
Mentari pagi bersinar dengan sinar yang menyejukkan. Artinya tidak terlalu panas juga tidak terlalu dingin. Seolah-olah mewakili hati suami istri yang lagi sejuk- sejuknya.
Ayunda dan Raffa kini dalam perjalanan kembali ke kediaman Ummi Hannah dan Abah Ridho alias orang tua Ayunda kini menjadi mertua Raffa.
Dalam perjalanan itu, Ayunda diliputi kecemasan yang melanda hatinya. Raffa sosok suami yang pengertian melihat hal aneh pada istrinya pun jadi ikut risau karenanya.
"Sayang, are you okay?" Raffa memastikan.
"Aku baik-baik saja kok, Mas." Tersenyum meyakinkan.
"Beneran?" Memastikan sekali lagi, kali ini Raffa membelok mobilnya di kiri jalan dan berhenti.
"Sayang, kamu enggak perlu ragu kalau memang ada yang pingin kamu ceritakan, ceritakanlah pada Mas!"
Mengusap-usap kepala Ayunda yang terbalut pasmina.
"Mas sekarang adalah suami kamu." Tegasnya lagi.
Ayunda memberanikan diri menatap netra Raffa dan mulai menceritakan apa yang menghantui fikirannya sehingga membuatnya dilanda kecemasan.
"Mas, enggak tau kenapa tiba-tiba aku ttakut kalau Murad tidak bisa menerimaku seperti kemarin, biasanya kan anak-anak gampang berubah-ubah."
"Sayang, insyaAllah Murad akan menerima kamu dengan setulus hatinya sama seperti kamu menerimanya dengan tulus." Tutur Raffa, memegang tangan Ayunda seraya menenangkan Ayunda.
Mendengar pitutur Raffa sang suami, Ayunda jadi lebih tenang dan lega setelah diberi pencerahan oleh suami tercintanya karena Allah.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan!"
Raffa menuturkan kembali, sedangkan Ayunda mengangguk patuh dengan memejamkan netranya.
"Makasih Mas, sekarang aku lebih tenang."
"No, no enggak bisa kalau cuma bilang makasih, harus lebih." Raffa mengelak.
Ayunda menatapnya dengan tatapan curiga.
"Kamu harus nunjukin senyum manis kamu ke Mas. Ayo senyum dulu sayang!" Memerintah dengan nada begitu menggoda.
Dan benar saja, Ayunda pun langsung menampilkan seulas senyum di wajah ayu nan manisnya.
"Sudah manis belum?"
Diberi pertanyaan seperti itu, Raffa bukannya menjawab tapi langsung menjawab dengan perbuatan cukup membuat shocked yang menerimanya. Bagaimana tidak shocked kalau dijawab dengan sebuah kecupan manis? Terus pak dosen tampan nana wibawa pada zamannya itu memberi alasan pada istrinya itu semua dilakukannya selain karena cinta juga untuk memperbanyak pahala.🤭
...****************...
Beberapa saat kemudian, sampailah suami istri yang masih berstatus pengantin baru itu ke kediaman Ummi Hannah dan Abah Ridho. Rumah kediaman dimana Raffa Abimanyu mengucapkan ijab qobul mengesahkan hubungan nya dengan wanita yang sebenarnya sedari perjumpaan pertama sudah membuat Raffa menaruh rasa.
Pengantin baru yang lagi sumringah-sumrigahnya itu disambut dengan penuh kebahagiaan oleh keluarga Ayunda juga keluarga Raffa. Keluarga Raffa telah sampai lebih dulu ke kediaman besannya setelah bermalam dihotel.
Murad yang sudah sangat menunggu kedatangan Daddy dan Bunda barunya itu begitu antusias untuk menemui mereka.
Raffa yang juga sudah cukup rindu pada malaikat kecilnya, langsung menangkap Murad yang berlari ke arahnya. Raffa mendekap Murad dengan penuh kasih sayang yang mendalam.
"Murad sayang, tadi malam enggak rewel kan waktu tidur sama Grandma dan Grandpa?"
__ADS_1
"Enggak donk, Mulad kan anak baik." Tutur Murad dengan logat anak seusianya.
"Pinter!" Raffa mencium pipi gembul Murad.
Ayunda yang melihat keharmonisan Raffa dan Murad pun jadi ikut senang karena kini mereka saling bertemu kembali.
"Murad ... sekarang Murad salim sama Bunda yaa?" Ujar Raffa menyetarakan posisi dengan Murad.
