Ayunda Syaharani

Ayunda Syaharani
Awal untuk Mengajar


__ADS_3

Ayunda yang melihat kedua orang tuanya seperti itu ikut bahagia juga, tapi ia heran sebenarnya apa yang diperbincangkan oleh kedua orang tuanya. Ummi sudah menatapnya dengan sorot mata kebahagiaan sekaligus ada titik harapan besar didalamnya.


Ayunda hanya menampilkan senyuman dan rasa heran yang menderanya dan langsung saja mengambil tehnya.


"Terimakasih Ummi untuk tehnya Ummi!" Ayunda mengambil teh dan berpaling masuk ke dalam rumah untuk duduk tapi Ummi mencegahnya. Ummi Hannah memegang tangan Ayunda dan menghentikan langkahnya.


"Kamu mau ke mana Ayunda? Sudah duduk di sini saja! Biar Ummi yang bangkit dari kursi Ummi"


"Tidak perlu Ummi" Ayunda merenganggkan tangan Ummi Hannahyang mencegahnya masuk


Belum sempat Ummi Hannah membalas perkataan Ayunda terdengar handphone berdering dari saku Ummi Hannah, dengan cepat Ummi Hannah mengangkat panggilan telefon itu tersebut. Bangkit dari kursinya menyuruh Ayunda mendudukinya dengan isyarat wajahnya. Alhasil Ayunda duduk menemani sang Abah dengan menyeruput teh manis seleranya dan memandangi bunga-bunga yang mulai bermekaran.


Tiba-tiba saja ...


"Ayunda? Ayunda?" panggil Ummi dengan cukup menggebu-gebu


Abah dan Ayunda yang mendengar itu tentu saja tersentak kaget, untung saja tidak sampai tersedak.


"Iya Ummi Ayunda disini sama Abah" kata Ayunda menenangkan Ummi Hannah karena dari raut wajah sang Ummi ada hal penting yang ingin disampaikan, "ada apa Ummi?"


"Iya Ummi, ada apa kok sampai sebegitunya?" tanya Abah ikut menimbrung


"Maafkan Ummi yaa! Mengagetkan kalian berdua" Ummi merasa bersalah,


" Ayunda sayang...Ustadzah Azizah meminta kamu untuk mengajar ngaji di pondok habis Magrib "


"Berarti sebentar lagi Ummi?" Ayunda tak percaya,"Ummi bagaimana ini? Ayunda 'kan gak mungkin ngajar tanpa persiapan terlebih dahulu?"


"Tenang sayang! Kata Ustadzah kamu nerangin bab Wudhu yang sudah Ustadzah Azizah ajarkan kepada mereka kemarin terus lanjut hafalan juz Amma. Sdah itu aja! Ummi yakin kamu bisa!" Ummi mengarahkan dan menyakinkan Ayunda yang sudah mengangguk sebagai tanda setuju


Seketika itu pula Ummi Hannah matanya berbinar dan bangga karena Ayunda mau dan menyetujuinya,


"Bagus sayang Ustadzah Azizah sangat berharap kamu menerima amanah ini karena beliau masih sibuk dengan beberapa urusannya terus sekalian ini jadi awal untuk kamu mengajar"


"InsyaAllah Ummi"


"Kalau begitu mari Abah kita persiapan buat salat jamaah ke masjid! Dan kamu Ayunda nanti habis magrib langsung ke pondok saja! Gak usah nunggu Abah dan Ummi pulang nanti kelamaan jadinya" tutur Abah bangkit dari kursi


"Baiklah Abah dan Ummi"


"Semangat anaknya Ummi!" Ummi Hannah begitu senang Ayunda bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain


"Anaknya Abah juga"ucap Abah tak mau kalah


"MasyaAllah Abah, Ummi? Siap Ayunda akan semangat dan berusaha memberikan yang terbaik"


Setengah jam kemudian terdengarlah kumandang adzan maghrib...


Ayunda bergegas mengambil wudhu dan salat Maghrib kemudian berpakaian syar'i layaknya Ustadzah Azizah yang selalu terlihat cantik dan anggun dengan pakaian syar'i yang dikenakan oleh Ustadzah Azizah.Memasukkan kitab dan mushafnya ke dalam tas selempang totebag muslimah yang imut dan manis.


