Ayunda Syaharani

Ayunda Syaharani
Hari demi Hari


__ADS_3

Siang itu Ayunda ditemani oleh Hanum dan Lidya pergi ke tempat Bu Yeni hendak mengambil laptop dan berkas UAS mahasiswa yang diampu Pak Raffa.


Rencananya mereka akan mengerjakan di perpustakaan saja mumpung Hanum dan Lidya dengan senang hati bersedia untuk membantu Ayunda membawa berkas-berkas itu ke perpustakaan. Sebenarnya Ayunda sendiri berkeinginan untuk menyelesaikan tugas Raffa di ruangan Bu yeni, tetapi Hanum dan Lidya mengajak agar ke perpustakaan saja. Karena dengan begitu, mereka bisa menambah ilmu dengan membaca buku-buku di sana. Hanum dan Lidya yang pada dasarnya hobi membaca.


Di sela-sela menata dan membagi tumpukan berkas itu menjadi tiga bagian Bu Yeni yang sedang tidak sibuk pun dengan senang hati ikut menawarkan bantuan.


"Terimakasih Bu Yeni atas bantuannya, kalau begitu laptop dan berkas ini kami bawa ke perpustakaan dulu" Ayunda menginformasikan kepada Bu Yeni karena bagaimana pun Bu Yeni juga, yang pada awalnya dititipi


laptop dan berkas Raffa.


Bu Yeni membalas Ayunda dengan anggukan dan senyuman. Sesudah itu, mereka bertiga sudah tidak tampak lagi di ruangan Bu Yeni.


Beberapa menit kemudian sampailah ketiga sahabat itu ke tempat yang mereka tuju dengan masing-masing membawa tumpuk berkas ditangannya.


Di sana Ayunda yang cukup akrab dengan petugas pustakawan pun mendapat sambutan hangat di mana petugas itu membantu mereka bertiga membawa tumpukkan berkas ke salah satu meja kosong di perpustakaan tersebut.


Ayunda sekarang terfokus dengan laptop dan berkas Mahasiswa Raffa. Hanum pun ikut mencoba membantu Ayunda. Sementara itu, Lidya mencari buku untuk ia baca. Bahkan ia juga mencarikan buku untuk Ayunda dan Hanum baca.


Lidya yang sudah menemukan buku menarik untuk dibacanya pun mengamati Ayunda dan Hanum. Mereka tampak begitu serius dan Lidya merasa cukup diabaikan. Awalnya Lidya berniat membantu juga, tetapi Ayunda sudah cukup dibantu satu orang saja, jadi karena itu, Lidya memilih mencari dan membaca buku saja. Membaca instastory atau semacamnya yang sering dilakukan anak zaman now dilakukan diwaktu tertentu oleh Lidya.


Hanum tak sengaja melirik ke arah Lidya dan menampakkan kesan salut dan kagumnya pada Lidya yang bercita-cita menjadi guru kampus itu alias dosen.


Alhasil saat ditanya Ayunda ia hanya diam saja tak berekspresi maupun bersuara.


"Hanum, mahasiswa atas nama "Indah Permatasari" dapat nilai berapa?" Ayunda mengajukan pertanyaan pada Hanum yang secara tiba-tiba tidak memberi kode nilai padahal Ayunda butuh kode nilai Mahasiswa berikutnya dan seterusnya


"77 Ayunda 77"


Langsung memasukkan angka 77 ke kolom nilai Mahasiswa. Sepersekian detik kemudian Ayunda mengalihkan perhatian ke Lidya. Bermaksud ingin tau apa yang dilakukan oleh Lidya.


Dan benar saja Ayunda dibuat senang dengan keadaan Lidya yang begitu asik membaca sebuah buku,


"MasyaAllah rajin banget calon bu dosen!"


Mendengar suara pujian itu Lidya membuka buku yang pada mulanya menutupi wajahnya dan beralih pandang ke sumber suara.


