
Ayunda sudah berdiri dari tempat duduk dan berniat menghampiri Raffa namun saat melihat arah depan di dalam ruangan kelas, sosok Raffa sudah tidak ada di kursi kemuliaannya. Ayunda mengedarkan pandangannya tampaklah Raffa sedang berdiri di luar ruangan.
Ayunda pun tersenyum bahagia karena Raffa masih berada bersamanya, "Semoga bisa bersama dengannya dalam kehalalan hingga akhir hayat" harap Ayunda dalam hati
Menatap penuh hangat pada tubuh yang menempel pembatas tangga depan tanpa menunggu lama ia langsung pergi dari ruangan kelas itu dan menghampiri Raffa. Sebelum Raffa pergi fikirnya.
Dengan perasaan yang masih gugup, ragu dan sedikit takut Ayunda mencoba untuk tenang dan tetap berfikir positif. Memberanikan diri mengutarakan niatnya,
"Eemm ... mohon maaf Pak saya---"ucapnya dengan sedikit menunduk dan sedikit takut serta ragu
Raffa yang kebetulan baru selesai mengangkat telepon mendengar ada suara seseorang yang memanggilnya, langsung berpaling dari layar smartphonenya. Membalikkan tubuh seraya kembali bertanya kepada sang pemilik suara dengan nada bicara yang begitu lembut dan baik.
"Iya ada yang bisa saya bantu?" jawab Raffa dengan nada baik dan menampilkan seulas senyum seperti saat pertemuan mereka di bengkel. Senyum yang begitu istimewa juga menawan dan berbeda bagi Ayunda.
Sang pemilik senyum sendiri tidak ada maksud apapun dibalik senyumannya tersebut. Yang pasti bagi Ayunda senyum itu adalah senyum khusus dan istimewa dari seorang Raffa. Dan ini merupakan kali kedua Ayunda melihat senyuman itu, seulas senyum yang siapapun melihat senyuman itu pasti akan ikut tersenyum dan terkagum karena kadar ketampanan Raffa langsung bertambah.
Mendengar nada bicara Pak dosen Raffa begitu lembut ditambah senyuman istimewanya secara tidak sadar
Ayunda ikut menampilkan senyuman begitu tulus yang dapat terlihat dari matanya.
Pada awalnya Ayunda sudah berfikir macam-macam bahwa Pak dosennya itu akan semakin marah padanya, kini Ayunda merasa lega apa yang difikirkan olehnya tidak terjadi. Tampak suasana hati Raffa yang sudah kembali membaik.
"Ini Pak saya mau mengembalikan sapu tangan yang pernah Anda pinjamkan ke saya. Emm ... ini juga ada sedikit makanan sebagai ucapan terimakasih, saya!"
kata Ayunda meletakkan kotak berwarna putih transparan yang didalamnya terdapat beberapa potong sandwich. Menaruh sapu tangan bersama sandwich di atas kursi kosong di depan ruangan itu. Langsung Berpamitan karena merasa tak sanggup bila harus berhadapan lama dengan Raffa, "Permisi Pak! Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam! Terima---" Raffa menjawabnya dengan sedikit kaget dan merasa aneh kenapa yang memberi langsung pergi begitu saja padahal belum mendengar balasan dari penerimanya,"kasih ...."
Raffa melanjutkan ucapannya tapi sayang pemberi sandwich itu sudah pergi dari hadapannya.
Raffa mengambil sapu tangan dan kotak putih itu memegangnya seraya membatin, "MasyaAllah rezeki anak sholeh ini namanya" Raffa yang memang sudah lapar karena belum sempat membeli sarapan ataupun membuatnya. Belum lagi ia cukup mengeluarkan emosinya sedari tadi. Tapi kini moodnya sudah kembali membaik. Selain mendapat makanan untuk sarapan, ia juga mendapat telepon dari calon tunangannya.
Semenjak Oma Ranti mengabari Raffa perihal lamaran dan pertunangan, sikap sang kekasih menjadi hangat, sering memberi kabar dan perhatian lebih padanya.
Entah sejak kapan Ayunda sudah berbalik dengan menatap dan memerhatikan Raffa. Ayunda begitu bahagia melihat Raffa mau mengambil kotak sandwich yang ia berikan.
