Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Masakan Mertua


__ADS_3

Rania membanting tasnya ke atas tempat tidur karena kesal dengan sikap mertuanya yang seakan tidak pernah puas menguji kesabarannya.


Kemudian dia membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil memikirkan perbuatannya dengan Malik siang tadi. Dia sangat menyesal telah melakukan perbuatan terlarang itu, tapi dia juga menikmatinya. Sering sekali dia merasa emosi jika mendengar ada seorang istri selingkuh dari suaminya tapi sekarang dia pun demikian. Berat sekali untuk mengakuinya tapi dia memang sudah berselingkuh dengan pria lain.


"Aku bodoh sekali!" Berkali-kali Rania merutuki kesalahannya.


"Barra ... maafkan aku. Sebaiknya aku membersihkan badanku dulu sebelum Barra pulang," gumam Rania. Tapi belum sempat dia beranjak, terdengar suara ribut-ribut di bawah.


"Itu pasti Barra, ibu pasti mengadukan sesuatu padanya!" Rania memutar bola matanya malas. "Kenapa juga dia sudah pulang jam segini?"


Rania melangkahkan kakinya untuk turun dan menyambut Barra, tapi kemudian dia teringat sesuatu di dalam tasnya. Rania berlari secepat kilat meraih amplop coklat di dalam tasnya dan menyembunyikan amplop itu rapat-rapat di tempat yang tidak mungkin akan ditemukan Barra.


"Aku harus bagaimana ini?" Rania bingung sendiri. Kemudian terlintas di pikirannya untuk mandi. Dia segera berlari ke kamar mandi. Setelah beberapa saat dia keluar dari kamar mandi, tepat saat Barra memasuki kamar.


"Dari mana saja kamu? Ibu bilang kamu baru saja pulang."


"Sudah aku bilang aku bertemu Dewi."


"Sampai malam begini?"


"Aku harus menunggunya selesai seminar," jawab Rania gugup. Hatinya diselimuti rasa bersalah karena telah berkhianat dari Barra.


"Apa yang kalian bicarakan sampai tidak ingat waktu? Ibu sampai harus capek-capek masak karena kamu pergi. Tidak bisakah kamu sekali saja tidak membuat ibu marah?!"


Hilang sudah rasa bersalah di hati Rania mendengar kata-kata Barra. Selama ini dia merasa tidak pernah melalaikan tanggung jawabnya sebagai seorang istri.


"Barra ... aku baru memang salah karena pulang terlambat, tapi ini baru pertama kalinya. Toh selama ini aku yang melakukan semua pekerjaan rumah."


"Sudahlah Ran ... Aku capek setiap kali pulang kerja selalu disambut dengan laporan pertengkaran kamu dan ibu," balas Barra dengan suara yang ditekan karena menahan emosi. "Aku capek! Lain kali kamu diam saja dan turuti apa kata ibu!!"

__ADS_1


"Aku tidak pernah bertengkar dengan ibu. Ibu saja yang selalu menganggap aku salah! Aku selalu diam setiap kali ibu menghinaku. Apa itu belum cukup?!"


"Rania ... !!! Berhenti menyalahkan ibu! Jangan memulai pertengkaran lagi!!" Nada suara Barra sudah mulai meninggi.


"Kamu yang memulai Barra, bukan aku!!"


"Aku capek Rania!!!" teriak Barra sambil melangkah meninggalkan Rania. Dia membanting pintu kamar, sementara Rania terpaku di tempatnya.


"Aku juga capek Barra ..." Rania menitikkan air matanya. Untuk kesekian kalinya Barra membentaknya karena ibunya.


* * *


Sudah seminggu setelah pertengkaran terkahir Barra dan Rania. Selama itu pula mereka tidur di kamar terpisah. Tapi Rania tetap melakukannya kewajibannya mengurus rumah juga memasak makanan kesukaan Barra walaupun Barra jarang memakannya. Sikap Barra semakin dingin terhadap Rania. Dia juga sering pulang larut bahkan beberapa kali tidak pulang. Setiap kali Rania menanyakannya, Barra selalu menjawab jika dia ada lembur. Dan Rania tidak pernah mempermasalahkannya.


Dia tahu setiap kata yang keluar dari mulutnya akan menjadi masalah baru bagi mereka. Semakin hari dia semakin merasa dekat dengan perceraian, momok yang sangat ditakutinya. Meninggalkan rumah ini tanpa apa-apa, sementara di usianya sekarang akan sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Bagaimana dia akan melanjutkan hidupnya.


