Ayunda Syaharani

Ayunda Syaharani
Tertukar?


__ADS_3

Langkah kakinya yang cepat namun tetap anggun mengiringi perjalanannya ke tempat tujuannya. Hingga tak butuh waktu lama Ayunda benar-benar telah sampai ke tempat tujuannya.


~ Di tempat Printer dan Fotocopy~


“Assalamu’alaikum, permisi Bu!” Menyapa sang pemilik printer dengan keramahan.


“Wa'alaikumussalam, ada yang bisa saya bantu? Mau mengeprint atau memfotocopy atau yang lainnya? Kalau mau mengeprint silahkan filenya dikirim lewat bluetooth dan mohon bersedia untuk mengikuti antrian yang ada.” Menyapa balik dengan cukup ramah pula.


“Baik Bu.” Menurut pada arahan yang diberikan dengan menyunggingkan senyum tipis yang menjadi pelengkap ungkapan hatinya yang sebenarnya hatinya sudah meronta-ronta meminta agar diselesaikan lebih dulu, karena waktu yang terus berjalan dan berjalan. Belum lagi deadline yang Pak Fahri berikan padanya.Fikirnya dalam benaknya.


Ayunda memantau antrian disekitar tempat printer tersebut, beberapa orang sudah selesai dengan cepat menyelesaikan urusan mereka di tempat printer


tersebut, seketika itu ia menenangkan dirinya dan lebih memilih untuk lebih bersyukur dan menerima kenyataan yang ada didepannya saat ini,


“Alhamdulillah, untung enggak terlalu antri lagi alias tinggal 2 orang.”


Membatin dalam hati.


Ayunda pun menunggu dan mengantri di kursi yang tersedia di tempat


printer


tersebut.


Tanpa terasa sesaat kemudian terdengarlah suara bedug diiringi dengan kumandang adzan yang begitu menyejukkan qalbu.


“Ya Allah sudah adzan! Waktuku semakin enggak banyak dan tinggal bentar lagi!” Ayunda


cukup cemas kemudian melihat pada dua orang yang masih saja mengantri karena urusan mereka


belum selesai juga.


Setelah berfikir jernih, Ayunda


menenangkan dirinya kembali karena menurutnya dengan cemas tanpa kepastian itu tidak akan membuat masalahnya selesai begitu saja.


“Tenang Ayunda tenang!" Tuturnya pelan dengan


tangannya mengusap-usap dada, "Yang perlu kamu lakukan adalah mendengarkan adzan tersebut sekaligus menjawabnya bukannya malah panik.”


Dengan penuh penyesalan dan penuh harap ia bersithifar, “Astagfirullah, ampuni hamba Ya Allah, ampuni hamba!”


Dari salah satu ruangan dalam printer tersebut dapat Ayunda


lihat seorang wanita keluar dari sebuah ruangan dengan membawa mukena ditangannya.


Ayunda pun bangkit dari duduknya dan berniat untuk menunaikan shalat dzuhur juga. Karena di rumah Abah Ridho dan Ummi Hannah selalu mengajarkan untuk shalat tepat pada waktunya, karena hal itu adalah salah satu dari 3 amal yang apabila dikerjakan oleh manusia maka akan menjadikan Allah mencintai dan meridhoi manusia tersebut. Dan Ayunda


masih ingat betul apa yang Umminya ajarkan padanya mengenai Hadis tersebut.


Bahwa ada 3 amalan yang Allah cintai ketika hambanya melaksanakan hal tersebut:



Shalat tepat pada waktunya;


Jihad fi sabilillah (kalau dizaman sekarang lebih ke-memerangi hawa nafsu);


Birrul walidaiin (berbakti kepada kedua orang tua).



Ayunda ingat akan apa yang Umminya telah ajarkan padanya sejak ia kecil.


Maka dengan segera ia bertanya pada petugas di tempat print dan fotocopy tersebut. “Permisi Bu!”


"Mohon bersabar ya, setelah saya selesaikan file-file mereka berdua, saya akan beralih ke file kamu."


“Iya Bu saya akan lebih bersabar, tetapi


sebenarnya itu saya mau tanya, tempat shalat di tempat


Ibu di sebelah mana? Dan bisakah saya ikut shalat juga disana?”


