
Lidya melihat Ayunda membela dirinya sendiri saat dengan seenaknya Bella mengatai-ngatai Ayunda dengan perkataan yang kurang pantas. Lidya sudah melangkahkan kaki untuk membela Ayunda namun Ayunda bergerak dengan sendirinya sehingga Lidya membatalkan niatnya dan mengawasi dari kejauhan.
Melihat Ayunda dan Raffa bercakap-cakap, Lidya membatalkan niatnya mendekati Ayunda dan Raffa, Lidya pun bermaksud memberi waktu luang untuk mereka.
Lidya masih menunggu dari sisi tembok yang tidak terlalu jauh sampai mereka selesai dengan percakapan mereka saat itu setelah kepergian Bella yang entah kemana.
Di sisi lain tampak Ayunda menghembuskan kasar nafasnya tak menyangka Bella akan tetap mengolok-olok dirinya sesudah ia membelanya. Bukan maksud Ayunda meminta balas budi namun sebagai manusia apalagi sesama wanita kenapa Bella tak pernah mau menganggap Ayunda tulus baik padanya.
"Astagfirullahal adzim ..." mencoba untuk tidak lagi seudzon.
Tak lama kemudian berbalik arah tak terfikir oleh Ayunda bahwa Raffa ada juga saat ini maupun tadi.
"Loh Pak Raffa masih di sini? Dari tadi?"
Raffa mengangguk dan menahan tawa,
"Kenapa? Saya gak nyangka kamu akan seberani tadi? That's awesome!"
Dipuji seperti itu oleh Raffa Ayunda terasa sudah terbang ke langit indah di angkasa raya bertabur beribu bintang-bintang yang menghiasi.
Ayunda memang tak tahu kalau Raffa masih standby di belakangnya sedari tadi. Ayunda mengira saat dia menjawab hinaan Bella, Raffa sudah berlalu pergi. Lagian Ayunda juga tidak kepikiran kalau ada Raffa karena cukup kesal dan menahan emosi namun Bella tak mau mengerti posisi Ayunda hingga selalu saja mengatai Ayunda dengan seenaknya.
Entah kenapa dituduh Bella seperti itu membuat Ayunda luluh dari pertahanan kesabaran yang tetap ia coba pertahankan pada mulanya. Ayunda tidak bermaksud membalas hinaan Bella dengan yang setimpal, hanya saja Ayunda ingin menyadarkan Bella bahwa tak selamanya senior selalu benar dan sebagai senior sudah seharusnya menjaga omongan serta memberi contoh yang baik.
Melihat ekspresi Ayunda yang cukup sulit diartikan oleh Raffa akhirnya Raffa memilih memanggil Ayunda dan menyampaikan niat awalnya, "Ayunda sebenarnya saya tidak sengaja lewat sini saya sedang mencari kamu agar kamu menyelesaikan tugas rekapan kemarin!"
"Iya Pak sebenarnya saya juga mau menemui Anda menyelesaikan tugas rekapan itu tapi saya mencari Lidya untuk menemani saya."
Raffa yang mengerti maksud Ayunda pun mengangguk dan memberi intruksi kembali,
"Oh ya ya ... saya mengerti, kalau begitu kamu carilah Lidya dulu! Sesudah itu segera ke ruangan saya dan selesaikan tugas rekapan kemarin!"
Raffa dan Ayunda pergi dari tempat itu berlawanan arah.
Beberapa menit usai percakapan Raffa berbalik arah begitu juga Ayunda, saat itulah Lidya berjalan menyamai langkah Ayunda.
Kini Ayunda dan Lidya berhadapan satu sama lain dari arah yang berbeda.
"Syukurlah yang aku cari sudah muncul dengan sendirinya."
"Iyalah aku kan pengertian dan sangat peka dengan keadaan dan suasana."
"Yuk pergi menemui Pak Raffa!"
"Heemm ... ayo!"
Berjumpa dengan Lidya, Ayunda mengajak Lidya untuk segera menemui Raffa. Kenapa Lidya? Karena ide ini semua bermula dari Lidya jadi bagaimanapun Lydia harus bertanggung jawab untuk idenya itu.
Di ruangan Raffa Ayunda dan Lidya masuk mencari keberadaan Raffa. Lama celingak-celinguk di ruangan itu tetap tidak ada tanda-tanda Raffa di situ.
Ayunda dan Lidya memilih menunggu di depan ruangan Raffa.
