
Rintik hujan membasahi jalanan di kota S, tak segan pula untuk turut membalut senja di kota S pada waktu setempat.
Sungguh suasana seperti itu akan membuat sepasang insan hanyut dalam kebahagiaan, namun teruntuk insan yang belum dipertemukan dengan tambatan hati, itu semua hanya akan membuat rasa rindu kian membuncah semakin dalam.
Namun lain lagi dengan pasangan halal yang menikmati senja disertai rintikan hujan sore itu.....
Rintikan hujan di kala senja itu sepertinya memang sedang berpihak pada pasangan halal yang sedang menikmati suasana kampung halamannya hari itu.
Udara sejuk disertai aroma khas bumi sehabis turun hujan memasuki rongga hidung seorang wanita hamil yang sedang keluar kamar menelisik ke beberapa tumbuhan yang tumbuh di area kamar itu. Yang memang dengan sengaja ditanam untuk dijadikan taman cinta untuk pasutri yang beberapa bulan lagi akan menjadi orang tua. Aamiin
Puas menghirup aroma khas hujan diiringi hawa sejuk dan air hujan yang menetes dari dedaunan, kini wanita itu berpaling ikut duduk bersama sang suami di dua kursi yang tersedia di taman itu.
Kedua pasutri itu bercerita panjang dan lebar. Sang istri bercerita mengenai Ayunda sedangkan sang suami bercerita tentang sosok yang cukup membuat sang istri tercengang dan tak suka.
"Mas, Ayunda sudah Move On. Biarkan Ayunda mendapatkan kebahagiaan yang sudah selayaknya ia dapat sedari dulu"
"Adinda dengarkanlah Mas dulu!" mencoba melerai Yuna dengan panggilan kesukaan Yuna
"Mas" dengan nada cukup tak suka, merasa sedang serius Yuna tak luluh dengan panggilan tersebut
"Ustadz Habib sendiri yang bilang pada Mas bahwa bagaimana pun suatu saat dia akan menebus kesalahannya pada Ayunda"
"Mas, Ustadz Habib hanya asal bicara itu"
"Tidak dinda, Mas lihat dia serius dengan perkataannya"
Yuna memicingkan matanya merasa kesal dan cukup geregetan dengan sang suami yang membela masa lalu sahabat kesayangannya Ayunda.
"Kemarin sebelum berangkat ke tempat kelahiranmu ini, Mas tak sengaja bertemu dengan Ustadz Habib"
"Iyakah Mas? Kenapa baru cerita?"
"Mas tak mau membuat mood kamu bermasalah dinda"
"Lalu, kenapa sekarang Mas mengatakannya pada Adinda? Bukankah sama saja Mas? Hanya beda waktu saja"
"Mas fikir enggak akan pernah menceritakannya tapi setelah kamu bilang Ayunda sudah bisa Move On rasanya Mas gak tega lihat Ustadz Habib"
__ADS_1
"Ihh Mas? Kenapa bilang begitu?"
"Mas pernah melihatnya Adinda, bagaimana Ustadz Habib berusaha meyakinkan Umminya kembali saat di Ma'had beberapa bulan yang lalu"
"Maksud Mas? Apa saat Mas silaturrahim ke Ma'had, Mas secara tidak langsung melihat kebersamaan mereka?"
"Iya tak sengaja Mas bertemu dengan Ustadz Habib. Kami sempat mengombrol sebentar tapi karena ada Ummi dan Abah Ustadz Habib yang kebetulan sedang silaturahim juga, jadi Mas memilih pergi saja dari pada menganggu" kata suami Yuna masih bercerita,
"Setelah itu Mas sempat mendengar pembicaraan Ummi Ustadz Habib yang membahas tentang calon istri untuk putranya. Tapi Ustadz Habib bersikeras untuk fokus khidmah di pondok dan tak mau menikah untuk sekarang. Lebih tepatnya dia belum bisa membuka hati apalagi menikah dengan wanita lain selain Ayunda"
"Lalu, bagaimana tanggapan dari Ummi Ustadz Habib Mas?"
"Beliau hanya diam tapi tampak begitu tidak mengindahkan perkataan Ustadz Habib"
"Setelah itu Mas?"
"Yakin mau denger kelanjutannya?" goda suami Yuna bernama Irvan yang ternyata merupakan kenalan Ustadz Habib karena mereka satu Ma'had hanya beda angkatan saja.
