
Matahari tenggelam bergantilah malam bertabur bintang ditemani sinar rembulan pertanda bahwa hari sudah menunjukkan waktu untuk istirahat atau waktu malam lebih tepatnya.
Dimalam yang menenangkan berhiaskan bintang dan rembulan yang menghangatkan dan meneduhkan setiap jiwa insan rasanya tak dapat dirasa oleh Windi dan Tasya saat ini. Namun seperti akan menyadarkan mereka berdua.
Dua orang yang dicari Bella sedari sore baru saja kembali ke tempat kost. Di kost-kostan Windi dan Tasya, mereka mendapat banyak amukan dan kritikan akibat ulah Bella sore itu mencari mereka.
"Windi, Tasya kalau punya temen itu diajarin tata krama juga donk! Gimana cara bertamu yang baik itu seperti apa dan bagaimana? Bukannya malah menganggu ketenangan orang lain" ucap dari salah satu penghuni kost itu
"Iya Bu. Pak! Lain kali kami akan kasih tau ke dia. Kami minta maaf atas perilakunya yang kurang sopan"
"Bener loh Windi, kamu harus kasih tau tuh anak. Masa anak gadis kayak gitu?" sahut Ibu-Ibu yang lain kemudian beranjak pergi
"Sebenarnya dia itu cantik cara berpakaiannya juga bagus cuma sikap nya saja perlu agar ditata dan diperbaiki lagi" kata Ibu pemilik kost itu
"Iya Bu, mohon maaf sekali lagi"
"Sebenarnya Bella itu seperti itu karena kurang bimbingan dari sosok Ayah Bu, karena sejak kecil ia hidup dengan Mamanya. Memang Mamanya sayang pada Bella tapi disamping itu Mamanya juga sibuk dengan pekerjaan dan bisnisnya, jadi Bella akhirnya seperti itu" Tasya
"Iya gak papa, kalian sebagai sahabatnya arahkan lah ke jalan yang baik selagi bisa"
Mereka mengangguk dan saling melirik kemudian masuk kembali ke dalam,
"Win, besok pasti kita akan ketemu Bella di Kampus. Terus apa yang akan kita lakuin? Dan kita jawab pertanyaannya Bella gimana?"
"Kita jawab apa adanya lah! Kenapa kita lakuin itu ke Bella. Itu semua supaya Bella sadar kalau kita juga manusia terlebih sahabatnya. Dia gak bisa seenaknya memerintah kita ini itu, semaunya saja. Belum lagi setiap yang kita lakuin selalu salah dan kurang dimata dia"
"Apa gak terlalu berlebihan Win?"
"Sudahlah Tasya! Ini semua agar Bella itu menjadi lebih baik"
"Dia juga harus ikhlas kalau Pak Raffa mungkin memang tak ditakdirkan untuknya, Pak Raffa mungkin ditakdirkan dengan Ayunda"
"Kenapa kamu bilang gitu?"
"Ayunda itu gadis yang baik banget Sya, selain cantik dia juga pinter"
"Windi? Kenapa kamu bilang gitu?"
"Kamu inget pas kita makan di Restoran Jepang kemarin, kita menguping pembicaraan Ayunda dan teman-temannya kan?"
"Iya. Terus? Apa Ayunda tau?"
"Iya Ayunda tau itu"
Tasya sedikit kaget,
"Hah, tapi dia kok langsung pergi gak negur atau ngelabrak kita gitu?"
"Itulah kenapa aku bilang Ayunda itu baik"
"Bahkan Ayunda malahan bayar tagihan makanan kita waktu itu"
"Beneran? Kok baru bilang sih Win?"
"Emang kenapa?"
"Ya 'kan bisa lah, kalau bilang makasih gitu"
"Udah expired."
__ADS_1
"Eh tapi beneran? Kenapa kok kamu baru bilang sih?"
"Karena aku baru sadar Sya, waktu itu hatiku masih belum tergugah sama sekali"
Tasya menatap lekat pada Winda tak mengira Windi akan berubah menjadi sebaik ini. Tak tanggung-tanggung juga memuji Ayunda yang memang kalau menurut Tasya Ayunda bukan hanya wanita baik namun lebih dari itu sampai Tasya sendiri tak tau harus memuji Ayunda dengan kata apalagi? Rasanya semua kata sudah habis ditorehkan orang-orang untuknya.
