
Di sela-sela sesi menunggu Lydia membuka percakapan dengan mengajukan sebuah pertanyaan kepada mereka berlima.
"Emm ... kalian tuh sebenarnya emang pingin jadi Guru ya?" Lydia mengajukan pertanyaan sambil sesekali mengaduk es dalgona dalam gelasnya dengan sedotan yang seharusnya digunakan untuk minum,"habisnya kalian tuh selalu semangat setiap ngerjain tugas"
"Kita cuma manusia biasa kali Lydia! Kita juga pernah lah ngeluh tapi kembali lagi bahwa dengan mengeluh gak akan nyelesain semua persoalan kita" Ayunda menjawab sekenanya saja (sesuai perasaan dan naluri Ayunda saat itu), "kita hanya harus menjalani dan mengikuti alurnya saja seperti air mengalir. Asalkan air itu selalu mengalir ia tak akan keruh dan tak menjadi permasalahan"
"Nah! Setuju aku sama Ayunda. Kalau aku sih? Gimana yaa? Susah njelasin nya. Yang pasti ini kemauan orang tuaku dan sebagai anak yang ingin berbakti aku ikuti aja" Stevi menceritakan alasannya, "alhamdulillah sekarang aku happy ... happy aja kok! Malahan sekarang aku merasa bersyukur karena apa? Karena dengan aku ambil studi pendidikan guru ini aku dipertemukan dengan kalian"
"Uuhh sweet banget sih!'" sahut Lydia
"Kalau aku sih memang pada dasarnya suka sama anak-anak. Jadi karena rasa suka itu aku ingin sekali mengajarkan kepada mereka tentang berbagai macam ilmu dan pengetahuan. Makanya aku memutuskan untuk menjadi seorang Guru" jawab Mala
Lydia yang mendengarnya pun manggut-manggut dan salut dengan alasan Mala,
"Wah luar biasa Mala! Itu sangat bagus dan mulia. Kalau kalian bertiga bagaimana?" Lydia melanjutkan mengintrogasi Ayunda, Raya dan Hanum
"Aku ...? Sebenarnya aku mau kerja aja gak usah kuliah tapi Kakakku maksa aku buat kuliah" ucap Raya dengan wajah cukup sedih, "sedangkan Papa juga pingin lihat anak cewek nya jadi pembawa manfaat bagi banyak orang yaitu dengan jadi seorang Guru"
"Jadi hampir sama dengan Stevi ya?"balas Lydia,"cuma Stevi lebih sudah ikhlas dengan jalan hidupnya kalau kamu ... keliatannya belum sepenuhnya. He he"
Raya hanya menjawab dengan senyum sinis ditambah dengan raut wajah sedih pada mimik wajahnya saat ini
"Sudah Raya kamu terima saja jalan hidupmu! Kayak aku" Stevi menasehati disertai senyum tulus, "kalau gak gitu 'kan kita gak akan saling kenal"
"Bener itu Raya! Kalau kamu jadi kerja otomatis kamu gak akan kenal sama aku yang baiknya nggak dapat dihitung. Ha ha" Hanum yang seketika itu melihat lirikan sinis dari Raya. Hanum yang niatnya hanya mencairkan suasana langsung berkata bahwa ia hanya bercanda.
"Kamu sendiri Hanum, bagaimana?" Lydia memojokkan Hanum
"Aku sih ... sama kayak Mala yang memang sudah punya cita-cita jadi seorang Guru" jawabnya bangga
Dan sekarang tatapan Lydia berhenti pada seorang gadis yang dari tadi hanya jadi pendengar saja dan sesekali tampak pada matanya sedang melirik ke pemandangan yang ada di sekitar kampus itu seperti dalam keadaan bimbang dan pasrah.
"Nah! Sekarang kamu Ayunda. Kalau kamu gimana? Keliatannya ceritamu bakal lebih panjang dari mereka"
Ayunda yang mendengar peryataan dari Lydia hanya bisa tertawa kecil disertai senyum kakunya.
"Hei! Kok malah nyegir sih?" balas Lydia, ''ayo diceritakan Ayunda Syaharani!"