Dengan mata berbinar, rasa bahagia bercampur malu, Ayunda tersenyum ramah pada Raffa. Raffa pun menjinjing kotak sandwich pemberian Ayunda dan menampakkan senyum istimewanya kembali. Sebagai ucapan terimakasih dan tak lebih karena sekarang harus benar-benar menjaga cintanya untuk sang kekasih. Yang akan Raffa pinang dalam beberapa hari ke depan.
Namun siapa sangka Ayunda malah semakin menaruh hati pada Raffa. Sebuah rasa yang pada awalnya tak pernah Ayunda harapkan tetapi kembali lagi bahwa cinta itu fitrah. Ayunda tak mampu mengelak ataupun lari darinya. Mau tidak mau yang paling tepat menurutnya ialah menjalani dan menikmatinya saja tentunya tawakkal menjadi yang paling utama. Bersiap diri akan berbagai kemungkinan yang terjadi.
Dari kejauhan ternyata tanpa mereka sadari ada seorang wanita yang melihat Ayunda bersama Raffa.
__ADS_1
Wanita itu benar-benar merasa tidak suka dan berniat untuk melabrak Ayunda.
...****************...
Universitas Islam kota S, pukul 12.30 WIB!
Sekitar jam setengah satu siang para sahabat itu
(Ayunda, Hanum, Mala, Raya, Stevi ditambah Lydia) memutuskan untuk berkumpul di kursi taman kampus tempat kesukaan mereka.
Menghabiskan waktu bersama dengan ditemani beraneka macam camilan dan kopi sesuai selera mereka masing-masing. Mulai dari cappucino, moccacino, latte, tak tertinggal kopi hitam manis selera Ayunda.
Ditengah perbincangan asik mereka,
Stevi mengutarakan unek-uneknya mengenai Pak Raffa,
"Eh, nggak nyangka ya? Pak Raffa yang ganteng dan smart bisa segalak itu" Stevy tiba-tiba nyeletuk
"Iya sih kasian mereka yang kena marah" balas Raya, "padahal, pasti mereka udah kerja keras banget tuh"
"Wajarlah! Kerja keras mereka masih kurang maksimal" sahut Mala ditengah pembicaraan Stevi dan Raya,"iya 'kan Hanum?" memanggil Hanum untuk sependapat dengannya karena mereka pernah sekelompok di matakuliah Raffa
"Hanum Setia Ningrum!" Mala menyebut nama lengkap Hanum dengan nada sedikit kesal dan kecewa,"kok gitu sih? Hanum kita bisa dapat pujian dari Pak Raffa kemarin karena persiapan dan kerja keras kita yang sudah dari awal"
Hening beberapa saat.
Sampai entah karena apa dan siapa Ayunda menanggapi sekaligus memberi pembelaan pada Pak Raffa,
"Eemm, tapi menurutku pak Raffa ada benarnya deh. Eh, bukan-bukan! Bener banget malah!"
"Ish ... ish Ayunda! Gak ada hujan gak ada angin tiba-tiba belain Pak dosen handsome?" Hanum meledek
Mendengar ledekan Hanum menjadikan Ayunda sedikit malu dan hampir salah tingkah,
"Bukan gitulah maksudku! Yaa kita 'kan sebagai calon pendidik memang sudah sepantasnya seperti yang dikatakan pak Raffa"
Lydia yang sekarang ini jadi teman akrab Ayunda, Hanum, Mala, Raya dan Stevi malah jadi ikut menggoda Ayunda.
Awalnya memang Lydia yang terlihat tertarik kepada Raffa tapi sebenarnya pria seperti Raffa bukan masuk dalam kriterianya. Setelah Lydia fikir-fikir Raffa memang tampan tapi tidak termasuk kriteria cowok tampan idamannya karena tidak terlalu suka dengan cowok yang berewok meskipun berewok tipis-tipis seperti Raffa. (Lydia ntar nyesel loh!😂)
"Bener tuh? Cuma setuju sama yang pak Raffa bilang? bukan karena ada---" Lydia menjeda pertanyaannya dan semakin gencar membuat Ayunda blushing dan salah tingkah
__ADS_1
Sahabat nya yang lain pura-pura batuk-batuk dan tersedak. Ayunda merasa semakin tidak karuan ingin menyeka semua perkataan dan pemikiran para sahabatnya itu.
