Ayunda Syaharani

Ayunda Syaharani
Terasa di Persimpangan Jalan


__ADS_3

Suara lantunan adzan Maghrib menyadarkan Ayunda, secepat mungkin ia bangkit bersih-bersih diri, berwudhu dan bersiap mengajar di Ponpes al-hikam.


Di Ponpes al-hikam lah,


Ayunda menghabiskan tiga tahun yang berharga bersama para santri cilik di sana. Dari merekalah Ayunda belajar arti bahagia yang sebenarnya. Dari merekalah Ayunda tak kenal kata terpuruk setelah ujian demi ujian yang harus didapat.


Senyum, canda tawa, semangat belajar mereka para santri cilik menggugah hatinya untuk tetap menjalani hidup nya dengan penuh canda tawa, senyuman dan semangat belajar. Karena dengan mau belajar kita akan lebih terbuka hati dan fikiran kita.


Seperti biasa Ustadzah Ayunda selalu mendapat sambutan penuh kehangatan dari para santri cilik itu. Maka berlangsungah kegiatan belajar-mengajar di malam dengan gemerlap bintang disinari sinar sang rembulan.Senyum mereka, canda tawa mereka, dan semangat belajar mereka para santri cilik itu selalu bisa menggugah hati Ayunda. Untuk tetap kuat dalam menjalani hidup dengan senyuman, canda tawa, dan semangat belajar. Karena dengan mau belajar akan membuat fikiran dan hati lebih terbuka.


Seperti biasa Ustadzah Ayunda selalu mendapat sambutan penuh kehangatan dari para santri cilik itu. Maka, berlangsungah kegiatan belajar-mengajar dimalam dengan gemerlap bintang disinari sinar sang rembulan.


Kalau Ayunda sedang berbagi ilmu dan kebahagiaan bersama para santri cilik di Ponpes al-hikam, Sore itu di sebuah pondok pesantren atau lebih tepatnya di kediaman orang tua Ustadz Habib, terjadi sedikit perdebatan kembali antara kedua orang tua Ustadz Habib.


“Abah, Bunda tidak akan pernah meridhoi kalau Zydan harus memegang perusahaan keluarga, Bah. Biarlah perusahaan itu dipimpin orang lain saja Bah. Maksud Bunda orang kepercayaan pak Tedi di perusahaan warisan keluarga Abah. Jangan Zydan Bah! Zydan adalah penerus pesantren kita Bah.”


“Bunda, tolong jangan bersikeras seperti ini!”


“Kok Bunda yang bersikeras sih Bah? Abah yang jangan bersikeras menyuruh Zydan untuk memimpin perusahaan. Karena sedari kecil kita sudah mencetak Zydan sebagai penerus pesantren ini, Bah. Bukan penerus perusahaan” tegas Ibunda Ustadz Habib masih terus berlanjut,“dan Abah ingat pesan neneknya Zydan kan, bahwa Zydan lah kelak yang harus menjadi penerus pesantren ini, Zydan harus mengabdikan diri untuk pesantren keluarga Abahnya bukan perusahaan keluarga Abahnya.”


Dengan nafas terengah-engah sembari memegang dadanya Ibunda Ustadz Habib mengatakan semua itu kepada suaminya. Sedangkan Abah hanya mampu diam karena pada kenyataannya memang begitulah adanya. Itulah pesan dari sang Ibunya sebelum menghadap kehadirat Allah SWT.


Sejenak Abah berpaling ingin pergi dan tak meneruskan perdebatan antara ia dan istrinya. Tapi mendengar ada barang yang jatuh membuat Abah membatalkan niatnya untuk pergi, dan Abah langsung panik saat melihat istrinyadengan nafas terengah-engah sambil memegangi dadanya, dan langsung pingsan saat itu juga. Abah pun berteriak meminta tolong dan tak butuh waktu lama para santri datang untuk membopong Bu Nyai Ponpes itu ke dalam mobil.


Abah bersama putrinya yakni adik Ustadz Habib masih tengah menunggu bagaimana keadaan wanita terkasih dan tersayang mereka. Namun, kata dokter perlu penanganan yang serius karena asma yang diderita sebenarnya sudah cukup lama namun baru diketahui dan dibawa ke rumah sakit.


Raut wajah tak menyangka serta sedih pun dirasakan oleh Abah dan adik dari Ustadz Habib saat ini.


Ustadz Habib saat ini sedang pamit ke Pak kyai Ali untuk pulang sebentar. Menanyakan perihal ia yang harus menggantikan Pak Tedi di perusahaan keluarga yang menjadi penopang hidup para santri Abahnya.


Setelah satu jam perjalanan, sampailah Ustadz Habib di kediaman orang tuanya. Di sana para santri sudah berjejer dan berdiri dengan rapi menyambut kedatangan putra mahkota dari pesantren di mana mereka mengaji dan memperdalam ilmu agama mereka.


Dengan tersenyum ramah Ustadz Habib menyapa salam dari mereka para santri. Berangsurlah Ustadz Habib ke kediaman Abah dan Ibundanya. Dicarinya sosok kedua orang tua yang ingin ia temui, juga sangat dirindukan olehnya.

__ADS_1


Cukup lama Ustadz Habib mencari ke berbagai sudut ruangan, tapi tak ada tanda-tanda akan keberadaan Abah dan Ibundanya. Ia pun pergi ke kamar adik perempuan nya yang bernama Syahla Khoirun Nisa. Diketuknya kamar sang adik dengan cukup lembut, tapi tidak ada balasan sama sekali. Hingga salah satu santri yang ikut tinggal di kediaman Abah dan Umminya memberitahu bahwa semua orang tengah pergi ke rumah sakit karena Bu Nyai (Ibunda Ustadz Habib) sedang sakit.


