Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Maaf (Lagi)


__ADS_3

Hanna membawa putrinya menemui Barra di tahanan. Dia menatap haru bagaimana Barra menggendong bayi mungilnya. Diciuminya bayi itu dengan lembut. Beberapa kali Barra menatapnya hangat dan penuh kasih sayang.


Akhirnya Hanna membawa bayinya menemui barra setelah beberapa kali Barra menghubunginya agar diijinkan bertemu anaknya. Dia datang kemari bersama Imah, hanya saja pelayannya itu dia suruh menunggu di luar.


"Maafkan Papa ya sayang ... Papa meninggalkan kamu cukup lama." Barra kembali mencium bayi itu. "Berapa lama Papa tidak melihat mu hmmm... ? Lihat pipi mu semakin gembul begini," Barra bicara dengan anaknya tapi lebih seperti sedang bicara sendiri.


"Siapa nama anak kita?" Barra memalingkan wajahnya sejenak dari bayinya dan menatap Hanna. "Aku bahkan sampai tidak tahu nama anakku," ucap Barra dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan Papa ya nak ..." kembali dia meminta maaf kepada bayi yang masih belum bisa apa-apa itu.


Tak terasa mata Hanna pun ikut berkaca-kaca. "Alicia, namanya Alicia," jawab Hanna dengan suara tercekat. Satu bulir bening menetes di pipinya.


Tak pernah dia bayangkan akan menangis untuk hal seperti ini. Hanna yang dulu adalah Hanna yang cuek dan tidak mau tahu apapun selain kemewahan. Tidak ada yang namanya cinta yang ada hanya uang.


"Dengar Alicia sayang ... Papa akan meninggalkan kamu sebentar. Nanti Papa akan pulang jika sudah waktunya. Jangan nakal sama Mama ya nak ... Jadilah anak yang baik dan penurut," bisik Barra kepada bayinya lembut. Kemudian beberapa kali dia kecup kening bayi itu.


"Jadi bagaimana?" tanya Barra masih sambil menggendong Alicia.


Hanna yang sempat terbawa suasana sedikit kaget mendengar pertanyaan Barra.


"Papa akan mengurusnya. Mungkin hukumannya bisa sedikit lebih ringan."


"Maaf kan aku Hanna ... Aku sudah membuat mu marah dan yang kulakukan ini sungguh memalukan."


Hanna diam menatap laki-laki di depannya itu. Tidak seperti terkahir kali mereka bertemu, penampilan Barra sudah jauh lebih baik. Jambang yang hampir memenuhi wajahnya sudah di cukur bersih. Rambutnya yang kemarin gondrong dan berantakan juga sudah dipangkas rapi. Ini sudah hampir seperti Barra yang sebelumnya hanya saja yang tubuhnya terlihat kurus.


"Publik tidak mengetahuinya. Papa berusaha keras menutupi ini dari media."


"Kita perbaiki ini semua. Bertahanlah bersamaku. Aku akan menjadi lebih baik setelah keluar dari sini nanti."


Hanna kembali diam.

__ADS_1


"Demi anak kita Hanna, berjanjilah kamu tidak akan meninggalkan aku. Kamu akan menunggu ku keluar dari sini."


"Apa yang kamu janjikan untukku jika aku bersedia menunggumu? Kamu sudah bukan siapa-siapa Barra. Perusahaan tempatmu bekerja sudah memberhentikan kamu. Kamu sudah bukan lagi direktur utama sebuah perusahaan. Kamu tidak punya apa-apa selain rumah dan harta peninggalan ayahmu. Apa yang bisa kamu berikan untukku dan putriku nanti?"


"Aku butuh uang barra, Aku tidak bisa bertahan hanya dengan uang hasil kos-kosan dan kontrakan mu."


"Jangan begitu padaku Hanna, Aku rela meninggalkan Rania untukmu. Sekarang setelah aku seperti ini kamu ingin meninggalkan aku?"


"Jangan munafik Barra, kamu memilihku karena aku bisa melunasi hutang-hutang ibumu, bukan karena kamu mencintaiku! Aku tidak ada artinya bagimu selain karena uang."


