Ayunda Syaharani

Ayunda Syaharani
Pasrah


__ADS_3

Pada akhirnya Ayunda hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan kelima sahabatnya itu. Ayunda serasa kesal dengan cara kelima sahabatnya itu mendekatkan ia dengan Raffa namun di sisi lain ia ingin rasanya berterimakasih kepada para sahabat nya itu.


Mau tak mau, eh malu-malu tapi mau🤭 kini Ayunda duduk menghadap Raffa. Membuka satu persatu satu berkas berisikan tugas para Mahasiswa yang diampu oleh Raffa. Lantas melakukan apa yang Raffa arahkan dan instruksikan kepada Ayunda agar merekap berkas-berkas tersebut. Perasaan gugup sekaligus senang tengah menghampiri Ayunda saat ini. Berkali-kali Ayunda berusaha untuk tetap fokus dan profesional. Beberapa menit kemudian Ayunda berhasil menetralisir perasaan campur aduk dalam hatinya.


Ayunda memberanikan diri menatap Raffa sekilas. Sesaat setelah itu raut wajah menunduk malu terlihat diwajah Ayunda. Menunduk pandangannya seraya menyesalinya.


Secara spotan Ayunda mengucapkan kalimat istighfar dengan begitu nyaring, tentu membuat Raffa berpaling dari keseriusannya menyelesaikan tugas proposal yang harus diselesaikan untuk mendapat gelar master.


"Astaghfirullahalazim!" Ayunda dengan suara cukup keras terlihat seperti orang terkaget


"Why?" satu kata pun keluar dari mulut Raffa yang ikut panik


Bukannya segera menjawab Ayunda malah salah tingkah sendiri. Ayunda tengah berusaha mencari alasan yang tepat untuk menjawab dosen tampan di hadapannya itu.


"Enggak kok Pak! Keinget dosa aja" jawab Ayunda tersenyum meringis menampilkan gigi putih nan rapi anugrah Sang Ilahi. Lantas Ayunda berfikir tak mungkin mengatakan alasannya beristighfar secara spotan seperti itu.


Mendengar jawaban Ayunda barusan Raffa hanya manggut-manggut tanpa bertanya lebih. Setelah itu mereka kembali fokus pada pekerjaannya masing-masing.


...****************...


Beberapa jam kemudian ...


Jam dinding menunjukkan pukul 15.00 WIB!


Pertanda perpustakaan akan segera ditutup.


Tiga dari lima sahabat seperjuangan Ayunda sudah pergi sedari tadi. Sementara itu dua lainnya Hanum dan Lydia masih tetap standby di perpustakaan itu mengerjakan tugas karya ilmiah dari UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang mereka ikuti.


Mereka berdua juga terfokus pada layar laptop masing-masing sesekali memantau Ayunda dari meja yang jaraknya tidak jauh dari Ayunda dan Raffa. Karena Ayunda sendiri tak mau jikalau tidak ada teman yang akan menjadi orang ketiga antara Raffa dan dirinya.


Bukan karena tak percaya (takut) pada Raffa. Namun lebih ke tak baik kalau berdua dengan lawan jenis kalau tentang Raffa Ayunda yakin betul bahwa Raffa bukanlah tipe pria yang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.


Sementara itu Petugas perpustakaan tiba-tiba menghampiri Raffa mengingat sebentar lagi perpustakaan akan ditutup.


"Maaf Pak Raffa sekedar menginfokan bahwa sebentar lagi perpustakaan akan saya tutup" dengan ramah dan sopan petugas perpustakaan itu memberitahu Raffa. Karena petugas itu tau Raffa bukan cuma mahasiswa tapi juga dosen di Universitas tempatnya bekerja dan mengabdi saat ini


"Oh iya Pak Ini kami juga sudah selesai" Raffa mematikan laptop dan membereskan buku- buku tebalnya


Petugas itu pun pergi meninggalkan meja Raffa saat ini sembari tersenyum mengerti.

__ADS_1


Mendengar pernyataan dari Raffa yang berkata sudah selesai Ayunda langsung saja angkat bicara,


"Maaf sebelumnya Pak tetapi hasil rekapan saya belum sepenuhnya selesai!"


"Tidak masalah! Besok bisa kamu lanjutkan kembali sekarang tolong kamu bantu saya menyimpannya di loker"


Sebagai Mahasiswa Ayunda patuh saja dan kembali mengikuti intruksi dari Raffa sedangkan Hanum dan Lydia tidak mengetahui bahwa Ayunda dan Raffa sudah tidak ada di perpustakaan. Karena Hanum dan Lydia yang terlalu fokus pada karya ilmiah yang dikerjakannya.


Dalam perjalanan ke ruang loker!


Dengan sedikit tergopoh-gopoh Ayunda mengikuti Raffa yang berada di depannya.


Melangkahkan kakinya secepat mungkin agar tak tertinggal oleh Raffa.


Ayunda membuntuti Raffa membopong tumpukan berkas dikedua tangannya. Hingga sesaat Raffa tersadar bahwa ia telah begitu kejam terhadap Mahasiswa yang dengan niat baik mau membantunya.


Sadar bagaimanapun Ayunda kemarin pernah membuatnya tidak karu-karuan hampir pusing karena memilih yang terbaik diantara yang baik.


Tetapi kini sekarang sudah ada cincin pertunangan yang akan selalu mengingatkannya untuk setia pada komitmennya yang beberapa bulan lagi akan terselenggara.