Sesaat kemudian tampak Raffa sedang menerima telfon dari arah samping Ayunda dan Lidya.
Raffa masih fokus dengan panggilan telfonnya namun melihat keberadaan Ayunda dan Lidya ia pun mengakhiri panggilannya.
"Oh kalian sudah datang rupanya?Mari masuk!"
__ADS_1
Ayunda dan Lidya bangkit dari kursi mengikuti Raffa masuk.
Saat hendak ikut masuk, handphone Lidya berbunyi dan niat untuk masuk jadi tertunda karena Lidya harus mengangkat telfonnya terlebih dahulu.
"Lidya? Kamu dimana?" tanya seseorang yang melakukan panggilan telfon ke Lidya, "aku udah nunggu kamu dari tadi. Dan ini sudah mau mulai, Lidya!"
"Eh, salam dulu donk Hanum!"
"Oh iya. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam. Bentar-bentar kamu nunggu aku buat apa sih Hanum?" tanya Lidya masih bum faham maksud dari perkataan Hanum.
"Kamu gak lihat pemberitahuan di grup UKM literasi ya?" Hanum menduga bahwa Lidya pasti tidak membuka berita terbaru di grup UKM Literasi.
"Enggak, soalnya belom sempet dan rencananya sekarang aku mau nemenin Ayunda nyelesain tugas dari Pak Raffa kemarin."
"Kok kamu jadi ikut sih? Enggak seru donk nanti antara pak Raffa sama Ayunda?"
"Ya gimana lagi? Ayunda sendiri yang minta, katanya karena ini semua ideku, jadi aku harus tanggung jawab dengan nemenin dia apalagi setelah berita kating Bella tadi pagi, kata Ayunda gitu!"
"Bener sih! Menghindari hal yang tidak diinginkan maksudnya berita baru yang enggak mengenakan."
"Memang UKM literasi ada acara apa sih? Kok tiba-tiba banget?"
"Technicall metting buat presentasi karya ilmiah diajukan sekarang enggak jadi besok. "
"What? Kenapa kok gitu? Berarti presentasi juga diajukan besok? Enggak jadi lusa?" Lidya khawatir kalau presentasi karya ilmiah harus diajukan secara mendadak besok.
"Bukan, bukan gitu! Presentasi tetep lusa cuma technicall meetingnya saja yang diajukan hari ini," Hanum menjelaskan secara rinci beserta alasannya,"karena besok pengurus UKM lagi sibuk dengan kepentingan lain."
"Terus gimana ini?" Lidya merasa bingung sendiri dengan situasi yang harus dihadapinya kali ini.
"Lidya kamu ada acara?" Ayunda mengajukan pertanyaan sekaligus memastikan pembicaraan Lidya ditelfon yang sama-sama dapat didengar olehnya.
Lidya cukup kaget dengan pertanyaan Ayunda dan cukup kalang kabut juga menjawab pertanyaan tersebut. Tetapi pelan-pelan ia pun memberanikan diri memberitahu Ayunda,
"Emm ... itu Ayunda ... technicall meeting presentasi karya ilmiah UKM literasi diajuin hari ini, enggak jadi besok."
"Oh gitu yaa?" ucap Ayunda yang sekarang ikut merasa bingung juga," emm gimana ya?"
Raffa sudah duduk di atas kursinya sambil menyelesaikan proposal tesis yang masih perlu ia edit. Sesekali menatap ke arah pintu menunggu Ayunda dan Lidya masuk, namun ternyata tak ada tanda-tanda Ayunda dan Lidya masuk.
Raffa berdiri dari kursi menemui mereka yang masih ada diluar.
"Hei silakan masuk!" Raffa memberi intruksi.
Ayunda dan Lidya mendengar perintah Raffa namun masih saja diam di tempat.
Dan Ayunda membuka suara menyampaikan apa yang terpikirkan otak briliannya saat itu,
"Emm, Pak ... misal kalau saya menyelesaikan tugas rekapan kemarin di perpustakaan saja bagaimana?" Ayunda membuat penawaran.
"Iya Pak soalnya saya harus menghadiri acara UKM literasi hari ini." sahut Lidya antusias dan penuh harap bahwa Raffa akan menyetujui ide Ayunda
"Bagaimana Pak? Karena kalau di perpustakaan ada petugas perpustakaan dan banyak mahasiswa yang berlalu lalang juga"
"Oke, baiklah. Saya juga tidak ingin ada berita yang tidak-tidak lagi" Raffa setuju dengan ide penawaran Ayunda.