"Oke kalau begitu tugas kita sekarang harus arahin Bella ke jalan yang benar karena kita sahabatnya"
Semenjak itu Windi dan Tasya berubah ingin menjadi lebih baik dan bisa mengajak Bella kepada kebaikan pula. Seperti sebuah hadis Rasulullah ketika kita berteman dengan penjual minyak wangi maka kita akan tertular akan wanginya dan ketika berteman dengan tulang pande besi kita akan kecipratan panas apinya. Tinggal kita memilih berteman dengan siapa. Setidaknya kita bisa menjadi minyak wangi untuk teman kita ataupun orang lain.
...****************...
Kalau Windi dan Tasya harus menikmati malam penuh kehangatan itu dengan rasa kesal juga bersalah lain halnya dengan Ayunda ada juga Raffa.
Malam menenangkan...
Bertabur bintang-bintang menghiasi langit malam yang tampak begitu tenang dan menghangatkan relung hati juga jiwa setiap insan. Sang Rembulan pun tak mau kalah memberi sinar keteduhan bagi insan yang menatap langit malam.
Bintang dan Rembulan dengan begitu teduh memberi kesan hangat pada Ayunda saat Ayunda pun kini menatapnya lekat penuh dengan seribu kata yang ingin ia utarakan dan sampaikan namun tak tau harus memulai dari mana. Seakan-akan bintang dan rembulan turut hadir melengkapai hati Ayunda yang teringat akan pujian Raffa siang tadi untuknya.
Ketenangan dan keteduhan itu menembus jiwa Ayunda yang merasakan hembusan angin malam menerpa secara hangat ke kulit halusnya. Seakan-akan membawa pesan tersendiri untuknya tapi Ayunda tak bisa menerka itu semua karena larut dalam bahagianya.
Mungkin sang angin ingin memberikan pesan tentang Raffa yang sedang difikirkannya saat itu. Namun Ayunda tak mau berfikir pajang akan isyarat itu. Kehangatan dan keteduhan bintang bersama rembulan benar-benar menghanyutkan Ayunda. Membawanya ke puncak harapan terdalam.
"Wahai Rembulan cahayamu sungguh menenggalamkanku pada harapan besarku,
pada cintaku yang tak kunjung tersampaikan
tak kunjung pula mendapat sebuah balasan ataupun--- jawaban?"
"Ehem-ehem"
Suara deheman seseorang membuat Ayunda seketika berpaling dari menatap langit malam itu. Melihat ke sumber suara deheman itu berasal.
"Yuna Anastasia?"
Berjalan mendekati Yuna yang masih berdiri disamping taman tempat Ayunda menatap lekat Bintang dan Rembulan. Seraya merentangkan kedua tangannya Yuna menyambut Ayunda beserta pelukan hangat persahabatan yang sudah lama terpisah karena Yuna harus ikut ke rumah sang suami dan tinggal dirumah mama mertuanya. Ya Yuna sudah menikah sesudah urusan Ayunda dan Ustadz Habib beres dan tidak meninggalkan sedikit pun luka ataupun omongan orang lain.
"Yuna aku sangat merindukanmu? Sudah lama kita tidak bertemu semenjak penyelesaian masalah khitbah itu, semenjak itu pula kamu harus pergi jauh dariku dan menempuh kehidupan baru bersama suamimu"
"Ayunda aku juga sangat merindukanmu makanya aku datang kesini."
Saling melepas pelukan masih asik berbicara satu sama lain,
"Bagaimana kuliahmu Ayunda?" tanya Yuna yang sejak awal sebelum menikah sudah tau jalan yang Ayunda pilih untuk menata masa depan dan memeperbaiki kehidupan nya yang saat itu rasanya Ayunda ingin menyerah saja. Tapi Ayunda sungguh beruntung mendapat support system dari keluarga tercinta tak tertinggal Yuna juga selalu ada untuk Ayunda saat itu.
"Alhamdulillah semua baik"
"Alhamdulillah. Sekarang coba ceritakan padaku Ayunda! bagaimana rasanya kuliah? Dan aku akan menceritakan padamu bagaimana rasanya jadi wanita hamil sepertiku saat ini" sambil mengelus-elus perutnya sendiri
"Yuna kamu sudah hamil?" Ayunda terkejut bahagia
"MasyaAllah ... selamat ya Yuna! Aku ikut senang mendengar kabar baik ini."
"Sudah berjalan berapa bulan Yuna?"
