
Keesokan harinya di hari Senin.
Waktu di kota M menunjukkan pukul 06.00 WIB pagi.
Keluarga yang terdiri dari Daddy Raffa, Bunda Ayunda, Kakak Murad dan adik Kiara, mereka tengah bersiap-siap.
Murad dan Kiara sudah rapi lebih dulu ditangan Ayunda juga Grandma yang ikut membantu.
Ayunda juga sudah berpakaian rapi dengan seragam batiknya sebagai guru. Sedangkan Raffa, ia tak mau kalah rapi tentunya. Ia juga sedang asik bersiap. Bersiap memakai kemejanya dan saat ini,
ia sedang berusaha mengancingkan kancing kemeja yang ia kenakan.
Saat fokus memasang sendiri, tangan lembut seorang wanita datang mengambil alih. Wanita itu memasangkan setiap kancing dari kemeja Raffa dengan begitu lembut dan tulusnya.
Saat semua sudah terkancing dengan baik dan benar, Ayunda pun berniat pergi dan menilik kembali Murad dan Kiara, namun tangan Raffa menahan kepergian Ayunda. Hingga Ayunda harus terbentur dengan dada bidang Raffa. Ayunda masih bersikeras mencoba untuk lepas dari usaha Raffa yang mencekal kepergiannya. Dengan begitu lihai Raffa dengan tangan kekarnya tak membiarkan Ayunda lepas begitu saja darinya. Reflek netra mereka pun saling bertemu. Ayunda yang masih cukup malu walaupun sudah mempunyai anak bersama Raffa, ia langsung menundukkan wajah.
"Sayang kenapa menundukkan wajah begitu?" Raffa penasaran dengan yang dilakukan Ayunda, padahal sudah satu tahun lebih mereka bersama. Fikir Raffa saat melihat Ayunda yang menunduk dengan rona yang nampak begitu jelas di pipinya.
"Aku malu, Mas."
"Kenapa malu sayang? Kita sudah bersama satu tahun lebih loh, sudah ada Kiara juga ditengah kita." Cercah Raffa menyangkal.
"Itu Mas ... aku ... aku teringat dulu waktu aku masih jadi mahasiswa dan kamu dosenku." Masih dengan menunduk sambil senyam-senyum.
"Ah iya waktu itu!" Raffa mengigat masa-masa penuh kenangan dengan Ayunda. Masa dimana ia masih jadi dosen dan Ayunda mahasiswanya. Masa dimana ia begitu menjaga jarak dengan Ayunda walaupun sebenarnya selalu ingin mendekat.
"Mahasiswa baik dan teladan!" mencolek hidung Ayunda dengan gemas.
"Yang sering nawarin bantuan ke Pak Raffa?" Sahut Ayunda.
Mereka kini saling tertawa bersama mengigat kenangan mereka. Tak mau kalah Raffa pun mengeluarkan kalimat pamungkas yang sering mereka utarakan selesai Ayunda membatunya dalam menyelesaikan tugas.
"Terimakasih karena kamu sudah banyak membantu saya, Ayunda."
"Sama-sama Pak Raffa."
Ucap mereka menirukan gaya mereka beberapa tahun yang lalu saat masih Raffa menjadi dosen dan Ayunda mahasiswanya.
Setelah saling tertawa mengingat dan meniru gaya pamungkas mereka beberapa tahun yang lalu, mereka pun saling tatap kembali. Di sini Ayunda mengungkapkan sesuatu pada Raffa,
"Mas, kini aku akan selalu membantu kamu kapanpun itu."
"Sama sayang, Mas juga begitu. Akan selalu siap membantu kamu dan membahagiakan kamu kapanpun itu." Balas Raffa dengan penuturan manisnya.
Dan percakapan antara suami istri di pagi hari itu, mereka akhiri dengan saling berpelukan.
Semua telah siap. Ayunda, Raffa dan kedua buah hatinya juga Papa dan Mama Raffa mereka menikmati sarapan pagi bersama. Selesai menghabiskan waktu makan pagi bersama, Raffa bersama Ayunda juga Murad dan Kiara juga baby sister yang menjaga Kiara, mereka semua pun pergi ke sekolah bersama-sama.
Setengah jam kemudian sampailah di sekolah ternama di kota M. Sekolah tempat Ayunda mengajar dan Murad sekolah juga Kia sekolah.
