
Hanna merasa lega ketika dia melihat di garasi tidak ada mobil Barra. Itu artinya dia tidak di rumah. Hanna semakin lega ketika memasuki rumah dan melihat ke kamar mertuanya yang kosong. Ini artinya baik Barra maupun mertuanya tidak berada di rumah.
"Imah, bawa Alicia ke kamarnya!"
"Baik Bu," jawab Imah.
"Ayo Mah, aku tunjukkan kamar Mama." Hanna mengajak Herra ke kamar khusus tamu.
"Sementara Mama tidur di kamar ini saja." Herra mengangguk.
"Aku akan ke kamarku. Aku ingin istirahat." Kemudian Hanna meninggalkan Herra sendirian di kamar.
Hanna berjalan pelan menuju kamarnya. Dia berdiri dan terdiam cukup lama di depan pintu. Rasanya berdebar-debar mengingat apa yang sebelumnya dia alami di kamar ini. Hanna memegang gagang pintu. Ingin dia buka tapi takut jika ternyata Barra berada di dalam kamar.
Akhirnya Hanna beranikan diri membuka pintu itui. Tidak seperti yang dia takutkan, Barra memang tidak ada di rumah. Hanna memasuki kamarnya. Keadaannya sama seperti terakhir kali dia meninggalkannya. Berantakan dan lebih mirip seperti reruntuhan dari pada sebuah kamar. Barang-barang yang tadi dilemparkan oleh Barra masih berserakan di lantai. Begitu juga pecahan vas bunga yang sebelumnya hampir Barra lempar ke kepalanya.
"Dia tidak di rumah. Ibu juga, pada kemana mereka?" gumam Hanna. "Tapi baguslah, aku tidak perlu menghadapi dia."
* * *
Herra baru saja pulang dari menjual perhiasan yang dia miliki. Rencananya uang hasil penjualan perhiasan itu akan dia gunakan untuk mencari tempat tinggal. Sementara itu Barra dan Widia tidak pulang semalam tadi. Tapi itu justru membuat Hanna senang. Dia juga tidak berusaha menghubungi Barra untuk menanyakan keadaan ibunya, begitupun sebaliknya, Barra juga tidak menghubunginya.
Hanna sedang memainkan handphonenya ketika Herra pulang.
"Mama sudah pulang?" tanya Hanna begitu melihat Mama nya datang. Tapi wajah Herra tidak menunjukkan adanya pertanda baik.
"Kenapa mah? Kenapa wajah Mama murung seperti itu?"
Dengan malas Herra duduk di sebelah Hanna.
"Tadi mama bertemu teman Mama, waktu di toko perhiasan. Dia menagih uang arisan Mama." Herra terlihat semakin murung.
"Harusnya kemarin Mama arisan, tapi kamu tahu sendiri apa yang kemarin kita alami. Lalu tadi Mama bertemu teman Mama dan dia menagih uang arisan itu. Jadi uang hasil jual perhiasannya Mama pakai buat bayar arisan," cerita Herra dengan rasa bersalah.
"Apa??? Dan mama berikan semua uangnya? Perhiasan Mama kan mahal-mahal?!"
__ADS_1
"Kamu tahu sendiri kan berapa uang arisan mama sebulan? Ini masih ada sisanya tapi sedikit, tidak akan cukup."
Hanna terlihat kesal. Tapi dia tidak bisa menyalahkan Mamanya. Memang sejak dulu Mama nya aktif mengikuti arisan ibu-ibu sosialita.
"Jika uang ini kita gunakan untuk mengontrak rumah maka kita tidak punya uang untuk makan. Tapi jika tidak kita gunakan untuk mengontrak rumah maka uang ini bisa kita gunakan untuk makan satu bulan, itupun jika kita mau makan seadanya." Herra pasrah.
"Mama coba telfon rekan-rekan papa dulu. Siapa tahu masih ada yang mau membantu kita. Teman papa kan banyak mah,"
"Sudah Mama coba semalam. Mana ada yang mau membantu jika kita sudah begini. Waktu papamu masih punya kuasa mereka semua mendekati papa mu. Tapi sekarang keadaan kita seperti ini mana ada yang mau mendekat. Mereka bersikap seolah tidak mengenal kita. Tadi saja teman Mama bersikap sadis pada Mama."
