
Dari sudut ruangan seorang gadis nampak berfikir keras sambil sesekali memejamkan matanya setelah fokus untuk mengetik sesuatu. Beberapa saat kemudian memandangi dan meresapi setiap rangkaian kata yang ditulisnya untuk dijadikan essay. Nampak kurang pas/kurang sesuai gadis itu memutuskan untuk membuka buku-buku pilihan sebagai bahan referensi essainya.
Satu jam telah berjalan. Gadis itu nampak masih asik membaca kemudian mengetik hingga waktu menunjukkan hampir mendekati Magrib gadis itu baru tersadar. Secepat mungkin menutup laptop dan bersiap untuk mengajar di ponpes Al-hikam.
Gadis itu adalah Ayunda Syaharani putri Abah Ridho. Ayunda segera mengambil wudhu dan berganti pakaian serta mengenakan khimar senada dengan gamis yang dikenakannya. Saat masih asik membetulkan khimar ada sebuah panggilan video call masuk dari handphonenya.
Ayunda Sempat mengerutkan dahi karena merasa tumben Yuna sahabatnya itu melakukan video call dengannya, apalagi dijam segini. Rasa penasaran yang sudah menghampiri Ayunda membuat Ayunda tanpa sadar langsung saja menerima panggilan video call dari Yuna Anastasia itu. Tampaklah dilayar handphone Ayunda itu seorang wanita yang kini wajahnya sudah semakin cabi saja namun kadar kecantikan wanita itu juga nampak bertambah apalagi aura ke-Ibuannya.
Seperti biasa Ayunda mengucapkan salam kepada Yuna dan Yuna menjawab salam itu tentunya, dengan raut wajah tidak cukup santai karena sekarang Yuna merasa sedang bingung mau mengatakan kepada Ayunda dimulai darimana? Sedangkan lelaki yang tengah duduk disamping Yuna sedari tadi terus saja membelai-belai lengan sang istri (Yuna) bermaksud untuk membalas budi karena sang istri sudah mau menuruti kemauannya.
Sudah berkali-kali pula Ayunda menanyakan kepada Yuna gerangan apa yang membuat Yuna melakukan video call diwaktu mendekati Maghrib. Biasanya juga diwaktu seperti itu adalah waktu dia bercurhat ria atau saling bertukar fikiran dengan suami kesayangannya.
Lama menunggu reaksi Yuna, Ayunda mengancam akan memutuskan panggilan yang sedang berlangsung itu, tetapi Yuna menahan Ayunda dengan begitu manisnya membuat Ayunda tetap menunggu apa yang sebenarnya ingin Yuna sampaikan padanya.
"Begini Ayunda sayang" kata Yuna dengan begitu lembut sedangkan Ayunda menampilkan ekspresi cukup tidak percaya dengan tersenyum dan geleng-geleng sendiri mendegar panggilan Yuna untuknya
"Ini soal...." berhenti dengan begitu tiba-tiba
Ayunda yang sudah tidak tahan membuka suaranya agar Yuna mengatakannya saja tidak usah bertele-tele/ragu seperti itu.
"Ustadz Habib"
Sesaat Ayunda seolah-olah diam seribu bahasa mendengar nama itu kembali ditelinga nya. Kenapa kenapa harus ada yang menyebut nama itu lagi setelah sekian lama? Setelah semua baik-baik saja, setelah ia sudah melupakan dan menghapus nama itu. Bahkan sahabat yang paling dekat dengan ia yang mengatakan nama itu di depannya. Membuat Ayunda sebenarnya tak habis fikir kenapa Yuna menyebutkan nama itu kembali padanya? Untuk apa?
__ADS_1
Ayunda menarik nafas pelan dan beristighfar cukup tidak terlalu jelas (samar) tapi dapat terlihat dari gerakan mulutnya. Itulah yang dapat ditangkap oleh Yuna dari layar handphonenya saat ini. Raut wajah sedih bercampur tidak enak melanda hati Yuna saat melihat Ayunda seperti itu.
Sesudah beristighfar cukup samar Ayunda mengatakan sesuatu kepada Yuna,
"Kenapa dengan Ustadz Habib?" seraya melanjutkan Ayunda berucap bahwa,"Apa yang dia minta dariku? Apa belum cukup sepenuh hati dulu aku percaya pada cintanya?"