“Tentu saja bisa!" Jawabannya dengan begitu ramah dan langsung menunjukkan tempat untuk shalat di tempatnya tersebut, "dari sini langsung lewat belakang saja, terus nanti ada ruangan cukup luas itu tempatnya.” Petugas itu memberi arahan.


“Dan untuk file kamu akan saya sempatkan untuk mengurusnya. Jadi, nanti pas kamu selesai shalat dzuhur bisa langsung kamu ambil.”


“Terimakasih banyak, Bu."


Ayunda merasa tersanjung bahagia dan penuh rasa syukur.


Dengan penuh kesopanan Ayunda pun meminta izin untuk masuk dan ikut shalat didalamnya,


"Kalau begitu saya permisi masuk ya Bu!”


(Dalam bahasa Jawa biasa diungkapkan dengan kata Nyuwun Sewu kata ini diungkapkan kelau mau masuk ke rumah seseorang untuk menjaga adab dan sopan santun.😇🙏)


“Silakan!” Balas petugas wanita itu dengan penuh kekaguman sekaligus sedikit mencuri-curi pandang pada Ayunda.

__ADS_1


“MasyaAllah sopan santun sekali anak ini, udah gitu cantik pula!”


Puji petugas wanita itu pada Ayunda


yang perlahan melangkahkan kakinya dan mencari ruangan untuk ia shalat dzuhur sesuai arahan dari petugas tersebut.


Ayunda memperhatikan sekeliling dan memastikan tempat yang mana yang dimaksud petugas tadi, tak selang lama, Ayunda mengetahui tempat


yang dicarinya.


“Disini rupaya, MasyaAllah tempatnya bersih dan nyaman banget! Enggak kalah sama masjid bersih dan kerapiannnya. Kalau begini pasti makin betah dan nyaman ibadahnya.”


Pujinya menatap kesekeliling tempat yang ditempatinya saat ini.


.....


Kembali di ruangan printer dan fotocopy ....


Petugas


wanita yang sudah memasuki usia kepala 4 itu masih cukup serius dengan tumpukan file didepan dan ditangannya.


Sampai dari arah depannya, dengan tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian kasual dengan membawa tas ransel yang diselempangkan dipundak bagian kirinya, datang menghampiri Bu petugas


tersebut.


Mengetahui petugas


wanita yang sangat ia kenal masih saja sibuk dengan menuntaskan tumpukan file para mahasiswa, sejenak ia diam ditempat dengan asik memerhatikan keseriusan wanita yang


ia anggap sebagai keluarganya sendiri itu.


“Selamat siang Bu Yeni" Sapanya dengan ramah tapi yang disapa masih belum sadar akan kehadirannya.


Berdehem kecil kemudian menyapanya kembali,


"Ehem, selamat siang Bu Yeni!"


Tak dapat dielakkan petugas wanita


yang memiliki nama Yeni tersebut teralihkan keseriusannya saat itu juga.


"Kamu?" Geleng-geleng begitu tau siapa yang memanggilnya, "Nak Raffa?" Menekankan pada laki-laki yang menghampirinya yang memiliki nama Raffa, agar jangan memperlakukannya seperti itu lagi.


"Baik Bu baik, tolong maafkan saya!"


"Nak Raffa, maksud Ibu kalau kamu ada keperluan sama Ibu langsung panggil saja dengan tegas tidak usah sungkan seperti tadi." Sedikit memberi penjelasan .


"Tentu tidak Nak Raffa." Bu Yeni meyakinkan Raffa bahwa anggapannya tidaklah benar.


Raffa menjawabnya dengan tersenyum kemudian menyampaikan tujuannya ke tempat Bu Yeni,


"Maksud kedatangan saya ke sini mau mengambil berkas saya Bu, berkas saya sudah selesai diprint, kan Bu?” Tanya Raffa memastikan kembali.


“Alhamdulillah sudah Nak Raffa. Eh maksud saya Pak Dosen.” Jawab Bu Yeni mengganti panggilannya untuk Raffa sambil menyerahkan berkas yang Raffa minta,


“ini berkas-berkas yang tadi kamu mintakan ke saya untuk mengeprintnya!”


Bu Yeni memberikan map yang dirinya kira dalam map tersebut sudah berisikan berkas milik Raffa. Dan Raffa pun tanpa memeriksanya kembali langsung menerima map tersebut.


