Ayunda Syaharani

Ayunda Syaharani
Jalan-Jalan


__ADS_3

Ayunda dan Raffa menghabiskan hari demi hari mereka dengan berjalan-jalan keliling kota S.


Salah satunya di tempat mereka pernah makan bersama bertiga dengan Audri. Mengigat itu Ayunda dan Raffa sepakat kalau nanti mereka akan berkunjung ke ponpes Al-hikam.


Pesanan mereka sudah tiba, mereka pun makan berdua dengan keseruannya.


Raffa menyuapi Ayunda dengan begitu romantis. Hingga banyak pegawai restoran itu melirik iri pada mereka berdua.


"Istriku sayang, kamu harus makan ini, ini lezat sekali."


"Aaaaa ..." Raffa menyodorkan makanan dan Ayunda memakannya dengan suka rela.


Beberapa menu makanan yang mereka pesan telah selesai mereka makan, salah satu petugas restoran itu mendatangi Raffa dan Ayunda menyerahkan bill pembayaran.


Sesaat Ayunda merasa tidak asing dengan wajah gadis didepannya.


"Maharani? Kamu Maharani kan? Siswa SMA tingkat akhir yang waktu KKN selalu mengikuti kegiatan KKN yang saya dan temen-temen kelompok saya adakan?"


"Iya Kak, Kak Ayunda kan? Eh Bu Ayunda." ucap Maharani yang sadar kalau didepannya saat ini adalah mahasiswa tingkat akhir yang pernah KKN di desanya.


"Kamu kerja di sini? Sambil kuliah?" Ayunda menebak karena itulah yang Maharani pernah sedikit ceritakan pada Ayunda saat KKNnya.


~𝓕𝓡π“ͺ𝓼𝓫π“ͺ𝓬𝓴 π“žπ“·~


Beberapa bulan yang lalu pada saat Ayunda dan kawan-kawan nya KKN.


Saat itu mereka sedang mengadakan pelatihan pembuatan kerajinan gerabah untuk umum tapi lebih dikhususkan untuk para pemuda. Kemudian ada juga pembuatan olahan kue tradisional bersama Ibu-Ibu PKK setempat.


Tepatnya pada acara pelatihan pembuatan kerajinan gerabah untuk para pemuda. Ada salah satu gadis yang begitu semangat dan tekun dalam membuat kerajinan gerabah tersebut, Ayunda pun mendekatinya.


"Nama kamu siapa?" tanya Ayunda pada gadis yang begitu semangat dan tekun dalam membuat kerajinan gerabah.


"Saya Kak? Kenalkan Kak, nama saya Maharani."


Memperkenalkan diri dengan sopan dan ramah.


Ayunda dengan senang hati menjabat uluran tangan Maharani dan memperkenalkan dirinya juga.


"Saya Ayunda"


"Nama yang cantik untuk orang secantik Kakak."


"Kamu bisa saja." Ayunda menjawabnya


"Tidak juga Kak. Memang Kakak asli cantik. " Maharani meyakinkan.


"Kamu masih sekolah?" Tanya Ayunda lagi.

__ADS_1


"Saya siswa SMA tingkat akhir Kak, yang sebentar lagi lulus." jawab Maharani, "saya juga ingin besok bisa kuliah seperti Kakak terus kalau bisa sambil kerja juga Kak."


Ayunda salut dan bangga dengan keinginan Maharani.


"Maharani, saya sering sekali melihat kamu mengikuti berbagai kegiatan yang kami adakan di sini."


