
Dalam hidup sudah pasti ada suka dan duka tanpa kita tau kapan datangnya. Terlepas suka ataupun duka yang menghampiri, yang pasti kita harus banyak mengambil hikmah/pelajaran dari dalamnya. Dan jangan mudah menyerah juga putus asa. Bukankah Allah sangat tidak suka dengan hamba-Nya yang berputus asa apalagi terhadap Rahmat-Nya? So, semangat yuk!
Semangat guys!😎
.
.
.
"Selanjutnya hari-hari pun berlalu. Lalu, apa aku masih terpuruk? Ya hatiku masih terasa sakit dan sangat kecewa, tapi aku sadar, aku tak boleh lupa bahwa hidup dan matiku sejatinya milik Allah. Allah sudah mempersiapkan semuanya; karir, rezeki juga jodohku. Jadi ... sudah seharusnya kan, aku tak perlu khawatir dan sedih." Ayunda masih sendiri bermonolog dalam hati.
Tersenyum kecut dan sesekali tertawa kecil mengingat moment-moment di masa lalu dan masa sekarang yang ia jalani. Moment yang cukup menyedihkan dan menyakitkan.
"Ah ... semua kenangan itu masih belum bisa sepenuhnya aku lupakan. Mungkin jika semua pihak merestui mungkin aku tidak akan di sini." Hingga ia pun memejamkan mata untuk menetralisir rasa gundah dalam hatinya. Dan tanpa ia sadari ia telah meneteskan air matanya secara perlahan tanpa ia sadari.
Disisi lain...
~ Di ruangan Dosen ~
"Ya sudah Pak! Terimakasih atas amanahnya semoga saya bisa menjalankan amanah ini dengan sebaik mungkin." Ucap Raffa kepada Pak Fahri selaku Omnya namun bagi Raffa meskipun Pak Fahri Omnya mereka tetap harus profesional terlebih masih dalam lingkup universitas.
"Aamiin Raffa." Mereka saling bersalaman.
Raffa pun keluar dari ruangan tersebut. Sejenak menatap sekeliling area kampus yang sudah sepi, "Sudah sepi aja kampus!" Raffa sambil menengok kanan kirinya.
Raffa cukup menggeryitkan dahinya karena ketika ia menengok ke kiri, ia dikagetkan melihat ada seorang wanita tengah menangis.
"Loh kamu nangis? Kamu yang tadikan? Mahasiswi yang enggak sengaja saya tolong tadi?" Tanya Raffa cukup kaget mengetahui Ayunda yang meneteskan air matanya, ia juga menegaskan perihal tugas yang diberikan Pak Fahri padanya,"sudah! Enggak usah nangis!"
"Pak Fahri beneran udah maafin kamu, saya berani menjaminnya." Jelas Raffa seraya mendekati Ayunda untuk memastikan kembali sebenarnya apa yang terjadi sampai Ayunda menangis.
Ayunda yang mendengar ada suara dari arah sampingnya juga merasa cukup kaget dan malu yang cukup dalam. Karena sudah gede alias besar masa katahuan lagi nangis.
Sekuat tenaga Ayunda berusaha mengelak, "Eh, enak saja! Saya enggak nangis kok! Itu tadi cuma...?"
Ayunda kini cukup bingung sendiri bagaimana ia mengatakannya, "gimana yaa bilangnya" Lirihnya cukup pelan dan samar.
"Cuma apa?" Tanya Raffa menaikkan alisnya.
"Cuma ... lagi kelilipan." Ayunda memberi alasan apa yang terlintas difikirannya bahkan ia juga memperjelas kalau matanya sudah sembuh dari kelilipan, "Alhamdulillah sekarang sudah sembuh." Meringis sambil tersenyum.
Raffa ikut meringis dan tersenyum pula dan mengimbuhi apa yang sudah Ayunda katakan padanya, "Sebenarnya saya kurang yakin dengan alasan itu, tapi sudahlah itu urusan pribadimu, dan ini----"
Raffa memberikan sapu tangan pada Ayunda agar Ayunda dapat menggunakannya untuk mengusap ingus yang keluar karena ia habis menangis namun Ayunda enggan menerima.
__ADS_1
"Terimakasih, tidak usah!" Tolak Ayunda cukup halus.
"Sudahlah, enggak papa! Pakai aja!" Seru Raffa terdengar begitu lembut,
"saya mau kasih kamu tisue tetapi saya tidak membawanya."
Raffa memberanikan diri memandang wajah gadis anggun didepannya itu, dan mengajukan pertanyaan kepadanya,"Kamu membawanya?"
Ayunda menggelengkan kepalanya sembari memandang Raffa pula karena tidak baik kan kalau berbicara tidak menghadap ke arah (wajah) yang diajak berbicara.
"Ya sudah pakai aja! Kalau kamu enggak mau pakai sapu tangan ini, kamu kamu usap pakai apa lagi?"
Penuturan demi penuturan keluar dari Raffa, "Enggak mungkin kalau pakai kerudung atau gamis kamu!"
"Asstagfirullah, enggak...enggak itu sangat akan jorok" Ayunda tidak sanggup kalau ia akan mengusap ingus yang mulai keluar dengan khimar ataupun gamis yang ia kenakan.
"Terimakasih." Tutur Ayunda mengambil dan memegang sapu tangan Raffa.
"Saya akan mencucinya terlebih dulu," Ayunda usai menggunakan sapu tangan yang Raffa berikan padanya.
