
Di salah satu sudut kota Ayunda berusaha menenangkan fikirannya saat ini. Berusaha menetralisir kembali hati dan fikirannya. Memperbanyak istigfar dan shalawat dalam hati di setiap langkahnya menyusuri jalanan kota yang tak jauh dari Universitas.
Saat dengan seksama memerhatikan simpang siur laju kendaraan, dari kejauhan Ayunda memerhatikan seseorang yang cukup dikenalnya. Orang itu hendak masuk mobilnya kembali tapi masih berdiri di samping pintu mobil karena dilihatnya kendaraan dari laju kiri tampak sepi. Namun, siapa sangka sepersekian detik kemudian terpampang nyata di depan mata Ayunda dari arah berlawanan sebuah kendaraan melaju dengan cepatnya dan seakan siap untuk menyerempet seseorang yang dilihat Ayunda dari kejauhan. Namun dengan cepat Ayunda berlari dan menyelamatkan seseorang itu dan naas Ayunda lah yang terserempet dengan luka di tubuhnya.
Orang yang diselamatkannya itu panik bukan main, dia tidak menyangka akan ada orang lain yang mau bertaruh nyawa demi dirinya.Terlebih saat ia tau orang yang telah menyelmatkannya adalah mahasiswa kepercayaannya yaitu Ayunda.
"Pak Raffa" ucap Ayunda setengah sadar yang masih sempat menyebut nama Raffa dengan seulas senyumnya
Dengan cukup panik dan cemas Raffa membawa Ayunda yang terluka ke rumah sakit terdekat di kota S.
Secepat mungkin Raffa memasukkan tubuh Ayunda ke dalam mobilnya dibantu beberapa orang yang melihat peristiwa itu.
Tidak lama kemudian Raffa sampai di rumah sakit tersebut. Sementara itu,
Raffa menunggu Ayunda di tangani oleh dokter.
Dengan tiba-tiba pula, ia mendapat telfon dari bagian Akademik untuk segera menyerahkan nilai Mahasiswa yang diampunya karena hari ini adalah hari terakhir input nilai Mahasiswa oleh bagian Akademik.
Raffa yang panik itu pun lupa akan tujuan awalnya yakni mengurus nilai Mahasiswanya. Ia terlanjur panik melihat Ayunda yang terkulai lemas karena menyelamatkan.
Mau tidak mau Raffa harus kembali ke kampus memeriksa hasil rekapan nilai yang di serahkan pada Ayunda kemarin. Berulang-ulang kali ia menghubungi petugas pustakawan tapi tidak ada jawaban.
Dan beruntunglah saat itu keluarga Ayunda sudah datang. Raffa bisa mohon undur diri sebentar saja.
Dengan sopan Raffa mohon izin sebentar untuk kembali ke universitas. Raffa juga meyakinkan bahwa ia akan bertanggung jawab atas keadaan Ayunda.
Ummi Hannah yang sudah pernah bertemu Raffa pun percaya pada Raffa karena sudah mengerti bagaimana karakter Raffa.
Raffa melajukan mobilnya ke universitas.
Sepuluh menit kemudian ia sudah sampai karena memang jarak anatara rumah sakit dan universitas sangat dekat.
__ADS_1
Raffa melangkah cukup tergesa-gesa menuju perpustakaan dan di perpustakaan itu ia tidak mendapati satu orang pun di ruangan itu, hanya ada laptopnya dan barang milik Ayunda.
Raffa mengecek berkas di laptopnya, ia cukup mengerutkan dahi karena saat menyalakan laptop, Raffa langsung disuguhkan dengan video pertunangannya. Raffa berfikir sejenak, apa Ayunda yang membukanya? Lalu kenapa dibiarkan begitu saja?
Secara bersamaan dengan Raffa yang berfikir macam-macam petugas perpustakaan itu datang menemui Raffa yang masih fokus pada layar laptopnya.
Petugas itu menepuk pelan pundak Raffa dari belakang. Menyerahkan sesuatu pada Raffa.
Pak Pustakawan itu memberikan karangan bunga untuk Raffa.
Raffa yang mendapat karangan bunga itu merasa sungkan untuk menerinya. Tapi untuk menghargai yang telah memberi Raffa pun menerimanya.
Sementara itu, Pak Pustakawan itu mengatakan pada Raffa bahwa bunga itu bukan dari dia. Pak Pustakawan itu juga masih menjelaskan pada Raffa dari siapa bunga itu,
"Tadi seseorang menyerahkannya pada Saya. Katanya bunga itu dijatuhkan begitu saja oleh pemiliknya sebelum di serahkan ke Anda, katanya begitu Pak Raffa" terang Pak Pustakawan
Tak ingin berlama-lama karena ada hal yang lebih penting saat ini, Raffa hanya mengucap terimakasih kepada Pak Pustakawan itu. Kembali fokus ke laptop serta sekilas memeriksa kembali hasil yang dikerjakan Ayunda. Setelah itu langsung saja Raffa mengirimnya ke bagian akademik lewat e-mail.
Raffa yang sadar ada panggilan masuk bertubi-tubi dari keluarganya, langsung menelfon Om Fahri dan menjelaskan bahwa ia harus ke rumah sakit bertanggung jawab atas keadaan Ayunda yang sudah menyelamatkannya.