Raffa mengantarkan mereka di depan pintu gerbang sekolah, Murad dan Kia pun mengulurkan tangan dan bergantian mencium tangan Raffa.
"Murad jagoan Daddy dan Bunda jadi anak yang pintar yaa!"
"Kia putri cantik Daddy dan Bunda jadi anak yang pintar juga yaa!"
Ucap Raffa melakukan nasehat rutinitas kepada kedua anaknya setiap mengantarkan keduanya ke sekolah. Setelah itu, pandangannya beralih ke sosok wanita yang dipanggil Bunda oleh Murad dan Kiara.
"Sayang, kamu semangat ngajarnya dan jangan lupa untuk makan tepat waktu! Jangan lupa juga jaga diri dan kesehatan baik-baik! Kalau ada apa-apa langsung hubungi Mas." Membelai lembut puncak kepala Ayunda.
__ADS_1
"Dan kamu sayang, baik-baik bersama Bunda. Daddy dan Bunda akan bersabar menanti kelahiranmu."
Membelai perut Ayunda yang masih rata.
Setelah itu, Ayunda pun mencium tangan Raffa dilanjutkan oleh Raffa mencium kening Ayunda. Tak lupa mereka saling mengulas senyum sebelum Raffa pergi untuk melaksanakan tugasnya sebagai dosen di pagi hari siangnya ke perusahaan sang Papa.
Bell sekolah telah berbunyi mereka pun saling melambaikan tangan. Raffa pun masuk ke mobilnya dan Ayunda bersama Murad dan Kia masuk ke gedung sekolah.
Mereka pun menjalankan tugas masing-masing yaitu mengamalkan ilmu dan menuntut ilmu.
...----------------...
Siangnya Ayunda dijemput oleh Pak. Totok supir pribadi keluarga Raffa. Ayunda bersama Murad dan Kiara juga baby sister Kiara mereka pergi menghadiri acara bedah buku yang bertempat di perusahaan keluarga Raffa lebih tepatnya milik Raffa karena Raffa lah pewaris tunggal perusahaan itu.
Tampak di sana, tepatnya disalah satu ruangan sudah tertata rapi sederet kursi untuk para tamu undangan juga peserta yang akan menghadiri acara bedah buku tersebut.
Disana Raffa menyambut hangat kedatangan pemateri/penulis bedah buku "Cerita satu cinta".
Hadirin sudah duduk rapi ditempat yang disediakan. Ayunda pun menaiki podium dan mulai menyampaikan seluk-beluk isi dari buku berjudul " Cerita Satu Cinta" yang ditulisnya.
"Buku ini sebenarnya sudah terbit dari dua tahun yang lalu. Tepatnya sebelum saya menikah dengan Pak Raffa Abimanyu al-Ghifari dan sebelum saya memiliki putra dan putri sebaik Murad dan Kiara dalam hidup saya."
"Buku ini saya tulis bertepatan saat saya sedang menggarap skripsi saya. Jadi, pada waktu itu seringkali saya tidur larut malam karena sibuk menyelesaikan skripsi dan buku ini. Bahkan seringkali waktu itu Abah, Mas Rey kakak saya terlebih Ummi saya, mereka sering khawatir karena saya yang sibuk untuk menyelesaikan target skirpsi dan buku saya."
"Namun, alhamdulillah selama berminggu-minggu akhirnya skripsi saya selesai begitu juga dengan buku saya. Dan alhamdulillah salah satu penerbit dengan begitu senang menerbitkan buku yang saya tulis ini"
Ayunda mengenggam buku dan memperlihatkan cover pada bukunya. Lalu meletakkannya kembali ke tempat yang telah disediakan.
"Dalam buku ini terdapat pesan untuk kita, khususnya saya pribadi yang waktu itu masih sendiri, bahwa ketika ketika seorang pecinta ingin mendapatkan cinta maka cintailah Sang Pencipta kita terlebih dahulu atau lebih tepatnya berharaplah hanya pada-Nya saja. InsyaAllah pada waktunya nanti, akan dihadirkan untuk kita pendamping hidup yang terbaik dan tepat untuk yang akan melengkapi kehidupan kita."
Satu jam kemudian ...
Begitu banyak harapan serta do'a yang kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala disetiap waktu.
