Ayunda Syaharani

Ayunda Syaharani
Cincin


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu. Tak terasa sudah berjalan setengah semester Raffa menjadi dosen dan mengajar Ayunda. Selama itu pula mereka sering bertemu.


Hingga pada suatu hari ada berita yang sangat menggemparkan Mahasiswi Fakultas Pendidikan.


Hari itu Mahasiswi Fakultas Pendidikan khususnya. Mereka dihebohkan perihal cincin yang tersemat indah di jari Raffa. Ayunda dan sahabat-sahabatnya pun mendengar kabar itu dan itu tampak membuat Ayunda layu tak bergairah apalagi semangat. Mereka ikut sedih mendengar berita itu, mereka berniat menghibur Ayunda namun hasilnya nihil. Ayunda bahkan cukup malas mendengar mereka. Mungkin karena Ayunda merasa karena mereka ia jadi dekat dengan Raffa namun sekarang apa yang terjadi?


Hanum dan Lidya juga tak habis fikir kalau secepat itu pak dosen Raffa akan tunangan fikir mereka. Dalam lubuk hati mereka terdalam belum yakin bahwa itu adalah cincin pertunangan bisa saja cincin akik atau cincin yang sengaja dipakai karena pemberian dari sang Mama.


Ayunda yang sudah tidak mood hatinya karena dilanda sakit dan butuh kepastian, akhirnya memutuskan untuk pergi dari kampus dan memilih meninggalkan teman-temannya saat itu juga. Padahal essai yang ditulisnya juga membutuhkan penyelesaian darinya. Dengan perasaan gusar Ayunda bangkit dari kursi dan menutup laptopnya.


Hanum dan Lidya hanya mampu menatap kepergian Ayunda, mereka berusaha mencegah kepergian Ayunda tapi tidak berhasil. Ayunda sudah hilang pergi dari hadapan mereka. Menenangkan diri dan menjernihkan fikiran lebih tepatnya.


Entah karena apa suasana hatinya saat itu mengajak Ayunda ke sebuah pusat perbelanjaan yang tentu saja ramai. Apa Ayunda ingin berbelanja untuk menetralisir rasa sakit dan cemasnya? Apa untuk makan? Entahlah bisa jadi untuk kedua-duanya.


Menyusuri satu per satu pusat perbelanjaan itu. Hingga terdengar ada sesuatu berbunyi di salah satu tempat tersebut, Ayunda pun memasukinya dan mencari tau sumber suara itu.


Setelah memasukinya tampaklah di tempat itu tergantung banyak benda semacam gantungan pintu yang diyakini sebagai penangkal mimpi oleh beberapa kalangan. Gantungan itu tampak menarik dengan dibalut hiasan disetiap sudut benda itu. Apa Ayunda juga menyakini sebagai penangkal mimpi? Ayunda cukup tertarik untuk melihatnya saja untuk menyakini hal itu Ayunda tidak mau karena agama yang dianutnya mengajarkan bahwa cukup Allah saja sebagai pelindung dan tempat bersandar sesedih apapun dia.


Tapi sebagai manusia yang memanusiakan manusia sudah seyogyanya untuk tetap saling menghormati orang-orang/kelompok/kalangan yang meyakininya sebagai penangkal mimpi. Karena setiap orang berhak untuk memilih apa yang menjadi keinginannya selama itu baik untuk dirinya dan orang sekitarnya ataupun suatu kaum/masyarakat. Karena agama Islam sendiri adalah agama yang moderat.


Ayunda memasuki tempat itu untuk melihat-lihat, saat itu pula ada satu dream charter yang berbunyi terus menerus bagai ditipu angin padahal baru saja Ayunda masuk dengan niat hanya melihat-lihat. Hanya untuk menghibur diri saja saat harus mendengar berita bahwa Raffa sudah bertunangan terlepas itu benar atau hanya gosip.


Tak henti-hentinya Ayunda mengamati sesuatu yang sedang bergerak-gerak disertai bunyi khas yang keluar dari dream charter itu. Bunyi suara itu, mengingatkan Ayunda akan perasaan cintanya untuk Raffa.


Tak mau berlarut-larut dalam kesedihan tak pasti di tempat itu, Ayunda berangsur-angsur pergi. Dikondisi tak cukup membuat ia bahagia namun ia harus bertemu dengan seseorang yang mampu membuat kondisi hatinya kembali membaik meski tak sepenuhnya.


"Ustadzah Ayunda" panggil anak perempuan itu terdengar sangat ramah


"Audri? MasyaAllah...Kita bertemu di sini"


"Ustadzah udah mau pulang?"


Ayunda mengangguk menyetarakan posisi duduknya dengan Audri. Mengangguk dan menjawab dengan senyuman tulus.


