Ayunda Syaharani

Ayunda Syaharani
Bukan Pria Biasa


__ADS_3

Sebelumnya makasih udah selalu nagih Up dan maafkanlah saya yang baru bisa Up. 😁🙏


Happy Friday and happy reading! 🥰


Jum'at berkah untuk kita semua!😚😇


Sesampainya di rumah Ayunda langsung membersihkan diri kemudian salat Maghrib kemudian menemui Ummi dan Abah yang baru pulang dari masjid.


Dari Ayunda pulang ia belum sempat menemui orang tuanya karena Abah dan Umminya sudah pergi ke masjid jauh sebelum waktu maghrib.


"Abah ... Ummi" Ayunda dengan wajah sumringah menghampiri kedua orang tuanya disertai mencium tangan keduanya


"Anak Ummi keliatan nya sumringah sekali? Ada apa?" tanya Ummi Hannah cukup heran melihat wajah Ayunda tak seperti biasanya, "padahal biasanya kalau pulang kesorean terus banyak tugas ngeluh nya minta ampun!"


Ayunda hanya membalas ledekan Ummi Hannah dengan tersenyum malu karena entah mengapa setelah melihat senyum seorang Raffa yang lain sore tadi, itu benar-benar membuat lelah nya sirna dan rasa nya mengingat Raffa begitu cerdas ia tak ingin lagi mengeluh dan malas-malasan.


"Sudah ... sudah, ayo kita makan malam dulu! Abah sudah sangat lapar" sahut Abah


Dua wanita itu pun menurut perintah dan ajakan dari laki-laki yang sering disapa dengan nama Abah Ridho. Kini mereka duduk di meja untuk makan bersama menyantap makanan yang sudah Bi' Inem siapkan.


Bi' Inem adalah orang yang membantu (ART) Ummi Hannah saat sedang banyak pesanan kue dan tak jarang juga membantu bersih-bersih rumah apalagi kalau Ayunda sudah sibuk dengan kuliah nya. Dan kebetulan kemarin ketika Bu Yeni menambah pesanan kue kepada Ummi Hannah Bi' Inem tidak bisa membantu karena harus ke rumah kerabat nya mengahadiri acara walimatul ursy. Maka dari itu Ummi Hannah menyuruh Ayunda untuk pulang secepatnya.


"Bi Inem ayo ikut gabung!" sapa Ayunda sekaligus mengajak Bi'Inem untuk sekalian ikut makan bersama


"Tidak usah Non! Bi' Inem masih ada pekerjaan" jawab Bi' Inem pergi meninggalkan tempat makan dan menuju dapur karena letak dapur dan ruang makan memang tidak searah. Ayunda bersama Abah Ridho dan Ummi Hannah pun melanjutkan makan malam mereka.


Secara tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dibarengi dengan ucapan salam dari arah depan rumah. Bi' Inem yang mendengarnya langsung bergegas ke depan membukakan pintu dan mencegah Ummi Hannah yang sudah bangkit dari kursi makan nya.


"Saya saja Ummi" ucap Bi' Inem seorang wanita tangguh dan pekerja keras yang membesarkan tiga orang anaknya sendiri karena suaminya sudah meninggal


"Terimakasih Bi'Inem!" jawab Ummi yang sudah menganggap Bi'Inem seperti kerabat sendiri walaupun memang tugasnya tidak seperti kerabat pada umumnya


Bi'Inem pun membuka pintu rumah yang berukuran cukup besar yang terbuat dari kayu disertai ukiran pada setiap sudutnya. Seketika tampaklah dibalik pintu tersebut seorang wanita mengenakan gamis berwarna hitam dan memakai khimar berwarna pink salem disertai paras ayu khas pesantren yang dimilikinya, pembawaannya yang santun dan kalem dalam tindak tanduknya dan penyambutan dengan senyum yang meneduhkan pada Bi'Inem yang membukakan pintu.


"Assalamu'alaikum!" ucap perempuan itu,"Ummi Hannah nya ada Bu?


