
Hilir mudik silih berganti pulang pergi mengaji...
Begitulah istilah syair dalam qasidah "kota santri" yang disenandungkan oleh Nasida Ria.
Hari sudah memasuki malamnya terdapat beberapa anak manusia yang selalu semangat dalam mengaji baik pagi maupun malam. Mengaji Al-Qur'an serta kitab kuning pun dilahap mereka setiap harinya. Menjadi bekal tersendiri bagi mereka para penuntut ilmu bahkan menjadi sumber keberkahan untuk masa depannya.
Di dalam sebuah tempat khusus untuk mengaji kitab kuning di sebuah Ma'had di kota M, terlihat seorang Ustadz sedang memimpin sebuah kajian kitab kuning dengan penuh kehikmatan dan ketenangan.
"Disini dalam kitab Ta'limul Muta'alim ini dijelaskan bahwa seorang penuntut ilmu itu tidak diperkenankan bermalas-malasan, karena itu hanya akan membuatnya merugi." kata sang Ustadz menerangkan salah satu bab pada kitab Taklim Muta'alim,
"Lalu bagaimana agar tidak malas Ustadz?
Jawabannya adalah memerangi rasa malas itu. Rasa malas yang muncul itu sama seperti hawa nafsu yang ingin kesenangan sesaat lupa akan kesenangan hakikinya. Kalau terasa sulit kita bisa melihat semangatnya para ulama dahulu dalam menuntut ilmu dan memperluas keilmuannya sebut saja Imam Syafi'i. Kalian tentu sudah tau bagaimana semangatnya beliau dalam belajar bukan?"
Para santri yang hadir di halaqah itu mengangguk pertanda bahwa mereka mengetahuinya.
"Imam Syafi'i saking cintanya dengan ilmu setiap malam beliau terjaga dari tidurnya, sambil membawa lilin2 sebagai penerangan agar beliau tidak lengah, beliau juga menyediakan wadah air di samping meja belajar beliau, untuk apa itu? Untuk membasuh wajah beliau saat rasa kantuk menghampiri beliau"
"Lihat! Betapa besar semangat Imam---?" mengetes sampai mana kepahaman para santri
"Imam Syafi'i" sahut para santri
"Oleh karena itu, mari kita sama-sama melawan/memerangi rasa malas pada diri kita masing-masing dengan kita mencontoh semangatnya para ulama para dan ilmuwan Islam. Itu juga merupakan ibrah kalau kita mau belajar sejarah."
"Sampai di sini kajian kita hari ini, apabila ada yang ingin ditanyakan atau disampaikan, saya persilahkan!"
Salah seorang santri di halaqah yang dipimpin oleh seorang laki-laki berwajah tampan dan begitu meneduhkan itu angkat tangan berniat menyampaikan suatu maksud.
"Ustadz Habib, saya mau bartanya"
Ustadz yang bernama Ahmad Zydan Husein Habibi atau yang lebih akrab dengan Ustadz Habib itu mempersilahkan dengan sigap dan senang hati.
"Tadi Ustadz bilang bahwa sebagai penuntut ilmu harus semangat tidak boleh malas karena hanya akan membuat rugi. Namun bagaimana kalau malas yang menghampiri itu disebabkan karena hanyut dalam sebuah perasaan yang namanya cinta. Bagaimana Ustadz? Mohon penjelasannya!"
__ADS_1
Ustadz Habib hanya tersenyum sejenak teringat seseorang yang dicintainya namun alangkah dia merasa telah menyia-nyiakan seseorang yang dicintainya. Bahkan semangat yang didapat nya hari ini ia dapat karena cinta itu, cinta yang ingin diperbaiki dan diperjuangkan kembali olehnya.
Sejenak Ustadz Habib beristighfar seraya melafadzkan basmallah kemudian menjawab dengan begitu tenang,
"Cinta itu fitrah adanya. Sehingga tidak mengapa kalau jatuh cinta, tetapi perlu diingat bahwa jangan menodai kesucian cinta dengan hal-hal berbau kemaksiatan sebelum ada ikatan sah yang mengikat diantara keduanya." Ustadz Habib berusaha memberi pengertian sebelum menjelaskan ke inti pembahasan.
"Menjawab pertanyaan tadi, jadi kalau ada orang yang mencinta tapi malah bermalas-malasan, berarti cintanya itu masih perlu dipertanyakan kembali. Sudah benarkah dia dalam mencinta? Karena seperti kata Jalaluddin Rumi "cinta itu mampu mengubah seorang pengecut menjadi pemberani, seorang yang tidak berpendirian menjadi teguh pendirian ...."
Kalimat seterusnya diteruskan oleh para santri yang mengetahui kata mutiara Jalaluddin Rumi tersebut.
Sang Ustadz melanjutkan memberi keterangannya,
"Maka dari sini sangatlah jelas bahwasannya cinta itu memiliki kekuatan yang besar kalau sang pencinta ini mampu meramu cinta yang hadir itu dengan sebaik mungkin. Apalagi jika kita benar-benar mencintai Allah dalam hati kita, maka ibadah pun menjadi terasa ringan dan begitu nikmat karena sudah begitu besar cinta kita kepada Allah."
"Jadi, Ustadz kalau kita benar-benar mencintai Allah maka seharusnya kita tidak boleh bermalasan dalam beribadah kepada Allah? Karena untuk pembuktian cinta kita?" salah satu diantara banyaknya santri menyanggah diskusi pada kajian itu
"Iya, karenanya cinta itu penting adanya. Apalagi bisa meramu cinta itu sangat penting bagi sang pencinta agar cintanya mampu membangkitkan energinya bukan malah membuat terlena apalagi bermalas-malasan."