Sejenak Ayunda berfikir tetapi kapan ia akan menggembalikannya. Ia pun mengatakan secara apa adanya apa yang terlintas dihatinya itu,
"Tapi, saya tidak tau pasti kapan bisa
mengembalikannya? Karena, entah kapan saya bisa bertemu denganmu lagi."
"Baiklah! Sekali lagi terimakasih." Secara bergantian memandang sapu tangan dan orang yang memberi sapu tangan,"hari ini kamu telah banyak membantu saya."
"Sama-sama!" Raffa mempersiapkan diri untuk melangkah pergi, dengan memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celananya sedangkan tangan kananya memegang tas yang ia selempangkan dipundaknya.
Raffa empat langkah sudah jauh dari tempat Ayunda duduk namun pada langkah ke lima ia menghentikan langkah dan berucap pada Ayunda, "Berterima kasihlah pada Allah lebih utamanya karena Dia-lah yang telah menjadikan saya sebagai perantara untuk menolongmu!" Raffa menengok pada Ayunda dengan tersenyum tenang.
Tak ada satu menit Raffa langsung meneruskan langkahnya kembali.
"Pasti!" Ayunda menjawab pelan pesan dari Raffa.
Pandangannya tak terlepas dari menatap kepergian Raffa seorang laki-laki yang telah memberikan sapu tangan dan menolongnya secara tidak langsung.
Lalu, dari lain arah, dari kejauhan tampaklah sosok yang ditunggu-tunggu oleh Ayunda. Sosok sahabat yang begitu berarti untuknya. Sosok sahabat itu adalah Hanum, Mala, Raya dan Stevi.
"Assalamu'alaikum!" Sapa Hanum berjalan mendekat pada Ayunda,"kamu enggak kelamaan nunggu kita, kan?"
"Wa'alaikumussalam!" Menjawab salam dari Hanum dan berlanjut menjawab pertanyaannya, "Enggak lama hanya saja
cukup lama!" Tukas Ayunda bermaksud hanya bercanda pada Hanum. Tetapi sahabatnya yang lain sepertinya tidak menganggapnya demikian.
__ADS_1
"Duh ... Maaf ya Ayunda kita keasyikan diskusi soalnya." Stevi merasa cukup bersalah.
"Udah ... udah enggak papa kok!" Ayunda dengan mengangkat kedua jarinya, "I'm just kidding!"
Stevi yang baru maksud Ayunda pun cukup kesal karena Ayunda ternyata cuma bercanda pada mereka.
"Makan siang yuk! Mumpung bisa kumpul bareng nih!" Ajak Stevi cukup tiba-tiba.
"Ayok!" Mala setuju penuh semangat.
Mendengar ajakan dari Stevi malah membuat Ayunda terkesiap tak menyangka kalau sahabatnya itu belum makan siang karena menunggu dirinya.
"Kalian belum pada makan siang?" Tanya Ayunda dengan raut wajah cukup kaget.
Melihat raut wajah Ayunda begitu kaget Hanum tersenyum tipis dan barkata,"Belum Ayunda, tadi itu tempat duduknya udah penuh semua. Dan, lagian juga kan enggak ada kamu, jadi kita sepakat kalau kita akan makan bareng kamu!"
"MasyaAllah ..." Ayunda salut, bahagia dan bersyukur akan kasih sayang sahabatnya itu padanya.
"Maaf yaa karena aku kalian telat makan siang jadinya." Ayunda merasa benar-benar tidak enak hati apalagi teringat Hanum yang dari tadi katanya sudah lapar.
"No problem Ayunda sayang! Kita memang niat nungguin kamu." Mala meyakinkan Ayunda.
"MasyaAllah kalian baik banget sih? Ntar aku ceritain deh sama kalian, apa saja yang sudah terjadi sama aku hari ini."
Ayunda berniat menceritakan tentang kejadian tugas pengumpulan makalahnya pada ke-4 temannya itu.
"Wah seru kayaknya! Jadi kepo ... haha" Raya jadi tak sabar.
"Tenang! Sabar teman-temanku sayang."
Saling merangkul dan berpelukan.
"Udah dulu pelukannya!Berangkat yuk!" Hanum sudah tak sabar antara ingin makan dan mendengar cerita yang Ayunda maksud.
Semua pun setuju dan bersiap untuk pergi dari tempat mereka berdiri, namun ternyata mereka harus lebih bersabar lagi.
"Oh iya, kita ke perpustakaan dulu ya! Aku lupa harus balikin buku yang aku pinjam kemarin." Ayunda tersadar akan buku yang harus dikembalikannya,"Atau gini aja, kalian tunggu di sini atau di tempat parkir aja! Aku akan ke perpustakaan sebentar" Ayunda tak ingin merepotkan teman-temannya.
Persahabatan yang begitu kental dan lekat antara mereka, menjadikan mereka apapun yang terjadi mereka akan tetap membersamai Ayunda sahabatnya.
"Ayunda kita akan antar kamu ke perpustakaan" Raya meraih dan menggandeng tangan Ayunda.
"Sekalian aku juga mau lihat-lihat buku siapa tau ada yang cocok." sahut Mala ikut menggandeng tangan satunya Ayunda.
"Ya sudah tunggu apalagi ... ayo!" Hanum dan Stevi lebih dulu berjalan mendahului Ayunda, Raya dan Mala.
__ADS_1
Dengan cepat pula Ayunda, Raya dan Mala berlari menyusul mereka berdua.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!