"Terimakasih Bu Yeni." Ujar Raffa saat map yang ternyata berisi makalah tersebut telah beralih tangan ke tangan Raffa.


"Sama-sama Pak Dosen." Bu Yeni mengulangi panggilan khususnya pada Raffa.


Dipanggil seperti itu tidak membuat Raffa tersanjung dan hilang kendali, namun Raffa menegaskan kembali kalau dirinya belum pantas untuk dipanggil seperti itu, selain itu dirinya


juga masih di Pasca Sarjana.


“Jangan panggil saya seperti itu dulu Bu! Saya masih di pascasarjana Bu.” kata Raffa merasa belum pantas dipanggil seperti itu karena ia notabenenya belum mendapat gelar Master yang menjadi cita-cita yang masih ia perjuangan untuk saat ini.


“Nak Raffa, anggap saja itu merupakan do’a saya untuk kamu!" Bu Yeni menyakinkan Raffa, "lagian, habis ini pasti kamu mau menemui pak Fahri, Om kamu yang termasuk dosen killer. Bu Yeni juga berani menjamin, kalau setelah ini kamu akan diberi amanat untuk menggantikan beliau jadi dosen di sini.” Bu Yeni langsung to the point kepada Raffa.


Raffa seorang lelaki berwajah tampan dengan berewok tipis disekitar pelipis dan dagunya, serta rambut gondrong yang sengaja diikat sebagian oleh sang pemilik wajah sungguh menambah kadar ketampanan dan kemaskulin pada sang pemilik wajah.


Dengan begitu tenang sembari menatap Raffa dengan sorot mata bagai seorang Ibu yang menasehati putranya, Bu Yeni menuturkan sesuatu pada Raffa saat itu juga.


“Ini merupakan rezeki dan kepercayaan yang Allah berikan pada kamu Nak Raffa. Pengalaman kamu hari ini, pasti akan sangat bisa menjadi point plus nantinya untuk kamu kedepannya.”


“Baiklah, kalau begitu tolong do’akanlah saya selalu Bu!”


“InsyaAllah Nak Raffa, insyaallah saya pasti akan selalu do’akan yang terbaik buat kamu. Kamu sudah Bu Yeni anggap seperti anak Ibu sendiri.” Tutur Bu Yeni wanita yang


sangat dekat dan kenal dengan Raffa. Bahkan Bu Yeni sudah Raffa anggap seperti Ibunya sendiri. Selain itu Bu Yeni merupakan tetangga dimana Raffa dan Pak Fahri mengontrak. Itulah sebabnya mereka begitu akrab dan dekat.


“Oh iya, ada yang mau Bu Yeni tanyakan ke kamu tentang---?”


“Tentang apa Bu?” Raffa penasaran.


“Itu loh, yang di sana sudah dikasih tau belum?” Berbisik pelan namun begitu jelas untuk diterka.

__ADS_1


Raffa menjawabnya dengan nada yang cukup purau, “Belum Bu, nunggu waktu yang tepat saja!” ucap Raffa merasa belum tepat untuk ia mengatakan kepada sang kekasih perihal amanat yang Pak Fahri berikan padanya . Dalam hatinya ia juga belum terlalu yakin untuk mau menerima amanat itu.


“Ndak apa Nak Raffa, Itukan tandanya cinta!” Bu Yeni mengerti kenapa Raffa belum mau mengatakannya pada sang kekasih.


“Ya sudah, kalau begitu saya balik dulu Bu. Saya mau segera menemui pak Fahri. Karena jangan sampai pak Fahri menunggu saya terlalu lama.”


“Silakan Nak Raffa!” Bu Yeni melepas kepergian Raffa.


Raffa pun berlalu pergi meninggalkan tempat printer dan fotocopy tersebut.


Sementara itu, dari sebuah ruangan keluar seorang gadis yang memiliki paras cantik hati dan wajahnya. Berjalan keluar dari ruangan tersebut dan kembali menghampiri petugas wanita


yang bernama Bu Yeni.


“Bu punya saya sudah selesai diprint?” Ayunda menghampiri Bu Yeni dan menanyakan filenya.


“Sudah, saya taruh di atas etalase depan, Dek!”


Ayunda pun berjalan ke etalase depan dan memeriksa kembali makalahnya sudah benar apa belum.