"Sama Bunda?" melihat ke arah Ayunda dengan tanya,
"Bunda Bidadari maksud Daddy?" kemudian tersenyum.
"Iya jagoan Daddy." Sembari mengacungkan jempol tangan.
Murad pun berjalan ke arah Ayunda. Rasa takut menghampiri Ayunda kembali, takut kalau Murad berubah fikiran dan enggan untuk menerimanya sebagai Ibu sambung.
"Selamat datang Bunda Bidadari!" Murad mengatakan kalimat sambutan itu dengan tersenyum bahagia.
"Murad janji akan jadi anak baik dan sholih untuk Bunda." Raut wajahnya begitu manis saat mengatakan itu. Namun tiba-tiba berubah saat mengatakan kalimat selanjutnya yang ingin Murad ungkapkan dalan hatinya,
"Tapi Bunda bidadari jangan pergi tinggalin Murad sama Deddy kayak Mommy ninggalin Murad sama Daddy ke surga." Jelas Murad menatap dalam manik mata wanita yang dipanggilnya Bunda.
Melihat Murad seperti itu membuat Ayunda tak tega membiarkannya begitu saja. Naluri ke-Ibuannya mengatakan ingin memeluk dan memenangkan Murad kecil. Anak kecil yang belum memiliki dosa yang masih suci dan sangat membutuhkan dukungan, kasih sayang juga didikan dari kedua orang tuanya untuk tumbuh kembangnya.
"Murad sayang ... Murad anak baik ... Murad anak sholih. Jangan sedih lagi! Bunda akan selalu di sini bersama Murad dan Daddy Murad." amemeluk Murad seraya mengusap punggung Murad.
"Makasih Bunda Bidadari!"
"Sama-sama sayang."
"Bunda, Murad boleh nyium Bunda?" Tanya Murad kecil itu ragu.
Dan segala puji bagi Allah Yang Maha Halus-Yang membolak-balikan hati, ikatan tulus yang begitu kuat antara Ibu dan anak meskipun tidak terikat darah tapi bisa begitu dekat dan saling menyayangi tanpa pandang bulu.
"Ayo Bunda kita masuk! Grandma sama Jiddah udah masak makanan banyak banget, tadi Murad melihatnya." Bisik Murad ke telinga Ayunda.
Raffa yang masih standby berdiri disamping mereka dengan cukup penasaran menegaskan apa yang sedang Murad bisikan kepada Bundanya. Tapi sayang Murad keburu menggandeng tangan Ayunda untuk masuk ke dalam rumah sementara Raffa berada dibelakang mereka dengan mendesah kecewa tapi aslinya bahagia melihat kedua orang yang dicintainya saling akur dan mendukung.
Tangan Murad masih saja asik menggandeng tangan Ayunda dan menunjukkan ke arah meja makan yang sudah banyak makanan terjadi rapi diatasnya.
"Lihat Bunda! Murad enggak bohong." Memberitahu Bundanya.
"Iya Murad anak baik, kita gabung yuk!" Ajak Ayunda kemudian dibarengi dengan Raffa dibelakang mereka.
Dalam suasana makan bersama kedua pihak keluarga tersebut, Mama Raffa (Ibu Reizya) membicarakan sesuatu.
"Eeem, begini Ayunda sebelumnya Mama minta maaf karena terlalu cepat menyampaikan hal ini. Jadi gini, karena Papa Raffa sudah semakin tua dan harapan satu-satunya yang mengurus perusahaan keluarga adalah Raffa dan sudah semenjak Murad lahir Raffa menggantikan Papanya di perusahaan. Karena itu, Mama harap kamu tidak keberatan kalau harus tinggal bersama kami di kota M."
Tiba-tiba saja ...
"Uhuk ... uhuk ... uhuk" Ayunda tersedak. Dengan sigap Raffa mengambilkan air minum dan menyuruh Ayunda meminumnya.
"Hati-hati Ayunda!" Ummi Hannah menasehati putrinya lalu berusaha menjawab peryataan dari besannya.
"Maaf Ayunda dan Ummi, Abah, Reyhan, dari kami baik saya maupun Raffa tidak mengatakan ini sebelum acara pernikahan karena pernikahan yang begitu cepat jadi kami sebagai manusia biasa pun lupa mengatakannya."
__ADS_1
"Emm ... begini Bu besan kami mengerti itu. InsyaAllah dari kami (keluarga Ayunda) tidak keberatan dengan itu, kami yakin Bu besan dan keluarga akan menyayangi putri kami seperti putri kalian sendiri."
