Ayunda Syaharani

Ayunda Syaharani
Hari yang Berkesan


__ADS_3

Semerbak mewangi harum dari bunga-bunga serta berbagai macam tanaman yang tumbuh di halaman rumah Ayunda menyambut Hanum, Mala, Raya dan Stevi yang sudah sampai tepat di rumah Ayunda saat ini.


Rumah joglo modern yang tampak indah dan asri dengan berbagai jenis tanaman bunga yang tertanam indah dan teratur di halaman rumah yang cukup luas itu. Suara kicauan burung milik Reyhan juga turut menghidupkan suasana ke-asrian dari rumah tersebut.


Penghuni rumah mana yang tidak suka kalau kedatangan tamu? Apalagi jika tamunya adalah teman dekatnya.


Ayunda melangkah lebih dulu. Membuka pintu seraya mengucap salam.


Mempersilahkan teman-temannya masuk dan duduk di tempat yang disediakan untuk tamu.


Ayunda sejenak berpaling untuk menemui Abah dan Umminya. Ia juga ingin memberitahu jika temannya datang ke rumahnya.


Belum sempat Ayunda pergi dari teman-temannya, Abah lebih dulu sudah muncul karena kebetulan sedang ada urusan diluar rumah. Tanpa menunggu lama Ayunda menyalami dan mencium tangan Abahnya.


Detik berikutnya, Hanum, Mala, Raya dan Stevi pun bangkit dari tempat duduk ikut melakukan apa yang Ayunda lakukan. Sebagai bentuk rasa hormat kepada Abah, juga sebagai rasa menghargai dan menyayangi dimana memposisikan ayah sahabatnya seperti ayah mereka sendiri yang harus mereka hormati.


"MasyaAllah! Ada tamu rupanya!" Abah menjabat mereka seraya mendoakan kebaikan untuk mereka juga. Karena bagi Abah, temannya anaknya sudah ia anggap teman putrinya seperti anaknya juga. Begitu pula ke- 4 teman Ayunda, mereka juga menganggap orang tua Ayunda sebagai orang tua mereka juga. Dimana setiap oang tua wajib dihormati dan dimuliakan.


“Mereka ini adalah teman kampus Ayunda, Abah." Ayunda memperkenalkan," mereka ke sini mau silaturrahmi sekaligus bantuin Ayunda sama Ummi buat kue."


“Wah ... alhamdulillah, tapi apa tidak merepotkan kalian?" Abah yang kebetulan pulang lebih awal dari pekerjaannya.


"Sama sekali tidak Abah, justru kami tambah senang karena sebagai teman kami bisa saling membantu." Hanum.


"Abah ucapkan terimakasih banyak untuk kedatangan dan niat kalian yang mau membantu Ayunda dan Umminya.”


Mereka pun menjawab dengan senyum kebahagiaan disertai kepatuhan dibaliknya.


Sebelum benar-benar pergi Abah membalikkan tubuhnya dan berpesan, "Ayunda siapkan jamuan untuk mereka terlebih dahulu, ya! Jangan langsung di ajak ke dapur.”


Abah pun kemudian pergi keluar rumah untuk menyelesaikan urusannya.


Merasa sangat setuju dengan pesan Abah, maka Ayunda menyuruh teman-temannya untuk tetap di ruang tamu terlebih dahulu. Sementara itu ia berangsur berdiri dan mencoba mencari Umminya yang pasti sedang berada di dapur.


Begitu di dapur Ayunda melangkah pelan mendekati Umminya yang masih konsentrasi mengaduk adonan.


Saat sudah benar-benar didekat Umminya dengan jarak yang begitu dekat, tanpa aba-aba ia langsung menyentuh pundak Umminya dan apa yang terjadi? Umminya pun cukup kaget.


"Ayunda" Berraksi dengan wajah kaget dan kesal namun sayang.


Sementara Ayunda ia tersenyum kaku sambil memegang kedua telinganya sebagai kode minta maafnya.


Melihat putrinya seperti itu Ummi Hannah hanya menggelengkan kepalanya dengan tetap tersenyum pada Ayunda.


Kali ini tanpa tunggu lama Ayunda meraih tangan Ummi dan mencium tangan mulia tersebut. Ummi pun membelai kepala putri tersayang itu dengan penuh kasih sayang.


