
Menatap jalanan dan pemandangan dari jendela mobil itulah yang dilakukan Ayunda saat ini. Dengan sesekali menengok ke samping kanan menatap pria yang begitu serius mengendalikan setir mobil yang dikendarainya.
Tak butuh waktu lama mereka pun sampai ke tempat yang mereka tuju.
~ Di Ponpes Al-Hikam~
Sebelum kembali pulang, Ayunda dan Raffa menyempatkan untuk menjenguk Audri di Ponpes Al-Hikam sekaligus sebagai wujud pamit Ayunda yang mungkin tidak bisa mengajar lagi karena harus ikut dengan Raffa di kota M.
Ayunda dan Raffa menemui Ustadzah Azizah bersama suaminya yang kebetulan mereka sedang berada di kediaman mereka.
Ustadzah Azizah menyambut dan mempersilahkan masuk kedua tamunya tersebut.
Ayunda mengutarakan niatnya ke Ponpes Al-Hikam. Untuk menyampaikan rasa terimakasih, pamit serta untuk menjenguk Audri.
"Ustadzah, terimakasih banyak atas kesempatan yang Ustadz dan Ustadzah berikan kepada saya." ucap Ayunda pada Ustadzah Azizah dan Ustadz Mujahideen suaminya.
"Saya senang bisa mengajar Audri dan teman-temannya. Jujur mengajar mereka membuat saya banyak belajar dari mereka."
"Sama-sama Ustadzah Ayunda, kami juga mengucapkan terimakasih atas pengabdiannya mengamalkan ilmu di pesantren ini. Semoga ke depannya nanti Ustadzah dan keluarga senantiasa diberkahi begitu juga dengan Ponpes Al-Hikam ini."
Keempat orang yang terdiri dari Ayunda dan Raffa, Ustadzah Azizah dan Ustadz Agus selaku suaminya. Semua mengusap wajah dan mengaaminkan.
Setelah itu Ayunda dan Raffa pergi untuk menemui Audri. Tak lupa sebelum pergi dari kediaman Ustadzah Azizah, Ayunda juga menyerahkan bingkisan untuk mereka.
Raffa berjalan dengan menggandeng tangan istrinya. Melapor ke bagian keamanan akan kepentingannya ke Ponpes Al-Hikam.
Ayunda dan Raffa menunggu di tempat tunggu.
"Sayang, Mas tau kamu pasti akan cukup berat melepas santri-santri di sini." Raffa yang mengerti bagaimana peran Anak-anak dalam kehidupan Ayunda.
"Ini memang sudah kehendak Allah, Mas." berbicara ke arah Raffa,"Sesungguhnya walaupun seorang guru dan murid itu terpisah jauh, tapi ada satu hal yang takkan pernah memisahkan mereka yaitu do'a antara keduanya."
"MasyaAllah, kamu memang selalu bijaksana dari dulu hingga saat ini."
"Dan Mas juga banyak belajar dari kamu, istriku."
Meyentuh pipi Ayunda yang merona.
Ayunda dengan raut wajah tak percaya dan menatap Raffa dan berkata, "Iyakah Mas? Padahal aku yang banyak belajar dari kamu apalagi saat aku jadi Mahasiswa kamu."
__ADS_1
"Berarti kalau begitu kita sama-sama saling belajar dari satu sama lain." Raffa mengenggam erat tangan Ayunda dan mencium keningnya.
Beberapa saat setelah adegan pasutri diatas salah satu Mbak santri datang membawa informasi untuk suami istri itu.
"Ustadzah, mohon maaf Audri dan teman-temannya sedang ada kegiatan diluar Ponpes, kemungkinan juga kembalinya masih lama."
Salah seorang santri yang menjadi pengurus memberitahu. Dalam hatinya Mbak santri yang sudah memasuki usia 12 SMA itu membatin, "Untung saja sampai di sini saat pasangan penganti baru ini sudah selesai dengan adegan romantis mereka, kalau terlalu cepat sedikit saja kasian jiwa jombloku." Mbak santri mengatakan dan membayangkan sambil geleng-geleng serta mengelus-elus dadanya sendiri.
Mendapat informasi tersebut, Ayunda pun bangkit berdiri begitu juga dengan Raffa. Berat hati Ayunda pergi dari Ponpes karena tidak bertemu dengan Audri.
"Baiklah Mbak, saya titip ini untuk Audri." Ayunda memberikan bingkisan untuk Audri,"Dan tolong sampaikan salam saya dan suami saya padanya."
"Baik Ustadzah, mari saya antar!" Mbak santri dengan ramahnya.
Ayunda dan Raffa pun melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang.
Namun saat akan masuk ke mobil Ustadzah Azizah memanggilnya dan mencegah kepergiannya. Karena kediaman Ustadzah dengan pondok memang satu tempat. Hanya saja beda penyebutan.
"Ustadzah Ayunda, tunggu!" Memanggil sambil berlari ke arah Ayunda.
"Ustadzah bagaimana kalau besok malam Ustadzah menggantikan jadwal saya mengajar, agar Ustadzah dan santri-santri bisa saling melepas rindu dulu sebelum Ustadzah harus pergi jauh dari mereka."
"Tidak mengapa Ustadzah?" Ayunda memastikan
"Tidak Ustadzah."