Beberapa menit kemudian sampailah Ayunda di sebuah pondok pesantren yang ramai dengan suara para santri mengaji dan menghafalkan nadhom-nadhom. Ayunda begitu gugup karena ini adalah awal bagi Ayunda menghadapi anak-anak tapi ia harus bisa dan memberikan yang terbaik. Dengan mengucap Basmalah ia melangkahkan kaki ke sebuah bagunan yang dirancang begitu apik ditambah suasana malam dengan gemerlap lampu kendaraan yang menghiasi setiap sudut jalanan yang dapat terlihat jelas dari sisi kanan pondok itu apalagi jika dilhat dari gazebo yang memang sengaja ditempatkan diruangan terbuka supaya para santri lebih leluasa mengkaji kitab.


Kini Ayunda sudah memasuki ruangan yang berada di sudut paling selatan pondok pesantren itu mencari dimana keberadaan para santri cilik dan ternyata secara tiba-tiba sudah ada beberapa anak yang begitu antusias menyambut kedatangan Ayunda dan itu membuat Ayunda merasa bahagia ternyata Ustadzah Azizah telah memberitahu mereka lebih dulu sehingga mereka sangat welcome dengan kehadiran Ayunda.


"Ustadzah Ayunda yaa?" panggil salah satu santri perempuan cantik dan imut berumur sekitar 6 tahun disusul oleh teman lainnya yang langsung ikut menghampiri Ayunda, bahkan langsung menyalami dan mencium tangan Ayunda.


Ayunda yang diperlakukan seperti itu merasa senang karena bisa dapat sambutan yang sangat baik dari mereka tetapi jujur saja Ayunda juga merasa tak pantas rasanya saat tangannya harus diicium seperti itu oleh mereka.


"Ayo masuk Ustadzah! Ayo masuk! " ucap anak perempuan tadi menggandeng tangan Ayunda sementara temannya yang lain sudah duduk rapi dengan buku dan pensil yang menemani mereka.


Ayunda mengikuti meraka masuk diruangan tersebut. Ruangan yang didalamnya sudah banyak dampar mengaji berjejer rapi didalamnya. Ayunda masuk mengucapkan salam dan membuka sesi perkenalan biar makin sayang krena kata pepatah tak kenal maka tak sayang.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Anak-anak!"


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh!" jawab mereka begitu antusias dan semangat


"Sebelum kita ngaji Ustadzah akan terangin tentang "BAB Wudhu" kepada kalian semua tapi sebelum itu Ustadzah pingin kenalan sama kalian satu persatu. Jadi nanti diurut dari ujung kanan sampai ujung kiri terus nyambung ke belakang. Yaa? Terus ntar kalian sebut nama dan kelas berapa kalau disekolah" ucap Ayunda menjelaskan dengan pelan-pelan kepada mereka supaya mudah untuk mereka mengerti, "fahimtum?"


"Fahimnaa Ustadzah!" jawab mereka dengan serentak dan penuh dengan semangat


"MasyaAllah kalian semangatnya ajiib sekali!" puji Ayunda kepada mereka,"Okay! Langsung saja kita mulai yaa? Sesi perkenalannya dari sudut kanan. Ayo silakan!"


...****************...


Selesai sesi perkenalan dengan sekitar 23 santri kini Ayunda yang akan memperkenalkan dirinya kepada mereka semua.


"Okay! Salam kenal dari Ustadzah untuk kalian semua!"


Ayunda menyapa mereka semua


Salah satu dari ke-23 santri tadi menunjuk Ayunda agar segera memperkenalkan diri kepada mereka,


"Ustadzah sekarang giliran Ustadzah memperkenalkan diri ke kita semua" salah satu santri bernama Audri

__ADS_1


Ayunda mengangguk dan tersenyum kepadanya serta mulai kembali pembicaraannya,


"Baik! Sekarang Ustadzah yang akan memperkenalkan diri tapi sebelum Ustadzah perkenalkan diri, Ustadzah ingin ngasih uploase buat kalian semua!" jawab Ayunda tak kalah semangat dan antusias,"Kira-kira kenapa Ustadzah kasih uploase buat kalian semua? Ada yang tau?"


Sayang mereka hanya diam menggelengkan kepala mereka bahkan ada juga yang menengok ke kanan dan ke kiri menatap satu sama lain.


"Okay ... okay gak masalah! Sekarang Ustadzah kasih tau kenapa Ustadzah kasih uploase buat kalian? Itu karenaaaa ... kalian semangatnya luar biasa dari awal Ustadzah datang"


Kini mereka yang baru tau alasan Ayunda memberi uploase buat mereka, seketika itu mereka baru ramai dengan sorak dan kegembiraan mereka sementara Ayunda yang melihat itu tak dapat menyembunyikan kegembiraan yang ia rasakan karena mereka.


