Ayunda Syaharani

Ayunda Syaharani
Curhatan demi Curhatan


__ADS_3

Pagi itu seperti biasa Ayunda pergi ke kampus untuk menemui dosen pembimbingnya kembali. Kelima sahabat nya yaitu Hanum, Raya, Stevi, Mala dan Lidya juga sudah berada di kampus saat itu.


Mereka saling bertukar sapa dan senyuman. Mereka memberi support satu sama lain karena menggarap sebuah skirpsi memang tidak terlalu mudah namun bukan berarti sangat sulit. Perlu ketekunan, keuletan dan semangat tak boleh tertinggal.


Mereka masuk ke dalam ruangan menemui dosen pembimbing mereka masing-masing. Didalam ruangan tersebut mereka mendapat arahan juga bimbingan dalam menyusun skirpsi nya.


Beberapa jam telah berlalu,


mereka keenam sahabat itu berniat menghabiskan waktu bersama di sebuah cafe. Ceritanya mereka lagi hang out. Hi hi.


Curhatan demi curhatan pun keluar dari mulut mereka masing-masing


"Duh pusing, bener-bener pusing kalau boleh jujur aku" Stevi mengawali


"Wah, sama beb" lanjut Raya dan drama pun terjadi diantara mereka, drama nangis sambil berpelukan. Yang lain hanya menatap dan sesekali tertawa karena tingkah mereka berdua.


"Kalian tuh yaa? Bisa aja. Kita semua juga pusing sih sebenernya. Tapi alhamdulillah kan semua bisa berjalan lancar. Ya meskipun perjuangan belum sepenuhnya selesai" Ayunda tak mau kalah mencurahkan fikirannya


"Begitulah yang namanya kehidupan bu Ustadzah, enggak akan lepas dari yang namanya perjuangan" Hanum yang makin dewasa dan makin begitu bijak saja


"Nah, bener banget" Lidya yang sekarang lebih jarang berbicara tapi tetap bijaksana,


"Dapatin cintanya doi aja butuh perjuangan"


"Apalagi ngelupain doi. Iya kan?" sahut Ayunda


"Ngelupain doi itu kewajiban Ustadzah" ujar Stevi


"Iya, kalau itu doinya udah ada yang punya" Ayunda kembali membuat candaan tapi cukup serius


"Eh, kabar Pak Raffa bagaimana ya?" cerocos Raya tiba-tiba dan membuat semua langsung menghentikan aktivitas makan dan minumnya. Karena kini tatapan mereka tertuju pada Raya dengan pertanyaan yang cukup mencengangkan tapi sangat menarik.


Sementara itu Ayunda tersedak saat mendengar pertanyaan itu begitu saja. Mereka yang masih sangat peduli pada Ayunda pun menawarkan air minum kembali untuk diminumnya. Dan memijat tengkuk Ayunda yang dilapisi hijab.


"Raya, kalau mau ngomong pleaseee disaring dulu donk!" Lidya

__ADS_1


"Maaf deh" Raya dengan kaku


Ayunda sudah kembali membaik. Mereka pun merasa lega dan bersyukur. Tersedaknya tidak sampai begitu parah.


"Pak Raffa sekarang sudah punya anak cowok, mirip banget sama Pak Raffa" Ayunda dengan santainya mengatakan itu


"Ayunda? Kamu? " Lidya yang tak menyangka akan sikap Ayunda yang memang cukup agak berubah semenjak Raffa sudah menikah


"Heemm, memang begitu kenyataannya Pak Raffa sudah punya seorang anak laki-laki dan mirip banget sama Pak Raffa" ucap Ayunda kembali


"Dari mana kamu tau, Ayunda?"


"Dari beberapa literatur" Ayunda yang masih asik mengoda


"Ish Ayunda... Soalnya kita sudah pernah intip sosmednya Pak Raffa, enggak ada update terbaru apapun tuh"


"Memang sih, di sosmednya sepi. hehe.


Aku tau itu semua dari Audri murid kesayanganku"


Usai perbincangan itu mereka masing-masing kembali pulang.


"Tiga tahun sudah berlalu Ya Allah, bukan berarti aku sudah sepenuhnya lupa dengan Pak Raffa. Tak semudah itu Ya Allah aku melupakannya. Cinta tak semudah membalikkan telapak tangan, seperti itu pula cinta yang pernah tertanam padanya Ya Allah. Aku tersenyum saat mengatakan kalau Pak Raffa sudah mempunyai seorang anak, bukan berarti hati hamba juga tersenyum. Hanya saja menampakkan goresan luka di hati ini secara terus-menerus rasanya itu tidak baik"


"Ya Allah, Ya Tuhanku. Aku berlindung Kepada-Mu selalu. Aku mengharap Cinta-Mu untuk aku bernaung menjalani kehidupan ini" isak tangis Ayunda dalam dalam hatinya saat masih mengendarai motor untuk pulang.


