
Sore itu sepasang suami-istri begitu menghawatirkan kedua anaknya yang belum pulang juga. Mereka pun mencoba terus bersabar sembari menunggu kepulangan Ayunda dan Reyhan. Serta mencurahkan isi hati satu sama lain. Inilah momen terindah bagi sepasang kekasih apalagi saat dimasa tua.
"Bah, kenapa ya? Raffa dan Ayunda tidak ditakdirkan hidup bersama? Padahal sebenarnya kalau boleh jujur Ummi ingin Raffa jadi mantu Ummi. Ummi ingin gitu Bah melihat putri kita Ayunda bahagia"
"Ummi enggak nyangka kehilangan seseorang yang dicintai harus Ayunda rasakan kembali"
Abah Ridho laki-laki yang memang jarang berbicara namun sekali bicara akan banyak kata kebijaksanaan yang keluar dari dirinya. Ia memang bukan seorang Kyai besar tapi beliau dikenal sebagai Kyai dikomplek hunian itu.
"Ummi, bagaimana pun keadaan Ayunda kita harus yakin dan berprasangka baik kepada Allah"
"Rasulullah SAW kekasih Allah dalam mensyiarkan agama Islam tidak serta merta langsung berhasil. Perlu perjuangan kesabaran juga keikhlasan yang luar biasa yang harus Rasulullah lalui."
"Ummi ingat peristiwa Amul Huzni yang menimpa Rasulullah? Dalam tahun itu Rasulullah harus kehilangan dua orang tersayang nya dalam waktu bersamaan.
Beliau kehilangan istrinya dan pamannya."
"Lantas bagaimana Rasulullah menyikapinya?Apa beliau meragukan kebesaran Allah. Tidak sama sekali, malah beliau bersabar dan semakin mendekat kepada Allah"
"Abah benar Bah, tidak seharusnya Ummi berkata seperti tadi"
Abah tersenyum kepada sang Istri dan memegang tangannya guna memberi kekuatan.
"Sebagai orang tua bukan kita tidak mau mengupayakan kebahagiaan Ayunda, ya Bah" curhat Ummi Hannah sore itu,
"Bukan kita tidak mau berusaha agar Raffa lebih memilih Ayunda yang sudah lebih banyak berkorban, tapi pada kenyataannya merebut kebahagiaan wanita lain demi kebahagiaan putri kita itu tidaklah baik, benar 'kan Bah?" Ummi Hannah yang memposisikan dirinya sendiri dalam hal ini. Sebagai wanita dan seorang Ibu, Ummi Hannah mengerti rasanya semua itu. Tidak mungkin mereka membiarkan Ayunda bahagia bersama Raffa sedangkan ada wanita lain yang harus tersakiti karena itu.
"Tentu Ummi, Abah juga tidak mau Ayunda menjadi penghalang kebahagiaan orang lain" Abah yang tak serta merta melupaakan peristiwa yang menimpa Ayunda sebelum bertemu dengan Raffa. Mungkin bukan dalam ranah yang sama tapi disitu rasa sakit yang harus diterima hampir sama rasanya.
"Kyai Harsono guru Abah seorang yang alim, beliau pernah bilang"Menjadi orang orang yang selalu dibuat menangis oleh orang lain itu lebih baik daripada orang yang selalu membuat orang lain menangis" tutur Abah kembali
__ADS_1
"MasyaAllah, iya Bah Ummi faham sekarang. Ummi jadi ingat akan salah satu surat dalam Al-qur'an, surat Yusuf ayat 56 yang menyebutkan bahwasannya janji Allah kepada orang yang berbuat baik itu pasti ada dan nyata adanya"
Abah Ridho laki-laki pendiam tapi romantis itupun memberi kecupan hangat dikening sang istri. Dan saat seorang suami mengecup kening istrinya berarti suami tersebut telah bersedekah. (Jadi, bisalah untuk yang sudah bersuami/beristri monggo sering-sering dipraktikkan😌🥳).
"Abah kita harus kuat agar Ayunda juga kuat"
Abah Ridho mengerti dan berkata,
"Semoga Allah senantiasa mengampuni dosa-dosa kita, Ummi. Sehingga suatu saat putri kita bisa mendapatkan kebahagiaan terbaiknya"
Tampak dari halaman rumah mereka berhenti sebuah mobil yang sama persis dengan mobil Reyhan. Sehingga Ummi meyakini kalau itu pasti Ayunda dan Reyhan dengan segera Ummi pergi menghampiri. Ternyata itu bukan Ayunda tetapi,
"Hanum" sapa Ummi Hanna dari balik pintu, kemudian Hanum langsung mengucap salam dan menyalami Ummi Hanna disusul oleh ke empat sahabat yang lain.