"Terimakasih Ummi telah percaya kepada kami. Tentu InsyaAllah kami akan menyayangi Ayunda seperti anak kami sendiri."
"Ayunda kalau kamu keberatan tidak masalah, untuk masalah perusahaan Papa bisa menyerahkan kepada orang kepercayaan Papa." ujar Papa Raffa tidak mau memberatkan.
"Ayunda InsyaAllah siap, tapi bolehkan kalau Ayunda menghabiskan satu minggu ini di rumah Ummi dulu."
"Tentu sayang kamu, Raffa sama Murad akan tinggal di sini dulu!"
"Terimakasih ya sayang, semoga Allah senantiasa memberikan Ridho-Nya kepada menantu sebaik kamu."
Mama Raffa mendekat ke kursi Ayunda dan memeluk Ayunda.
Makan bersama itupun telah selesai, Ayunda yang masuk kamar lebih dulu membuat Raffa ingin menyusul istrinya tersebut.
"Sayang ... sayang" Raffa celinguk-celinguk mencari keberadaan istrinya (Ayunda).
"Ayunda kamu dimana?"
"Kamu di situ rupanya" Mengetahui keberadaan Ayunda yang sedang menatap ke arah langit di jendela kamarnya.
"Sayang, kamu nangis? Kamu keberatan dengan permintaan Mama."
"Enggak Mas, bukan begitu. Aku cuma berat saja berpisah jauh dari Ummi, Abah dan Mas Reyhan. Bagaimana pun aku sering menghabiskan waktu bersama dengan mereka bahkan disaat aku sedang tidak baik."
"Aku mengerti itu sayang. Aku dulu juga pernah jauh dari Mama dan Papa saat aku mengambil studi S1 dan S2 ku, ditambah aku sebenarnya adalah anak semata wayang mereka. Memang berat, tapi kalau kita menjalani semua karena Allah, insyaAllah semua akan menjadi mudah." tutur Raffa berusaha menenangkan Ayunda
"Sayang, kamu menjalankan pernikahan dengan Mas kan karena Allah, maka Mas harap kamu juga bisa melakukan hal yang Mama minta dari kamu juga karena Allah."
"Dan kamu enggak perlu ngerasa kesepian, kan selalu ada aku bersama kamu. I love you so much Ayunda istriku."
Ayunda pun tak dapat membendung tangisnya, kini ia menangis dan memeluk suaminya.
"Mas, maafin aku. Aku harusnya enggak gini baru satu hari menikah aku sudah bertingkah manja seperti ini, harusnya aku bisa lebih dewasa."
"Maafin aku, Mas!" Mendongak ke wajah Raffa.
Raffa menatap istrinya teduh, mengusap air matanya dan kembali menuturkan kata.
"Sayang, kamu enggak perlu minta maaf kamu enggak salah. Sudah jangan nangis lagi! Kita ke depan dulu, bentar lagi Mama sama Papa mau kembali ke kota M."
Ayunda mengangguk dan merasa lebih tenang, melihat Ayunda yang begitu lain saat habis menangis. Nampak semakin cantik apalagi dengan bibir merah alami yang nampak lebih manis sehabis menangis. Raffa pun tanpa segan mengecupnya.
"Mas, apa yang kamu lakuin?"
"Menghibur istri sekaligus menambah pahala sayang."
ucap Raffa berlalu pergi dari kamar Ayunda.
"Nanti malam Mas kasih yang lebih untuk kamu seorang." kembali menampilkan wajah dibalik pintu dengan mengedipkan sebelah matanya.
Tak bisa dielakkan Ayunda tertawa, salah tingkah dan senyum-senyum sendiri. Sejenak Ayunda tak menyangka Pak Raffa yang dulu sangat formal dan tidak banyak bicara menjadi berubah 360°. Menjadi sangat hangat dan juga romantis apalagi kalau mengingat malam pertama mereka. Selain malam pertama menjadi malam panjang yang begitu nikmat, malam itu juga menjadi malam penuh ladang pahala.
"MasyaAllah indahnya cara Engkau menyatukan kedua insan dalam kehalalan, Ya Allah."
__ADS_1
Pujinya dalam hati.
Sepasang suami-istri hendaknya selalu memupuk kemesraan antara keduanya, agar cinta yang dibangun dan dimiliki tetap menjadi pondasi yang kokoh yang akan membuat semakin harmonisnya sebuah pernikahan.