Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Kita Mulai Sekarang


__ADS_3

Mobil yang dinaiki Rania berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit. Rania turun dari mobil kemudian berjalan dengan elegan menuju resepsionis.


"Ada yang bisa kami bantu?" sambut resepsionis itu ramah.


"Saya ingin bertemu dengan Bapak Afandi." Rania membuka kaca mata hitamnya.


"Sudah ada janji sebelumnya?"


"Belum."


"Maaf, Bapak Afandi tidak bisa bertemu sembarang orang tanpa membuat janji terlebih dahulu."


"Oh ... Begitu ya ..." Rania pura-pura tidak tahu.


"Mungkin anda ingin membuat janji dulu?"


"Oh ... Tidak usah. Tolong berikan nomor telepon ini pada beliau." Rania memberikan kertas kecil kepada resepsionis itu.


"Dari perusahaan mana ibu? Di sini hanya tertulis nomor telepon saja, tidak ada keterangan apapun."


"Oh ... Katakan saja pada beliau kalau Istri sah dari menantunya ingin bertemu."


Resepsionis itu sedikit terkejut mendengar kalimat terakhir Rania.


"Permisi," ucap Rania tanpa menunggu jawaban dari resepsionis. Dia kembali mengenakan kaca mata hitamnya dan bergegas meninggalkan tempat itu.


Kita mulai sekarang. Sedikit shock therapy mungkin bagus untuk permulaan. Sebaiknya kalian bersiap-siap. Rania tersenyum licik.


Rania kemudian mengendarai Ferrari milik Malik ke kediamannya dulu, ke rumah Barra.


Rania memencet bel. Tak berapa lama pintu terbuka. Tampak Imah berdiri di balik pintu.


"Mbak Imah?"


"Bu Rania?" Keduanya sama-sama terkejut.


"Mbak Imah bekerja di sini lagi?"


"Iya Bu, Pak Barra menghubungi saya beberapa hari yang lalu, meminta saya bekerja lagi di rumah ini."


"Bi Yani juga?"


"Tidak Bu, saya sendiri."


"Siapa yang ada di rumah?"

__ADS_1


"Ada Bu Widia sama Non Hanna."


"Baiklah, aku masuk saja. Aku mau mengambil sesuatu yang ketinggalan."


Imah terlihat gelisah.


"Nggak apa-apa Mbak Imah. Mereka tidak akan memarahi Mbak Imah."


"Baik Bu."


Rania langsung masuk dan naik ke lantai atas, ke kamarnya dan Barra dulu. Tanpa mengetuk pintu Rania langsung masuk begitu saja.


Hanna yang sedang berada di dalam kamar sampai kaget melihat Rania yang muncul tiba-tiba.


"Hei ... Siapa kamu berani-beraninya masuk kamarku?!!"


Rania membuka kaca mata hitamnya. " Apa kamu lupa padaku?" Memang penampilan Rania terlihat berbeda dari kesehariannya dulu sewaktu masih menjadi istri Barra.


"Oh ... Kamu? Istri yang di buang." Hanna berdiri dan melipat tangannya di dadanya. "Mau apa kamu kesini? Masih punya muka rupanya? Barra sudah mengusir mu, Kalau aku jadi kamu sih mending aku menghilang dan menyembunyikan wajahku!"


"Aku hanya ingin mengambil sesuatu milikku yang tertinggal. Tenang saja ... aku tidak akan mengambil suami mu. Kamu boleh memiliki dia, bagiku dia sudah menjadi sampah." Rania tersenyum. "Sampah memang harusnya bersama sampah yang lain di tempat sampah, Kamu tahu maksudku kan?"


Wajah Hanna merah padam. "Apa maksudmu?!"


"Oh ... Jangan tersinggung. Aku hanya asal bicara. Kalau kamu merasa aku menyinggung perasaanmu ya mungkin kamu merasa dirimu sampah. Ups ....!" Rania kembali tersenyum licik.


Rania melihat-lihat kamar lamanya itu. Banyak yang berubah. Mungkin Hanna menata ulang kamar itu.


"Kamu sudah tidak punya hak apa-apa atas rumah ini!"


"Aku tidak menginginkan rumah ini. Ambil saja untukmu. Kamu yang menata ulang kamar ini?" tanya Rania tanpa melihat ke arah Hanna. Matanya masih menjelajah sekeliling.


Sebenarnya Rania sedang mengingat-ingat dimana dia meletakkan sesuatu yang sangat penting itu.


