Ayunda Syaharani

Ayunda Syaharani
Nervous, pasti ada!


__ADS_3

Pagi masih terasa dingin walaupun sudah pukul 06.40 WIB. Meski demikian sarapan di dalam rumah joglo modern itu tetap berlangsung dengan nikmat dan harmonis.


"Alhamdulillah" ucap Abah yang selesai makan lebih awal meraih beberapa lembar tisue disusul Ummi dan Ayunda.


Ummi yang melihat masih ada beberapa potong sandwich menyuruh Ayunda agar membawanya. Ummi melihat Ayunda hanya memakan sedikit sandwich nya daripada masih banyak lebih baik kalau putri bungsunya membawanya sebagai bekal.


"Ayunda sandwichnya kamu bawa yaa? Ummi lihat kamu baru makan beberapa potong"


"Emm ... gak usah Ummi. Ayunda sudah cukup kenyang"


"Udah pokoknya kamu bawa aja. Nanti kamu 'kan bisa makan bareng temen-temenmu"


Ayunda pun menuruti kemauan Ummi Hannah.


Sesudah membereskan meja makan Ayunda bersiap pergi ke kampus sebelum itu mengambil tas dan beberapa buku yang harus ia bawa.


Dalam perjalanan Ayunda sedikit kena macet dan itu membuat Ayunda hampir telat begitu juga dengan Raffa.


Raffa mengurungkan niatnya untuk mencari sarapan lebih dulu karena tak ada waktu untuk Raffa mencari makan.


Sebagai seorang Dosen tak patut rasanya kalau ia datang telat apalagi mengingat Om Fahri nya dulu adalah orang yang sangat disiplin. Ia memutuskan untuk langsung ke lantai atas menemui Mahasiswa yang pasti tengah menunggu kedatangannya.


Sampailah Raffa di rungan tersebut.


Masuk dan mengucap salam. Mempersilakan pemateri untuk mempresentasikan materinya,


"Silakan, untuk yang presentasi hari ini. Maju ke depan mempresentasikan materinya dengan sebaik mungkin!"

__ADS_1


Majulah ke-4 pemateri yang bertugas.Mereka memaparkan materi mereka. Setelah selesai memaparkan tiba-tiba saja Raffa yang cukup kurang puas dengan materi yang mereka sampaikan memberi kritikan cukup pedas kepada mereka. Dan Mahasiswa yang lain pun pastinya ikut merasa bersalah dan tercengang.


"Perlu kalian ketahui! Saya paling tidak suka dengan pemateri yang kurang maximal dalam mempersiapkan materi nya padahal sudah ada banyak waktu yang bisa mereka manfaatkan dengan sebaik mungkin. Tapi apa hasilnya? Kalian sepertinya hanya menyia-nyiakan waktu itu kalian itu bukan anak SMA lagi kalian sudah cukup dewasa sekarang ini. Jadi, ayolah sadar dan tingkatkan rasa tanggung jawab kalian! Kalian ini sudah jadi Mahasiswa loh! Apalagi kalian ini nantinya akan menjadi seorang Pendidik"


Raffa berbicara dengan nada cukup tegas karena ia hanya ingin mereka lebih sungguh-sungguh, lebih bisa memanfaatkan kesempatan yang mereka dapat dengan sebaik-baiknya. Tanpa maksud lain, ia terus memberikan nasihat dan arahan kepada mereka dengan niat untuk perbaikan diri mereka setelah ini.


"Perlu kalian ketahui juga! Menjadi seorang Pendidik itu perlu pengetahuan yang luas, harus ulet, cekatan dan yang paling penting ialah bertanggung jawab. Karena di tangan kalianlah masa depan bangsa ini kalau Gurunya saja tidak bertanggung jawab dan berwawasan luas, bagaimana nanti bisa melahirkan generasi penerus bangsa yang berkualitas? Kalian tentu tau bahwa Guru itu dijadikan contoh untuk murid-muridnya"


"Kalau kalian baru presentasi, berdiri di depan teman kalian sendiri sudah nervous, bagaimana semisal suatu hari nanti kalian menjadi seorang pemimpin? Katakanlah sebagai kepala sekolah, kalian pasti akan menghadapi banyak orang tidak cuma siswa kalian tetapi juga tenaga pendidik lain yang terkadang usianya


lebih tua dari kalian."