__ADS_1
"Alhamdulillah ..." Lidya merasa sangat lega.
"Oh ya, tapi sebelum Lidya pergi," Raffa ingat sesuatu dan kembali memberi intruksi kepada Lidya,"Lidya tolong kamu bantu Ayunda dulu ambil tumpukan berkas di loker saya di sebelah sana! Terus kalian langsung bawa saja ke perpustakaan Nanti akan saya susul!"
...****************...
Kali ini Lidya mengusap peluh setelah membawa tumpukan berkas yang Raffa suruh. Tak habis fikir bagaimana kemarin Ayunda membawa ini semua seorang diri.
"Kenapa? Capek ya?" goda Ayunda pada Lidya terlihat begitu capek dan ngos-ngosan.
"Ayunda gimana kemarin kamu bawa berkas-berkas ini? Gak habis fikir aku, tega banget pak Raffa ngebiarin kamu bawa semua ini sendiri."
"Kemarin aku bawa sendiri sih, tapi segera diambil alih sama Pak Raffa." Ayunda dengan langkah cepat menuju ke meja di perpustakaan.
"Oh so sweet!" Lidya mulai memunculkan aroma-aroma baper alias pujian atas sikap Raffa pada Ayunda
"Eh shutt!"
Ayunda menegur Lidya karena Raffa sudah sampai di perpustakaan itu.
"Loh kamu masih disini? Katanya tadi sudah di tunggu?" tukas Raffa kepada Lidya yang masih betah berlama-lama dengan Ayunda.
"Oh iya Pak! Terimakasih sudah diingatkan." Lidya meringis dengan cukup malu tetapi tetap sopan.
"Ayunda aku pergi dulu.Oke?" mengedipkan salah satu matanya.
"Saya pergi dulu Pak! Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." jawab Ayunda dan Raffa.
Tinggallah Raffa bersama Ayunda bersama petugas perpustakaan yang duduk tak jauh dari mereka berdua. Selama penyelesaian rekapan data dari Raffa, Ayunda lebih memfokuskan diri dan fikiran ke berkas di tangannya.
Hal itu tidak lepas dari pengamatan Raffa.
Melihat Ayunda sebegitu seriusnya membuat Raffa tersenyum kecil dan geleng-geleng tak habis fikir Ayunda akan seserius itu sudah seperti sedang mengikuti ajang kompetisi/kejuaraan.
Di sela-sela mengedit Raffa membuka handphonenya melihat pesan masuk disebuah aplikasi berwarna hijau dengan gambar telfon genggam berada di tengah aplikasi tersebut.
Disaat membuka salah satu grup ada salah seorang dosen mengirimkan pamflet "Kompetensi Essai dan Karya Ilmiah Nasional." Raffa melirik ke arah Ayunda yang masih sangat fokus dengan perintahnya menyelesaikan tugas yang aslinya adalah tugas Raffa sendiri.
Merasa ada yang memerhatikan Ayunda berpaling sejenak dari berkas yang harus direkapnya, mengarah ke depan tepat di hadapan Raffa. Seolah-olah sedang mempertanyakan kepada Raffa apakah ada yang salah dengan dirinya? Atau hasil rekapan tidak sesuai dengan kemauan Raffa?
"Banyak yang keliru ya, Pak?" tanya Ayunda ragu dan was-was, "pada hasil pengerjaan saya?"
"Tidak, tidak! Hasil pengerjaanmu sangat bagus Ayunda!" Raffa memuji dan kembali berkata,
"Ayunda ini ada kompetensi essai dan karya ilmiah, kamu berminat?"
"Non-fiksi ya pak berarti?" Ayunda bertanya dan memastikan serta memberi penilaian pada dirinya sendiri,"saya belum terlalu banyak pengalaman jadi penulis Pak, cuma kalau nulis puisi sering."
"Kamu coba dulu sajalah! Bagaimana kita mau maju kalau gak mau mencoba juga belajar?" Raffa mendukung dan memotivasi Ayunda.
"Anda benar Pak! Sudah saatnya untuk keluar dari zona nyaman." dengan senyuman semangat
"Nah itu sangat tepat!" Raffa sangat setuju dengan ucapan Ayunda dan ikut pula bersemangat.
Setelah berjam-jam di perpustakaan selesailah Ayunda menyelesaikan tugas rekapan itu. Dan Ayunda berlalu pulang begitu juga dengan Raffa.
__ADS_1
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!