"Baru menginjak bulan ke empat Ayunda, makanya belum terlalu terlihat"
Ayunda menatap perut sahabatnya itu dan berharap suatu saat sesudah ia menikah dengan Raffa yang dicintainya ia juga bisa segera hamil dan hadir malaikat kecil menjadi pelengkapnya.
__ADS_1
Yuna tampak bingung melihat Ayunda yang tengah senyam senyum sambil melihat ke arah perutnya sedari tadi,
"Ayunda, kamu kenapa?" cukup cemas
"Aku?" salah tingkah sendiri
Melihat Ayunda yang salah tingkah sepeti itu membuat Yuna semakin penasaran, "Ayunda ayo jawab dengan jujur! Kamu kenapa?"
"Itu aku cuma berharap suatu saat aku bisa hidup bersama dengan dia dan bisa segera hamil juga saat sudah terikat sebuah janji suci"
"Aamiin, masyaAllah"
Yuna menjawab dengan sorot mata berbinar bahagia karena sahabatnya sudah benar-benar lupa akan luka dimasa lalunya. Luka yang harus dilihatnya juga saat itu bahkan Yuna jugalah saksi akan luka hati yang Ayunda harus dapatkan.
Hening sesaat,
Dalam keheningan itu Yuna menampakkan seulas senyum bahagia yang tersirat di kedua matanya.
Yah Bagaimana Yuna tak bahagia sahabat yang sangat disayanginya sudah benar-benar lupa akan luka dimasa lalunya walaupun tentu dapat Yuna rasakan sakit dan penderitaan Ayunda saat itu.
"Sekarang ayo ceritakan bagaimana kuliahmu? Dan siapa yang sudah menjadi pangeran yang mengubah Ayunda Syaharani sehingga bisa sebahagia ini?"
Ayunda tampak malu tak tahu harus memulai darimana, suara notifikasi dari handphone Ayunda membuat Yuna melirik kearah layar handphone sahabat sahabat majlisnya itu.
Nomor tak dikenal tapi tampak dari profil pengirim pesan itu adalah seorang pria muda dan tampan dengan gaya coolnya di profil itu.
Yuna merebut handphone itu dan mengeklik profil pengirim pesan itu, "Wah! Ini siapa Ayunda? Ganteng, keren pula!"
"Siapa sih?" Ayunda juga tak cukup tahu
"Pak Raffa?" dengan wajah berbinar dan tak menyangka Raffa akan mengirimkan notifikasi kepadanya.
"Jadi, apa dia pangeran itu Ayunda?"
Ayunda tak mengubris pertanyaan sahabat nya itu. Ayunda tengah fokus membuka pesan itu dan tampaklah pamflet kompetisi Essay dan Karya Ilmiah yang dikirim oleh Raffa pada Ayunda. Dan Raffa pun meninggalkan pesan kata-kata untuk Ayunda,
"Sebelumnya terimakasih telah membantu saya menyelesaikan beberapa tugas saya. Dan ini saya share pamflet kompetisi tadi siang yang kita bicarakan.
Saya harap kamu akan mengikuti acara bergengsi tersebut"
"Terimakasih Pak Raffa"
"Oh iya jika ada yang perlu kamu tanyakan mengenai karya tulis "Essay atau Ilmiah" bisa kamu tanyakan kepada saya!"
Ayunda mengetik dengan kebahagiaan yang menyelimuti hatinya saat ini,
"Wah, siap Pak. Terimakasih sekali lagi. "
"Sama-sama Ayunda."
Dan percakapan pun selesai namun Yuna terus mengajukan pertanyaan dan keingintahuannya mengenai pria itu.
Mau tak mau pada akhirnya Yuna membuat Ayunda bercerita panjang lebar mengenai pertemuannya dengan Raffa, Raffa yang sering menjadi malaikat penolongnya bahkan Raffa sang motivator Ayunda dalam mengarungi dunia pendidikan.
Malam itu usai mendapat nomor Ayunda dari Lidya, Raffa mengirimkan pamflet "Kompetisi Essay dan Karya Ilmiah" yang mereka bicarakan tadi sore.
Lydia yang memang pernah menghubungi Raffa karena beberapa hal mengenai perkuliahan otomatis membuat Raffa tau akan nomor Lidya. Apalagi Lidya sekarang menjabat sebagai ketua kelas diruang perkuliahannya dengan Ayunda.
Usai percakapan via chat dengan Ayunda, Raffa mendapat telfon dari seseorang yang sudah dinantinya sepanjang hari.
__ADS_1
Siapakah orang itu?
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!