Sudahkah kita bersyukur atas Nikmat-Nya? Nikmat dimana nafas ini masih bisa berhembus,
jantung ini masih terus berdetak disetiap detik.
Sudahkah pula kita menanamkan kesabaran dalam diri kita?
Sudahkah kita menyadari mungkin, Allah memberi cobaan bukan hanya untuk mengangkat derajat namun juga merupakan cara supaya kita bertaubat dan semakin dekat dengan-Nya.
Kalau sudah begitu, masih pantaskah kita bertanya "Mengapa?" Pada-Nya!
Padahal Dia adalah Yangng Maha Mengetahui, Yang Maha Esa, dan Yang Maha Kuasa.
Teruntuk diri kita marilah menyakinkan diri bersama bahwa "Pertolongan-Nya,
Nikmat-Nya" selalu lebih besar dan lebih banyak dari Cobaan-Nya.
Sudah pasti setiap manusia mempunyai keinginan.
Mempunyai rencana untuk kehidupannya.
Semua akan berjalan sesuai Takdir-Nya.
Kalau kita menjadi orang sukses,
impian kita terkabul,
__ADS_1
ingatlah bahwa itu semua tak lepas dari campur tangan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Karena sejatinya tiada daya dan kekuatan kecuali dari Pertolongan-Nya.
Cinta itu suci dan fitrah adanya,
setiap insan yang bernyawa pasti merasakannya.
Sejauh apapun kita melangkah, tak akan bisa lari darinya.
Cinta pada Sang Ilahi mengantarkanmu pada kenikmatan cinta sejati,
Cinta pada Sang Manusia Terpilih,
Sang Manusia Terbaik,
Pemilik gelar "Al-Amin",
menjadi pengobat dan penawar dari sebuah kerinduan dan kecintaan itu sendiri.
Sesungguhnya ...
dalam mencari cinta sejati (teman sejati)
dalam hidupmu,
cintailah dulu Sang Pencipta dan Kekasih-Nya dengan sepenuh hati,
maka akan datang kepadamu cinta (teman sejati) yang terbaik untukmu,
sebagai pertanda Kebesaran-Nya,
sebagai pertanda Kekuasaan-Nya,
bagi kaum yang berfikir!
"Itu tadi adalah tulisan dihalaman terakhir yang terlampir dalam buku ini, yang waktu itu saya yang bimbang dalam mencari sosok yang tepat dalam hidup saya."
Ucap Ayunda selesai membacakan halaman terakhir dibuku "Cerita Satu Cinta" yang ditulisnya.
Kemudian pembawa acara mengambil alih kembali,
"Dan dapat dilihat bahwasanya, sekarang Bu Ayunda sudah menemukan teman sejati dalam hidupnya. Dan sosok teman sejati ini bukan sosok yang biasa tentunya. Sosok yang baik, humble pada pegawainya dan setia yang tidak akan lepas prinsipnya."
Ucap sang pembawa acara.
"Baiklah selesai sudah acara bedah buku pada kali ini. Semoga apa yang disampaikan Bu Ayunda tadi bisa bermanfaat untuk kita semua dan bisa kita contoh dalam kehidupan kita. Terkhusus bagi yang masih jomblo yaa! semoga lekas dipertemukan dan dipersatukan dengan dia yang terbaik."
"Baiklah para tamu undangan dan peserta bedah buku yang mulia tanpa terasa kita sudah sampai dipenghujung acara. Saya sebagai pembawa acara pada acara bedah buku " Satu Cerita Cinta " pada kesempatan kali ini, mohon untuk undur diri, atas kurang dan lebihnya mohon dimaafkan dan sampai jumpa dilain kesempatan!"
"Saya Saraswati Iryawan ... Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh"
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Jawaban salam dan suara tepuk tangan mengakhiri keabsahan acara bedah buku "Cerita Satu Cinta" yang bertempat di perusahaan Raffa karena para pegawai Raffa yang bersi kekeuh untuk diadakannya acara bedah buku yang sangat menarik untuk mereka.
Ayunda pun menyatukan tangan sebagai tanda hormat dan terimakasih kepada para hadirin yang sudah berkenan hadir dan menyimak sampai selesai.
Nampak dari kejauhan Raffa beserta Murad dan Kiara ikut bertepuk tangan dan menatap bangga pada Ayunda.
__ADS_1