
Keceriaan bercampur rasa haru dan sedih menjadi satu di suasana malam perpisahan Ayunda dengan para santri di Ponpes Al-Hikam. Air mata tak dapat mereka bendung kembali. Ayunda dan para santri (santri cilik) pun menangis secara bersamaan. Kemudian secara bersamaan pula mereka menghambur ke pelukan Ayunda. Berat bagi mereka untuk berpisah dari ustadzah yang telah mengajarkan berbagai ilmu kepada mereka selama kurang lebih tiga tahun lamanya.
"Ustadzah maafin Khalil dan teman-teman yaa ... kalau selama ini Khalil jadi anak yang enggak baik dan susah dinasehati saat Ustadzah ngajar Khalil dan teman-teman." Kata Khalil mewakili teman-temannya.
"Iya Ustadzah ... maafin kita!"
"Iya Ustadzah ... maafin kita!"
"Iya Ustadzah ... maafin kita!"
Kalimat itu terus bergilir dari satu anak ke anak yang lain sampai pada anak perempuan yang semakin meggemaskan juga cantik karena semakin beranjak memasuki usia remaja.
Anak perempuan itu terus menatap Ayunda dengan diam, sampai dimenit terakhir ketika Ayunda menyebut namanya baru anak perempuan itu berhambur memeluk Ustadzah kesayangannya dengan begitu erat disertai isak tangisnya.
"Audri, jangan nangis sayang! Ustadzah sayang sama Audri dan semuanya. Ustadzah akan tetap selalu bersama kalian, Ustadzah akan selalu mendo'akan kalian. Kalian akan selalu ada dihati Ustadzah."
Audri meregangkan pelukannya dan seolah-olah mempertanyakan kebenaran ucapan Ayunda.
"Iya Audri dengan saling mendo'akan antara satu sama lain insyaAllah hati kita akan saling terhubung. Dengan begitu walaupun kita jauh di mata, tapi kita akan selalu dekat dihati." Ayunda dengan masih berlinang air mata, Audri dan teman-temannya pun demikian mengusap-usap air mata yang menetes di mata mereka. Ayunda yang cukup tidak tega dan tidak tahan melihat linangan air mata tulus mereka berusaha untuk menyudahi kesedihan dengan memberikan kenang-kenangan.
"Sudah kita jangan nangis lagi yaa! Sudah cukup nangisnya. Sekarang Ustadzah mau kasih kenang-kenangan buat kalian semua."
"Senang enggak?" Ayunda masih berusaha mencairkan suasana kesedihan karena perpisahan,
"Ayo donk tunjukin senyum manis dan terbaik kalian!"
Senyum manis dan terbaik mereka terpasang diraut wajah Audri dan teman-temannya. Dan para snatri itu melakukannya bukan semata-mata agar mendapat hadiah tapi karena menjalankan perintah dari Sang guru.
"Nah, siipp ... MasyaAllah para pecinta ilmu dan pecinta Al-Qur'an." Puji Ayunda mengacungkan kedua jempol tangannya terasa bangga pada semangat dan ketaatan mereka.
"Ingat yaa, kalian harus selalu semangat ngajinya, belajarnya dan harus selat memberikan yang terbaik pada setiap kesempatan yang Allah berikan," tutur Ayunda menasehati mereka, "Karena apa?" Ayunda melanjutkan.
"Karena kita adalah pemuda Islam penerus estafet peradaban selanjutnya." Sambung para santri mengikuti apa yang pernah Ustadzahnya ajarkan pada mereka. Ayunda selalu mengarahkan mereka agar mereka semangat dan tidak mudah terlena pada kesenangan sesaat saja, karena di tangan merekalah masa depan bangsa.
__ADS_1
"Semangat!" Ayunda memberikan dan membangkitkan spirit mereka seraya mengepalkan tangan kanannya dan mengangkatnya.
Dan mereka pun turut berujar kata yang sama yang diucapkan ustadzahnya dengan serentak.
"Semangat!"
"Semangat!"
Ujar para santri cilik bersamaan.
Raffa yang melihat kebersamaan wanita yang dicintainya begitu dekat dengan para santri di Ponpes Al-Hikam, membuatnya semakin kagum dan cinta pada Ayunda. Bahkan Raffa turut berkaca-kaca karena terharu dan terbawa suasana.
Selanjutnya dibantu oleh Mbak santri (usia remaja) Ayunda membagikan bingkisan kenang-kenangan yang telah disiapkannya bersama Raffa. Tak segan
Raffa pun turut membantu istrinya memberikan kenang-kenangan kepada para santri putra.
Selesai dengan para santri, Ayunda dan Raffa berpindah ke Ustadzah Azizah dan Ustadz Mujahid selaku pemilik Ponpes Al-Hikam.
"Semoga dengan cinderamata kenang-kenangan ini kita semua diingatkan agar senantiasa saling mendo'akan satu sama lain."