Dari arah belakang Audri berdiri seorang laki-laki yang membuat Ayunda termenung seketika.


Membuat Audri yang masih polos itu memanggilnya namun tak dihiraukan oleh Ayunda.


Audri mengikuti arah pandang Ayunda yang sedari tadi menatap fokus pada arah belakangnya.


"Om Abi" Sapanya dengan merayu


"Audri sudah Om bilang tunggu Om dulu. Jangan main nyelonong masuk aja sayang"


Ayunda mendengar panggilan Audri kepada Raffa membuatnya teringat malam pertama dimana ia mengajar Audri saat Audri tak mau diajak pulang dengan alasan ingin dijemput sama Om Abi.


Terbesit dalam fikiran Ayunda, apa Om Abi yang diceritakan oleh Audri selama ini adalah Pak Raffa?


"Maaf ya Om Abi"


"Jangan diulangi lagi!"


Mengangguk dan memegang telinganya, kemudian Audri menghampiri Ayunda berniat memperkenalkan dua orang dewasa yang sudah saling kenal sebelumnya.


"Jadi, Ustadzah sudah kenal sama Om Abi?"

__ADS_1


"Sudah Audri sayang. Om Abi ini dosennya Ustadzah"


"Ooo" Audri tampak mencerna baik-baik perkataan Ayunda yang masih sulit untuk dicernanya


"Maksudnya guru Ustadzah kalau di Universitas"


"Oh, kayak Ustadzah sama Audri donk?"


"Betul banget"


Audri manggut-manggut terlihat begitu manis dan imut apalagi saat ini ia begitu cantik dengan gamis dan kerudung imut senada yang membalut tubuhnya.


Usai moment perkenalan tak jadi itu tiba-tiba saja...


"Kruk... Kruk... Kruk"


Audri menutup mulut seraya memegangi perutnya yang tidak bisa dikondisionalkan olehnya.


Dua orang dewasa yang mendengar itu jadi tertawa karenanya. Terlebih Raffa.


"Oh jadi karena ini kamu sedari tadi menggugupi Om minta diajak jalan-jalan?" tanya Raffa menatap Audri tajam tapi tetap dengan nada bercanda. Dan Audri mengeluarkan anggukkan yang sangat membuat Raffa iba pada gadis kecil kesayangannya itu.


"Om Abi Audri mau makan" Dengan raut wajah sangat manis dan memohon


"Baiklah tuan putri, pilih saja mau makan dimana?"


Ekspresi antusias dan gembira terpancar sudah pada gadis kecil itu, tanpa menunda lagi gadis kecil itupun menunjuk salah satu Foodcourt dipusat perbelanjaan itu,


"Di sana"


"Ustadzah ayo ikut!"


memohon pada Ayunda dengan manis dan penuh harap agar Ayunda mau ikut


Ayunda ingin menolak tapi dia tak cukup tega kalau menolak putri cantik didepannya. Bagaimana Ayunda menjelaskan bahwa tak mungkin untuknya makan satu meja dengan Raffa. Bisa -bisa hatinya malah bermekaran bak bunga yang mekar dimusim semi.


Ah selain itu mana baik laki-laki dan wanita bersama. Fikir Ayunda dalam hati.


Ayunda larut dalam pikirannya sendiri.


Audri berganti menatap Raffa, menatap Raffa agar Raffa membolehkan Ustadzahnya ikut gabung makan dengan mereka. Karena Audri berfikir mungkin Ustadzahnya tidak enak karena Om Abinya belum memberikan persetujuan juga.


"Om Abi, boleh yaa? Ustadzah gabung makan sama kita?"


"Tentu saja Audri!"


"Ayunda mari gabung makan bersama!" ajak Raffa


Ayunda tersadar dari lamunan fikirannya, mendengar perkataan Raffa ingin rasanya ia mengiyakan ajakan itu. Tapi hatinya masih sakit mendengar perihal cincin yang dikenakan Raffa.


"Bagaimana Ayunda? Kamu mau enggak?" Raffa memperjelas


"Emm ... Anggap saja ini traktiran saya karena kamu sudah bantu menyelesaikan tugas saya kemarin"


Raffa yang mengira diamnya Ayunda mungkin karena sungkan atau tidak enak menerima ajakan dari dosennya

__ADS_1


"Bukan begitu pak maksud saya, untuk itu saya ikhlas kok pak. Bahkan kalau butuh bantuan ngerekap lagi dengan senang hati akan saya bantu." Sambungnya, "InsyaAllah"


Seketika itu Raffa teringat sesuatu,


"Di sinikan ada Audri yang jadi orang ketiga dan lihatlah ini tempat umum Ayunda" Raffa memperjelas kembali karena mengerti bagaimana karakter mahasiswanya satu ini


Mendapat banyak alasan membuat Ayunda luluh dan bergabung makan bersama dengan Raffa dan Audri.