"Gimana yaa? Panjang banget ceritanya gak bakal cukup nanti kalau aku harus ceritain semuanya" Ayunda berusaha sedikit menghindar
__ADS_1
"Point-point pentingnya aja Ayunda. Oke? Please! Come on Ayunda!" jawab Lydia lirih
Melihat Lydia seperti itu mana bisa Ayunda menolak, Ayunda pun memulai menceritakan kisah dan alasannya, "Sebenarnya ceritaku hampir sama dengan Stevi dan Raya. Aku ambil studi pendidikan ini karena keluargaku yang menginginkan. Tapi sama seperti Stevi sekarang aku merasa bersyukur karena kalau gak gini aku gak akan bisa kenal dan akrab sama kalian"
"Udah gitu aja? Gak ada yang mau ditambahi ceritanya? Mumpung banyak pendengar di sini" Lydia masih merasa kurang akan alasan Ayunda
"Yakin mau denger dari awal sampai selesai?" Ayunda menyakinkan mereka sekali lagi
"Yakinlah! Buruan Ayunda!'' Lydia sudah tak sabar
"Jadi gini...dulu waktu masa kelulusan putih abu-abu aku dipertemukan dengan seseorang. Dia adalah seorang laki-laki yang baik, santun, dan ilmunya juga sangat baik. Setiap malam tertentu ia mengisi dakwah di masjid yang tak jauh dari rumahku dari situ aku mulai mengenalnya. Aku hanya mendengarkan ceramahnya saja dan aku tak memiliki keberanian untuk menatapnya hingga pada suatu hari setelah selesai majlis taklim ketika para jamaah sudah berhamburan dari masjid itu, hanya menyisakan 3 orang saja yaitu aku, teman Majlis ku bernama Yuna dan dia (Ustadz). Tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku dan Yuna pun berhenti dan menengok ke arah belakang. Kira-kira siapakah yang memanggil? Dengan perasaan ragu aku menyangka apa Ustadz yang memanggilku dengan menyebut nama lengkapku? Aku berfikir mana mungkin? Tapi ternyata memang benar Ustadz yang memanggil"
"Terus Ustadznya ngomong apa Ayunda?" tanya Mala, Raya dan Stevi penasaran kecuali Hanum yang memang sudah tau bagaimana cerita hidup Ayunda
"Terus Ustadz---"
"Ayunda, ayo cepet!" tutur Lydia memotong pembicaraan karena ia sudah cukup penasaran
"Dia mengungkapkan perasaannya terhadapku" Ayunda mengucapkan kalimat itu terdengar cukup sedih tapi tetap memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja
"Berarti kalian berhubungan sudah cukup lama donk? Berarti bentar lagi mau married nih?" Lydia spontan menerka-nerka
Hanum yang tau bagaimana kejadian yang dialami Ayunda sahabat dekatnya langsung melerai Lydia dengan cukup emosi,
Untung Lydia memang gadis yang tidak terlalu membesarkan masalah jadi Lydia tetap santai saja dan meneruskan ke pertanyaan selanjutnya,
"Jadi bagaimana Ayunda? Bener 'kan yang aku bilang tadi?" tanyanya cukup santai karena ia merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya malah seharusnya itu akan membuat Ayunda bahagia
Ayunda pun menatap dalam Lydia dan tersenyum dengan tenang menceritakan bagaimana akhir dari hubungan yang Lydia maksud,
"Sayangnya yang kamu ucapkan barusan tidak terjadi Lydia! Malah yang terjadi sebaliknya"
"Ayunda? Apa maksud kamu?"
"Setelah pengungkapan perasaan itu aku akui bahwa aku sangat bahagia. Karena sejujurnya aku juga memiliki perasaan yang sama padanya dan ditambah lagi ia mengatakan akan mengkhitbahku dan menghalalkanku secepatnya"
Lydia dan Mala yang sudah ingin menyela cerita Ayunda dengan berbagai pertanyaan tetapi dihentikan oleh Hanum. Supaya mereka mendengar ceritanya sampai selesai dan tak harus melontarkan pertanyaan yang sebenarnya menyakiti Ayunda kalau saja mereka tau.
"Terus Ayunda?" ucap Hanum
__ADS_1
Ayunda tersenyum ke arah Hanum dan melanjutkan ceritanya, "Aku merasa menjadi gadis paling bahagia waktu itu. Aku mendapatkan cinta dari seseorang yang aku cinta dalam hatiku. Keinginanku akan terwujud. Keinginan untuk bisa hidup bersama dengan pria yang ku cinta dalam Ridho-nya. Tapi hari-hari terus berjalan dan berlalu begitu saja sudah satu minggu aku menunggu kedatangannya menemui kedua orang tuaku dengan niat mengkhitbahku dan setelah itu aku bisa jadi miliknya selamanya dan begitupun sebaliknya. Tapi kembali lagi kita manusia hanya bisa berencana tapi Allah lah yang menetapkan segala sesuatu dengan jalan Terbaik-Nya"
Melihat pesanan makanan mereka yang sudah mau dingin Ayunda menghentikan ceritanya sejenak. Mengajak mereka untuk makan terlebih dahulu karena sudah dari beberapa menit yang lalu makanan mereka telah datang
"Ceritanya aku lanjutin nanti sekarang kita makan dulu!"