"Dan seyogyanya cintailah segala sesuatu itu karena Allah. Dan jangan mencintai makhluk-Nya melebihi cinta kita kepada Allah.
Ustadz Habib menyimpulkan penjelasannya.
Semua santri mengangguk dan santri yang mengajukan pertanyaan tadi mengucapkan terimakasih atas jawaban dari sang Ustadz.
Halaqah yang berlangsung sekitar satu jam itupun akhirnya selesai sudah. Semua santri berhambur kembali ke ruangannya masing-masing melanjutkan kegiatan mereka. Sementara itu sang Ustadz masih membereskan peralatan tulisnya. Saat tengah beberes seseorang datang menghampiri sang Ustadz. Laki-laki itu dengan sopan mengatakan bahwa Pak Yai (Khadimul Ma'had) memanggil Ustadz Habib untuk datang ke ruangan/kamar beliau. Dengan anggukan ketaatan Ustadz Habib menjawabnya.
Suara ketukan pintu terdengar dari sebuah ruangan dan langsung saja sang pemilik kamar menyuruh pengetuk pintu itu masuk. Setelah masuk pemilik kamar itu menyuruh pengetuk pintu tadi untuk duduk di sampingnya. Sementara itu pengetuk pintu tadi tau apa yang harus dilakukannya ia pun tanpa ragu dan bimbang menyentuh kaki pemilik kamar itu kemudian memijat-mijatnya dengan pelan dan penuh perasaan.
Dalam heningnya malam terjadi sebuah percakapan antara sang pemilik kamar yaitu Pak Kyai bersama sang pengetuk pintu yaitu Ustadz Ahmad Zydan Husein Habibi atau lebih akrab disapa Ustadz Habib.
"Habib" panggil Pak Kyai
"Ibumu beberapa hari yang lalu silaturahim ke sini. Ibumu berharap bahwa saya ini bisa membujuk mu untuk mau menikah dengan wanita yang telah Ibumu pilihkan untukmu"
__ADS_1
Mendengar itu Ustadz Habib berhenti sejenak memijat kaki sang guru dalam hati ia tak menyangka Ibundanya akan sampai menyuruh pak Kyai untuk membuat dia luluh. Ustadz Habib hanya diam dan tersenyum cukup tipis menanggapi pernyataan dari pak Kyai kemudian kembali melanjutkan pijat-memijat kaki pak Kyai tersebut.
"Habib, saya tidak mau memaksamu untuk menentukan jalan hidupmu karena itu hakmu. Kecuali kalau kamu bersedia untuk saya carikan atau kamu meminta untuk saya mencarikan. Karena soal menikah juga bukan soal sembarangan perlu pemikiran yang matang untuk melaksanakannya agar bahagia dunia dan akhirat"
"Saya sudah berkata pada Ibumu biarkanlah putra pertamanya ini mengabdikan diri dengan penuh di Ma'had ini dahulu. Masalah menikah kalau sudah selesai masa khidmah itu pasti lebih baik. Terus saya bilang lagi, lagian juga putramu baru saja mengalami hal yang tentu amat menyakitkan baginya. Terlepas dari itu semua ia merelakan atas dasar kebaktiannya kepadamu karena kamu adalah Ibunya"
Pak Kyai bercerita mengenai apa yang telah diucapkan beliau kepada Ibunda Ustadz Habib sewaktu bersilaturahim
"Terimakasih Pak Kyai atas pengertiannya"
Pak Kyai masih melanjutkan penjelasannya,
"Abahmu juga bilang pada saya bahwa Ibunda mu memang cukup memaksa, itu semua dilakukan Ibumu supaya kamu bisa melupakan wanita dimasa lalumu"
"Boleh Pak Kyai tau Habib, siapa wanita itu?" tanya Pak Kyai Ma'had yang menganggap para santri seperti anak sendiri dan seperti guru yang harus tau ilmu psikologi agar dapat memahami karakter anak didik dan agar ruhul mudaris antara guru dan murid bisa bersambung/terkait satu sama lain.
"Namanya Ayunda Syaharani Pak Kyai, dia memang bukan putri dari seorang Kyai besar tapi bagi saya dia adalah wanita shalihah yang layak untuk dijadikan pendamping hidup"
"Namun Ibunda berkeinginan lain, beliau tidak setuju saat saya sudah terlanjur berkata pada Ayunda bahwa saya akan mengkhitbahnya"
"Waktu itu Abah sudah menyetujuinya karena Abah juga tau bagaimana karakter dari Ayunda"
"Tapi kembali lagi bahwa Ibunda menginginkan menantu dari trah pesantren. Sebagai anak juga seorang laki-laki sangat berat untuk saya memilih kedua wanita yang saya cintai apalagi satunya adalah Ibu saya sendiri"
"Hidup akan terus berjalan. Jalanilah apa yang menjadi takdirmu hari ini seperti air yang mengalir suatu saat pasti ia akan sampai ke hulu juga"
Ustadz Habib mendengarkan setiap kata yang keluar dari Pak Kyai dengan penuh ketakdiman dan kepatuhan.
"Nak, jodoh itu ditangan Allah. Kamu tidak perlu khawatir. Yang perlu kamu khawatirkan adalah jangan sampai cinta membuatmu terlena hingga kamu larut dalam kesedihanmu dan hanya membuatmu menjadi pemalas"
"Pak Kyai?" kata Ustadz Habib agak kaget dengan apa yang diucapkan pak Kyai nya itu sama persis apa yang diucapkannya pada kajian tadi.
Sembari masih cukup tak percaya bagaimana pak Kyai tau akan apa yang disampaikannya tadi, saat itu pula Pak Kyai tersenyum seraya memberi kesan bahwa Ustadz Habib harus tenang dan tidak boleh tergoyahkan.
__ADS_1