Dalam hati Ayunda berharap semoga dengan ini ia bisa mendapatkan jawaban dari kebimbangan yang tengah melanda hatinya. Semoga dia mendapatkan petunjuk atau tanda perihal cincin itu.


Dua orang dewasa bersama seorang gadis kecil memasuki area Food court itu dan benar saja mereka memilih Food court yang ramai akan pengunjung.


Duduk di kursi berjumlah 4 membuat Ayunda memilih duduk berhadapan dengan Audri saja. Daripada ia harus berhadapan dengan laki-laki yang sudah membuatnya terbang namun terhempas seketika saat mendengar berita tak cukup mengenakan bagi Ayunda.


Tanpa menunggu lama makanan yang mereka pesan pun datang.


Makan semeja dengan Raffa membuat Ayunda mempunyai ide untuk mencari tau kebenaran perihal cincin pembuat heboh sekampus itu.


Dilihat dan diamatinya tangan Raffa, namun sayang tangan kirinya masih tersembunyi dibalik tangan kanan nya yang masih asik meraup makanan ke dalam mulutnya. Saking asiknya makan, Raffa bahkan tidak sadar dengan wanita yang diam-diam mengamatinya dari dekat. Tapi lain halnya dengan gadis kecil yang berada diantara mereka berdua.


"Ehem-ehem ..." Audri berdehem terdengar cukup sengaja,


"Ustadzah, kalau makan harus fokus ke makanannya"


Merasa tersindir Ayunda menampilkan senyum tipis dan malunya, anak kecil seperti Audri saja mengerti masa dia tidak. Eh tapi bukannya dia tidak mengerti akan hal itu tapi dia sedang butuh bukti. Ayunda membatin.


"Ayunda" panggil Raffa


"Iya Pak" jawabnya masih fokus pada makanan di piring nya


"Sekitar 2 bulan lagi kita sudah UAS, jadi sama seperti kemarin saya butuh bantuan kamu untuk merekap tugas dari setiap Mahasiswa"


Tak baik rasanya menjawab perintah dari guru dengan tidak menatap ke arahnya. Alhasil Ayunda menghadapkan wajah ke arah Raffa dan tak sengaja tangan kiri yang ingin dilihatnya sedari tadi terpampang sudah.


Pancaran kebahagiaan pun menghampiri Ayunda saat itu juga namun tetap menunjukkan kesan profesional antara mahasiswa dengan dosen.


"Siap pak, siap"


Bagaimana tidak bahagia yang tampak didepannya adalah 10 jari tangan yang polos tanpa tersemat cincin apapun di sana.


"Terimakasih"


"Sama-sama Pak"


Ayunda melahap makanan itu dengan penuh kepuasan dan kebahagiaan menyelimuti hatinya. Berita perihal cincin itu hanyalah hoax belaka. Kalau cincin pertunangan mana mungkin dilepas begitu saja.


Sejenak Ayunda terfikir tentang cincin Raffa lagi, bagaimana bisa dia menyimpulkan secepat itu bahwa Raffa cincin itu bukanlah cincin istimewa Raffa maksudnya cincin tunangan misalnya.


"Oke, berarti beberapa hari kedepan kalau perlu beberapa bulan kedepan harus mengamati jari pak Raffa" kata Ayunda dalam hati, "kalau cincin penting pasti akan langsung dipakai lagi tanpa menunggu lama" imbuhnya lagi dalam hati.


Sebelum Ayunda beranjak pulang Audri mengungkapkan rasa terimakasih dan gembiranya karena bisa makan bersama dengan Ustadzah yang jadi role models baginya. Ayunda mengelus-elus gadis cantik imut itu. Ayunda pamit untuk pulang.


Setelah Ayunda mengucapkan terimakasih dan pamit pulang kepada Raffa, Raffa mendapat panggilan masuk dari sang Mama. Tanpa menunggu lama Raffa menganggat panggilan itu. Didalam telepon Mama Raffa panik karena melihat story Raffa yang tidak mengenakan cincin pertunangannya. Raffa pun menjelaskan pada sang Mama bahwa cincin tunangan itu sengaja dilepas karena Raffa mengalami alergi logam mulia setelah mengenakan cincin tunangan itu. Sehingga Raffa mau tak mau melepasnya dan berniat untuk membawa cincin itu ke toko perhiasan untuk dibersihkan. Sementara itu dia juga, akan mengkonsultasikan alerginya ke dokter agar sang Mama tidak perlu cemas.


Mama Raffa lega kekhawatirannya dan kecemasannya tidak terjadi. Mama Raffa takut kalau puteranya berniat membatalkan apa yang sudah direncanakan sedari awal.

__ADS_1


__ADS_2