Jelas Ayunda


"Hehe ... iya Kak. Saya suka saja Kak, dengan kegiatan yang Kakak dan kawan-kawan Kakak adakan, itu akan sangat bermanfaat untuk kami Kak. Semoga saja setelah ini desa kami bisa semakin maju. Dari segi pendidikan maupun perekonomiannya. Saya juga berharap semoga besok saya bisa ikut andil dalam memajukan desa ini, Kak. "


Dalam hati Ayunda merasa terpukul memang melihat kondisi pedesaan tersebut yang memang masih rendah pendidikan dan ekoniminuya, disisi lain Ayunda juga begitu salut dengan harapan gadis di depannya itu, ditambah lagi dengan semangat gadis dan para warga desa tersebut. Terbesitlah dalam hati Ayunda ia pun ingin memperjuangkan kemajuan desa itu nantinya (sesudah lulus S1) dengan membangun lapangan pekerjaan dan memberikan fasilitas pendidikan yang layak untuk pemuda dan anak-anak di pedesaan tersebut. Ayunda kepiluannya melihat kondisi masyarakat tersebut serta menceritakan keinginannya memperbaiki kesenjangan itu pada Lidya yang kebetulan menjadi teman sekelompoknya. Lidya pun mendukung dan mensupport bahkan memberi saran pada Ayunda untuk memberitahukan kepasa Mas. Rey yang setau Lidya kakaknya Ayunda itu pemilik sebuah perusahaan (CEO).


~𝓕𝓡π“ͺ𝓼𝓱𝓫π“ͺ𝓬𝓴 π“žπ“―π“―~


"Alhamdulillah, iya mbak" Maharani


"Alhamdulillah ...." Ayunda


"Dan itu Mbak, alhamdulillah juga desa kami sekarang sudah menjadi produsen kerajinan gerabah dan UMKM makanan tradisional, jadi alhamdulillah di desa kami sekarang para pemuda sudah tidak khawatir nganggur, Mbak. Dan pendidikan di desa kami juga sudah dibantu oleh pemerintah." Maharani menjelaskan perkembangan di desanya.


"Alhamdulillah ... MasyaAllah, aku ikut senang sekali Maharani. Desa yang pernah ingin ku perjuangan untuk kemajuannya sekarang alhamdulillah sudah diberi jalan kemajuan oleh Allah." ujar Ayunda ikut bersyukur.


"Iya Mbak, kami juga sangat berterimakasih kepada Mbak Ayunda dan kawan-kawan, ini semua juga tidak lepas dari peran Mbak Ayunda dan kawan-kawan saat KKN di desa kami."


"Besok hari Minggu di desa kami akan diadakan pekan raya besar-besaran, Mbak Ayunda datanglah ke pekan raya kami." Maharani memberitahu kepada Ayunda. Namun ia fikir akan lebih baik kalau diundang secara resmi, akhirnya Maharani mempunyai ide baru.


Ayunda pun langsung menuliskan alamatnya dan teman sekelompok KKN nya.


"Terimakasih banyak Maharani." ucap Ayunda merasa sangat tersanjung.


"Sama-sama, Mbak Ayunda" membalas dengan senyum tulusnya sejenak melirik ke arah laki-laki yang berdiri disamping Ayunda.


"Ini suami Mbak?" tanya Maharani menerka-nerka.


"Iya Maharani ini suami saya. Kami baru melangsungkan pernikahan beberapa hari yang lalu."


"Wah! Selamat ya Kak. Semoga bahagia dunia dan akhirat."


"Aamiin ... Aamiin. Terimakasih atas do'anya."


Tak selang berapa lama, mereka saling berjabat tangan dan berpelukan. Setelah itu, Ayunda dan Raffa pun pergi.


~Dalam perjalanan ke Ponpes Al-hikam~


"Sayang, kamu kok enggak cerita kalau kamu punya cita-cita membangun desa tempat KKN kamu?" Raffa mulai cemburu.


"Bukannya enggak cerita ke kamu, Mas. Tapi memang belum sempat cerita. Sebenarnya kemarin habis KKN aku mau bilang soal keinginanku untuk turut serta membangun desa itu ke Mas Rey. Tapi karena jarang bisa ketemu Mas Rey terus aku juga lupa untuk menyampaikan. Belum lagi waktu itu aku disibukkan dengan skripsian juga nulis buku, jadi kelupaan." Ayunda yang cukup menyesal karena sebenarnya cita-cita itu sangatlah penting diwujudkan.

__ADS_1


"Iya sayang, wajar aja apalagi terbentur dengan banyak tugas," terang Raffa,


"dan alhamdulillah kan sekarang desa itu sudah semakin maju dan berkembang."


