
Dalam perjalanan entah apa yang membuat Raffa senyam senyum sendiri dan Bu Yeni yang melihat itu merasa bingung sendiri.
Pada akhirnya Raffa menyadari Bu Yeni yang tengah melirik ke arahnya dengan tatapan cukup aneh. Melihat itu Raffa pun membuka suara, “Bu Yeni pasti bingung 'kan kenapa saya senyam senyum sendiri?”
“Iya Nak Raffa, kamu kenapa kok senyam senyum begitu?” ucap Bu Yeni, “perasaan tadi waktu berangkat ambil kue kamu gak sebahagia ini!” tegas Bu Yeni teringat yang bagaimana Raffa pada saat akan mengantarkannya mengambil kue
Dengan tertawa kecil disertai senyumannya Raffa menjawab pertanyaan dari Bu Yeni, “Habisnya Bu, dunia ini itu luas tapi sudah 3 kali saya bertemu dengan dia dalam sehari ini!” kata Raffa merasa tak menyangka dengan apa yang terjadi padanya dan Ayunda hari ini
Bu Yeni yang mendegar pernyataan Raffa merasa tambah bingung harus menjawabnya bagaimana? Kalau Bu Yeni jawab mungkin jodoh itu sama saja secara tidak langsung mengarahkan Raffa untuk tidak setia pada kekasih yang akan dihalalkan setelah kelulusannya,
”Emm ... diambil hikmah dan baiknya aja, Nak Raffa!”
Masih terfokus pada kemudinya Raffa menjawab perkataan Bu Yeni terhadapnya dengan tetap tersenyum tenang,
“Iya Bu. Saya tau maksud Bu Yeni, Bu Yeni tenang saja!” jawab Raffa mengerti maksud perkataan Bu Yeni barusan,“InsyaAllah saya akan selalu setia pada kekasih saya kok Bu, walaupun kami jauh dan jarang komunikasi tapi hati kami InsyaAllah selalu dekat dengan do’a yang Kami panjatkan satu sama lain”
“Baguslah Nak Raffa, kalau begitu!” jawab Bu Yeni lega
Raffa menceritakan kepada Bu Yeni mengenai Ayunda yang tadi siang tengah menangis,
“Oh ya Bu, tadi siang saya juga tidak sengaja melihat dia sedang menangis sepertinya dia sedang tertekan”
“Mungkin lagi ada masalah,” Bu Yeni yang benar-benar merasa bingung entah harus bagaimana menjawab setiap peryataan Raffa? Bu Yeni pun memilih untuk menjawabnya dengan singkat dan sekenanya saja.
“Iya, mungkin begitu Bu!” jawab Raffa sambil menaikkan alisnya dan masih fokus pada kemudinya
Sambil mengemudi pelan ia sesekali melirik handphone yang ia letakkan di dasbor mobilnya. Sayang belum ada notifikasi pesan atau panggilan dari kekasihnya. Seketika itu ia merasa senasib dengan Ayunda. Sama-sama berada dalam mode tertekan.
__ADS_1
“Kenapa Nak Raffa? Nunggu notif pesan dari yang di sana?” tanya Bu Yeni dengan nada meledek dan sedikit bercanda untuk menghibur pria yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri olehnya
“Iya Bu” jawab Raffa engan nada cukup kecewa namun harus tetap tenang dan yakin
"Yang sabar Nak Raffa!” balas Bu Yeni dengan tersenyum dan menepuk bahu Raffa mengkuatkan.
Setelah hening beberapa saat Raffa membuka suaranya lagi memanggil Bu Yeni,
“Bu Yeni!”
“Kenapa Nak Raffa?” Bu Yeni langsung menyahut, memberi Raffa pertanyaan seraya menghadapkan wajahnya ke arah Raffa, “ada yang kamu ingin ceritakan ke Ibu? Sudah ceritakan saja! Tidak usah sungkan gitu kayak sama siapa aja?”
“He he ... iya Bu” Raffa sadar sudah sering ia bercerita banyak hal kepada Bu Yeni tapi entah mengapa untuk hal yang satu ini ia cukup ragu mengatakannya.
