
Ayunda yang nampak serius saat berbincang dengan Renata dan Nabila, menjadikan Hanum yang melihat keseriusan serta kelesuhan yang nampak pada Ayunda segera menghampiri Ayunda dan mempertanyakan apa yang sudah Renata dan Nabila katakan padanya.
"Ayunda tadi mereka ngomong apa ke kamu?" Hanum terbawa suasana jadi ikut khawatir.
"Bukan apa-apa kok Hanum." Ayunda berusaha menyembunyikan wajah lesuhnya dengan senyuman yang ia tunjukkan didepan Hanum agar Hanum tak cemas padanya.
Ayunda juga menuturkan apa yang menjadi perbincangannya dengan Renata dan Rere,
"Itu, mereka Renata dan Nabila habis jam mata kuliah terakhir enggak bisa ikut ngeprint. Katanya karena mereka ada urusan yang penting banget."
Berbeda dengan Ayunda yang mengatakan alasan Renata dan Nabila masih dengan senyum merekah diwajahnya, Hanum malah sedikit sensitif terbawa suasana.
"Ish, enak banget ya mereka? Padahal sebenarnya kamu juga yang sudah begitu kerja keras membuat makalah sama cari materi juga loh!" Tukas Hanum merasa cukup kesal dengan Renata dan Nabila.
"Hust, jangan gitu Hanum! Enggak baik ah ngomongin orang dibelakang!" Ayunda menjawabi ucapan Hanum masih dengan enteng dan santainya,"kalau kedengeran mereka atau orang lain gimana hayoo?" Ayunda mencoba untuk menenangkan Hanum.
"Biar saja Ayunda, biar mereka sadar!" Hanum belum mau terima dengan sikap mereka,"apa gunanya Pak Dosen membuat kelompok, kalau enggak supaya saling kerja sama dan tanggung jawab." Tutur Hanum lagi dengan menekankan.
"Kamu bener Hanum, tapi mungkin mereka memang lagi sibuk banget." Ayunda masih mencoba melerai emosi Hanum dengan mengajak untuk ber khusnudzon saja.
"Lagian mereka juga sudah setor materi kemarin apalagi Nabila dia juga sudah bantu buat PPT." Ayunda memberitahu Hanum bantuan apa saja yang sudah Renata dan Nabila berikan dalam penyusunan makalah dan penyelesaian tugas mereka bertiga.
"Untung saja Nabila sadar akan tanggung jawabnya untuk buat PPT." Tukas Hanum masih cukup sebal.
Kemudian kembali menanyakan bagian tugasnya Renata, "Terus Renata bagian apa?"
"Emm ..." Ayunda ragu memberitahu bantuan tugas yang Renata berikan. Namun Hanum tak hentinya meminta Ayunda agar memberitahunya saja.
"Ayolah Ayunda, kamu ceritakan semuanya ke aku! Kita kan sahabat!" Hanum.
Ayunda menatap dalam kedua manik hitam netra Hanum, kemudian secara perlahan memberitahukannya, "Aku kemarin meminta tolong Renata untuk mencari referensi, tapi ternyata enggak begitu sesuai dengan temanya. Jadi, akhirnya aku meminta lagi secara baik-baik ke Renata agar dia nyari referensi lain, tapi enggak dikasih-kasih juga. Terus karena aku enggak mau kelamaan menunggu tanpa ada kabar akhirnya aku minta bantuan Nabila saja." Jelas Ayunda panjang lebar.
"Nabila bersedia membantu?" Tanya Hanum begitu ingin tau.
"Alhamdulillah" Jawab Ayunda dengan nada tenang dan meyakinkan.
Sedari tadi, saat Ayunda mulai memberitahunya, ia hanya menjadi pendengar yang baik atas segala penjelasan Ayunda. Bahkan ia juga sangat salut pada Ayunda dengan segala prasangkaan baik, pujian baik yang Ayunda paparkan tersebut.
Saking salutnya, Hanum kini tengah dilanda rasa kekhawatiran yang begitu mendalam pada diri Ayunda yang begitu baik.
"Ayunda kamu tuh, jadi orang baik banget sih? Aku jadi khawatir sama kamu!"
Mendengar perkataan Hanum tersebut membuat Ayunda bertanya-tanya, kenapa Hanum jadi khawatir?
"Why Hanum?" Tanya Ayunda merasa ada yang aneh dari perkataan Hanum barusan, "I am fine Hanum." Ayunda meyakinkan kembali kepada Hanum.
Hanum mengerti kalau Ayunda pasti akan baik-baik saja walaupun mendapat perlakuan yang untuk Hanum itu sangat tidak mengenakan. Tapi untuk Ayunda? Ah sudahlah, tanpa Hanum tanya berkali-kali pun Ayunda akan menganggap perlakuan dari Renata dan Nabila itu hal yang wajar dan tak perlu dipermasalahkan lebih panjang lagi.