Namun saat Ayunda ingin memberikan pembelaan untuk dirinya datang seorang wanita diikuti oleh 2 orang temannya dari arah tak terduga membentak dan memergoki Ayunda.
"Eh, dasar ya kamu! Mahasiswa baru keganjenan banget!" ucap seorang wanita dengan tinggi semampai wajah putih dan make up yang cukup tebal. Mengenakan pakaian yang terkesan glamour dan jilbab diatas dadanya,"kamu tuh ya! Cuma tampang baik di depan. Pura-pura pakek hijab syar'i tapi bisa-bisanya kamu godain pak Raffa pakek acara kasih bekal ke dia?" ucap wanita yang tak lain adalah wanita tadi pagi yang hampir bertengkar dengan Lydia. Wanita itu adalah kakak kelas tingkat mereka (kating) ia pernah bertemu dengan Ayunda beberapa kali oleh karena itu ia tau kalau Ayunda biasanya memakai hijab syar'i walaupun kini ia mengenakan pasmina dengan syar'i juga.
Tak berhenti disitu wanita itu masih terbakar emosi dan api cemburu dalam dirinya,
"Inget baik-baik yaa! Pak Raffa itu hanya milik saya sudah jelas banget siapa yang lebih pantes dan serasi sama dia 'kan? Jadi saya ingatkan baik-baik sama kamu jauhi pak Raffa!"
Hanum, Mala, Raya dan Stevi masih tidak mengerti dengan yang terjadi saat ini dan tentunya mereka tidak terima teman seperjuangan mereka dihina seperti itu. Tak tertinggal Lydia yang dari pagi, sebenarnya sudah ingin membalas pernyataan wanita itu.
"Eh Mbak, dijaga donk mulutnya! Jangan tiba-tiba nyamperin orang terus ngucapin hal yang nggak pantas seenaknya!" Ucap Lydia dengan tegas
"Oh! Jadi kamu belum kasih tau ke mereka? Ha ha ha" ucap wanita itu meledek Ayunda,"dan lebih lagi ke perempuan satu ini" menunjuk ke arah Lydia
Wanita itu kembali mengatai Ayunda terus-menerus,"Tuh 'kan! Benar-benar cuma tampang baik didepan kamu yaa? Dibelakang nol" kata wanita itu dengan melingkarkan jari jempol dan telunjuk tangan kirinya
Ayunda bangkit dari kursi tempat ia duduk, bersikap setenang mungkin dan berucap,
"Udah selesai merendahkan sayanya Mbak? Saran saya Mbak ...sebelum Mbaknya nuduh saya yang nggak-nggak sebaiknya Mbak nanya dulu ke saya. Kenapa saya ngasih bekal itu ke Pak Raffa?"
"Halah! Maling mana ada yang mau ngaku?" ucap teman satu dari dua teman wanita itu
"Astagfirullah! Begini ya Mbak asal Mbaknya tau kenapa saya ngasih bekal itu ke Pak Raffa? Karena beliau sudah nolong saya dari sejak awal saya ketemu beliaunya"
"Hah? Jadi kalian udah sering ketemu? Benar-benar ya kamu tuh!"
Teman yang satunya pun melerai sang wanita itu agar tidak membuat keributan di Kampus. Menarik tangan wanita itu mengajaknya berpindah tempat.
"Sudah Bella, sudah ayo! Jangan bikin malu disini!"
"Awas aja kamu!" ucapnya sambil diseret oleh temannya
Mereka tidak habis fikir bagaimana bisa kating itu mengolok-olok Ayunda dengan perkataan yang kurang pantas.
Mereka mengelenggkan kepalanya, menenangkan dan menyemangati Ayunda. Duduk kembali sambil meminum kopi mereka yang masih serasa nikmat.
Ayunda berusaha mencairkan suasana disiang hari yang terasa masih seperti suasana pagi hari karena cuaca yang sedang redup dimusim penghujan. Ayunda menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Raffa dari A sampai Z.
~
__ADS_1