"Ayunda, di ruang tamu sepertinya ada orang." Ummi mendongakkan kepalanya memeriksa apa dugaannya benar.


Belum sampai Ummi keluar dari dapur Ayunda sudah menjawab dan mengiyakan apa yang Umminya tanyakan.


"Mereka teman-teman Ayunda Ummi. Tadi, sewaktu makan siang saat Ummi telfon mereka tanya ada apa dan aku jawab yang sebenarnya, terus mereka berencana untuk kesini untuk bersilaturahmi dan bantu Ummi bikin kue." Jelasnya.


“Kalau begitu ayo antar Ummi untuk menemui mereka!"


"Dan jangan lupa kita


bawakan minuman dan kue untuk mereka!" Ummi membelai lembut wajah sang putri kesayangan.


“Siap Ummiku!” Ayunda menjawab dengan patuh dan penuh kekaguman pada Umminya. Ya bagaimana tidak? Meskipun sedang dikejar waktu untuk menyelesaikan pesanan kue, tapi Umminya tetap mengupayakan untuk memuliakan tamunya.


Waktu terus berjalan perbincangan antara Ummi dan teman-temannya Ayunda pun berlangsung tidak terlalu lama karena harus menyelesaikan kue-kue pesanan.


Hanum, Mala, Raya dan Stevi begitu semangat untuk membantu membuat kue Ummi. Katanya mereka ingin belajar juga darinya.


Dan kini, mereka semua sudah berada di dapur milik Ummi Hannah. Dapur dengan desain modern juga luas, bersih dan teratur itu diatasnya sudah tampak berbagai jenis kue tradisional yang hampir selesai dibuat tinggal teknik pengemasan saja. Namun ada pula beberapa adonan yang masih harus segera dibuat untuk kue nagasari.


Selain kue nagasari yang saat ini dalam proses pengukusan. Berbagai macam kue tradisional seperti: kue putu, kue lapis legit, dadar gulung, lumpia, lemper dan puding agar-agar sudah berjejer rapi di wadah tinggal pengemasan saja.


Setelah memotong kue yang memang harus di iris tidak terlalu tipis juga tidak terlalu tebal seperti kue lapis legit kini mereka mengemas kue-kue lainnya ke dalam Selesai dengan proses pengemasan, selanjutnya mereka memasukkan dan menata kue-kue itu secara rapi ke dalam kotak yang telah tersedia dengan lebel *ReyHani cake* hasil dari penggabungan nama Reyhan dan Ayunda.


Tanpa mereka sadari satu jam sudah berlalu dan selama itu pula mereka berkutat dengan kue-kue yang sekarang sudah siap untuk diambil oleh pemesannya.


Perasaan lega dan bahagia pun meliputi hati Ummi Hannah saat ini, "Alhamdulillah, akhirnya bisa selesai lebih awal."


Melihat lega dan bahagianya Ummi menjadikan mereka juga ikut merasakannya pula.


"Ini semua berkat kalian ada disini membantu Ummi dan Ayunda, terimakasih." Ummi begitu senang karena ada yang bersedia membantunya dengan tulus dan ikhlasnya.


"Iya, terimakasih banget karena kalian sudah membantu aku dan Ummi menyelesaikan ini semua." Sambung Ayunda ikut berterimakasih.


Senyum merekah mengiringi jawaban yang Ummi dan Ayunda nyatakan pada mereka,


"Sama-sama Ummi, sama-sama Ayunda."


Usai semua itu tak lupa mereka juga turut membantu Ummi dan Ummi membereskan peralatan-peralatan untuk membuat kue. Begitu dapur cantik milik Ummi Hannah sudah bersih kembali mereka berencana untuk pamit pulang.


“Alhamdulillah sekarang semuanya sudah bersih kembali," Hanum yang senang melihat kebrsihan,"Emm ... Ummi, Ayunda kami pamit pulang dulu ya?" Hanum melanjutkan ke inti pembicaraannya.


“Jangan! Jangan!" Begitu mendengar pernyataan Hanum Ummi Hannah pun menginstruksikan kalau mereka jangan terburu-buru pulang karena mereka harus mencicipi masakannya,"Kalian jangan pulang dulu! Kalian cobain masakan Ummi dulu, setelah itu baru pulang, ya?"


Dan seperti itulah Ummi Hannah dimana setiap kedatangan tamu pasti akan disuruh makan dulu dan tidak dibiarkan pulang sebelum perut kenyang.