Ayunda setuju dengan ucapan Raffa, karena itu ia langsung memegang tangan Raffa dan menampilkan senyum manisnya.


"MasyaAllah la haula wa la quwwata illa billah ..."


tutur Raffa mengikuti salah seorang Kyai yang pernah


mengaj𝚊rinya. Apabila mendapat suatu hal yang begitu luar biasa dan begitu kita inginkan makan hendaknya mengucapkan kalimat tersebut "MasyaAllah la haula wa la quwwata illa billah" - Maha suci Allah tiada daya dan kekuatan melainkan dari pertolongan-Nya. Karena sesungguhnya segala sesuatu yang kita miliki itu semua datangnya dari Allah. Atas Kuasa-Nya.


Pernah mendengar kalimat tersebut Ayunda pun menegaskan kembali pada Raffa,


"Mas, aku pernah mendengarkan kalimat itu dari Yuna, dan Yuna mendengar dari seorang Kyai di kota M namanya pak Kyai Ali.


Apa Mas kenal?"


"Mas pernah ke sana karena Perusahaan Papa sering menjadi donatur di Ma'had pak Kyai Ali. Tepatnya saat Mas, merasa enggak terima akan takdir yang Allah berikan pada Mas ditiga tahun lalu, yang mana Mas harus membesarkan Murad sendiri. Saat itu, Mas datang sendiri ke Ma'had pak Kyai Ali karena Papa menyuruh Mas untuk ke sana sekaligus silaturrahim. Saat menemui Beliau (Pak Kyai Ali), Beliau berpesan kepada Mas dan pesan beliau membuat Mas tersadarkan."


"Beliau berpesan bahwa syukur itu melihat kepada Sang pemberi nikmat bukan jenis nikmat-Nya."


"Mas langsung tersadar bahwa sudah seharusnya selalu bisa bersyukur apapun yang Allah takdirkan untukku. Karena itu aku kagum pada beliau."


Raffa memberitahu Ayunda tentang perkenalannya dengan pak Kyai Ali.


"MasyaAllah ... aku ikut terenyuh Mas."


Ayunda pun juga tak menafik bahwa Pak Kyai Ali adalah guru dari suami Yuna yang otomatis juga guru Ustadz Habib. Ayunda pun ingin menceritakan tentang masa lalunya meskipun mungkin telat.


"Mas, ada yang aku mau ceritakan ke kamu. Maaf kalau aku baru cerita kalau sebenarnya Pak Kyai Ali itu Kyai dari seorang laki-laki yang ..." Belum selesai Ayunda menjelaskan Raffa telah lebih dulu meneruskan.


"Yang pernah membatalkan khitbah ke kamu karena keluarga kamu tidak sekalangan (sekufu) dengan keluarga mereka." Raffa mengucapkan dengan rasa sedih dan pilu dalam hatinya.


Ayunda cukup tercengang mendengar pernyataan Raffa yang melanjutkan penjelasannya.


"Sayang," meraih tangan Ayunda,


"maafkan Mas, Mas baru bisa bahagiain kamu setelah tiga tahun lamanya kamu harus mengalami sakit hati karena laki-laki itu dan Mas."


Ayunda hanya diam tak mampu berkata-kata lagi, ia terasa bingung untuk berkata seperti apa. Raffa yang begitu mengerti tak mempermasalahkan diamnya Ayunda. Raffa terus saja melanjutkan pembicaraan.


"Mas, sudah tau itu semua. Bu Yeni yang menceritakan saat Mas berniat untuk menikahi kamu. Itu semua Bu Yeni ceritakan agar tak jadi hal yang diinginkan dikehidupan kita kedepannya."


"Sayang kamu enggak perlu sedih lagi karena sekarang aku akan selalu ada disisi kamu dan akan selalu berusaha membahagiakan kamu." Mengecup tangan Ayunda yang dipegangnya juga.


Bergantilah Ayunda yang mengecup tangan Raffa dan menghaburkan diri ke pelukan Raffa. Disertai tangis sebagai rasa syukurnya karena Allah telah menghadirkan Raffa dalam kehidupannya.

__ADS_1


__ADS_2