
"Ya Allah Yang Maha Halus yang membolak-balikan hati tetapkanlah hatiku diatas Agama-Mu, aamiin." Ayunda berdo'a. Menatap langit senja dari jendela kamarnya.
Langit dan suasana senja seringkali menyiratkan pesan tersendiri untuknya. Momen senja serasa mengerti bagaimana suasana hatinya, sedih bahagia, takut menjadi satu tanpa bisa ia ungkap dengan gamblang.
Pasalnya, kini perasaannya diliputi keresahan serta kebimbangan akan pertemuan demi pertemuan yang ia alami dengan Raffa.
"Apakah ada sesuatu yang akan terjadi antara mereka atau hanya sebuah kebetulan. Tapi apa ada yang kebetulan di dunia ini?" Fikirnya dengan menikmati langit senja sore itu.
"Ya Allah, kenapa aku harus bertemu dengannya lagi dan lagi?" Ayunda tersenyum dengan cukup kebimbangan.
Sesaat kemudian, datanglah Ummi Hannah ke kamar tersebut untuk menemui Ayunda.
Ummi Hannah merasa bahwa putrinya sedang tidak baik-baik saja, apalagi mengigat segala kejadian yang terjadi pada Ayunda hari ini. Hal yang tampak tidak wajar tapi nyata adanya.
"Ayunda?" Panggil Ummi Hannah pelan sambil menengok setiap sisi dari sudut kamar.
Dan tampaklah Ayunda yang sedang berdiri tepat di samping jendela kamar yang menghadap ke kaca transparan yang menampakkan keindahan langit sore hari itu.
"Rupanya kamu di situ sayang!" Ummi Hannah pun lega mengetahui putrinya yang nampak baik-baik saja.
Saat akan beranjak pergi karena tak ingin menganggu putrinya yang sedang butuh waktu sendiri, secara tak sengaja Ummi mendapati sesuatu di atas tempat tidur putrinya tersebut, "Apa ini? Sapu tangan?" Ummi berbicara dalam hati, "tapi, sejak kapan Ayunda punya sapu tangan ini? Perasaan Ayunda tidak pernah suka punya sapu tangan apalagi memakai sapu tangan?"
Ummi mendekati Ayunda dan memanggilnya, "Ayunda?" Menepuk bahu Ayunda.
"Ummi?" Ayunda yang baru tau akan keberadaan Umminya di kamarnya.
"Sayang, apa yang sedang kamu fikirkan?" Ummi yang cukup resah saat melihat bagaimana raut wajah putrinya tersebut. Raut wajah yang tersenyum dengan kebimbangan yang nampak jelas dari sudut matanya Ayunda.
"Bukan apa-apa Ummi, ini cuma tentang ... "Ayunda melanjutkan dengan sedikit ragu namun belum selesai Ummi sudah lebih dulu bertanya mengenai sapu tangan di atas tempat tidurnya itu.
__ADS_1
"Ayunda, sapu tangan itu punya siapa?" Tanya Ummi menunjuk ke arah dimana sapu tangan itu berada.
"Oh, itu, itu milik ... milik Kak Raffa, Ummi! " ucapnya dengan terbata-bata dan cukup kikuk.
"Hah? Bagaimana bisa sayang? Ummi kira kamu cuma enggak sengaja dibantu sama dia." Ummi cukup tak percaya,"terus, gimana bisa kamu bawa sapu tangannya Raffa?" Ummi sudah dipenuhi rasa penasaran.
"Jadi, begini Ummi ..." Mulai menceritakan kronologi dari sapu tangan Raffa yang ia bawa tersebut.
Ayunda mulai bercerita dengan tersenyum supaya Ummi tidak cemas dengan apa yang akan ia katakan.
Sedangkan Ummi, raut wajahnya sudah dipenuhi rasa ingin tau dan penasaran yang tak tertahan.
"Tadi siang, Kak Raffa lihat aku lagi nangis Ummi." Ungkap Ayunda dengan nada lirih diakhir.
"Jadi, tadi kamu nangis? Kok bisa? Anak Ummi yang kuat ini nangis?" Ummi ingin Ayunda menceritakan dengan keluasan hatinya sendiri.