Dengan cara baik-baik mereka berusaha menolak permintaan Ummi Hannah dan mereka berkata,


“Terimakasih Ummi, tapi kita masih kenyang Ummi!"


“Sudah gakpapa, makan lagi aja yuk! Sekalian, kalian cicipi masakan Ummiku siapa tau bakal ketagihan?" Ayunda membujuk sembari menggoda mereka.


Atas bujukan dari Ayunda dan Umminya akhirnya mereka pun setuju untuk makan lagi.


Waktu yang telah menunjukkan pada jam 15:00 WIB, memasuki waktu salat ashar mereka


melaksanakan salat ashar berjamaah di rumah Ayunda. Kurang lebih setengah setengah jam dimana telah selesai menunaikan salat ashar baru mereka makan bersama.


Ummi Hannah selaku chef handal yang menyajikan berbagai menu makanan di meja itu mendapat pujian yang luar biasa dari Hanum, Mala, Raya dan Stevi karena masakannya benar-benar sangat lezat.


Makan bersama itupun berjalan dengan penuh rasa kebersamaan menghiasi ruang makan tersebut.


Selesai sesi makan bersama tentunya tak lupa mereka membantu Ayunda membereskan tempat makan. Karena akan kurang baik dan pantas jika tamu langsung pulang setelah berbagai kotoran yang dibuat di rumah tersebut.


Sekarang rumah Ayunda sudah terlihat bersih dan rapi lagi. Kali ini mereka benar-benar pamit pulang.


"Ummi, Ayunda kami pamit pulang dulu! Terimakasih untuk semuanya." Salah satu dari mereka.


Ummi Hannah memeluk satu persatu mereka dan berucap, "Sama-sama, terimakasih juga atas semua yang telah kalian lakukan."

__ADS_1


“Dan, ini sedikit oleh-oleh dari Ummi untuk kalian bawa pulang!" Ummi menyerahkan paperbag berisikan kue untuk mereka.


"Maaf juga Ummi enggak bisa ngasih banyak.” Sambung Ummi.


"Enggak usah Ummi, enggak usah!" Hanum menolak secara baik-baik,"kami membantu Ummi tulus Ummi."


"Iya Ummi mengerti itu, tapi Ummi kasih ini juga tulus. Anggap aja sebagai rasa sayang Ummi ke kalian. Kalian Terima ya?"


Dan tanpa bisa mengelak ataupun menolak akhirnya Hanum menerima paperbag berukuran cukup besar berisikan makanan dan berbagai kue.


“Terimakasih banyak Ummi," Hanum tak lupa menjabat tangan Ummi Hannah dan Abah yang kebetulan baru saja kembali pulang.


"Terimakasih juga ya Ayunda." Memeluk Ayunda.


"Sama-sama, terimakasih juga untuk semuanya." Ayunda menyambut pelukan hangat mereka.


Berterimakasih merupakan hal yang sudah seharusnya kita ucapkan ketika kita merasa terbantu dengan pertolongan orang lain. Karena sebagai mahluk sosial kita tidak bisa menjalankan semuanya sendiri. Membiasakan berterimakasih dan sama-sama tidak akan membuat kita rendah justru sebaliknya. Dengan berterimakasih dan sama-sama perasaan saling menghargai dan menghormati akan senantiasa terjaga satu sama lain.


“Sering-sering main ke sini lagi ya!” Ummi Hannah menyaksikan kepergian mereka satu persatu.


Suara salam mengakhiri kepergian mereka dari rumah Ayunda.


“Assalamualaikum!"


“Wa’alaikumussalam, hati-hati!" Ayunda menjawab salam dari mereka.


........


Tanpa Ayunda rasa kepergian temannya membuat rumahnya sepi seketika itu, ditambah lagi Reyhan yang tidak ada di rumah sekarang ini. Padahal baru tadi pagi mereka bertengkar karena hal kecil.


Ayunda meringis pilu teringat betapa cepatnya waktu telah berlalu. Baru rasanya tadi pagi ia berbincang dengan sedikit bertengkar dengan Reyhan, namun tiba-tiba sekarang waktu sudah berganti sore saja.


Tak sengaja ia melihat kearah foto bersama ia dan Reyhan dinakas. Ayunda mengusap foto itu dengan lisannya turut berucap, "Mas Rey semoga kamu diberikan kelancaran selalu. Aamiin." Kemudian meletakkannya kembali.