"Oh ... aku ingat!" Seru Rania langsung berlari ke kamar mandi.


Hanna hanya melihatnya dengan tatapan penuh amarah.


Di dalam kamar mandi, dia segera mengambil secarik kertas yang selama ini dia simpan rapat-rapat.


Ini dia! Untung tidak ada yang menemukannya!


Rania hendak keluar dari kamar mandi, tapi sebelum itu dia menyalakan perekam di handphone nya.


"Apa yang kamu ambil?" tanya Hanna sinis. "Apa kamu mencuri sesuatu dari rumah ini?!"

__ADS_1


Rania tertawa. "Memangnya apa yang bisa di curi dari dalam rumah ini?! Kamu boleh menggeledah ku kalau kamu tidak percaya."


"Berapa usia kandungan mu? lima bulan? enam bulan?" Rania memulai interogasi.


" Apa maksudmu?!!"


"Harusnya Barra bisa berfikir, usia kehamilan mu yang mungkin sekitar enam bulan dan kalian berkenalan baru berapa bulan? Jadi kalau aku tidak salah, kamu sudah hamil saat berkenalan dengannya, begitu bukan?"


"Jaga bicaramu!!!"


"Atau mungkin kamu memanipulasi umur kehamilan mu di depan Barra? Atau aku bisa menyarankan agar Barra melakukan tes DNA nanti jika anak itu lahir, bagaimana menurutmu?" Rania mendominasi percakapan.


Entah dapat kekuatan dari mana, Rania merasa sangat percaya diri dan mengintimidasi.


"Katakan sebenarnya apa mau mu!!!" bentak Hanna.


"Kenapa marah-marah begitu sih? nggak bagus tau untuk kandungan mu," ucap Rania santai. "Jadi dimana ayah dari bayimu? Kenapa tidak mau bertanggung jawab? Kamu malah memilih laki-laki yang sudah menikah untuk menjadi ayahnya."


"Apa tidak ada laki-laki lain yang mau padamu? Kamu kan cantik dan orang tuamu juga sepertinya cukup kaya."


Wajah Hanna semakin merah padam. "Bukan urusanmu siapa ayah dari bayi dalam perutku!!! Yang penting aku sudah menikah secara sah dengan Barra, dan bayi punya ayah!"


"Apa kamu yakin pernikahan kalian sah? Seingat ku sampai saat ini aku belum bercerai dari Barra. Aku belum menandatangani dokumen apapun. Oh ... Bagaimana ya nanti kalau publik sampai tahu kalau selebgram Hanna Afandi menikah dengan suami orang?"


"Pergi dari sini cepat pergi!!!" teriak Hanna.


"Kenapa panik begitu? Tenang saja, aku tidak akan menyebarkan berita itu ke publik, atau .... setidaknya tidak sekarang." Rania tertawa lepas dan keluar dari kamar itu.


Mertuanya yang tadi sempat mendengar teriakan Hanna berjalan menuju kamar Hanna dan berpapasan dengan Rania.


"Hai ibu ... " sapa Rania dengan wajah yang sangat berseri. Tentu saja karena dia berhasil membuat Hanna emosi. " Oh ... Aku lupa. Apa aku harus memanggil Bu Widia sekarang? Aku kan sudah bukan menantu di rumah ini."


"Apa mau mu datang kesini?"


"Aku hanya mengambil sesuatu. Dan sebenarnya aku juga ingin menagih mobilku yang dulu kamu jadikan jaminan hutang. Apa kamu lupa?" Rania sudah kehilangan rasa hormatnya kepada mantan mertuanya ini.


"Itu hanya sebuah mobil, hal yang kecil bagi Hanna."


"Kalau hanya hal yang kecil, lalu kenapa sampai sekarang mobilku belum juga kembali?"


Hanna tiba-tiba muncul diantara mereka.


"Aku akan segera mengembalikan mobil itu! Sekarang pergi dari sini!"


"Hei ... kamu kasar sekali! Apa kamu khawatir aku akan bicara sesuatu kepada mertua tercintamu ini?" sindir Rania.

__ADS_1


"Baiklah ... Aku akan pergi agar kalian tidak tertekan seperti ini. Ngomong-ngomong, apa kalian ingin melihat mobil baruku di bawah?" goda Rania sambil berjalan menuruni tangga.


Entah kenapa mertuanya dan Hanna tanpa sadar mengikuti Rania berjalan di belakangnya.


__ADS_2