
Pagi itu memang entah mengapa sang mentari enggan untuk menampakkan sinarnya?
Padahal pagi itu seorang laki-laki sudah sangat rapi dan siap untuk menjalani ujian yang sudah ada di depan matanya saat ini. Orang-orang tercintanya juga sudah turut hadir memberi semangat dan dukungan untuk laki-laki yang sebentar lagi resmi mendapat gelar magisternya itu.
Suasana sidang cukup mendebarkan, tapi Raffa dengan percaya diri dan semangat yang membara dapat menyelesaikan ujian yang berlangsung kurang lebih satu jam setengah itu. Saat penentuan keputusan lulus tidaknya adalah hal yang lebih mendebarkan lagi. Beberapa menit kemudian telah di nyatakan bahwa Muhammad Raffa Abimanyu al-Ghifari lulus dengan gelar cumloude.
Gemuruh tepuk tangan menyambut keberhasilan yang Raffa dapatkan. Semua merasa sangat bersyukur atas kelulusan dan gelar yang diperoleh Raffa saat ini.
Tak tertinggal Raffa pun tidak percaya kalau dia akan lulus dengan mendapat gelar cumlaude. Sebuah kenikmatan tak terhingga untuk Raffa. Kerja keras dan usahanya terbayar sudah rasanya.
Di dalam ruangan itu atau di suasana masih dalam sidang itu, Raffa dibanjiri ucapan selamat dan pelukan dari rekan seperjuangannya.
Proses akan membawa seseorang pada kesuksesan yang ingin dicapainya setelah mengerahkan usaha keras dan penuh perjuangan. Tidak ada kesuksesan yang bisa didapat tanpa sebuah perjuangan. Ya seperti inilah alam menunjukkan karena pada kenyataannya banyak orang sukses terlahir setelah ia melalui berbagai macam proses. Mulai dari yang pada mulanya rasanya manis, kemudian berubah jadi asam hingga harus pahit lagi. Semua butuh yang namanya proses, nikmatilah proses itu dan berikanlah yang terbaik pada setiap proses yang pernah dilalui. Sepertinya perjuangan memang tak terlepas dari yang namanya proses dan sesuai dari proses itu, pasti suatu esok akan kita temui kata "Semua akan indah pada waktunya".
Dari Raffa kita banyak belajar. Belajar arti memanagement waktu, memberikan yang terbaik pada setiap kesempatan yang ada. Seperti menggunakan waktu yang dimiliki untuk melakukan hal yang berguna. Karena waktu tidak dapat kita ulang kembali. Kalau Raffa tak bisa membiasakan diri dengan itu semua tentu cukup mustahil ia akan dinyatakan lulus dengan gelar cumlaude.
Beralih ke sebuah tempat di mana Ayunda berada saat ini.
Di Perpustakaan Ayunda kini sudah menuntaskan tugas dari Raffa. Tinggal menunggu Raffa untuk mengecek dan memeriksa hasil kerjanya apa sudah baik? Apa masih ada yang perlu diperbaiki? Kalau semisal ada, dengan sigap Ayunda akan memperbaikinya.
Ayunda menengok ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB.
Dilihatnya bunga yang sudah disiapkan Ayunda untuk Raffa sebagai ucapan selamat atas kelulusan pak dosen muda nan wibawa sekampus yang sering menjadi sorotan para mahasiswi.
Tak terlupa di bunga itu terdapat kartu ucapan untuk Raffa, di dalam kartu itu tersemat pula puisi yang Ayunda tulis kemarin.
Dengan sepenuh hati Ayunda berserah diri atas jawaban untuk perasaannya. Mungkin saat ini Ia harus memberanikan diri menjadi Khadija binti Khuwailid yang menyatakan niatnya lebih dulu kepada Rasulullah.
Ayunda segera bangkit dari tempat duduknya, mematikan laptop Raffa dan meninggalkan buku dan tas nya di Perpustakaan tersebut. Namun sebelum itu, Ayunda berpesan kepada Pak pustakawan yang sama dengan kemarin untuk menjaga barang-barangnya.
Dengan langkah tenang meskipun kalau boleh jujur hatinya ingin lari secepat mungkin untuk sampai di ruangan tempat Raffa melaksanakan ujian tesisnya.
Jalan yang tidak terlalu panjang, Ayunda lalui dengan tetap membawa bunga itu dalam genggaman penuh kehangatan di tangannya.
Dan sampailah Ayunda.
Sampailah ia di depan ruangan ujian tesis itu sedany berlangsung.
__ADS_1
Dari kejauhan Ayunda melihat Raffa.
Tampak begitu akrab dengan seorang wanita dan seorang laki-laki yang sudah berumur tapi masih terlihat tampan dan cantik.
Ayunda mendekat dan perlahan-lahan mendekat, belum sampai di tempat Raffa berdiri, Ayunda mendengar suatu percakapan di antara mereka.
"Terimakasih Pa, Ma untuk do'a dan dukungan dari kalian semua, terimakasih" ucap Raffa dan itu di dengar oleh Ayunda. Ayunda merasa senang bahwa kini ia tau kalau wanita dan laki-laki itu adalah orang tua Raffa. Orang tua dari laki-laki yang ia cinta.
"Raffa, selamat! Saya sudah yakin sedari dulu kalau kamu akan lulus dengan mendapqt gelar *cu*mlaude"
ujar seorang laki-laki yang cukup Ayunda kenal karena laki-laki itu adalah Adam
Adam masih saja berbicara.