Sejenak ia punya ide untuk menelfon Reyhan, ia pun mengambil handphonenya yang masih berada di dalam tasnya. Tak sengaja saat akan mengambil handphonenya sesuatu seperti kain ikut menyembul keluar dari dalam tasnya.


"Sapu tangan ini?"


"Milik laki-laki tadi, siapa ya namanya?"


"Ah iya, Raffa namanya Raffa." Kini Ayunda tertawa dengan apa yang sudah terjadi pada dirinya. Padahal tadi di kampus ia begitu mengingat namanya sekarang kenapa tiba-tiba lupa? Bukan, bukan lupa tapi lebih ke keluh untuk mengucapkan karena sangking gugupnya saat mengingatnya.


"Kenapa pada akhirnya aku mau membawanya?" Mempertanyakan apa yang telah ia sendiri lakukan dengan senyam senyum sendiri, "kapan bisa ketemu lagi coba?"


Ayunda pun memberanikan diri memegang lembut saputangan itu dan mendekapnya. Dengan sesekali ia teringat akan laki-laki yang bernama Raffa itu. Laki-laki dengan wajah bersih, alis hitam, kulit bersih nan putih, berbadan tegap, tinggi dan atletis, rambut gondrong yang walaupun gondrong terlihat begitu rapi yang seolah-olah mencerminkan kepribadian Raffa yang berjiwa disiplin dan bertanggungjawab.


Ayunda larut dalam ingatannya di dalam kamarnya.


Beralih ke rumah Bu Yeni....


Di depan rumah Bu Yeni nampak seorang laki-laki yang berciri-ciri diatas tengah mengetuk pintu rumah Bu Yeni tersebut.


Laki-laki itu menggunakan celana jeans dengan atasannya kaos berwarna hitam yang begitu senada dengan tubuh atletisnya dan warna kulitnya yang putih bersih. Membuat ketampanan seorang Raffa semakin maximal dan maximal.


"Tok, tok, tok!" Mengetuk pintu.


Tak membutuhkan waktu yang lama pemilik rumah itu muncul, "Nak Raffa, maaf ya kamu nunggu Bu Yeni lama. Maklumin yaa namanya juga Ibu-ibu!"


Raffa tersenyum faham seraya melangkah menuju mobilnya.


Bu Yeni sudah duduk dengan nyaman di samping Raffa namun lain halnya dengan Raffa, ia seperti sedang menunggu sesuatu dihandphonenya. Karena dapat Bu Yeni lihat dengan jelas apa yang menjadi perhatian Raffa saat ini. Bukan gas mobilnya tapi malah menatap handphone secara terus-menerus.


"Kenapa Nak Raffa? Ayo kita berangkat!" Bu Yeni mencoba bertanya sekaligus memberi arahan namun yang tampak dari Raffa adalah raut wajah Raffa yang kecewa begitu melihat layar handphonenya sendiri.


"Bukan apa-apa Bu! Mari kita berangkat!" Raffa menyembunyikannya kekesalannya kemudian ia langsung menancap gas dan melajukan mobilnya.


Jalanan yang terlihat ramai para pekerja yang hendak pulang menemani laju mobil Raffa saat itu.


Ramainya jalan raya nyatanya tak seramai suasana Raffa dan Bu Yeni dalam mobil tersebut. Dan itu cukup berbeda dari biasanya saat mereka bertemu pasti ada aja yang mereka bicarakan. Apalagi Raffa ia sering berkonsultasi dengan Bu Yeni jika ada masalah.


Dan Raffa pun memutuskan memulai pembicaraannya terlebih dahulu dengan memanggil Bu Yeni,


"Bu Yeni!" Raffa memanggilnya.


"Iya, Nak Raffa ada apa? Kenapa? Jangan kira Bu Yeni enggak bisa baca suasana hati kamu saat ini." Bu Yeni angkat bicara.


"Kelihatan ya Bu?" Raffa.


"Kalau disaya iya, kamu kan sudah Bu Yeni anggap sebagai anak sendiri. Enggak mungkin lah seorang Ibu enggak dapat menebak suasana hati anaknya."


Raffa tersenyum tipis dengan masih fokus pada setir mobil yang ia kendalikan.


Tepat disaat lampu merah, Raffa mencoba menceritakannya pada Bu Yeni, "Ini soal Azzalia, Bu!"