Rania bergegas keluar dari kamarnya begitu mendengar suara percakapan di bawah. Barra sudah pulang. Dia bermaksud menyambut suaminya dan mengajaknya baikan. Tapi belum juga dia sampai di bawah, dia sudah mendengar percakapan Barra dan ibunya.


"Bagaimana ibu bisa tahu?"


"Hanna yang cerita sendiri pada ibu." Kemudian terdengar suara tawa mertuanya. "Seandainya kamu mau ibu kenalkan pada Hanna sejak dulu, pasti hidupmu bahagia sekarang."


Tidak terdengar jawaban dari Barra.


"Ibu senang kalau kamu semakin dekat dengannya. Segera ceraikan istrimu dan kamu bisa bebas bersamanya." Hati Rania seperti diiris-iris mendengar kata-kata mertuanya.


"Aku ke kamar dulu Bu."


Rania berbalik dan berjalan kembali ke kamarnya. Dia mengurungkan niatnya untuk berbaikan dengan Barra.

__ADS_1


Siapa Hanna? Jadi Barra tidak pulang karena menghabiskan malam bersamanya? Apakah dia wanita yang dipersiapkan ibu untuk menggantikan aku? Kenapa rasanya sesakit ini padahal aku juga melakukannya dengan pria lain?


Rania duduk di sofa dengan mata yang berkaca-kaca. Sementara itu Barra masuk tanpa meliriknya. Dia hanya masuk untuk mengambil baju ganti kemudian keluar lagi. Setelah itu dia akan tidur di kamar lain di rumah ini.


"Apa kita akan terus seperti ini?" tanya Rania.


Barra tidak bergeming. Dia mengacuhkan suara Rania seakan tidak ada orang lain di kamar itu. Hati Rania semakin sakit melihatnya.


"Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Segera urus surat-suratnya dan kamu bisa menceraikan aku secepatnya."


Barra berhenti dan menatap Rania. Tapi dia tetap tidak mengeluarkan suara. Kemudian dia berlalu tanpa memberikan jawaban atas kata-kata Rania.


Aku tidak akan menyerah. Kalian akan menerima balasan dariku. Aku bukan patung di sini. Kalian akan membayar semua penghinaan kalian selama ini.


Pagi harinya Rania merasa malas sekali untuk untuk bangun. Hingga dia melihat jam dan sadar sudah waktunya Barra berangkat kerja. Barulah dia bangun dan bergegas menuju dapur untuk memasak sarapan. Selama lima tahun dia melakukan hal itu hingga dia sudah seperti robot yang disetel setiap bangun tidur langsung menuju dapur.


Rania menghentikan langkahnya ketika melewati meja makan. Dia melihat mertua dan suaminya sedang sarapan. Rania terlihat salah tingkah.


" Apa kamu sedang tidak sehat? Duduk dan makanlah ... ibu sudah memasak." Barra melirik kursi di sampingnya yang artinya menyuruh Rania untuk duduk di sana. Dia sangat tahu kebiasaan istrinya itu bangun pagi dan mempersiapkan segala sesuatu untuknya.


Rania merasa senang dengan pertanyaan dari Barra. Setidaknya itu menandakan jika Barra masih memperhatikannya.


"Baru bangun ya? Enak sekali kamu!" ejek mertuanya begitu dia duduk.


Rania dengan kikuk memakan masakan mertuanya. Tapi belum sampai makanan itu masuk mulutnya, Rania merasa mual. Dia tahan rasa mual itu dan tetap menjejalkan makanan itu ke mulutnya. Tapi Rania semakin tidak kuat hingga akhirnya nya dia berlari ke wastafel dapur dan memuntahkan makanan dalam mulutnya di sana. Baik Barra maupun mertuanya memperhatikan tingkah Rania.


"Kamu lihat sendiri kan? Dia bahkan memuntahkan makanan yang ibu masak? Bukankah itu sangat tidak menghargai aku sebagai ibumu?"


Barra meletakkan sendok nya kemudian menyusul Rania ke dapur. Dia menarik tangan Rania dengan kasar.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak bisa sedikit saja menghargai ibu?! Memuntahkan masakannya di depan matanya sendiri? Kamu pikir siapa dirimu?!"


__ADS_2