"Baik! Sekarang Ustadzah perkenalkan diri yaa ...?" Ayunda menyudahi keramaian dan sorak gembira mereka,"perkenalkan anak-anak nama Ustadzah "Ayunda Syaharani" kalian bisa panggil Ustadzah dengan sebutan Ustadzah Ayunda sekarang Ustadzah masih proses studi S1 di Universitas Islam dikota ini!"


"Salam kenal Ustadzah!" jawab mereka begitu manis


"Kalau begitu sekarang Ustadzah akan lanjut ke sesi berikutnya yaitu sesi penjelasan mengenai "BAB Wudhu" sudah tau wudhu itu apa?"


"Sudah" jawab santri laki-laki bernama Khalil


"Kalau begitu, coba dijelaskan apakah yang dimaksud dengan wudhu?"


"Wudhu adalah salah satu dari 4 macam Thaharah" jawab santri laki-laki bernama Khalil


"Bagus! itu juga benar tapi mungkin ada yang punya jawaban lain?"


seorang gadis mengangkat tangannya. Gadis yang sedari awal sudah sangat antusias dengan kehadiran Ayunda bahkan menggandeng tangan Ayunda. Siapa lagi kalau bukan Audri,


"Saya Ustadzah"


"Iya silakan dijawab dengan jelas dan lantang yaa Audri!"


"Wudhu merupakan syarat sahnya sholat jadi ketika shalat namun kita tidak dalam keadaan berwudhu makan shalat kita tidak sah"


"Ajiibb! Tepat sekali yang Audri katakan. Jadi kalau kita gak ada wudhu tapi kita sudah terlanjur salat maka salat kita tetap tidak sah. Nah, didalam wudhu ada yang namanya wajib dan sunnah wudhu. Apa saja wajib Wudhu?"


Khalil mengangkat tangan dengan secepat mungkin karena khawatir didahului oleh Audri atau temannya yang lain,


"Wajib Wudhu yaitu 1. Niat 2. Membasuh wajah 3. Membasuh tangan sampai siku-siku 4. Mengusap sebagian kepala 5. Membasuh telapak kaki sampai mata kaki" jawab Khalil dengan jelas dan lantang sebagaimana Audri dan tengah berfikir wajib wudhu yang ke enam/terakhir karena ia tengah lupa, "terus yang ke enam apa yaa?" ucapnya mengingat-ingat dan menaruh telunjuknya dikepalanya atau dalam mode berfikir


"Apa Khalil yang ke enam?"


"He he ... lupa Ustadzah" jawab Khalil meringis dan malu


"Okay... gak apa! Akan Ustadzah lanjutkan jadi yang ke- 6 adalah tertib. Apa maksudnya tertib? Yang dimaksud tertib adalah urut. Jadi gak boleh setelah niat langsung membasuh tangan atau kaki tetapi harus membasuh wajah dulu kemudian tangan dan seterusnya sampai pada membasuh kaki. Sampai sinj faham?"


"Fahimnaa Ustadzah!"


"Saya Ustadzah! saya!" jawab mereka bersamaan


"MasyaAllah kalian pintar-pintar sekali kalau begitu kita jawab bersama-sama. Sunnah wudhu yaitu membaca bismillah, membasuh telapak tangan dengan air, berkumur, menghirup air ke lubang hidung, mengusap seluruh bagian kepala, mengusap telinga, menyisir jenggot yang tebal, menyela-nyela ruas-ruas jari, dan membasuh sebanyak 3 kali serta sunnah mendahulukan anggota kanan daripada anggota kiri, tidak terputus dalam pembasuhannya maksudnya tidak perlu menunggu bagian satu kering baru bagian lainnya dibasuh" Ayunda menjelaskan dengan sebaik mungkin untuk bisa diterima oleh mereka


"Jadi itu tadi yang dinamakan wajib dan sunnah dalam wudhu. Wajib itu harus dilaksanakan kalau sunnah apabila dilaksanakan mendapat pahala kalau ditinggalkan tidak apa-apa/tidak mendapat dosa" ucap Ayunda menjelaskan menambah keterangan lagi dengan sebaik mungkin agar mereka paham. Yaa walaupun yang memahamkan adalah Allah SWT tetapi setidaknya harus berusaha karena Allah juga menyukai hambanya yang bekerja keras dan pantang menyerah


"Sekarang mari kita menghafalkan niat wudhu bersamam-sama! Semua pasti sudah hafal 'kan?"