"Ada apa dengan Nak Azzalia? Bukan 'kah kamu sudah berniat akan menghalalkannya setelah lulus S2?" Bu Yeni yang tau kalau Azzalia cukup posesif/cemburu dan jarang ada waktu untuk Raffa karena Azzalia juga cukup sibuk dengan kuliah dan pekerjaannya dikota yang tidak sama dengan Raffa saat ini.


"Sabar, kamu harus memakluminya! " Lanjut Bu Yeni mengarahkan Raffa.


"Tetapi, saya juga inginlah Bu diprioritaskan juga olehnya. Saya tau kalau dia sibuk, tetapi sesibuk-sibuknya dia harusnya dia tetap menyempatkan waktu untuk membalas chat saya."


"Ibu bayangkan saja, setiap saya chat dipagi hari pasti membalasnya disiang hari, bahkan terkadang juga sampai malam baru ia telfon saya dan meminta maaf karena tidak sempat membalas chat maupun telfon saya. " Raffa mencurahkan isi hatinya karena kekasihnya yang jauh darinya tak kunjung mengkabari dirinya.


Bu Yeni yang pernah muda faham betul apa yang Raffa rasakan, karena itu ia memilih untuk memotivasi Raffa dibanding mengompori Raffa.


"Emm, yang terpenting kalian 'kan saling mencintai dan percaya satu sama lain." Bu Yeni memberi pencerahan, "dan kalian juga kan sudah berkomitmen satu sama lain untuk membawa hubungan kalian ke jenjang seirus."


Lagi-lagi Raffa hanya memberikan senyuman tipis diwajah tampannya itu.


Dalam hati ia merindukan kekasihnya, ia butuh kekasihnya agar tak sempat memikirkan gadis lain selain dia. Namun kekasih itu belum juga mengabarinya ataupun menanyakan bagaimana kabar Raffa sedari tadi siang. Meskipun begitu, Raffa setuju dengan apa yang Bu Yeni tuturkan padanya.


Pemandangan kota dilewati begitu saja oleh Raffa seiring mobilnya yang terus melaju menembus waktu. Setengah jam perjalanan pun telah berlalu, dan sekarang Raffa dan Bu Yeni sudah sampai di tempat tujuan mereka.


Bu Yeni melangkah keluar dari mobil setelah Raffa membukan pintu untuknya.


Bu Yeni berjalan sendiri memasuki rumah itu. Sedangkan, Raffa ia memilih untuk menunggu di mobil saja. Bu Yeni pun menyetujui kemauan Raffa.


Bu Yeni melangkah dan terus melangkah hingga sampailah ia tepat di depan pintu rumah tersebut, "Assalamu'alaikum!" Mengucap salam dan memencet bel rumah tersebut.


Ayunda masih di kamarnya dengan tiduran terlentang di atas tempat tidurnya dengan tangannya masih betah memegang juga mendekap sapu tangan milik Raffa tersebut.


Mendengar bel rumah berbunyi dan suara salam, segera ia bergegas bangkit dan meletakkan sapu tangan itu secara asal ditempat tidurnya.


"Wa'alaikumussalam." Ayunda menjawab salam dan membuka pintu rumahnya.


Dan terbukalah pintu itu, begitu satu sama lain mengetahui siapa yang berdiri diambang pintu, mereka pun cukup kaget dan tak habis fikir satu sama lain.

__ADS_1


"Ibu? Ibu yang tadi siang ngeprint tugas makalah saya kan?" Ayunda masih ingat betul dengan wajah Bu Yeni.


"Iya, saya Bu Yeni yang tadi siang." Bu Yeni membenarkan Ayunda, "jadi, apakah kamu putrinya Jeng Hannah?"


Ayunda mengangguk dengan begitu manis dan ramahnya, "Iya, Bu Yeni benar sekali!"


"MasyaAllah, pantesan ...!" Bu Yeni yang paham betul kalau Ummi Hannah memiliki kepribadian yang sama dengan Ayunda. Selain itu mereka juga cukup mirip.


"Pantesan? Pantesan kenapa Jeng Yeni?" Ummi Hannah tiba-tiba muncul dari arah belakang Ayunda.


Mendekat dan menjabat tangan, serta cipika cipiki juga dengan Bu Yeni.