"Wa'alaikumussalam! Ada silakan masuk!" jawab Bi'Inem,"silakan duduk terlebih dahulu! Saya akan memberi tau Ummi"


Bi'Inem pun menghampiri Ummi yang masih menikmati makanan nya,


"Maaf Ummi! Di depan ada seorang perempuan yang mencari Ummi"


"Oh! Itu pasti Ustadzah Azizah!" tutur Ummi yang seakan sudah tau siapa tamunya,"tolong suruh gabung ke sini Bi'Inem!"


"Baik Ummi!" balas Bi' Inem meninggalkan tempat makan itu dan pergi menghampiri wanita yang sedang duduk di ruang tamu


"Maaf Ustadzah! Ummi menyuruh saya untuk mengajak Ustadzah ke tempat makan!" tutur Bi'Inem yang sekarang tau bahwa perempuan dengan wajah ayu khas pesantren ini adalah seorang Ustadzah


Ustadzah Azizah yang merasa sungkan berusaha menolak dengan baik, "Tidak usah Bu! Saya menunggu di sini saja"


"Baiklah, kalau begitu saya akan bilang pada Ummi dulu Ustadzah" jawab Bi' Inem yang pergi untuk kembali ke tempat makan


"Maaf Ummi! Ustadzah menolak" kata Bi'Inem memberi laporan


"Ya sudah biar saya temui sendiri karena alhamdulillah saya sudah selesai makan.Tolong buatkan minum untuk Ustadzah Bi'!" titah Ummi dengan nada halus


"Abah ... Ayunda kalian lanjutin makan nya! Ummi ke depan dulu"

__ADS_1


"Iya Ummi" jawab Ayunda


Kini hanya terdengar suara dentingan sendok makan antara Ayunda dan Abah Ridho masih melanjutkan makan malam mereka dalam keheningan dengan maksud menikmati makanan yang mereka makan.


Begitu selesai makan malam Ayunda berinisiatif untuk menemui Ustadzah Azizah sekaligus mengatarkan minuman dan beberapa kue yang telah disiapkan oleh Bi'Inem. Saat saling bertemu untuk pertama kalinya di ruang tamu mereka saling melempar senyum kemudian bersalaman.


Ummi Hannah tak lupa menyuruh Ayunda untuk ikut duduk sebentar di sebelahnya dan memperkenalkan Ustadzah Azizah kepadanya,


"Ayunda ini adalah Ustadzah Azizah beliau ini sebenarnya bukan cuma Ustadzah, tapi juga Bu Nyai karena beliau punya sebuah pondok pesantren"


Ustadzah Azizah begitu mendengar pujian dari Ummi Hannah bukan nya bahagia tapi malah sebaliknya,


"Ummi semua yang kita miliki 'kan atas Kuasa-Nya Allah" Ustadzah Azizah memperjelas


"Semoga Allah selalu memberkahi apa yang dikaruniakan kepada Ustadzah" Ayunda menjawab dengan sopan


"Aamiin. Terimakasih Mbak---?"


"Ayunda Ustadzah" Ayunda memberi tau siapa namanya


"Oh! Mbak Ayunda? Salam kenal ya Mbak" ucap wanita berwajah ayu khas pesantren itu dengan usia sekitar 28 tahun


"Salam kenal juga Ustadzah" balas Ayunda dengan ramah, "silakan dinikmati Ustadzah! Saya ke belakang dulu" tutur Ayunda kemudian bangkit meninggalkan ruang tamu


Ayunda yang tengah mencari kesibukan kembali karena tidak terlalu suka kalau berlama-lama rebahan memutuskan mengambil mushaf yang berada di nakas kemudian pergi ke taman belakang rumah dan duduk di atas kursi yang disediakan di taman itu.


Ayunda menatap langit melihat keindahan gemerlap bintang dimalam itu dan berusaha menetralisir rasa aneh dalam hatinya semenjak melihat senyum Raffa sore tadi karena rasanya bagi Ayunda ketika seperti itu Raffa bukanlah pria biasa. Raffa lebih terlihat seperti pria yang tidak cuma baik secara formal (kemanusiaan) tapi juga pria yang akan selalu meneduhkan hati wanitanya.