"Terimakasih Ustadzah, terimakasih." Menatap Ustadzah Azizah berganti menatap ke Raffa dengan wajah sumrigah dan mata berkaca-kaca.
Ayunda dan Raffa pun melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang.
...****************...
Tinggal beberapa hari lagi Raffa Dan Ayunda di kota S. Setelah itu harus ke kota M.
Namun sepertinya Murad sudah tidak tahan menahan rindu pada Daddy dan Bundanya. Malam itu Mama Raffa melakukan video call ke Raffa dan Ayunda.
Mereka pun begitu senang dengan wajah malaikat kecil yang tampak dari layar handphone Raffa.
Murad begitu senang walaupun hanya lewat panggilan video call saja begitu juga dengan Raffa dan Ayunda.
__ADS_1
Mereka saling mengungapkan rindu. Mama Raffa juga memberitahu perihal acara pernikahan mereka yang akan diadakan di kota M. Mama Raffa meminta untuk mereka mendiskusikan terlebih dahulu mereka maunya dibuat acara pesta pernikahan mewah atau bagaimana? Dan mereka (Ayunda Dan Raffa) sepakat untuk mendiskusikan lebih dulu.
Karena sudah waktu jam tidur untuk Murad, Raffa pun mengakhiri panggilan video call tersebut.
"Murad, jadi anak yang baik jangan rewel kalau sama Grandma dan Grandpa. Love yo so much dan see you Jagoan Daddy!" Raffa yang nampak begitu rindu dengan Murad.
"Murad jadi anak yang baik yaa, Daddy sama Bunda sayang sama Murad. See you sayang!" Ayunda yang juga merindukan Murad.
Panggilan berakhir ...
Raffa tampak berkaca-kaca, Ayunda melihat itu. Ia langsung memeluk dan menguatkan suaminya agar lebih sabar lagi.
"Mas kamu jangan nangis. Aku sedih kalau kamu gini." Ayunda merasa bersalah karena jadi pemisah antara ayah dan anaknya.
"Maaf ini semua karena aku"
Jari telunjuk Raffa menyentuh bibir merah nan ranum Ayunda mengisyaratkan agar Ayunda tak berkata begitu.
"Tidak sayang ini semua bukan karena kamu, tapi ini semua karena kita harus membuatkan teman untuk Murad bermain." Raffa dengan nafas beratnya mendekatkan wajahnya dengan Ayunda tanpa celah sedikitpun. Dan Raffa pun membuat Ayunda terbang ke angkasa begitu mereka melakukan kegiatan berpahala bagi sepasang suami istri.
Keesokan harinya ....
Ayunda dan Raffa disibukkan dengan bingkisan yang ingin di berikan kepada para santri sebagai kenang-kenangan. Awalnya Ayunda hanya memberikan pada Audri tapi karena bisa bertemu dengan mereka semua (23 santri) Ayunda pun sepakat akan memberikan kepada semua santri saja. Begitu juga di Ponpes Al-Hikam Audri bersama teman-temannya juga sedang menyiapkan kenang-kenangan untuk Ustadzah Ayunda guru mereka. Tak mau ketinggalan Ustadzah Azizah bersama suami pun juga demikian.
Mendapat dukungan dari Raffa suaminya, membuat Ayunda bisa menyelesaikan secara lebih cepat.
Malam harinya ...
Malam ini Ayunda sudah bersiap begitu cantik dan anggun dengan gamis dan khimar yang dikenakan oleh Ayunda. Sangking begitu cantiknya Ayunda, dimalam itu Raffa ingin mencegah kepergian istrinya itu. Agar menemaninya saja di kamar dengan bermanja-manja bersama.
"Sayang, kenapa malam ini kamu tampil secantik dan seanggun ini?" Gumam Raffa mengekang menyandarkan tubuh Ayunda pada dinding dengan kedua tangannya mengekang Ayunda agar tak bisa kemana-mana.
Baiklah Ayunda tau kalau sudah begini sulit untuk membujuk Raffanya melepaskan dia. Ayunda dengan nakalnya menyentuh bibir Raffa dan berkata dengan begitu lembut pada suaminya kalau Ia harus pergi karena sudah di tunggu oleh para santri. Tak berpengaruh tangannya pun turun menyentuh tubuh atletis suaminya itu selain Ayunda yang suka dengan tubuh itu, Raffa pun sangat suka saat Ayunda yang menyentuhnya karena terasa lain bagi Raffa saat disentuh oleh tangan lembut Ayunda istri sahnya.
"Mas, ayolah katanya kamu mau mengantarkan aku ke ..." Ayunda kembali mengigatkan suaminya yang semenjak tadi terus-menerus menatap dengan cinta dan ingin.
Satu-satunya cara adalah membuat suaminya itu tersadar yaitu dengan mencium suaminya. Dalam hitungan detik Ayunda melakukannya dan ternyata caranya tak berhasil, Hingga ketukan pintu dari Ummi Hannah membuat keduanya bergegas bersiap diri dan pergi ke Ponpes Al-Hikam.
Masih dalam fase pangantin baru, harap maklum kalau suka mesra-mesraan terus 🤭. Tetapi memang baiknya kan begitu dalam hubungan pernikahan.
__ADS_1