"Pantesan, ia sholihah plus cantik dan baik hatinya!" Bu Yeni salut dengan Ibu dan anak yang ada di depannya saat ini.


"Apalagi, kalau urusan akhlak dan sopan santun? Enggak perlu diragukan lagi pokoknya! Umminya saja baiknya enggak ketulungan!" Bu Yeni melanjutkan pujian demi pujiannya.


Ummi Hannah yang mendapat pujian demi pujian sama sekali tidak membuatnya besar kepala.


"Baik enggak ketulungan itu karena sahabatnya yang satu ini, juga!" Ummi Hannah merangkul Bu Yeni dan mempersilakannya masuk dan duduk.


Ummi dan Bu Yeni asik bercengkrama,


Ayunda datang dengan membawa dua cangkir teh dan kue-kue kering yang ia sajikan untuk tamu Umminya.


"Silakan dimakan Bu! " Ayunda dengan sopan.


"Terimakasih. Mari! " Bu Yeni meminum teh yang Ayunda buat.


Bu Yeni tampak begitu asik bercengkrama dan bertukar cerita satu sama lain, hingga Bu Yeni menceritakan kepada Ummi Hannah tentang kejadian tadi siang antara dirinya, Ayunda dan Raffa.


Mendengar cerita Bu Yeni, Ummi Hannah sangat tidak menyangka dengan apa yang terjadi dengan mereka.


"Benar-benar enggak yangka ya Jeng!" Ummi Hannah.


Dari arah jendela terlihat sosok laki-laki sedang menunggu seseorang di depan mobilnya. Sesekali laki-laki itu tampak mengecek handphonenya kemudian mencampakkan handphonenya begitu saja setelah beberapa kali mencoba menghubungi seseorang.


Hal itu tidak luput dari penglihatan Ummi Hannah, maka langsung saja Ummi menanyakan pada Bu Yeni, "Jeng yang di depan mobil itu siapa? Anak kamu? Kok enggak diajak masuk aja, Jeng?"


"Sebenarnyq sudah saya ajak Jeng, tapi dia enggak mau ngerepotin."


"Untung, Nak Raffa enggak ikut masuk, kalau dia tau rumah siapa ini, pasti ia kaget cukup terkejut." Bu Yeni membatin.


Ummi Hannah sudah melangkahkan kaki hendak keluar untuk menemui laki-laki itu, Ayunda dengan cepat mencegah Ummi Hannah dengan maksud agar ia saja yang menemui dan menyuruhnya untuk masuk. Ayunda berfikir tak baik rasanya kalau Umminya yang harus repot-repot memastikan sedangkan ia duduk manis dengan tamu Umminya.


Kaki Ayunda berjalan keluar dari pagar rumahnya dan sekarang ia telah berdiri tepat dibelakang laki-laki yang masih belum tau keberadaannya karena masih terfokus pada layar handphone yang dipegang laki-laki itu.


"Permisi Mas!" Mencoba menyuruh dengan sesopan mungkin.


"Silakan masuk bersama Bu Yeni!" Lanjut Ayunda namun masih dibelakangi oleh laki-laki yang Ayunda sendiri tak tau kalau itu adalah Raffa.


Raffa memang masih fokus pada layar handphone yang ia pegang namun bukan berarti dia tidak mendengar suara seseorang yang menyuruh dia untuk masuk.


Berubahlah posisi Raffa saat ini yang tadinya membelakangi Ayunda menjadi menghadap Ayunda. Dan apa yang terjadi pada mereka begitu mengetahui siapa yang memanggil dan dipanggil oleh masing-masing dari mereka?


Raffa dan Ayunda sama-sama termenung tak menyangka jika mereka akan dipertemukan kembali. Apalagi ini bukan di area kampus dimana mereka satu area yang otomatis akan memudahkan mereka untuk bertemu.


Ayunda mencoba mengedipkan kedua netranya kembali dan menyadarkan dirinya.


"Mari masuk!" Mengulangi ajakannya seraya menggerakkan tangannya seperti mempersilahkan tapi masih dengan menatap bawah.


"Baiklah, terima ---"jawab Raffa terputus karena masih tak menyangka akan pertemuan antara dia dengan Ayunda,"kasih."


Begitu mendengar Raffa memberikan umpan balik akan ucapannya, Ayunda memberanikan diri menatap ke wajah Raffa walaupun detak jantungnya mulai tak menentu tanpa ia minta.