"Apa kamu tahu? Akulah yang memberi tahu polisi tentang tempat persembunyian mu malam itu. Malik memberi pilihan untuk menyerahkan kamu ke polisi dan Papa tetap memegang perusahaan atau tetap menyembunyikan kamu tapi dia akan mengambil alih perusahaan dan menarik semuanya aset yang diberikan perusahaannya kepada Papa!"


"Tentu saja aku memilih untuk menyerahkan kamu ke polisi dan kami tetap di posisi semula. Tidak ada yang bisa mengalahkan uang Barra!"


Barra menatap Hanna tidak percaya. "Apa hubungannya perusahaan Papa mu dengan laki-laki itu?"


"Perusahaan itu milik Malik, dan Papa hanya menjalankannya."


"Tidak apa-apa, tidak penting lagi buatku. Yang penting sekarang adalah aku bisa melihat anak kita," ucapnya sambil menimang Alicia yang sedang terlelap di gendongannya.


"Lihatlah ... dia lelap sekali. Mungkin dia rindu pada Papa nya." Barra menunjukkan wajah Alicia yang sedang terlelap kepada Hanna. Barra terus tersenyum saat memandangi wajah Alicia sambil menutupi rasa kecewa dan sakit hatinya.


"Kumohon Hanna ... tunggulah aku keluar dari sini. Aku akan berusaha menjadi lebih baik. Aku akan mendapatkan pekerjaan lagi, atau aku bisa membuka usaha sendiri. Aku tidak akan membiarkan kamu menderita," Barra terus memohon.


"Lihatlah Alicia, apa kamu ingin dia tidak mengenal ayahnya? Dia anak perempuan Hanna, kelak dia akan membutuhkan ayahnya jika menikah nanti."


Barra kembali mengalihkan pandangannya ke Alicia yang masih terlelap.


"Tunggu Papa ya nak .... Papa selalu menyayangimu." Satu kecupan lagi di kening Alicia.


Hanna benar-benar tersentuh melihat bagaimana Barra memperlakukan anaknya.

__ADS_1


"Berjanjilah Hanna, tunggu aku keluar dari sini ..."


Hanna diam tidak bisa menjawab. Belum sempat menjawab, petugas sudah memberikan peringatan jika jam berkunjung sudah akan habis.


"Hanna berjanjilah padaku! Aku mohon ..." pinta Barra dengan wajah memelas.


Petugas sudah menyuruh Hanna keluar. Berulang kali Barra menciumi bayi Alicia seakan tidak rela bayi itu meninggalkannya. Kemudian Hanna mengambil Alicia dari pelukan barra yang dengan berat hati melepaskannya.


"Sering-seringlah membawanya mengunjungi aku agar dia tidak lupa sama Papa nya," ucap Barra meneteskan air mata.


* * *


"Bagaimana Pah? Apa yang bisa Papa lakukan untuk mengeluarkan Barra, atau setidaknya mengurangi masa hukumannya?" tanya Hanna.


Setelah membawa pulang bayinya dan Imah, Hanna langsung melakukan mobilnya menuju perusahaan Papa nya.


"Bagaimana Pah? Apa yang bisa Papa lakukan untuk mengeluarkan Barra, atau setidaknya mengurangi masa hukumannya?" tanya Hanna. Dia sedang duduk berdua dengan Affandi di ruangannya.


"Papa tidak tahu, Papa sudah mencoba meminta bantuan dari kenalan-kenalan Papa. Mereka bilang nanti mereka akan memberi kabar," jawab Affandi yang terlihat pasrah.


"Apa kamu benar-benar mencintainya?"


Hanna diam tidak bisa menjawab.


Yang semua orang ketahui Barra adalah ayah dari anakku, dan akan tetap demikian. Aku tidak bisa mengatakan kalau aku tidak tahu siapa ayah dari anakku!


"Demi putriku! putriku harus punya ayah!"


"Kalau itu memang keputusanmu. Mungkin nanti jika Tuan Malik atau istrinya mengetahui campur tangan Papa dalam kasus Barra, mereka akan marah. Kamu harus siap dengan resikonya."


"Kita miskin?" tanya Hanna dengan wajah pias.

__ADS_1


Affandi mengangguk. "Mungkin."


Hanna bingung sendiri. Saat bersama Barra dia sangat membencinya, tapi saat dia sedang tidak bersamanya dia sangat menginginkan laki-laki itu.((((()


__ADS_2