Dan ternyata,


“Maaf Bu, ini bukan makalah saya, sepertinya Ini adalah berkas-berkas persyaratan lamaran pekerjaan.” Ayunda memeriksa baik-baik dan membolak balik isi map itu, dengan terus berusaha mencari file makalahnya siapa tau file miliknya terselip dalam map itu.


“Beneran Dek?” Tanya Bu Yeni merasa bersalah,”sebentar saya akan mengeceknya kembali”


Setelah dicek ternyata benar bahwa itu bukanlah tugas makalah milik Ayunda.


“Astagfirullah ternyata ini berkas milik Nak Raffa tadi, berarti file kalian berdua tertukar.” Ucap Bu Yeni menjelaskan


“Nak Raffa, siapa dia? Dan Tertukar? Haduh, maaf Bu waktu saya sudah mepet!” Ayunda diliputi rasa cemas dan gugup yang menjadi satu.


“Bu tolong diprintkan lagi secepatnya!”


“Baik, baik, tolong kamu tunggu 5 menit lagi!”


5 menit pun berlalu ...


“Ini hardfile makalahnya!” Bu Yeni memberikan makalah tersebut seraya meminta maaf pada Ayunda, “saya mohon maaf atas keteledoran saya tadi, keasikan gombrol saya tidak mengecek dulu sebelum memasukkan dan memberikan hardfile makalah kamu kepada Nak Raffa.” Ucap Bu Yeni merasa bersalah.


“Tidak Bu! Tidak Masalah! “ Ayunda meyakinkan Bu Yeni bahwa Bu Yeni tak perlu merasa bersalah sampai sebegitunya.


“Oh iya, semuanya jadi berapa Bu? Sekalian yang tadi.”


“Tidak usah cukup yang ini saja karena yang tadi itu kesalahan saya. Jadi kamu bayar 10.000 saja!”


“Beneran Bu? Saya jadi tidak enak Bu!”


“Tidak masalah, Dek!” Jawab Bu Yeni bergantian meyakinkan Ayunda.


“Kalau begitu ini uangnya Bu.” mengeluarkan uang 20.000 dan langsung berpaling dengan tujuan Bu Yeni tidak memberinya kembalian, namun Bu Yeni malah mengejarnya.


“Tunggu Dek!” Bu Yeni mecoba mengejarnya.


“Ini kembalianmu, Ayunda!” Dengan senyum tulus.


“Tapi Bu---“


“Tidak masalah!”


“Kalau begitu terimakasih Bu! Oh ya Bu, bagaimana Anda bisa tau nama saya Ayunda?”


“Dari makalah kamu, dan saya cuma menebaknya saja dan ternyata benar.” Bu Yeni lega ternyata benar apa kata hatinya.


“MasyaAllah ternyata Ibu ...?” Ayunda cukup bingung harus memanggilnya siapa


“Nama saya Bu Yeni.” Jawab Bu Yeni memperkenalkan diri kepada Ayunda yang belum tau nama petugas wanita itu sedari tadi.


“Salam kenal Bu Yeni!” Mengulurkan tangannya dan melanjutkan kata-katanya tadi,”ternyata Bu Yeni punya bakat tersembunyi!”


“Hehe, bukan, bukan seperti itu! Ini semua karena saya fikir nama “Ayunda Syaharani” itu cocok dengan paras dan kepribadian kamu.”


“MasyaAllah, terimakasih Bu. Mohon do'anya selalu saja dan saya permisi dulu!”


Ayunda sudah melangkah jauh dari tempatnya, namun Bu Yeni masih diam ditempatnya karena terkagum pada sosok Ayunda.


Sosok Ayunda telah mengingatkannya kepada Jeng Hannah teman pengajiannya yang rencananya sore nanti ia mau bersilaturahim ke rumah temannya itu, sekaligus mengambil pesanan kuenya.


“Jeng Hannah Ayunda itu mirip sekali denganmu” Bu Yeni kemudian masuk ke tempat printer dan fotocopy.


....


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!


*Tambahan ilmu buat kita:


Al-Magfurlah K.H. Jauhari Umar pendiri PP. Darussalam Pasuruan sekaligus penulis Manaqib Jawahirul ma’ani yang sekarang memiliki beribu-ribu jamaah beliau dawuh bahwa berdoa sambil menatap langit InsyaAllah cepat dikabulkan.*


*Wallahu a'lam bisshowwab...

__ADS_1


😇🙏*


__ADS_2