"Sudah!" jawab mereka yang masih penuh semangat


"Berarti sudah siap?" tanya Ayunda kepada mereka


"Siap!" jawab mereka secara bersamaan


"Bismillahirrahmanirrahim ...."


"نويت وضوء لرفع الحدث الصغار فرضا لله تعالى"


Artinya:"Saya berniat berwudhu menghilangkan hadas kecil karena Allah Ta'ala "


"Sekarang lanjut hafalan juz Amma satu persatu!"


"Yang terakhir mari kita ucap hamdalah bersama-sama! Karena pelajaran kali ini sudah selesai tapi setelah ini kita ngaji setoran hafalan Juz Amma satu persatu"


Mereka semua menggangguk mengerti, patuh serta ta'at dan mengucapkan hamdalah bersama-sama,


"الحمدلله رب العالمين"


Setelah itu dilanjutkan salat isya' berjamaah dan membaca Qs. Al-Mulk dan Qs. Al-waqiah kemudian saat semua kegiatan para santri mengaji selesai, Ayunda pun berniat untuk pulang namun saat Ayunda akan pulang Ayunda melihat Audri masih di Masjid Pondok padahal para santri yang lain sudah pada dijemput oleh orang tua atau keluarga dekatnya. Karena memang setiap satu minggu sekali mereka diperbolehkan untuk pulang untuk menikmati weekend mereka bersama keluarganya.


Dihari Seninnya mereka diharuskan sudah balik pondok lagi tetapi ada juga yang memilih untuk tetap di pondok. Namun itu semua dikembalikan ke mereka mengingat usia mereka yang masih dini karena sistem di pondok Ustadzah Azizah memang tidak terlalu ketat untuk anak seusia mereka.


"Hai! Audri sayang kamu kenapa?"


"Aku nunggu dijemput" Audri menjawab dengan wajah cemberut


"Ya sudah! Ustadzah temenin kamu sampai kamu dijemput. Okay?" Ayunda ikut duduk menemani Audri,"sudah donk jangan cemberut lagi! Nanti cantiknya luntur loh"

__ADS_1


Audri pun mengarahkan wajahnya ke Ayunda, menampilkan senyum manis dan lucunya dan beberapa detik kemudian terdengar klakson mobil diikuti seorang pasangan suami istri yang keluar dari mobil itu. Berjalan ke arah Ayunda dan Audri.


"Audri sayang?" panggil seorang wanita baparas cantik dengan tinggi sedang seumuran Ustadzah Azizah


"Bunda?" jawab Audri langsung menghamburkan dirinya ke pelukan Ibunda tercinta melepaskan segala kerinduan yang tertahan. Melepas pelukan Ibundanya berlalu ke sang Papa,


"Papa?" Ayunda menyambut sang Papa dengan tak kalah gembira ketika menyambut Ibundanya. Memeluk Papanya dan mencium tangan Papanya kemudian Ibundanya. Pasalnya Audri lupa mencium tangan Ibundanya lebih dulu karena sangking bahagianya. Audri berhambur dalam dekapan sang Papa, Audri juga nampak celingak-celinguk menatap ke arah gerbang seperti menanti kedatangan seseorang,


"Audri sayang kamu nunggu siapa lagi sayang? 'Kan Papa sama Bunda sudah di sini jemput kamu" tanya sang Papa yang heran ketika melihat puterinya masih celingak-celinguk menatap pintu gerbang


"Itu Pa, Oma sama Om mana? Katanya mau ikut jemput sekalian besok katanya aku mau diajak jalan-jalan sama Om?"


"Emm ... gini sayang besok lusa hari Minggu kita pergi ke rumah Omma kita jemput Omma terus kita jalan-jalan deh sama Omma"


"Terus Om Abi?"


"Emm ... Om Abi gak bisa ikut sayang soalnya dia lagi sibuk banget tadi sore saja Om Abi langsung perjalanan ke luar kota nemuin Papa sama Mamanya"


"Yaa kok gitu sih! Padahal Om Abi udah janji weekend ini mau ngajak aku jalan-jalan" jawab Audri dengan bersedekap dan berlari kembali ke masjid


"Pa, gimana ini? Anak itu kalau sudah begitu pasti akan susah membuatnya mengerti" Bunda Audri sudah gelisah mengetahui bagaimana sifat manja Audri


"Bunda tenang dulu aja! Biar Papa membujuk Audri"


"Pa? Audri gak akan mau mengerti Pa. Percuma Pa, percuma"


Ayunda yang mengetahui hal itu langsung menghampiri orang tua Audri dan menyusul Audri untuk memberi pengertian pada Audri,


"Kalau diperkenankan biar saya saja yang mencoba membujuk Audri. Pak, Bu!"