Ustadzah Azizah membalas dengan memberikan pelukan hangat kepada Ayunda dan menyerahkan kenang-kenangan yang telah disiapkan olehnya untuk Ayunda.
Begitu juga dengan Audri dan teman-temannya, mereka ikut menyerahkan sebuah kenang-kenangan untuk Ustadzah Ayundanya.
Kenang-kenangan yang mereka berikan adalah sebuah foto bersama berukuran cukup besar dengan ditambah kata-kata manis pada bingkai foto tersebut.
Di malam itu, dimana Ayunda menggantikan jadwal mengajar Ustadzah Azizah sekaligus malam perpisahan, semua memang terasa sedih tapi juga ada rasa bahagia, karena Allah menghadirkan kesempatan untuk mereka saling bertemu untuk melepas rindu dan bertukar sapa sebelum harus berpisah.
Memang begitulah adanya bahwa pada setiap pertemuan atau perjumpaaan pasti akan ada
perpisahan yang tidak dapat dihindari ataupun dielak saat menjalani kehidupan di dunia.
...****************...
__ADS_1
Hari berikutnya di sebuah desa dengan berbagai persiapan yang dilakukan tak lupa seorang gadis bernama Maharani mengingatkan untuk mengantarkan undagan ke alamat yang sudah tertera pada kartu undangan cetak tersebut.
"Bagaimana Maharani?" Tanya dewan desa kepada Maharani mengenai kesiapan acara yang akan berlangsung esok lusa.
"Alhamdulillah semua sudah hampir siap Pak. Tinggal menata panggung pertunjukkan musiknya saja."
jawab Maharani karena pada pekan raya tersebut selain ada bermacam kuliner yang dijajakan, ada juga acara musiknya.
Tak ketinggalan pula ada bermacam cinderamata kerajinan gerabah, kemudian kesenian-kesenian tradisional khas desa tersebut. Selanjutnya yang paling mengesankan adalah berbagai macam sayuran hasil panen warga setempat, juga ikut dipamerkan dan dibentuk semenarik mungkin. Bahkan sayuran tersebut bisa langsung diolah atau dipacking bagi yang menginginkan dipacking saja.
Itulah beberapa serangkaian pertunjukkan yang akan turut serta meriahkan pekan raya besar-besaran di desa KKN Ayunda. Dan tentu masih banyak lagi pertunjukan atau lain sebagainya yang akan turut serta meriahkan acara pekan raya esok lusa.
Terdengar pula bahwa pekan raya tersebut juga akan dihadiri walikota kota S, beberapa pejabat, pembisnis serta rektor Universitas Islam tempat Ayunda dan Raffa merajut kisah mereka bersama.
"Lalu untuk undangan mahasiswa yang pernah KKN di sini, Bagaimana?" Tanya dewan desa itu kembali seraya memastikan semua berjalan sesuai rencana awal.
"Alhamdulillah Pak sudah diantar."
"Baiklah, kerja yang bagus Maharani."
Salut kepada Maharani dan pemuda desa yang menjadi panitia acara besar tersebut.
Sementara itu, satu persatu undangan telah sampai di rumah Ayunda dan teman-teman KKN nya. Mereka begitu terkejut dan speechless karena desa tempat mereka KKN menjadi desa berkembang dan maju sekarang.
Mereka masih ingat, desa tersebut beberapa bulan lalu waktu mereka KKN di sana, desa itu masih kurang maju dan tertinggal. Kini alhamdulillah setelah mereka KKN di desa tersebut, desa itu mampu untuk mengembangkan apa yang Ayunda dan teman-temannya perjuangkan selama KKN sehingga mereka (warga desa) bisa seperti sekarang ini.
Ayunda dan temannya pun flashback ke masa-masa KKN mereka. Masa penuh perjuangan dan harus menjunjung tinggi rasa persatuan tentunya. Ayunda dan temannya sadar betul bagaimana kegigihan dan semangat warga desa di sana. Barangkali itu juga yang menjadikan desa itu bisa berkembang pesat.
Esok lusa Ayunda dan teman-teman KKN nya sepakat untuk hadir dan temu kangen pada acara pekan raya tersebut dengan mengandeng pasangan masing-masing bagi yang sudah punya pasangan. Sementara bagi yang belum mohon untuk tetap bersabar dan terus berjuang.🥳
Ngomongin temu kangen, sejenak membuat Ayunda dan Lidya jadi rindu dengan kebersamaan mereka berenam sewaktu kuliah.
Akhirnya Ayunda dan Lidya memutuskan untuk menghubungi Hanum, Mala, Raya dan Stevi agar ikut meramaikan acara pekan raya besar-besaran tersebut. Jawaban yang menyenangkan didapatkan Ayunda dan Lidya karena mereka berempat memberikan jawaban kalau mereka akan ikut hadir di pekan raya itu.
__ADS_1