Ustadz Habib kaget mendengar kabar itu, bukannya baru kemarin Ibundanya menemuinya di Ma’had? Sempat berdebat dengannya pula, lantas mengapa malam ini ia harus mendengar kabar ibundanya yang sedang sakit? Tanpa tunggu lama Ustadz Habib langsung melajukan mobilnya untuk pergi ke rumah sakit di mana Ibundanya dirawat.


Di rumah sakit yang terletak di kota M, Ustadz Habib dengan langkah cepat melangkah ke ruangan IGD menghampiri Syahla adiknya yang terlihat begitu cemas melihat kondisi orang terkasih dan tersayang mereka.


“Syahla apa yang terjadi dengan Bunda?” tanya Ustadz Habib begitu khawatir


“Bunda terkena asma Mas, kata dokter perlu penanganan yang serius karena telat diketahui dan telat dibawa ke rumah sakit.”


“Astaghfirullah, bagaimana bisa Bunda diam saja saat merasakan sakit yang dideritanya? Harusnya saat sudah terasa harus segera dibawa.” Ustadz Habib merasa bersalah karena kemarin ia sempat membantah Ibundanya.


Jam demi jam terus berjalan, tapi Ibunda Ustadz Habib masih belum sadarkan diri. Kini Abah mulai berbicara empat mata kepada putranya.


“Zydan Huseein Habibi anakku, kamu lihat kondisi Ibundamu saat ini, Nak”


Ustadz Habib mengangguk. Dalam hati merasa bersalah dan bersedih atas kondisi Ibundanya.


“Sebenarnya, ini semua terjadi karena Ibunda mu terlalu memikirkan rencana Abah yang akan menjadikan mu sebagai CEO di perusahaan warisan keluarga, padahal wasiat dari nenekmu kamu adalah penerus pesantren warisan keluarga Abah bukan perusahaan yang kami miliki. Jadi, Zydan lebih baik kita batalkan saja rencana itu. Untuk pengganti Pak Tedi bisa diganti kan orang lain yang berkompeten dan jujur tidak harus kamu. Dan Abah akan membicarakannya kembali kepada Pak Tedi, InsyaAllah beliau akan setuju.”


Ustadz Habib mengusap kasar wajahnya. Ia rasanya ingin marah tapi percuma. Semua sudah menjadi garis Tuhan ia diciptakan sebagai putra dari Kyai pondok besar dengan peraturan yang cukup besar pula. Ia sangat merasa bersyukur berada di kalangan pesantren dengan begitu ia sangat mengenal berbagai macam ilmu agama dari yang umum hingga ke pokok.


Tapi ternyata menjadi bagian keluarga dari kalangan pesantren ada beberapa peraturan yang tidak bisa ia sangkal sama sekali walaupun hati sungguh ingin menyangkalnya. Kembali lagi bahwa setiap sesuatu sesungguhnya ada dampak tersendiri.


Setelah perbincangan serius dengan Abah, alhamdulillah Ibundanya dinyatakan sudah sadarkan diri. Mereka segera menemui wanita tersebut.


Wanita yang biasanya selalu tampil modis, rapi dengan tetap menampilkan gaya pesantrennya serta begitu istiqomah dalam memurojaah Al-Qur’an, kini ia hanya bisa terbaring lemah dengan baju berwarna biru yang membalut tubuhnya.


Air mata pun lolos begitu saja di netra Ustadz Habib yang tak tahan melihat kondisi ibundanya.


“Abah, Syahla ... Bunda di mana?” tanyanya terdengar begitu lemah


“Bunda, bunda istirahat saja dulu! Sekarang Bunda lagi di rumah sakit”

__ADS_1


“Bunda sakit ya? Asma bunda kambuh?”


Syahla mengangguk dan Abah yang tidak tahan untuk berbicara pun kini berbicara kembali.


“Bunda, kenapa Bunda merahasiakan penyakit Bunda ini kepada kita semua?”


“Bunda tidak mau kalian khawatir. Itu saja”


“Zydan kamu di sini juga?”


Ustadz Habib pun masuk setelah sang Bunda memanggilnya dengan sebutan Zydan.


“Iya Bunda. Bunda cepatlah sembuh! Zydan ingin Bunda sehat kembali”


“Apa yang Bunda inginkan dari Zydan, Zydan akan penuhi itu semua Bunda. Apapun itu, asalkan Bunda harus janji sama Zydan, Bunda harus sembuh dan sehat kembali”


“Zydan, kamu yakin apapun yang Bunda minta dari kamu, kamu akan turuti? Aapun itu?”


Ustadz Habib mengangguk seraya memejamkan matanya sebagai pertanda bahwa ia sangat yakin dan serius dengan ucapannya.


Ibunda Ustadz Habib pun mengulurkan tangannya memegang tangan putranya itu dan berucap,


“Zydan, kamu jadilah Zydan yang sekarang saja yang dikenal dengan nama Ustadz Habib tak perlu kamu menjadi Pak Zydan CEO PT. Zydan group”


“Iya Bunda, Zydan enggak akan menerima permintaan Abah itu. Zydan akan membatalkannya. Zydan akan tetap mengabdi di Ma’had Pak Kyai Ali”


“Masa pengabdianmu sudah selesai Zydan, menikahlah Nak! Bunda ingin menimang cucu”


“Iya Bunda, Zydan akan menikah”


Seulas senyum terpancar di wajah wanita yang dipanggil Bunda oleh Ustadz Habib,


“Dengan wanita pilihan Bunda?”

__ADS_1


Ustadz Habib sekali lagi mengangguk dan memejamkan matanya sebagai tanda setuju dan keseriusannya.


~


__ADS_2