Tanpa mau berpikir panjang dan mengharapkan yang tidak-tidak Ayunda langsung membuka mushaf dan membacanya. Beberapa menit kemudian setelah membaca lebih dari satu muka terlihat dari kejauhan


seorang laki-lak melihat ke arah Ayunda dengan penuh rasa bahagia dan bangga. Bagaimana Ia tidak bahagia dan bangga? Ia dikaruniai seorang putri yang baik, santun, pantang menyerah dan selalu punya cara tersendiri untuk menyembuhkan lukanya.


"Abah?" tanya Ayunda cukup kaget dengan keberadaan Abah nya


"Iya ini Abah" jawab Abah dengan tersenyum bangga pada putrinya, "ya sudah kamu lanjut saja baca Qur'an nya! Abah akan pergi"


"Gak Abah ... gak perlu. Abah di sini saja temani Ayunda! Kita ngombrol-ngombrol Abah, sudah lama Ayunda gak ngombrol bareng Abah" Ayunda mencegah Abah untuk pergi


"Maafkan Abah ya Ayunda! Abah terlalu sibuk" balas Abah membelai puncak kepala putri bungsunya (Ayunda)


"Iya ... Abah memang terlalu sibuk sampai gak pernah kepikiran untuk memeriksa ban motor sekalipun" ucap Ayunda mulai menceritakan tentang peristiwa yang dialami nya tadi sore


Mendengar perkataan Ayunda barusan Abah menyatukan kedua alis dan terlihat sedikit bingung. Ayunda yang melihat ekspresi sang Abah pun tertawa kecil dan menceritakan apa yang dialami nya tadi sore.


"Iya Abah. Abah itu terlalu sibuk sampai ban motor sudah waktu nya diganti gak tau 'kan?"


Abah pun kini ingat bahwa motor yang biasa digunakan olehnya dan digunakan Ayunda ban nya sudah cukup tidak layak pakai.


"Oh iya! Maafkan Abah Ayunda! Abah benar-benar lupa,


kemarin waktu Reyhan masih di rumah Abah sudah nyuruh dia untuk membawa ke bengkel. Tapi sepertinya Reyhan juga lupa karena sibuk mempersiapkan keberangkatan nya ke luar kota" Abah merasa bersalah telah membuat putri bungsunya kesulitan


"Sudah Abah gak masalah! Abah gak salah kok...ini salah Ayunda juga harusnya Ayunda ikut ngecek 'kan Ayunda juga ikut makek"


"Terus pulangmu tadi bagaimana?" tanya Abah, "Abah lihat, motor kamu sudah ada di depan berarti kamu sudah membawa nya ke bengkel?"


"Alhamdulillah sudah Abah tapi bukan Ayunda yang membawa ke bengkel karena tadi gak sengaja ada seseorang yang sudah mau membantu Ayunda. Seseorang itu menuntun motor Ayunda Bah...sampai ke bengkel padahal bengkel nya lumayan jauh sekitar 1 km dari kampus" Ayunda mengatakannya dengan mata berbinar penuh kesalutan. Itu membuat Abah kembali penasaran pasalnya Ayunda menceritakan seakan ia sedang terkagum dengan sosok yang telah membantu nya.

__ADS_1


"Pasti! Yang sudah membantu putri kesayangan Abah ini adalah seorang pria?!" jawab Abah spontan,"pastinya pula pria itu bukan pria biasa dan sosok yang cukup jarang ditemui"


Mendengar pernyataan Abah barusan membuat Ayunda


benar-benar kaget dan tertunduk malu. Bagaimana Abah nya tau itu? dengan sedikit melirik kearah Abah nya dan menampilkan senyum meringis dan malunya. Dan laki-laki yang usianya tak lagi muda itu pun geleng-geleng melihat tingkah putrinya namun seketika itu Ayunda juga menampakkan kecemasan diwajahnya.


"Hei! Putri Abah yang cantik ini, kenapa tiba-tiba wajahnya ditekuk?"


"Gak kok Abah! Ayunda cuma---"


Abah pun langsung mengerti ke arah mana pembicaraan Ayunda, saat itu pula Abah berusaha mendekap dan menenangkan Ayunda.