Yuna yang sedang tidak bercanda menarik lengan sang suami merengek agar suaminya meneruskan ceritanya yang belum tuntas,
Tak sanggup jika melihat permaisurinya seperti itu padanya, akhirnya suami Yuna itu meneruskan ceritanya, "Kemudian aku pergi dari situ, enggak mungkin donk aku harus mengintai pertemuan keluarga itu"
"Tapi ... Sebelum balik ke sini, kemarin Ustadz Habib bercerita sedikit pada Mas"
"Apa Mas?" tanya Yuna lembut
*ππ΅πͺπΌπ±π«πͺπ¬π΄ ππ·*
"Ustadz Irvan? Lusa sudah balik ke Ma'hadkan? Soalnya ada jadwal Ustadz mengisi kajian" tanya laki-laki ber
badan tegap dengan wajah bersih, kulit bersih, hidung mancung disertai berewok tipis disekitar pelipisnya itu
"Ah iya Ustadz. Akan saya usahakan ke sini karena bagaimanapun itu menjadi tanggung jawab saya"
"Memangnya apa yang memberatkan Ustadz? Maksud saya jarak antara kota kelahiran Ustadz dengan Ma'had tidak begitu jauh"
"Saya tidak pulang ke rumah Ustadz. Saya mau menemani istri yang minta tinggal ditempat kelahiran sampai proses kelahiran anak pertama kami"
__ADS_1
"Oh begitu!"
Ustadz Habib menjawab dengan perasaan kalut, teringat bagaimana ia telah menyakiti hati wanita yang begitu dicintainya mengingat istri Ustadz Irvan adalah sahabat baik dari tambatan hati yang pernah dilukai nya. Namun ia sudah bertekad untuk memperjuangkan Ayunda kembali. Ia yakin Ibunya akan luluh pasti, suatu hari nanti. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Allah Maha Lembut yang membolak-balikan hati. Dengan begitu Ustadz Habib berharap suatu hari nanti Ibu nya akan merestui cinta nya pada Ayunda tambatan hatinya. Tapi tentu perlu banyak waktu untuk mendapat restu itu.
"Saya pergi dulu Ustadz Habib" kata Irvan melangkah untuk pergi
"Iya Ustadz" jawab Ustadz Habib secara tidak sadar kemudian beberapa menit setelahnya mulai sadar dan ia pun mencerahkan kepergian Ustadz Irvan sejenak,
"Tunggu Ustadz!"
"Kalau boleh tolong kabarkan kepada saya mengenai keadaan Ayunda"
"Baiklah Ustadz" menepuk pundak Ustadz Habib,
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussaalam" jawab Ustadz Habib begitu lirih,
"Ya Allah maafkan aku ampuni aku telah menyakiti wanita sebaik dan setulus Ayunda. Berilah aku kesempatan untuk memperjuangkan dan memilikinya"
"Aku ingin membahagiakan dan menebus kesalahan ku padanya"
"Sungguh sampai kini aku masih merasa sangat bersalah padanya"
"Dan aku masih mencintainya karena-Mu ya Allah"
kata Ustadz Habib sembari menyesali perbuatannya di masalalu dan mengangkat wajah berdo'a pada sang Ilahi Robby.
*ππ΅πͺπΌπ±π«πͺπ¬π΄ ππ―π―*
Saat mendengar cerita dari sang suami sesaat itu pula Yuna ikut terenyuh hanyut dalam perasaan Ustadz Habib.
Sepersekian detik kemudian setelah terbayang malam dimana ia menyaksikan bagaimana dengan teganya Ustadz Habib membatalkan niat khitbahnya pada Ayunda, jiwanya kembali melawan dan memberontak tak suka juga tak terima.
Yuna tak habis fikir apa mau Ustadz satu itu pada sahabatnya. Tapi suami Yuna terus merayu Yuna agar mendukung Ustadz Habib bersama Ayunda lagi.
Tapi Yuna tetaplah Yuna dia tak bisa mengikuti kemauan itu begitu saja. Dia harus tau betul bagaimana hati Ayunda. Bagaimana reaksi Ayunda saat mendengar tentang Ustadz Habib dan masih banyak lagi. Itu menurut Yuna.
__ADS_1
Pada akhirnya sang suami menawarkan ide pada Yuna, bagaimana kalau Yuna menghubungi Ayunda saja lewat video call. Dan menyuruh untuk Yuna mengetes bagaimana respon Ayunda mendengar kata "Ustadz Habib" apakah kaget? Atau tersirat sejuta rindu? Atau yang lainnya. Cara Irvan merayu sang istri.
Yuna Anastasia menatap intens sang suami kemudian dengan serta merta mengambil handphone dan melakukan panggilan video call pada Ayunda.