"Masa sih Mah?" Hanna tidak percaya.
"Keadaannya benar-benar berbeda Hanna. Coba saja kamu hubungi salah satu temanmu dan minta bantuan padanya. Pasti tidak akan ada yang mau membantumu."
Hanna membuktikan perkataan Mama nya dengan mencoba menghubungi temannya satu persatu. Rata-rata tidak ada yang menjawab telfonnya. Kalaupun ada pasti mengatakan jika dia sedang sibuk dan nanti akan balik menghubunginya.
"Berita cepat sekali menyebar. Mereka sudah mengetahui keadaan kita sekarang. Mereka tahu kita tidak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa."
"Kenapa bisa begini sih Mah?!" Hanna terlihat kesal dan membanting handphone-nya ke sofa.
"Maaf Bu Hanna, tapi kenapa gaji saya belum ditransfer? Ini sudah telat satu minggu," ucap Imah yang tiba-tiba muncul di sana.
Hanna memutar bola matanya malas.
"Nanti akan aku transfer! Mulai besok kamu tidak usah bekerja lagi di sini," ucap Hanna langsung pada intinya.
"Maaf Bu, tapi saya butuh uang itu untuk pengobatan mertua saya."
"Iya ... Nanti aku transfer," jawab Hanna lagi.
"Saya tunggu saja bu Hanna. Kalau besok saya sudah tidak bekerja lagi di sini maka saya minta gaji saya bulan kemarin di bayar sekarang. Kan besok saya sudah tidak di sini Bu." Imah memberanikan diri meminta haknya.
"Ini ..." Herra memberikan lagi separuh sisa uang yang dia miliki untuk membayar gaji Imah.
"Mah ...!!!" cegah Hanna.
__ADS_1
"Kita harus memberikan haknya Hanna. Dia sudah bekerja keras untukmu."
"Terima kasih Bu," ucap Imah kepada Herra kemudian berlalu.
Sebelumnya Imah mendengar percakapan Hanna dan Herra mengenai kondisi keuangan mereka. Mengingat gajinya belum juga diberikan Imah memberanikan diri untuk memintanya daripada tidak ada kejelasan mengenai gajinya nanti.
"Kenapa Mama berikan uang itu? Kita sudah tidak punya uang lagi sekarang!" omel Hanna setelah Imah tidak terlihat.
"Kita harus memberikan gaji untuk orang yang sudah bekerja untuk kita. Apa kata orang jika mereka dengar kita telat membayar gaji ART?!"
"Mah ...!!! Apa Mama lupa keadaan kita sekarang?! Semua orang sedang membicarakan keburukan kita!!!" bentak Hanna.
Ucapan Hanna seperti membangunkan Herra dari mimpi.
"Mama benar-benar harus istirahat sekarang. Mama masih berharap yang menimpa kita ini hanya mimpi."
* * *
"Kamu tidak pulang?" Widia masih tergelak di ranjang rumah sakit.
"Tidak. Aku akan menemani ibu di sini."
"Pulanglah ... minta maaflah pada Hanna. Perbaiki hubungan kalian."
"Nanti ... sekalian membawa ibu pulang. Ibu besok sudah boleh pulang," jawab Barra. Dia tidak mengatakan jika banyak yang mencarinya ketika dia pulang kemarin.
"Ingat kata-kata Ibu, dia istrimu. Apapun kesalahannya maafkan dia. Jika kamu berpisah dengannya belum tentu ada wanita yang mau mendampingi mu dengan keadaanmu yang sekarang."
Barra terdiam mendengar kata-kata ibunya. Walaupun wanita di depannya ini adalah orang yang paling berjasa dalam kehancuran hidupnya tetapi dia tetaplah ibunya. Dan Barra sangat menyayanginya.
"Apa ibu akan seperti ini selama sisa umur Ibu?" Widia berusaha menggerakkan tangan dan kaki sebelah kirinya tapi tidak bisa. Sedangkan tangan kanan dan kaki kanannya bisa bergerak normal.
"Tidak Bu, ibu masih bisa sembuh asal rutin melakukan terapi. Tidak usah khawatir."
"Tapi darimana kamu mendapatkan uang untuk biayai pengobatan ibu? Pasti jumlahnya tidak sedikit."
__ADS_1
"Nanti aku pikirkan Bu, Ibu tenang saja."