"Tapi Ayunda?" Raya yang sudah cukup dibuat penasaranan tetapi lagi-lagi Hanum melerai dan menghentikan. Hanum mengedipkan matanya dan menaruh jari telunjuk di mulutnya sebagai isyarat agar diam
Mereka Ayunda, Hanum, Mala, Raya dan Stevi beserta Lydia masih berada ditempat itu hingga makanan dari mereka habis satu-persatu. Mereka cukup betah berlama-lama di kursi bawah pohon itu karena tempatnya yang nyaman dan sejuk terlebih sering kali angin sepoi-sepoi menerpa kulit mereka.
Melihat raut wajah Ayunda yang cukup tenang Lydia ingin Ayunda meneruskan ceritanya tapi melihat sikap Hanum yang seolah-olah jangan memaksa Ayunda menceritakannya biarkan Ayunda bercerita kalau dia memang mau. Tentunya itu membuat Lydia serba salah dan tiba-tiba saja Raya mengingatkan Ayunda.
"Emm ... Ayunda yang tadi bagaimana?" kata Raya disertai senyum penuh arti
Ayunda langsung melanjutkan,
memutuskan untuk melanjutkan ceritanya yang belum terselesaikan.
"Aku menantinya dan aku sangat yakin bahwa dia akan menepati perkataannya. Lalu tibalah dimalam ia mengisi majlis taklim seperti biasa dan sama seperti malam kemarin saat ia memanggilku dan menyatakan perasaannya, malam itu pula ia berkata bahwa---? Ahh tidak, tidak sebelum mengatakan itu ia meminta maaf terlebih dahulu padaku. Iya ia meminta maaf padaku padahal dimalam sebelumnya ia mengungkapkan perasaannya sekarang kenapa tiba-tiba ia meminta maaf? Fikirku, ternyata ia meminta maaf karena ia belum bisa menemui kedua orang tuaku padahal sudah satu minggu lebih dari waktu seharusnya. Aku pun memafkan walaupun sebenarnya hatiku sudah tak sabar menagih bukti dari perkataannya kemarin. Tak berselang lama dengan suara cukup purau ia meminta maaf lagi padaku dan aku bertanya-tanya dalam hati permintaan maaf kedua ini untuk apa? Aku menegaskan lagi bahwa aku tidak masalah kalau dalam satu minggu ini ia belum bisa datang karena msih ada hari-hari berikutnya kemudian ia menjelaskan lagi dan ternyata permintaan maaf untuk kedua kalinya bukan karena itu namun karena ia tidak bisa menepati perkataannya bahwa ia akan mengkhitbahku dan menghalalkanku"
Ayunda mengungkapkan itu semua dengan cukup tenang tanpa ada air mata lagi yang lolos di pipinya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk jadi wanita tegar, kuat dan tangguh. Ia harus ikhlas dan memulai membuka hatinya lagi. Ini sudah jadi takdir Sang Maha Kuasa jadi Ayunda harus bisa menerimanya dengan ikhlas. Seperti yang Abah nya bilang jangan terpaku dengan masa lalumu sekarang Ayunda sudah mantap untuk menatap masa depannya dan mungkin sekarang juga sudah muncul ada rasa pada seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Raffa.
Mala, Raya, Stevi dan Lydia yang mendengar itu benar-benar tak percaya. Kenapa pria yang dipanggil Ustadz oleh Ayunda setega itu pada gadis sebaik Ayunda?
Kini mereka merasa bersalah karena telah memaksa Ayunda untuk menceritakan itu semua mereka pun langsung berdiri dan menghamburkan diri memeluk Ayunda.
"Stay calm guys! I'm great!" Ayunda meyakinkan pada Mala, Raya, Stevi dan Lydia.
Lydia kali ini benar-benar merasa tak enak hati, ia yang sudah memulai semuanya. Andai ia tidak banyak tanya pasti Ayunda tak pernah mengingat masa sedihnya dihari kemarin.
"l'm sorry Ayunda!" Lydia meminta maaf dengan menyatukan kedua tangannya dan duduk dihadapan Ayunda. Lydia memegang tangan Ayunda yang masih diletakkan di pangkuannya sendiri
"It's okay Lydia! No problem!" Ayunda berucap dengan wajah sangat tenang dan terlihat sedang tidak terjadi apa-apq
Lydia langsung memeluk Ayunda kembali dan menggoda Ayunda untuk menghibur, "Ayunda aku akan cari pangeran yang lebih baik untuk kamu jadi kamu tenang aja. Okay?"
Ayunda tak bisa menahan tawanya ketika mendengar perkataan Lydia barusan.
"Eh, beneran Ayunda! Sebutkan tipe kamu kayak apa? Ntar aku bantu nyari" balas Lydia,"yang pasti kamu gak perlu sedih karena dia lagi. Kamu harus tau bahwa masih banyak cowok lebih baik"
__ADS_1
"Iya bener banget kata Lydia dan perlu kamu ketahui bahwa We are always with you Ayunda Syaharani " ucap Mala
~