Raffa menghela nafas berjalan menghampiri Ayunda yang jaraknya sudah cukup dekat dengannya. Berinisiatif mengambil berkas ditangan Ayunda ia pun menggulurkan tangannya dan mengambil semua berkas yang dibawa Ayunda.


Sangking terfokus untuk mengejar langkah Raffa Ayunda tak menyadari bahwa Raffa tengah berhenti di depannya. Alhasil tumpukan berkas yang ia bawa mengenai tubuh Raffa. Secara bersamaan Raffa langsung mengambil alih berkas tersebut.


Tidak, tidak Ayunda tidak ada niat mengamati namun apalah daya kalau keadaan mendukung seperti ini. Raffa tetap berusaha profesional dan ingat akan cincin yang melekat dijari manis kirinya. Sayang Ayunda masih belum tau perihal cincin yang tersemat dijari pria yang tengah ia bantu itu.


Setelah tumpukan berkas berisikan makalah dan laporan dari masing-masing mahasiswa dari berbagai semester beralih tangan secara tidak sengaja mata mereka saling bertemu di situ Raffa langsung berpaling begitu juga Ayunda dengan cepat ia memalingkan wajah.


Raffa langsung masuk dan menata tumpukan berkas itu kedalam lokernya. Ayunda masih terdiam sejenak menahan detak jantungnya yang berdenyut tidak karuan. Setelah detak jantungnya sudah kembali seperti biasa ia menyusul masuk ke ruangan itu meminta izin untuk pulang karena Raffa bilang dilanjutkan besok saja. Toh itu juga bukan sebuah hukuman maupun tugas tambahan tetapi kesediaan membantu atau sebut saja akal-akalan sahabat-sahabatnya itu.


"Emm Pak Raffa---" belum selesai Ayunda mengutarakan niat spontan Raffa memberikan intruksi untuk Ayunda bisa pulang


"Oh ya kamu boleh pulang dan terimakasih sudah membantu saya!" menghadapkan wajah ke Ayunda dan tersenyum tulus dengan tangan masih fokus mengatur tumpukan berkas


Mendapati senyuman kala di bengkel itu Ayunda kini tengah senyam-senyum sendiri dan masih berdiam diri ditempat itu. Tak selang berapa lama ia pun pergi meninggalkan ruangan itu.


Di tempat tak jauh dari ruangan loker tadi,


Ayunda masih tak percaya untuk hari ini sangking bahagianya, rasanya ia ingin segera menemui Hanum dan Lydia untuk berterimakasih.

__ADS_1


Ditempat lain dalam lokasi yang sama.


Hanum dan Lydia sedang celingak-celinguk di depan Universitas menanti kedatangan seorang gadis baik, cerdas nan cantik jelita siapa lagi kalau bukan Ayunda Syaharani.


Beberapa saat setelah mereka capek menanti muncullah Ayunda dari arah samping mereka. Menampilkan aura kebahagiaan dengan rona merah dikedua pipinya.


Melihat kebahagiaan terpancar diwajah Ayunda secara tidak sabar Lydia menggoda Ayunda lagi,


"Ehem ... ehem ada yang seneng banget nih kayaknya?" sedikit menyenggol Hanum


"Bener banget kamu Lydia! Gak sia-sia deh ide cemerlang kamu" Hanum menyahut peryataan Lydia


Sekali lagi Ayunda tersenyum dan tertawa kecil dihadapan mereka menampakkan kebahagiaan yang menyelimuti hatinya. Bagaimana tidak ia melihat senyuman langka dari seorang Raffa selain itu bisa menatap wajah yang dikaguminya dengan jarak hanya beberapa senti saja. Ah itu keberuntungan juga kenikmatan tidak disangka. Salahkan Ayunda berkata demikian? Ayunda juga wanita normal yang ingin mencintai dan dicintai.


"Baiklah terimakasih yaa untuk ide cemerlang kamu Lydia. Tentunya juga untuk kekompakan kalian dalam bekerja sama ngebuat ide itu berhasil" Ayunda mengeluarkan unek-uneknya yang sedari tadi tak bisa ia utarakan ke sahabatnya itu


"Sama-sama Ayunda" jawab Lydia disusul Hanum yang langsung menghambur memeluk Ayunda


Selesai sesi peluk-memeluk Ayunda juga meminta agar mereka tak lupa untuk selalu mendo'akannya,


"Guys! Do'ain juga semoga ini memang yang terbaik dari Allah"


Hanum dan Lydia mengangguk setelah itu mengangkat kedua jempol mereka masing-masing sebagai tanda beres pasti itu akan terlaksana.


"MasyaAllah, makasih!" seraya menatap satu persatu dari keduanya


Berusaha mengerjai Ayunda Lydia pun tak mau kalau dibalas dengan sekedar ucapan terimakasih, "Kali ini kalau makasih doank maafnya gak diterima Ayunda" dengan agak sinis sekaligus menggoda


"Oke, oke kalau gitu kalian maunya gimana?" tawar Ayunda sadar bahwa Lydia tengah mengerjainya


Ayunda merasa perutnya sudah lapar tanpa basa-basi ia menawarkan untuk makan dan ia yang akan mentraktir,


"Makan yuk! Aku traktir"


"Ayok! Tapi makan apa yaa?" Hanum berfikir,


"kuliner Restoran Jepang bagaimana?"


"Boleh tuh!" kata Lydia antusias

__ADS_1


"Okay! Tapi kita salat ashar dulu sekalian ngajak Mala, Raya sama Stevi biar mereka ikutan juga!"


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!


__ADS_2