Mereka datang ke rumah Ayunda bermaksud menjenguk Ayunda. Pada awalnya mereka pergi ke rumah sakit dulu tapi Ayunda sudah tidak ada. Karena itu mereka mendatangi ke rumah Ayunda saja.
Lidya yang notabenenya memang baru pertama kali ke rumah Ayunda, memperkenalkan diri dengan ramah dan sopan meskipun ia kadang suka lebih tegas dari yang lain.
Dengan tak kalah ramah Ummi Hanna menyambut uluran tangan Lidya dan salam perkenalan yang diucapkan Lidya.
Abah Ridho dan Ummi Hanna pun memberitahu kalau yang menjemput Ayunda di rumah sakit adalah Reyhan dan anehnya mereka belum sedari siang padahal sudah mendekati waktu Maghrib. Harusnya tidak butuh waktu lama perjalanan dari rumah sakit ke rumah joglo modrn itu mungkin cuma setengah jam. Tapi ini hampir setengah hari sendiri. Curhat Abah kepada sahabat Ayunda.
Kemudian Ummi Hanna bilang kenapa enggak ikut jemput karena harus menyelesaikan beberapa urusan yang cukup penting.
"Oh iya Abah dan Ummi, kami minta maaf baru bisa menjenguk Ayunda sekarang"
"Enggak masalah Hanum, yang penting do'anya"
"Dari kemarin kami juga kirim pesan ke nomor whatsapp Ayunda Ummi, tapi belum dibaca sama sekali" ujar Lidya,
__ADS_1
"Tapi kami maklum kok, Ummi. Ayunda 'kan lagi sakit pasti belum sempat buka handphone"
"Iya, maaf ya sayang dan terimakasih sudah mengerti"
Mereka saling mengangguk dan tersenyum. Sebagai tanda mereka mengerti dan tidak terlalu mempermasalahkan itu semua.
Sesaat kemudian, muncullah seseorang yang sudahcukup lama ditunggu-tunggu. Ayunda dan Reyhan masuk ke dalam rumah. Disambutlah Ayunda oleh sahabat-sahabatnya itu.Ummi pun dengan sigap menyuruh Ayunda untuk segera duduk bersama sahabat yang sedang menjenguknya. Kelima sahabat yang menjenguk itu tak henti-hentinya menanyakan bagaimana keadaan Ayunda? Bagaimana bisa terjadi? Apakah pak Raffa tanggungjawab? Siapa pelaku yang sesungguhnya?
Di samping itu kelima sahabat Ayunda ternyata belum mengetahui Raffa yang hari ini menikah. Serentetan pertanyaan dijawab oleh Reyhan yang masih ada disitu bersama Ayunda.
Tak mau menganggu yang sedang memerlukan istirahat, tak lama kemudian mereka bersegera untuk pamit pulang. Mereka berpesan agar Ayunda makan tepat waktu, istirahat yang cukup, jangan malas minum obat sesuai anjuran yang telah dokter berikan.
Ayunda masuk ke dalm kamar dibantu oleh Ummi Hannah dan Reyhan. Disitu Ummi mengintrogasi kemana saja mereka pergi? Padahal Ayunda baru saja pulih. Baru saja Reyhan akan menjelaskan tapi Ayunda sudah lebih dulu mengatakan ke mana saja mereka.
"Ayunda, kenapa kamu nekat pergi?" Umii Hanna yang cukup khawatir,
"dan kamu Reyhan, kenapa menuruti permintaan aneh Ayunda?"
"Ummi, Mas Reyhan enggak salah. Ayunda yang memaksanya. Ayunda cuma ingin lebih bisa mengikhlaskan Pak Raffa kalau Ayunda bisa menyaksikan bahwa Pak Raffa sudah bahagia"
"Ayunda!" ujar Ummi tak habis fikir akan yang difikirkan Ayunda
"Ummi, Ayunda adik Reyhan Abi Shaka ini wanita kuat. Ia akan baik-baik saja Ummi. Yakinlah Abah, Ummi!"
"Selama ada Abah, Ummi dan Mas Reyhan yang selalu mendukung Ayunda. Ayunda insyaallah akan selalu baik-baik saja"
"Lagian ini bukan kali pertama Ayunda merasakan sakit ini, jadi Ayunda enggak akan lemah lagi. Ayunda akan jadi kuat dan hebat"
"MasyaAllah, sayangi dan cintai anak-anak Ummi selalu Ya Allah" pinta Ummi Hanna yang salut akan ucapan Ayunda kemudian berangsur mendekapnya.
__ADS_1