Di satu sisi, Ayunda semakin mencoba mendekat menghampiri mereka. Saat beberapa langkah lagi akan sampai, sebuah pembicaraan yang tak pernah Ayunda duga dan Ayunda tak ingin merasakannya lagi terdengar tanpa permisi di telinga Ayunda saat itu juga.
"Sekarang kamu sudah resmi menjadi seorang dosen Raffa, dan tidak cuma itu, kamu sebentar lagi juga akan menjadi seorang SUAMI"
"Ada yang cemburu alias pingin" Raffa gencar meledek Adam
"Menjadi S-U-A-M-I?"
Ayunda membatin diam dengan seribu bahasa tak bisa berkata apa-apa lagi, dalam hatinya Ayunda tak mau menerima itu, tapi kini tampak dari jauh di jari Raffa tersemat sebuah cincin. Jadi apa semua itu benar? Batin Ayunda.
Ayunda berbalik arah dan air mata menetes begitu saja di kedua pipinya. Bunga yang di bawanya pun lepas begitu saja dari genggaman Ayunda.
Dengan langkah gontai, bak genderang ditabuh hati Ayunda sakit dan belum siap menerimanya.
Hatinya masih ingin bukti fisik yang lebih nyata dan Ayunda memberanikan diri membuka laptop Raffa mencari sebuah petunjuk. Siapa tau dalam laptop itu Ayunda mendapatkan bukti lain. Semacam foto pertunangan atau lainnya. Ia mengarahkan kursor secara cepat dari berbagai arah. Ayunda sudah mencoba mengecek satu per satu aplikasi dalam desktop tersebut tapi tak membuahkan hasil sama sekali.
Suasana hati yang cukup sakit dan sulit rasanya untuk Ayunda mengungkapkan bagaimana perasaannya saat ini. Ia berdo'a dengan kesungguhan memohon agar di beri petunjuk pasti akan kejadian yang didengarnya tadi,
"Ya Allah tolong berikanlah Petunjuk-Mu kepada hamba, Ya Allah. Hamba sudah cukup lelah dengan semua ini"
Saat akan menyerah dalam pencarian, saat itu pula petunjuk datang dengan sendirinya pada Ayunda. Bersamaan dengan gemuruh dalam hati yang tengah melanda hatinya, terdapat pesan masuk di e-mail Raffa.
Mengirimkan sebuah video di dalam e-mail tersebut. Ayunda masih ragu untuk membukanya karena itu bukan hak dia. Tapi, ia butuh bukti yang lebih meyakinkan untuknya. Hatinya tak bisa dikondisionslkan lagi, tanpa aba-aba tangannya membuka e-mail itu dan ....
__ADS_1
Di hadapannya sekarang diperlihatkan video pertunangan yang dikirim oleh calon Raffa sebagai ucapan selamat darinya. Di pesan yang dikirim itu juga disebutkan alasan sang calon tidak bisa menghadiri moment penting Raffa, itu semua tak lain karena calon mempelai wanita sedang menjalani tradisi pingitan.
Ayunda hanya bisa mengangga menutup mulut dengan tangannya. Ia benar-benar tak percaya bahwa berita tentang cincin itu adalah cincin pertunangan Raffa dengan sang kekasih benar adanya.
Kenapa tak sedari awal saja Ia mengetahui akan kenyataan ini? Kenapa baru sekarang Ia tau? Sedang hatinya saat ini sudah terlanjur mencinta.
Kenapa Raffa tak sedari awal saja menunjukan pertunangan ini? Kenapa tak ada tanda-tanda di awal yang pasti? Kenapa? Kenapa?
Andai Ayunda tau sedari dulu takkan mungkin perasaan itu berkembang sampai di titik saat ini.
Pertanyaan bergilir menghantui fikiran dan hati Ayunda.
Ayunda merasakan luka itu kembali. Luka yang tak pernah ingin ia rasakan untuk kedua kalinya kalau boleh jujur. Ia hanya Ayunda seorang wanita yang berusaha menjaga dirinya dari perbuatan yang dilarang agama ia hanya seorang pecinta yang ingin dicintai balik oleh yang dicintai nya. Ia hanya seorang pecinta yang ingin hidup dalam bahtera kehalalan dengan yang dicintai nya.
Tapi kenapa cinta itu selalu lepas dari genggamannya? Kenapa? Kemarin Ustadz Habib, sekarang Pak Raffa?
"Sebanyak apakah dosa yang pernah kuperbuat Ya Allah sehingga luka ini harus kembali mengangga?"
isak Ayunda dalam hatinya dalam diamnya, di sebuah sudut ruangan yang jarang dijangkau orang,
"Ya Allah, sakit rasanya Ya Allah, sakit ...."
Lemah sudah hatinya,
Layu sudah harapanya,
Kini hanya tangis yang dapat dirasa hatinya.
Tak tau lagi harus?
Ia lelah, lelah dengan cinta yang tak pernah berpihak padanya.
Cukup lama ia mengeluarkan derai air matanya, karena pada dasarnya memang seperti itulah Ayunda sekali menangis akan cukup lama untuk berhenti.
Hingga sudah merasa lelah menangis,
Ia bangkit dan keluar dari ruangan itu. Menyusuri keraimaian diluar area kampus berharap dengan itu pula ia akan bisa menerima kenyataan pahit di depannya.
__ADS_1