"Abah salah gak sih? Lalau Ayunda mulai membuka hati lagi? " tanya Ayunda menatap mata Abah Ridho


"Tentu tidak sayang! Kalau kamu terpaku dengan masa lalumu bagaimana kamu bisa maju? Kalau kamu selalu terpaku akan masa lalu itu sama saja kamu gak bersyukur dengan apa yang telah Allah pilihkan untuk kamu"


Ayunda menatap dalam manik hitam mata sang Abah dan manggut-manggut menyutujui perkataan Abah. Sadar bahwa apa yang dikatakan Abah memanglah benar.


"Ayunda satu hal yang harus kamu tau! Kamu boleh mencintai seseorang tapi jangan jadikan cinta itu melebihi cinta-Mu kepada Allah dan Rasul-Nya. Berharaplah selalu pada Allah! Mintalah selalu petunjuk Allah! Kembalikan semua pada Allah!"


Abah Ridho menasehati dan mengarahkan Ayunda agar Ayunda menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dalam artian tidak berlebihan tidak pula kurang tapi seimbang antara satu sama lain. Sejatinya peran orang tua dalam mendidik seorang anak juga sangatlah penting bukan berarti saat anak itu sudah disekolah tanggungjawab sebagai orang tua dilepaskan begitu saja justru itu adalah kekeliruan besar. Seorang guru disekolah hanya mendampingi sang anak dalam beberapa waktu selebihnya adalah waktu orang tua dimana orang tua mampu mengimbangi sikap guru tadi /kasih sayang guru tadi disekolah saat anak dirumah bersama orang tua.


Seorang wanita dengan wajah cantik yang hampir mirip dengan Ayunda datang dari arah belakang menyahut ombrolan antara Abah dan putrinya.


"Betul kata Abah kamu sayang" sahut Ummi yang sudah beralih ke depan mereka, "ingatlah bahwa Allah tidak akan memberi cobaan melampaui batas kemampuan hamba-Nya!"


"Ummi?" tanya Ayunda tiba-tiba saja Umminya datang dan menyahut,"Ummi sejak kapan ada di sini?"


"Sejak lihat kekakraban kalian. Ummi seneng banget loh! Lihat pemandangan kayak tadi. Emm, mungkin Ummi harus sering-sering ada tamu kali yaa?"


"Boleh juga itu Ummi" sahut Abah mengimbuhi sementara Ayunda hanya geleng-geleng melihat dua orang kesayangannya itu


"Ustadzah Azizah sudah pulang Ummi?" tanya Ayunda disela-sela pembicaraan kedua orang tuanya


Ummi mengangguk pertanda apa yang dikatakan Ayunda benar kemudian memberi tahukan sesuatu kepada Ayunda,


"Ayunda tadi ustadzah Azizah bilang ke Ummi untuk menawarkan kamu ngajar ngaji di pondoknya beliau, apakah kamu bersedia?"


"Emm ... gimana ya Ummi? Sebenarnya Ayunda juga pingin Ummi tapi, Ayunda ngerasa kalau ilmu Ayunda masih kurang"


"Sayang dicoba dulu saja! Ustadzah Azizah sangat berharap kamu bakalan nerima tawaran ini"


Ayunda masih menimbang dan memikirkannya matang-matang hingga pada akhirnya Ayunda setuju dengan apa yang dikatakan Ummi Hannah. Setelah Ayunda fikirkan baik-baik kalau ini merupakan kesempatan baik yang Allah berikan kepadanya.


"Bismillah Ayunda mau mencobanya'' jawab Ayunda kemudian mengangguk berusaha untuk meyakinkan dirinya dan menatap langit malam yang dihiasi bintang dan cahaya rembulan purnama.


Kini Ayunda tersenyum,


Ayunda yakin bahwa ia bisa dan akan menjadi sehebat seorang Raffa,


Ayunda juga berharap bahwa Raffa lah jawaban dari do'a nya,


Raffa lah yang Allah hadirkan sebagai teman hidupnya,


dan Raffa lah sosok terbaik dan terindah yang telah Allah takdirkan untuknya ebagai wujud Kuasa-Nya.


Tuh, kan Mbak Ayunda udah mulai ada rasa sama Pak Dosen ganteng nan wibawa.Terus gimana yaa ... dengan Pak Raffa nya? dia, tetep harus setia kan?!

__ADS_1


He he ... akan ada saatnya semua terjawab dan semua akan indah pada waktunya. 😚


__ADS_2