Langkah kaki pria bernama Raffa itu sungguh cepat. Dalam hitungan menit saja Raffa sudah berada di mobilnya dan melajukan mobilnya. Secepat kilat pula Raffa sudah sampai di rumah sakit.
Sejenak Raffa melirik melihat kartu ucapan yang tersemat di karangan bunga yang di dapatnya dari pak Pustakawan tadi. Ucapan selamat ditambah do' a dari yang memberi sejenak menarik perhatian Raffa.
"Congratulation Pak Raffa! Semoga ilmunya bermanfaat dan membawa keberkahan untuk pemiliknya dan semuanya tanpa tertinggal. Aamiin"
Perlahan Raffa membuka kertas yang tersemat indah didalamnya. Raffa sejenak terdiam kembali, mendapati tulisan yang dibacanya saat ini.
"Ternyata karangan bunga itu dari Ayunda dan ungkapan hatinya"
Sejenak Raffa berfikir berarti memang Ayunda yang membuka e-mail yang masuk di laptopnya. Dan melihat video pertunangan yang dikirim calon istrinya tersebut.
__ADS_1
"Seharusnya kamu tidak membuka video itu Ayunda! Tidak!"
Raffa merasa serba salah pada Ayunda saat ini. Bagaimana ia akan tega menyakiti hati wanita sebaik, selembut dan seshalihah Ayunda. Bagaimanapun nama Ayunda pernah ia sebut dalam do'a istikaharahnya. Dan saat ini apa yang telah Ayunda lakukan untuknya? Ayunda bertaruh nyawa menyelamatkannya. Raffa benar-benar tak tau harus apa saat ini.
"Ah ... Ayunda mengapa kamu sebaik itu pada Saya?" Raffa mengusap kasar wajahnya,
"Ya Allah, astagfirullahal adzim"
Raffa bangkit dan keluar dari mobilnya. Memasuki rumah sakit untuk melihat keadaan Ayunda saat ini.
Raffa membuka knop pintu kamar rumah sakit itu secara pelan, hanya memasukkan kepalanya saja. Belum sempat Raffa menampakkan tubuhnya Raffa mendengar dan mendapati sebuah pembicaraan cukup serius antara Ayunda dan Ibunya.
"Ummi? Ayunda gak kuat merasakan ini Ummi? Ayunda gak kuat!" dengan nafas terengah-engah sesekali menahan rasa sakit di tubuh dan di hatinya
Ummi Hannah tak kuasa melihat putri kesayangannya seperti ini, tak tau harus melakukan apa lagi selain mendampingi, mendekap erat-erat Ayunda sembari menenangkan Ayunda meskipun ia sendiri tengah menangis melihat kesedihan pada hati Ayunda. Harapan bisa bersama Raffa harus hilang sudah karena pada kenyataannya takdir tidak memberi restu untuk mereka hidup dalam bahtera janji suci.
"Istighfar sayang! Istighfar!"
berusaha menenangkan Ayunda, membelai lembut khimar sang putri, merangkul tubuh yang benar-benar tengah terluka dengan luka yang berdarah dan tak berdarah dalam hatinya karena tau bahwa Raffa akan melangsungkan pernikahannya beberapa hari ke depan.
"Ummi, Ayunda enggak sanggup Ummi, Ayunda enggak sanggup rasanya menerima kenyataan ini" lirih Ayunda
"Kenapa Ummi? Kenapa kegagalan cinta ini selalu terjadi pada Ayunda? Salah apakah Ayunda Ummi? Dosa apakah yang sudah Ayunda lakukan Ummi? Kenapa semua ini yang terjadi malah seperti ini?" bertubi-tubi Ayunda melontarkan berbagai pertanyaan dalam hatinya yang kini benar-benar terluka dan hancur melihat kenyataan Raffa harapan masa depan yang dikagumi dicintai akan menikah dengan wanita lain
"Istighfarlah Ayunda sayang! Istighfar!" Ummi Hannah menangkup wajah sang putri yang seakan-akan sudah kehilangan arah dan tujuan
Mendengar dan mendapati tatapan sang Ummi Ayunda beristighfar dan menangis kembali tersedu-sedu mengingat perkataannya yang telah meragukan takdir dan ketetapan Allah adalah yang terbaik dan selalu terbaik dan takkan pernah salah.
Walaupun harapan indahnya hidup bersama Raffa dalam bahtera janji suci itu hanya sebuah mimpi yang tidak jadi nyata. Ayunda harus menerima kenyataan di depannya saat ini. Tak peduli sekeras apapun hatinya ingin memberontak. Tak peduli sesakit apapun luka hati dan luka tubuh yang ia rasakan saat ini.
Sudah cukup lebih tenang dari beberapa waktu lalu, Ayunda membenahi kembali posisi duduknya. Ummi menyelimuti tubuh Ayunda, merapikan dan memasukkan kembali rambut Ayunda yang sedikit keluar dari khimar Ayunda. Ummi Hannah juga menawarkan air putih pada Ayunda agar lebih bisa tenang lagi.
__ADS_1
Selesai meneguk air itu, Ayunda dan Ummi Hannah mengetahui ada seseorang dari arah pintu kamar rumah sakit dengan cukup tergesa-gesa diliputi rasa cemas, khawatir dan rasa sangat bersalahnya pada Ayunda.