"Tadi, Ayunda cuma keinget----- Ustadz Habib, Ummi." Jawab Ayunda dengan raut wajah yang dibuat setenang mungkin agar Umminya tak semakin khawatir.
Sungguh Ummi, ia tak mampu melihat putrinya yang berpura-pura untuk setenang dan setegar mungkin seperti itu saat menceritakan apa yang membuatnya menangis.
Dalam dekapan Umminya, Ayunda berkata dengan nada masih setenang mungkin, "Ayolah Ummi! Ayunda baik-baik saja kok!"
"Sayang, kamu jangan menyembunyikan kesedihanmu pada Ummimu ini, Nak!" tegas Ummi.
Ayunda pun berkata pada Umminya mengenai keadaan hatinya, "Enggak Ummiku sayang, Ayunda enggak menyembunyikan apapun dari Ummi."
Sungguh menambah kecantikannya saat sebuah senyuman tersungging di wajah Ayunda. Ditambah tatapan yang meneduhkan.
Tentu itu membuat Ummi Hannah juga merasa tenang kembali dan tidak perlu meresahkan apapun situasi yang terjadi.
__ADS_1
"Ayunda serahkan semua kepada Allah! Libatkanlah Allah dalam setiap hal! Teruslah berdoa dan minta petunjuk Kepada-Nya!"
Ayunda mengangguk dan tersenyum sebagai tanda patuh pada apa yang Umminya katakan.
"Semangat ya sayang karena apapun yang terjadi kamu harus selalu semangat, tidak boleh menyerah dan kamu harus selalu bisa mengambil hikmah dari setiap hal yang kamu alami!" Ummi menyemangati dan menasehati.
"Ayunda, kalau Ummi boleh tau, apakah kamu sudah mulai membuka hati kamu untuk Raffa misalnya? " Tanya Ummi yang mencoba menerka isi hati putrinya.
"Ummi, ngomong apa sih?" Ayunda menyangkal.
"Terus, kenapa? Kenapa dengan wajah merona bercampur sendu yang terlihat dari wajah putri Ummi yang cantik ini?" Ummi menyentuh wajah Ayunda sesekali mengamati dari sorot mata Ayunda,"heem? Coba ceritakan apa yang sudah terjadi dengan hati putri Ummi ini?" Lanjut Ummi memposisikan dirinya sebagai Ibu sekaligus sahabat untuk Ayunda.
"Enggak Ummi, Ayunda cuma kepikiran apa yang sudah terjadi hari ini. Dunia ini luas Ummi, tapi satu hari ini, Ayunda berulang-ulang kali bertemu dengan Kak Raffa. Ayunda, ..."
"Iya sayang, Ummi mengerti apa yang kamu rasakan." Ummi memegang kedua bahu Ayunda seraya menatap dalam putrinya dan mengucapkan, "kebahagiaan pasti akan datang!"
Mencium kening Ayunda cukup lama dan berdoa yang terbaik untuk putrinya. Karena Ummi tau bagaimana perasaan putrinya itu harus mengalami kekecewaan karena belum bisa melanjutkan kejenjang yang lebih serius karena kurangnya persetujuan dari Ibu pihak laki-laki yaitu Ibu ustadz Habib. Selain itu, ia juga harus menerima hinaan dari beberapa orang tetangga yang usil.
"Ya Allah berilah putri hamba kebahagiaan yang lebih baik dari apa yang ia inginkan! Kuatkan dia selalu! lindungi dan jaga ia Ya Allah. Aamiin!" do'a Ummi Hannah untuk Ayunda (putri bungsunya) setelah itu adzan Maghrib pun berkumandang.
"Ayo Ummi, kita siap-siap untuk salat Maghrib!"
Ayunda pergi dan beranjak mengambil wudhu.
Ummi Hannah masih menatap langit dibarengi dengan lantunan adzan sore hari itu. Berharap bahwa Raffa lah kebahagiaan yang memang dihadirkan untuk putrinya.
....
Manusia bisa berharap tetapi tetap Allah lah yang Maha Mengetahui apa dan yang mana yang terbaik untuk hambanya.
__ADS_1
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!