“Gimana Nak Raffa kamu mau ngomong apa?” tanya Bu Yeni lagi sekaligus meyakinkan
“Emm ... itu Bu, mahasiswi yang makalahnya tertukar dengan berkas saya. Siapa namanya tadi?"
“Iya Bu itu maksud saya, Ayunda! Kalau boleh jujur Bu, dia gak cuma cantik tapi santun dan sholihah pula. Terlihat dari cara berpakaian dan perilakunya!"
“Kamu lihat sendiri 'kan tadi bagaimana sikap Ummi Hannah manyambut kita?”
“Iya Bu!” jawab Raffa yang ingat bagaimana kehangatan Ummi Hannah menyambut tamunya memang buah jatuh gak jauh dari pohonnya. Fikirnya cukup tertegun.
Bu Yeni hanya tersenyum ke arah Raffa tanpa mengatakan apa-apa lagi dan menceritakan awal pertemuannya dengan Ummi Hannah alias Jeng Hannah.
“Saya kenal dengan Jeng Hannah itu baru- baru ini Raffa. Waktu itu adalah kali pertama saya hadir di sebuah Majlis taklim. Saya 'kan orang baru di majlis itu jadi, saya gak tau harus duduk dimana karena memang sudah penuh dan dengan baiknya Jeng Hannah bergeser dan mempersilakan saya duduk di sampingnya. Dan gak cuma itu Raffa, Beliau adalah sosok yang sangat ramah dan penuh kasih sayang sampai-sampai saya yang baru kenal, ngerasa udah kenal lama sama dia. Dan saya benar-benar kagum padanya an sempat tersirat dalam hati dan fikiran saya, betapa beruntungnya suami dan anaknya hidup bersama dengan seorang wanita yang penuh kasih sayang seperti Jeng Hannah.
__ADS_1
Raffa pun menjadi pendengar yang baik sementara Bu Yeni masih asik bercerita,
“Saya juga berfikir kalau Ibunya saja seperti ini, bagaimana dengan anaknya? Pasti gak cuma cantik wajahnya tapi juga hatinya. Beruntung sekali pasti yang menjadi imamnya kelak” jawab Bu Yeni mengigat bagaimana sikapnya Ayunda tadi,
”Saat itu Jeng Hannah bilang kalau dia punya 2 anak. Satu cowok dan satunya lagi cewek sebagai sesama wanita tentunya saya sangat penasaran dengan anak ceweknya karena Ibunya saja seperti ini baiknya”
“Iya ... ya Bu, kalau saja?” melantur
.
“Heh! Kalau saja? Kalau saja? Kenapa Raffa?” tanya Bu Yeni yang sadar akan ke mana arah pembicaraan Raffa
“Astagfirullah, bukan apa-apa Bu” Raffa menyesali perkataannya barusan
“Oh, bukan apa-apa?” ucap Bu Yeni dengan menerka-nerka,”tapi sepertinya Ibu dapat menerka apa maksud kamu barusan loh Raffa"
“Sudah Bu, jangan dibahas lagi” jawab Raffa
Bu Yeni sadar bahwa ini bukan kemauan Raffa tapi keadaanlah yang membuatnya demikian dan sebagai seseorang yang sudah ia anggap seperti Ibunya sendiri.
Bu Yeni memberi arahan pada Raffa untuk tidak goyah, “Raffa mungkin inj adalah cobaan untuk kamu supaya kamu memperkuat niatmu untuk menghalalkan sekaligus mempercepat niat baik itu”
“Ibu benar! InsyaAllah setelah tanggung jawab yang Om Fahri berikan pada saya selama 1 semester ke depan ini saya akan mendiskusikannya lagi dengan Mama dan Papa“
“Iya semoga lancar ya Raffa!” do'a Bu Yeni dengan tersenyum mantap
“Aamiin Bu. Terimakasih atas do’anya!”
__ADS_1
“Sama-sama, Nak Raffa” balas Bu Yeni,”Bu Yeni juga terimakasih sudah diantar”
Kini Raffa dan Bu Yeni telah sampai di rumah mereka masing-masing memasuki rumah dan menunaikan ibadah salat Maghrib.