hadir di wajah Bella, Winda dan Tasya. Tak hanya itu, Bella, Winda dan Tasya tak segan-segan menyodorkan tangan mereka untuk bersalaman.
Tak mau membuat gaduh di depan Masjid karena rasanya itu tak baik dan akan sangat kurang etis, sahabat-sahabat Ayunda menerima niat salaman mereka. Dan acara bersalaman itupun terjadi.
Bella yang melihat kehadiran Ayunda langsung dengan sumringah menyalami Ayunda dan Ayunda pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Berikutnya disusul oleh Winda dan Tasya yang ikut bersalaman.
Dan langsung saja setelah itu Bella bersama dua temannya tadi berpamitan untuk pergi lebih dulu. Dengan penuh hormat Ayunda mempersilahkan.
"Teman-teman sekarang kak Bella sama temannya udah berubah jadi baik, jadi kalian harus baik juga sama mereka"
"Beneran Ayunda? Mungkin aja itu bohongan 'kan?" Mala tak percaya
"Beneran.Tadi Kak Bella sendiri yang minta maaf sama aku"
"Ayunda jangan mudah percaya gitu aja" kata Lidya yang setuju dengan Mala
"Enggak baik loh seudzon sama niat baik seseorang"
"Iya juga sih" Mala serba salah
"Yang pasti kamu harus hati-hati dan jaga diri dengan baik, Ayunda" ujar Lidya
Dan ke empat sahabat yang lain pun mengangguk setuju. Ayunda mengedipkan satu matanya dengan maksud Ayunda akan hati-hati sesuai pesan dari sahabat-sahabatnya itu. Sahabat yang begitu peduli dan menyayanginya.
Mereka berlalu pergi dan seperti biasa mereka ingin menghabiskan waktu bersama mumpung bisa berkumpul bersama plus belum UAS. Karena sekitar dua minggu lagi mereka harus UAS. Sesuai jadwal yang tertera pada kalender kegiatan kampus.
Kali ini mereka memilih menghabiskan waktu disebuah taman kota namun tetap seperti biasanya ada berbagai makanan didepan mereka saat ini. Namanya juga kumpul-kumpul, makanan seperti cemilan bahkan makanan berat pun juga wajib ada supaya tidak garing alias lebih nikmat dalam menikmati kebersamaan. Alias supaya lebih betah. 😅
Suasana taman kota yang selalu ramai membuat mereka begitu menikmatinya, apalagi adanya anak-anak yang sedang bermain di sekitaran taman kota itu. Tentu mereka yang notabenenya calon pendidik alias guru begitu menyukai hal tersebut. Melihat senyum dan tingkah anak-anak itu bermain.
Tak terkecuali Ayunda, tapi dalam sudut matanya masih tersirat sesuatu kesedihan di sana. Hanum sebagai sahabat terdekat pun mengerti akan keadaan Ayunda yang memang sedang tidak baik-baik saja. Hanum mengerahkan bermacam cara untuk menghibur Ayunda sempat mengajak berselfie bersama bahkan menghampiri anak-anak itu mengajak mereka bermain bersama. Dan Hanum berhasil membuat Ayunda kembali seperti biasanya.
"Ayunda" Hanum menyebut nama Ayunda dengan menggelengkan kepalanya sebagai tanda agar Ayunda tidak boleh lemah dia harus kuat seperti sebelumnya.
"I am fine Hanum"
__ADS_1
Hanum memeluk Ayunda seketika itu pula anak-anak itu juga memeluk Ayunda dan di susul oleh sahabatnya yang lain yaitu Mala, Raya, Stevi dan Lidya yang berada di taman kota itu.