Beberapa menit kemudian sampailah Ayunda dirumah masa kecil dan masa besarnya saat ini.


Dengan mengucapkan salam dan senyum Ayunda menghampiri kedua orang tuanya yang tengah duduk kursi diteras seperti biasa. Tak lupa mencium kedua tangan orang tua yang telah mendidik dan membesarkannya.


"Ayunda langsung masuk ya, Abah Ummi" berangsur untuk masuk rumah


"Iya Ayunda, kamu istirahat gih! Nanti jadwal ngajar kamu juga di Ponpes al-hikam" Ummi mengingatkan


"Iya Ummi. Terimakasih sudah diingatkan"

__ADS_1


Setelah itu Ayunda sudah tak tampak lagi, ia sudah masuk ke dalam kamarnya. Tapi siapa sangka kini gadis yang berusaha untuk tetap kuat dan tegar itu sedang menangis tersedu-sedu dalam diammnya di dalam kamar.


Ia ingat betul bagaimana Audri menceritakan tentang Pak Raffa dan anaknya hari itu,


~𝓕𝓡π“ͺ𝓼𝓱𝓫π“ͺ𝓬𝓴 𝓸𝓷~


Hari itu, beberapa bulan yang lalu tepatnya saat Ayunda asik menyimak hafalan para santri cilik itu, Audri tanpa ada angin ataupun hujan bercerita tentang Om Abinya alias Pak Raffa kepada Ayunda. Ayunda pun maklum memang tabiatnya anak kecil seperti itu, mereka aktif dan suka sekali menceritakan sesuatu.


"Ustadzah, sekarang Audri udah punya teman baru. Tapi dia cowok. Ganteng dan lucuuuu banget" ucap Audri dengan ekspresi begitu mengoda apalagi pipi Audri yang kini semakin cabi


"Wah! Boleh banget loh Audri, kapan-kapan Ustadzah dikenalkan sama temen yang Audri maksud"


"Tapi, kalau Audri kenalin Ustadzah jangan marah ya Ustadzah" Audri cukup gusar,


"Soalnya teman cowok yang Audri maksud itu adalah anaknya Om Abi"


Mendengar hal itu bagai disayat-sayat hati Ayunda rasanya begitu sakit. Namun apa boleh buat, ia hanya boleh mencintai tapi tidak untuk memiliki. Itulah kehendak takdir pada kisah cintanya.


Ayunda mengelus-elus kepala Audri yang berbalut hijab, ditatapnya manik hitam milik Audri seraya berucap bahwa ia tak akan marah,


"Ustadzah enggak akan marah Audri, justru Ustadzah senang karena Audri punya teman baru"


~𝓕𝓡π“ͺ𝓼𝓫π“ͺ𝓬𝓴 π“žπ“―π“―~


Masih dalam isak tangis yang tertahan di dalam kamar Ayunda mengingat semua perkataan Audri juga kenangan yang pernah ia dapat bersama Raffa. Apalagi saat tangannya dengan sengaja membuka sebuah laci, didapatinya secara surat dari Raffa. Secarik surat kenangan penuh arti bagi Ayunda. Ayunda menyimpan surat itu baik-baik bersama sapu tangan yang pernah Raffa berikan sebagai tanda kenangan untuknya.


Dibacanya goresan tinta penuh makna yang tertera pada secarik kertas itu,


"Pak Raffa Anda bohong, kalau Anda mengatakan bahwa saya lebih baik dari istri bapak. Karena kalau saya lebih baik tentu hari ini sayalah yang akan Allah sandingkan dengan Anda, pak"


"Kenapa Pak, Anda melakukan ini pada saya? Setelah bermacam pengorbanan yang saya lakukan untuk Bapak saat itu (Saat Raffa mendapat banyak tugas dan saat Raffa akan celaka karena terserempet sebuah mobil"


"Harusnya waktu itu, saya membiarkan Bapak terserempet mobil itu saja. Mungkin dengan begitu, pernikahan kalian tidak akan terjadi" Ayunda berkata melantur dalam tangisnya, menutup wajahnya dengan kedua tangannya, kakinya pun kini sudah meringsut ke bawah lantai kamarnya.


"Kamu bodoh Ayunda, kenapa kamu menyelamatkannya waktu itu? Kenapa? Harusnya kamu biarkan saja Pak Raffa yang terserempet agar ia tidak jadi menikah" ucap Ayunda pada dirinya sendiri

__ADS_1


Kini ia sandarkan kepalanya pada dinding tempat ia bersender, menengadahkan kepalanya seraya menjatuhkan bulir-bulir air mata yang tampak mau berhenti.


__ADS_2