Hanum menatap sayu dan teduh pada Ayunda, sejenak ia merengkuh tubuh Ayunda dan berkata,
"Maksud aku gini Ayunda, kamu harus jaga diri kamu baik-baik!"
"Karena apa? Karena jadi orang baik seperti kamu itu, pasti akan suka mengalah bilang iya walaupun sebenarnya enggak mau, yang pasti selalu mementingkan dan mengedepankan orang lain lah." Hanum dengan gamblang dan terus terang.
Ayunda hanya menatap Hanum sambil tersenyum sabagai pertanda mengerti apa yang Hanum maksud.
Ditatap Ayunda seperti itu, semakin membuat Hanum semangat untuk mengeluarkan isi hatinya untuk kebaikan Ayunda.
__ADS_1
"Jadi, aku ingin jangan sampai kamu terlalu capek dan memendam semuanya sendiri karena segala bentuk kebaikan yang kamu lakukan." Menatap Ayunda dengan sorot mata yang cukup dalam.
Berlanjut memegang kedua pundak Ayunda seraya meneruskan kata-kata simpati dan empatinya,
"Because, I care about you! Karena itu aku enggak mau kamu kenapa-kenapa Ayunda. Makanya aku bilang gini."
Mendengar kata penuh makna yang keluar dari Hanum, Ayunda pun mencoba mencairkan suasana antara mereka saat itu juga.
"MasyaAllah ..." Ayunda menatap Hanum dan memuji Hanum,"Hanum kata-kata kamu itu manis banget!"
"Belajar ngegombal dari mana hayoo?" Goda Ayunda mengarahkan jari telunjuknya ke hidung mancung milik Hanum.
"I am seriously Ayunda!" Hanum masih sensitif.
Meskipun Hanum masih sensitif karena terbawa suasana dan kepeduliannya pada Ayunda, Ayunda yang mengetahui apa yang harus ia lakukan, ia mencoba mengimbangi kesensitifan Hanum itu dengan tetap bersikap setenang mungkin dan berkata,
"Okay, okay aku ngerti maksud kamu Hanum," Balas Ayunda menatap dalam ke natra Hanum, "take it easy Hanum! I am fine! And thanks so much."
"Terimakasih, terimakasih banyak karena kamu sudah begitu peduli padaku!" Ayunda menambahi.
Hanum terharu alangkah ia tidak dapat memprediksi apa yang Ayunda fikirkan.
Sepersekian detik kemudian, Hanum menghamburkan dirinya dan langsung memeluk Ayunda.
"Ayunda pokoknya kamu harus pikirin diri kamu juga!"
"Pasti!" Membalas pelukan sahabatnya.
Setelah serasa cukup sesi berpelukannya, Ayunda mengajak Hanum untuk segera menuju ke ruangan selanjutnya. Ruangan dimana mata kuliah kedua akan berlangsung.
"Yuk naik ke lantai atas jangan sampai keduluan sama Bu dosen!"Ucap Ayunda yang sudah melepas pelukan persahabatan mereka.
Mereka berdua pun melangkahkan kaki mereka, menaiki satu per satu anak tangga yang bertempat dilantai tiga gedung fakultas pendidikan.
Masih menaiki satu persatu anak tangga dilantai 2 menuju lantai 3, Ayunda dan Hanum saling fokus pada satu persatu anak tangga yang mereka naiki.
Untuk sesaat Ayunda ingin memulai mengobrol dengan Hanum yang tidak lagi banyak bicara usai moment beberapa saat yang lalu.
Ayunda pun terheran melihat Hanum yang masih menunjukkan raut wajahnya yang sedih, "Kenapa jadi kamu yang mellow Hanum? Padahal aku udah biasa aja, dan aku baik-baik aja nih!" Ayunda berusaha menghibur Hanum agar tak perlu sedih lagi karena memikirkannya.
"Ayunda, tadi aku sudah bilang kan ke kamu bahwa aku peduli sama kamu dan kamu adalah sahabatku!" Ucap Hanum dengan raut wajah sangat serius dan sedikit kesal namun juga sangat peduli dan sayang pada Ayunda. Karena ia juga salah satu orang yang tau betul bagaimana kisah cinta Ayunda yang pernah dialami Ayunda.
"Hanum, makasih sekali lagi karena kamu sudah selalu ada bersamaku. Kamu jadi teman sekaligus sahabat terbaik untukku." Ayunda bersyukur memiliki sahabat seperti Hanum yang begitu tulus peduli padanya.
Tak mau melewatkan moment keharmonisan antara dirinya dan Hanum, Ayunda pun berdo'a untuk kebaikan mereka bersama,
"Semoga Allah selalu memudahkan dan memberkahi jalan kita kedepannya, aamiin."
"Aamiin ya rabbal alamiin"
Hanum mengaminkan dengan penuh harap do'a mereka akan terkabul.
Tanpa terasa, kini sampailah mereka di ruangan lantai dua digedung tersebut.