"Iya tuh ... masyaAllah yang kepingin jadi bu dosen!" Hanum ikut memuji


"Eh membaca itu bukan karena kepingin jadi ini atau ini tapi lebih ke menambah ilmu pengetahuan" jawab Lidya dengan bijak dan setelah itu tangannya beralih ke beberapa tumpukan buku di depannya dan berkata,


"Dan aku juga sudah memilihkan buku-buku yang sangat cocok untuk kalian baca"


"Wah judulnya bagus dan menarik!" Ayunda yang merasa tertarik pada buku pilihan Lidya,


"Terimakasih Lydia" imbuh Ayunda


"Sama-sama Ayunda. Aku sengaja pilihin kamu buku tentang menulis essay ini, karena kamu sekarang suka ikut kompetisi menulis essay"


"Iya Lidya, suka banget apalagi sama yang ngerekomedasiin. Uhh jangan tanya lagi deh?" jawab Hanum berbicara seakan-akan itu adalah suara hati Ayunda

__ADS_1


"Hanum!" tegas Ayunda


Ayunda yang sudah cukup terbiasa dengan godaan yang dibuat sahabatnya itu karena itu pula Ayunda menanggapinya cukup santai dan memilih fokus kembali.


Sudah hampir tiga jam mereka menghabiskan waktu di perpustakaan hingga ketiganya pun merasakan capek.


Perpustakaan sudah waktunya untuk tutup namun tugas Raffa yang diamanahkan pada Ayunda belum bisa terselesaikan.


Pada akhirnya ia menitipkan berkas dan laptop Raffa kepada petugas pustakawan itu. Dan itupun atas izin Raffa. Iya, Ayunda sudah minta izin pada Raffa lewat pesan singkatnya dan hal itu pun langsung disetujui oleh Raffa karena ternyata Raffa sudah sangat akrab dengan petugas pustakawan itu entah sejak kapan? Maklum saja itu semua dikarenakan Raffa memanglah orang yang ramah dan suka bergaul dengan siapapun itu. Dan lagi-lagi, Ayunda dibuat kagum oleh sikap tersembunyi Raffa.


...****************...


Hari berikutnya Ayunda lagi-lagi berangkat ke kampus walaupun sebenarnya sudah tidak ada perkuliahan lagi karena beberapa minggu ini dan kedepannya adalah liburan setelah UAS atau pergantian semester.


Tidak seperti kemarin, Ayunda hari ini pergi ke kampus seorang diri tanpa ditemani sahabatnya. Pasalnya ia tak ingin merepotkan sahabatnya ditengah musim liburan seperti saat ini. Mungkin saja diantara sahabatnya itu ada yang mau menghabiskan waktu liburan ke suatu tempat bersama keluarga atau lain sebagainya dan Ayunda merasa tak enak hati akan hal itu. Lagian yang diberi tanggung jawab tugas UTS itu adalah Ayunda dan sudah cukup baginya (bagi Ayunda untuk merepotkan sahabatnya) karena sahabatnya itu sudah melakukan usaha yang luar biasa sehingga Ayunda sekarang bisa jadi orang kepercayaan Raffa.


Siang itu Ayunda bersiap pergi ke perpustakaan menemui petugas perpustakaan yang sudah sangat akrab dengan Raffa.


Petugas itu menyerahkan kembali tas berisikan laptop kepada Ayunda.


"Terimakasih Pak"


"Sama-sama Mbak Ayunda" jawab pustakawan itu ramah seperti biasa,


"Mbak Ayunda pasti Mahasiswa baik dan teladan. Makanya pak Raffa sering mempercayakan sesuatu pada Mbak Ayunda"


"Tidak juga Pak, saya masih perlu banyak belajar untuk mendapat predikat itu dan ini adalah prosesnya"


Di salah satu sudut meja tampak Ayunda duduk sendiri dengan laptop Raffa di depannya. Sesekali tampak pula Ayunda yang merasa senang mendapat kepercayaan dari Raffa kembali. Ayunda juga tak menyangka Raffa akan menyerahkan laptopnya pada Ayunda untuk Ayunda memasukkan nilai UAS Mahasiswanya.


Kata Raffa agar tak perlu salin sana sini jadi pakai laptop Saya saja. Kebetulan Saya ada dua laptop. Laptop khusus saya mengajar dan untuk kepentingan S2 saya sekaligus privasi saya.


Ayunda teringat perkataan Raffa secara singkat dan cepat itu kemarin lalu. Dengan perasaan gugup dan bahagia Ayunda menyalakan laptop itu secara perlahan.


Tak mau mengotak atik sesuatu yang bukan barangnya Ayunda langsung fokus mulai mengerjakan data yang harus direkapnya.


Menyelesaikan rekapan nilai itu sendiri, ternyata lama-kelamaan cukup melelahkan Ayunda sesekali meneguk air putih dan membuka buku binder nya untuk menghilangkan rasa lelah dan penat di matanya.