"Saya Ayunda Bu! Ustadzah baru disini"


ucap Ayunda menjelaskan siapa dirinya karena dari tatapan Mama Audri seakan-akan tak percaya pada Ayunda. Sorot matanya seperti mempertanyakan siapa dia? Kenapa selancang itu mau membujuk puterinya?


"Baiklah!" jawab Bunda Audri dengan nada yang masih sedikit ketus. Ayunda tak terlalu memikirkannya sekarang yang penting adalah membujuk dan melunakkan hati Audri kembali.


"Audri ... Audri sayang?"


"Ustadzah?"


"Audri dengerin Ustadzah! Gini Audri, Audri 'kan juga punya orang tua, Audri gak ketemu sama Papa dan Bunda Audri selama satu minggu aja sudah kangen banget 'kan?"


"Heem" Audri mengangguk mulai mengerti


"Om Abi juga begitu! Dia sudah kangen banget sama Papa dan Mamanya. Makanya Om Abi nemuin orang tuanya" ucap Ayunda memberi alasan pada Audri meskipun dia belum mengerti maksud dari orang tuanya Audri yang berkata kalau Om Abinya ke luar kota untuk menemui orang tuanya ladahal seharusnya kalau difikir-fikir orang tua Om Abi adalah Oma nya Audri yang tinggal dikota yang sama dengan mereka, tapi kenapa harus menemui orang tuanya ke luar kota segala?


"Ah sudah gak usah kamu fikirkan Ayunda, sekarang fokus membujuk Audri" ucap Ayunda dalam hati


"Tapi Ustadzah?"


Ayunda terus saja mencari cara untuk membujuk Audri,


"Oh, atau gini aja! Nanti kamu 'kan bisa video call sama Om Abi"


"Ah ... iya Ustadzah, Audri akan interogasi Om Abi. Enak aja Om Abi PHP in Audri"


"Tapi harus tetap inget kalau gak boleh berlebihan kalau menginterogasi karena bagaimanapun harus menghormati yang lebih tua"


Audri yang dinasehati sedemikian tertawa dan patuh,"siap, laksanakan!" jawabnya sambil memberi hormat


"Ya udah kalau begitu ayo temui Papa dan Bundamu! Mereka sudah menunggu kamu dari tadi"


Audri mengganguk dan menerima uluran tangan Ustadzahnya.


Ketika akan berpamitan pulang Ayunda mengelus puncak kepala Audri mengingatkan serta mendo'akannya, "Audri jadi anak yang sholihah yaa? Ingat pesan Ustadzah yang tadi. Kalau gitu, Ustadzah pulang dulu dan kamu hati-hati pulangnya!"


"Iya Ustadzah, terimakasih!"


"Sama-sama cantik" jawab Ayunda dengan mencubit gemas pipi Audri yang cabi sedangkan Bunda Audri yang tak percaya Ustadzah barunya bisa membujuk Audri puterinya, ia meminta maaf dan berterimakasih kepada Ayunda.


"Emm ... Ustadzah, maafkan saya yang sejak awal sudah meragukan Ustadzah"


"Tidak masalah Bu! Saya mengerti apa yang Anda rasakan yaa meskipun belum jadi seorang Ibu"


"Saya juga mengucapkan terimakasih banyak! Sudah membuat Audri mengerti"ucap Ibunda Audri


"Iya Bu, sama-sama! Sebenarnya tidak perlu berterimakasih kepada saya karena membujuk Audri juga sudah menjadi kewajiban saya" balas Ayunda tersenyum dan menyalami Ibunda Audri dan berlalu pulang.


***


Maaf yaa aku sering telat upnya, soalnya lagi galau mikir lanjutannya karena sangking banyaknya haluan2 yang tercipta. Hehe jadi harap maklum🙏😚


Dan sengaja untuk aku tulis cara mengajarnya Ayunda, untuk menambah cara penyampaian ke seorang anak aja. Mungkin dari readers-ku tersayang ada yang jadi Guru juga. Atau mungkin seorang Ibu, yang pasti seorang wanita adalah madrasah pertama untuk anaknya, jadi semangat para wanita, untuk terus menambah ilmu.

__ADS_1


Love youuu more🥰


__ADS_2