Dari arah belakang mereka berdua telah terlihat dosen yang akan mengisi mata kuliah selanjutnya.
"Sudah, ayo masuk!"
__ADS_1
Mereka masuk bersamaan dengan cukup gugup.
Jam demi jam telah terlewati begitu saja tanpa dicukup dirasa. Selesilah pula jam matakuliah terakhir.
Keluarlah para mahasiswa dari ruangan mereka masing-masing. Berhamburan pergi meninggalkan gedung fakultas masing-masing. Ada yang pulang ke rumah, atau ke taman untuk mendiskusikan tugas, ada pula yang ke kantin. Selain itu ada juga yang kumpul-kumpul dengan bercanda gurau melepas penat. Yang tak kalah banyak bahkan ada juga yang sudah berada di masjid kampus untuk persiapan shalat walaupun masih sekitar 30 menit lagi. Ya sekarang kurang dan lebihnya menunjukkan pukul 11.00 WIB.
"Hanum, aku duluan ya soalnya mau ke tempat printer dulu." Tutur Ayunda pada Hanum yang masih asik mengobrol dengan Mala, Raya dan Stevi di depan ruangan. Mala, Raya dan Stevi juga termasuk sahabat dari Ayunda dan Hanum, hanya saja Hanumlah yang paling dekat dengan Ayunda.
"Eh iya Ayunda, iya!" Begitu mendengar ucapan Ayunda, Hanum dengan segera merespon Ayunda yang sudah cukup terburu-buru,
"tapi kamu yakin enggak mau aku temenin saja?" Tanya Hanum memastikan.
"Enggak usah Hanum. Tempatnya lumayan deket kok, dari gedung fakultas kita tadi." Meyakinkan Hanum bahwa ia tak mengapa sendiri,"lagian tadi kayaknya ada yang bilang sudah laper pingin cepet-cepet ke kantin katanya!" Mengingatkan kembali keinginan Hanum saat di ruangan perkuliahan pada jam terakhir.
"Kamu inget saja Ayunda! Hehe ..." Hanum meringis malu karena teringat akan keinginan perutnya itu.
"Udah cepet ke kantin entar keburu dzuhur!" Kembali mengingatkan dengan tersenyum karena tengah menahan tawanya.
"Siap Bu Nyai!" Hamun menjawab dengan berlaga. Mengangkat tangan kanannya, dan menaruhnya tepat diatas alisnya sebagai tanda hormat.
"Hanum Setia Ningrum!" Ayunda mencoba memperingatkan Hanum agar tak perlu sebegitunya.
Sesudah itu Hanum pun menyunggingkan senyum sembari menyatukan tangannya agar Ayunda tak sampai marah padanya.
Ayunda memegang kedua tangan Hanum yang menyatu, kemudian melepas dan mengiring tangan itu kembali ke tempatnya.
Ayunda menggulingkan kepalanya sebagai tanda Hanum tak harus menyatukan kedua tangannya seperti tadi didepannya.
Sesudah itu, Ayunda pun pergi meninggalkan ruangan dan sahabat-sahabatnya.
Hanum meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua sisi mulutnya seraya berucap,""Hati-hati Ayunda! Jaga diri dan hati baik-baik!" Teriak Hanum namun Ayunda sudah jauh dari keberadaannya.
"Hanum! Ayunda mana denger? Hadeh ...." Raya heran dengan tingkah Hanum saat ini.
"It's okay guys!No problem kalau Ayunda enggak denger kalian saja yang dengerin. Kalian kan sering pergi kemana-mana sendirian!" Mengucapkan dengan begitu santainya.
"Iyakan? Iyakan?" Menaikkan kedua alisnya dan menatap ketiga sahabatnya yang bersamanya ditempat itu.
"Sorry ya Hanum, kamu keliru karena Innallaha maanaa." Jawab Mala tersenyum menang.
"Nah, bener banget tuh kata Mala!" sahut Hanum secara spontan,"sudah ayo pergi!"
"Oh My God! Hanum Setia Ningrum???" teriak Raya geregetan pada Hanum.
"Sabar Raya! Hanum memang gitu, unik dan penuh teka-teki." Ucap Stevi menenangkan Raya.
"Huhhh ...." Raya menarik nafasnya dalam-dalam Supaya rilexs kembali. Kemudian mengajak Stevi pergi untuk menyusul Hanum dan Mala.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!
Sekilas tentang Hanum Setia Nigrum!😉
- Sahabat yang paling dekat dengan Ayunda Syaharani diantara Mala, Raya dan Stevi.
- Memiliki kepribadian baik hati dan fisiknya.
- Humoris dan begitu sayang dan peduli dengan Ayunda.
__ADS_1
- Tinggi sekitar 165 Cm.
- Memiliki wajah ayu dan manis juga, dengan ditambah lesung pipi yang menghiasi wajahnya ketika Hanum tersenyum dan tertawa.