Tanpa sengaja pandangan mereka pun bertemu. Ayunda dengan gugup mengajak Raffa sekali lagi agar masuk bersamanya, dan tanpa Ayunda tau entah Raffa sudah berada dibelakangnya atau belum, namun Ayunda lebih dulu membalikkan tubuhnya.


"Kak Raffa? Lagi? Untuk yang kesekian kalinya" Seraya berusaha menenangkan detak jantungnya sendiri.


Dari arah tak cukup jauh Ayunda menengok ke belakang ingin tau apa Raffa sudah berada dibelakangnya atau belum.


Dan Ayunda pun langsung blushing begitu mengetahui Raffa sudah berada tepat dibelakangnya. Ayunda pun hanya diam dan langsung menunduk seraya bergumam dalam hati, "Ya Allah kenapa harus bertemu lagi? Dunia ini cukup luas ya Allah tapi hari ini sudah 3 kali aku bertemu dengannya?" Ayunda dalam hati dengan sedikit kesal dan entah apalagi karena soal hati susah dijelaskan. Perlahan ia menghembuskan pelan nafasnya dan menenangkan hatinya kembali.


Raffa ia juga tak menyangka akan bertemu kembali dengan Ayunda. Ia menggaruk-nggaruk alisnya yang tidak gatal dengan jari telunjuknya. Ia sendiri benar-benar tidak menyangka gadis tadi siang yang tak sengaja ia bantu sekarang ada didepannya dan takdir telah mempertemukan mereka lagi.


"Silakan masuk!" Kata Ayunda kepada Raffa yang berdiri berjarak cukup dekat dengannya.


"Silakan duduk!" Ummi Hannah mempersilahkan dengan ramah.


"Terimakasih!" Jawab Raffa dengan sopan.


Dan Raffa pun duduk kursi yang berada di samping Bu Yeni.


Bu Yeni pun menceritakan ke Ummi Hannah, bahwa laki-laki yang berkasnya tertukar dengan Ayunda adalah Raffa yang saat ini telah duduk tepat disampingnya.


"Oh, jadi kamu yang namanya Raffa? Yang sudah menolong Ayunda tadi?" Ummi Hannah tak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Ternyata Raffa bertamu pula dikediamannya. Dalam hati Ummi Hannah bertanya kebetulan atau ada sesuatu kah dibalik ini semua Ya Allah? Apapun itu semoga itu adalah hal baik. Ummi Hannah bergumam dan berdo'a dalam hatinya.


"Sebenarnya saya juga tidak menyangka akan yang hal yang sudah terjadi tadi siang. Itu semua sudah menjadi Kehendak dan Kuasa-Nya Allah." Raffa dengan santunnya.


Ayunda pun kembali ke ruang tamu itu dengan membawa secangkir teh untuk Raffa.


"Silakan diminum Raffa!" Ummi Hannah dengan begitu ramah.


Raffa pun mengangguk dengan santunnya, dan perlahan menyeduh teh yang Ayunda buatkan.


Merasa sudah cukup lama berbincang dan temu kangennya dengan Ummi Hannah, Bu Yeni bangkit dan pamit undur diri.


"Iya Jeng, terimakasih sudah pesan kue dan mampir ke rumah saya." Ummi Hannah bersalaman dan cipika cipiki mengulangi apa yang mereka lakukan saat baru bertemu tadi.


Sebelum benar-benar beranjak pergi, sesuai arahan Umminya, Ayunda pun menyerahkan bingkisan seperti yang Umminya berikan kepada temannya kepada Bu Yeni dan Raffa.


Bu Yeni pu merasa tak enak kenapa harus ditambahi dengan bingkisan pula.


"Loh, ini apa Jeng? Kenapa pakek dikasih ginian segala sih Jeng?"


"Udah, udah enggak papa Jeng! Ini aku buatkan khusus untuk kamu. Ini sebagai rasa kasih sayang aku ke kamu."Ummi Hannah kemudian menjelaskan lagi


"Terimakasih ya Jeng!"


Bu Yeni merasa bahagia dan terharu akan yang perlakuan Ummi Hannah padanya.


Hari yang berkesan sekali untuk Ayunda, sama sekali ia tak mengira akan dipertemukan dengan Raffa lagi dan lagi selama satu hari itu.


....


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰....

__ADS_1


__ADS_2