Buku binder itu pun, Ayunda buka secara asal dan tanpa sengaja terbukalah sebuah puisi atau lebih tepatnya ungkapan hati Ayunda di buku itu. Perlahan tapi pasti Ayunda membaca setiap kata-kata yang pernah ditulisnya itu secara seksama dan penuh arti.


Di suasana cukup sepi dengan ditemani berbagai buku disekelilingnya, Ayunda kembali menorehkan serangkaian kata penuh makna ke dalam kertas putih.





Puisi by : Ayunda Syaharani ๐Ÿคญ.

__ADS_1


Happy Reading!


Disarankan membacanya dari hati dan penuh penghayatan๐Ÿคซ๐Ÿ˜Œ


Hari semakin akan menjelang sore,


perpustakaan juga sudah waktunya untuk ditutup kembali. Dengan berat hati Ayunda menutup laptop itu walaupun masih ada beberapa data dan setelah itu selesai. Tapi tidak baik kalau dipaksa, besok saja lagi. Fikir Ayunda yang sudah mulai lelah.


Ayunda menyerahkan kembali laptop Raffa ke pak petugas perpustakaan untuk disimpan di tempat yang aman.


"Sudah selesai?"


"Tinggal sedikit lagi Pak, tapi besok saja tidak mengapa"


"Saya pergi dulu Pak, assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


Di sisi lain Raffa disibukkan mempersiapkan ujian tesis nya di rumah sang Mama. Hari ini tepatnya adalah hari terakhir Raffa di kota kelahirannya atau lebih tepatnya di rumah sang Mama.


Besok Raffa harus kembali untuk mengecek tugas yang ia serahkan kepada Ayunda. Selain itu, besok ada yang sangat urgent (penting) dan meneganggkan bagi Raffa


karena bertepatan dengan besok pula adalah hari ujian tesis yang sudah di tunggu-tunggu Raffa. Kabar baik juga mendatangi Raffa sekeluarga bahwa Oma Ranti sudah sangat membaik, mungkin karena sebentar lagi adalah hari yang sudah sangat dinantikan selama kurang lebih tiga bulan lamanya. Terlepas dari praduga ini atupun itu yang pasti Raffa senang dengan berita itu. Dengan begitu ia bisa lebih tenang dan fokus dalam ujiannya besok.


Dan besok pagi pagi sekali Raffa berencana balik ke kota S untuk mempersiapkan dan melaksanakan ujian tesis. Sedangkan Mama dan Papa Raffa akan menyusul bersama Om Fahri atau Pak Fahri (dosen killer pada masanya๐Ÿคญ). Jadi, Raffa berangkat lebih dulu tidak bersama Mama dan Papanya.


"Semoga besok sidangmu dimudahkan Raffa"


Mama Raffa yang selalu memantau putra semata wayangnya


"Aamiin"


Raffa langsung meraih tangan Mamanya. Mencium tangan mulia itu. Tangan yang sudang menuntunnya berjalan, mengajarkannya menulis, dan tangan yang tak henti-hentinya menengadah berdo'a kepada Allah untuk kebaikannya disaat pagi maupun petang.


"Terimakasih untuk semuanya"


Raffa mereka bersyukur dan berbahagia diiringi keluarga dan orang-orang baik disekitarnya.


๐“‘๐“ฎ๐“ป๐“ผ๐“ช๐“ถ๐“ซ๐“พ๐“ท๐“ฐ....


๐“๐“ผ๐“ผ๐“ช๐“ต๐“ช๐“ถ๐“พ'๐“ช๐“ต๐“ช๐“ฒ๐“ด๐“พ๐“ถ ๐“ฆ๐“ป. ๐“ฆ๐“ซ


Selamat malam para readers tersayang,!


Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan! ๐Ÿ˜‡


Terimakasih untuk like, comment dan support dari kalian semua. ๐Ÿค—


Semangat dan sukses selalu untuk kita semua.

__ADS_1


Love you all๐Ÿฅณ


๐“ฆ๐“ช๐“ผ๐“ผ๐“ช๐“ต๐“ช๐“ถ๐“พ'๐“ช๐“ต๐“ช๐“ฒ๐“ด๐“พ๐“ถ ๐“ฆ๐“ป. ๐“ฆ๐“ฑ


__ADS_2