"Yaa saya tau nervous itu pasti ada tapi itu kembali lagi ke kita, bagaimana pintar-pintarnya kita bisa merubah sinyal negatif itu menjadi energi positif. Semua orang pasti akan merasa nervous ketika harus berhadapan di depan orang banyak. Kalian tau Presiden Amerika Serikat Barak Obama kalau ia sudah berbicara para audiensnya pasti akan langsung diam dan menyimak dengan baik. Nah itu bisa kita jadikan inspirasi. Mulai sekarang, kita harus selalu melatih diri dan yang paling penting mempersiapkan semua dengan matang sebelum harus berdiri dan berbicara di depan banyak orang. Maksud saya berkata demikian saya ingin kalian menjadi Pendidik yang baik sekaligus berkompeten dan profesional. Karena menjadi Pendidik tidak gampang walaupun keliatannya gampang. Menjadi Pendidik merupakan sebuah kemuliaan, jadi ayolah! Kita sama-sama bersungguh-sungguh dalam menapaki dunia pendidikan ini. Ayo kita buat perubahan baru untuk bangsa Indonesia yang kita cinta! Bagaimana melakukan perubahannya? Dimulai dari diri kita masing-masing yaitu dengan bersemangat, bersungguh-sungguhlah dalam belajar dan mencari ilmu, pengalaman dan wawasan agar kita bisa menjadi seorang pendidik yang baik"


Setelah semua mendengar apa yang Pak Raffa sampaikan suasana menjadi hening. Banyak mahasiswa tersadar setuju dengan apa yang Pak Raffa katakan termasuk Ayunda.


Raffa secara tak sengaja mengetahui sorot mata Ayunda padanya bahkan tak sedikit dari mahasiswa lain juga menatapnya dengan tatapan yang ia sendiri kurang dapat mengartikannya. Yang jelas bagi Raffa ia harus menyadarkan/memberi arahan kepada mereka untuk kebaikan mereka. Ia pun berdiri dari kursi kemuliaannya, memeberikan uploase kembali menampilkan senyum dan mencairkan suasana perkuliahannya. Ia juga memberi penjelasan mengenai tema pemateri hari ini.


Raffa rasa tak baik kalau ia harus bersikap dingin dan acuh. Itu bukanlah prinsipnya ketika ada murid atau siswanya yang melakukan kesalahan Raffa akan dengan tegas memberi arahan dan nasehat. Setelah mereka cukup mengerti dan sadar Raffa akan kembali mencairkan suasana. Sebenarnya kalau boleh memilih Raffa juga tidak ingin mengeluarkan kata-kata yang cukup pedas di telinga. Namun kembali lagi itu semua Raffa lakukan demi kebaikan mereka.


Beberapa menit kemudian perkuliahan selesai semua langsung meninggalkan kelas. Tinggal Ayunda yang masih di ruangan tersebut. Awalnya Ayunda berniat menemui Raffa mengembalikan sapu tangan sekaligus memberikan bekal sandwich nya sebagai tanda terimakasih. Namun Ayunda mengurungkan niat itu dan memikirkan niat itu kembali,


"Eemm ... apa baik aku mengembalikannya sekarang?" Ayunda membatin dan berfikir karena Raffa suasana hatinya sedang tidak mendukung


Dengan mengucap Bismillah Ayunda pun menguatkan niatnya. Menghampiri Raffa dan mengembalikan sapu tangan milik Raffa. Sudah terlalu lama rasanya ia membawa sapu tangan itu sampai karena sapu tangan itu ia sering senyam-senyum sendiri. Dan sekarang sudah saatnya ia sapu tangan itu kepada pemiliknya.


Dan.....

__ADS_1


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰....!


Assalamu'alaikum readersku tersayang 😚,


semoga kalian selalu dalam lindungan-Nya dan dalam keadaan baik.


Mungkin belakangan ini saya akan telat up readersku tersayang, dikarenakan deadline yang mengejar saya🙏


Tapi akan aku usahakan up di hari ke-3, eh emang aku sering up 3 hari sekali yaah🙈🤣🙏. Sebenarnya terkadang saya sudah Mempersiapkan episode selanjutnya guys, tapi masih ke simpen, belum ke edit. Biasanya nggak sempat ngedit karena emang banyak tugas terkadang juga badmood 🤣.


Nggak ... nggak, emang lagi banyak tugas guys😚. Kalau badmood buat dengerin musik udah pergi sendiri badmoodnya 😌.


So, sabar nunggunya🤗


and always happy guys🥰😇


I love you more ...


Ouhh yaah, satu lagi ... terimakasih buanyak atas comment kalian ✨😎


Episode yang kemarin cukup membuat baper yaah, lihat puisinya Mbak Ayunda untuk Pak Raffa. 😌


InsyaAllah beberapa episode lagi detik-detik menegangkan akan terulang kembali 😁


Duh, maaf ya nggak selesai-selesai sesi curhat saya🤣.


Udah ahh, saya balik dulu. See you soon 😘

__ADS_1


__ADS_2