"Ayunda sebenarnya Ustadz Habib masih belum bisa melupakan kamu dan dia masih begitu mencintaimu Ayunda"
"Bahkan saat Ibunda Ustadz Habib membicarakan perihal pernikahan Ustadz Habib menolak begitu saja"
"Kamu dapat informasi itu darimana Yuna? Dari Ustadz Irvan? Yang notabenenya adalah teman dekatnya Ustadz Habib?"
Yuna hanya bisa tersenyum kecut mendengar pernyataan Ayunda. Sungguh Ayunda memang susah ditebak. Bagaimana Ayunda tau? Padahal Yuna tak pernah bercerita kalau mereka saling kenal bahkan cukup dekat juga. Yuna hanya pernah bercerita bahwa mereka satu Ma'had itupun beda angkatan dalam kata lain lebih senior suami Yuna.
"Maksudnya taulah seperti apa ekspresi laki-laki saat benar-benar mencintai seorang wanita"
Allahu Akbar ...
Allahu akbar ...
Terdengarlah suara adzan maghrib.
Selanjutnya Ayunda menutup panggilan video call itu dengan halus dan baik. Ayunda menjelaskan bahwa ia harus segera bersiap untuk mengajar di ponpes Al-hikam. Dengan berat hati Yuna mengakhiri panggilan itu juga.
__ADS_1
Disamping Yuna terlihat suami Yuna yang begitu antusias untuk mendengar apa kata Ayunda setelah mendengar kabar itu? Yuna yang merasa tak enak menampilkan wajah cemberut dan sedih setelah itu bangkit dari tempat duduk dan pergi begitu saja.
Sejenak Yuna menengok ke belakang ke arah sang suami, ia tidak mau menjadi istri durhaka karena telah mengabaikan suaminya. Yuna melangkah, bukan keluar dari kamar tapi menuju tempat dimana suaminya masih berdiri menanti jawaban Yuna.
Yuna sekarang sudah berdiri tepat di hadapan sang suami, Yuna pun menampilkan wajah sedih serta menggelengkan kepala seolah-olah semua tidak ada gunanya (usahanya meyakinkan Ayunda tidak berhasil).
Irvan pun terasa tak percaya bahwa kalau Ayunda masih sulit untuk mempercayai teman Ma'had dan khidmahnya itu atau yang dimaksud Irvan adalah saat ini adalah Ustadz Habib.
"Mas aku sudah berusaha meyakinkan Ayunda tapi... "
"Iya Mas tau, pasti enggak mudah juga buat Ayunda menerima kabar ini? Harusnya Mas enggak maksa kamu buat tanya ke Ayunda, maafkanlah Mas mu ini, dinda!"
Irvan sadar bahwa tentu mendapat informasi seperti itu akan membuat Ayunda berfikir 1000 kali untuk mempercayainya. Dulu saja Ustadz Habib sendiri yang mengatakan pada Ayunda sendiri bahwa akan menghkhitbahnya kemudian apa yang terjadi? Ah bagaimana Ayunda bisa lupa dengan itu semua? Ya meskipun dari raut wajah dan sikapnya sudah menunjukkan kesan bahwa ia baik-baik saja. Tapi mendengar nama itu pasti akan membuat Ayunda merasa tidak tenang kembali meskipun telah cukup lama peristiwa itu berlalu.
"Enggak Mas, kamu enggak salah. Jadi kamu enggak perlu minta maaf"
"Soal aku sama Ayunda, Mas tenang saja. Aku akan memperbaiki hubungan kami lagi. InsyaAllah dalam semenit dia akan kembali baik kok. Aku hafal betul Ayunda itu orangnya enggak bisa marah apalagi sama aku"
Mereka pun saling memandang dan menenangkan satu sama lain.
Adzan maghrib sudah selesai berkumandang Ayunda juga telah usai melaksanakan Shalat Maghrib.
Ayunda tak mau menghabiskan waktu yang dimilikinya untuk memikirkan apa yang Yuna katakan lewat video call tadi. Percuma juga rasanya memikirkan hal itu, bagi Ayunda. Karena toh nasi sudah menjadi bubur hatinya terlanjur pernah dibuat kecewa. Meskipun saat ini Ayunda tengah bediri dan alhamdulillah dengan keadaan fisik sehat wal afiat tapi urusan hati jarang bisa terdeteksi hanya Allah yang senantiasa bisa mendeteksi hati para hamba-Nya.
__ADS_1
Ayunda bergegas untuk berangkat mengajar dan berusaha untuk tetap fokus dan profesional saat mengajar. Karena sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang bekerja dengan profesional.