
Barra berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Pikirannya dipenuhi berbagai masalah yang kini dihadapinya. Hanna mungkin bisa melaporkan dia ke polisi karena dia telah melakukan kekerasan padanya. Tapi mungkin Barra masih bisa membicarakan ini baik-baik dengan Hanna. Selain itu Malik dan Rania juga mungkin melaporkan dia ke polisi karena sudah melakukan penganiayaan kepada Belum lagi orang-orang yang waktu itu mencarinya ke rumah. Barra masih tidak tahu siapa orang-orang itu, yang jelas mereka bukan polisi.
Masalah lain adalah mengenai ibunya. Bagaimana dia akan mendapatkan uang untuk pengobatan ibunya. Pemasukan dari kos-kosan dan rumah kontrakan tidak akan cukup. Sedangkan jika dia nanti dipenjara lagi, tidak akan ada yang merawat ibunya karena dia tidak punya cukup uang untuk membayar jasa perawat untuk merawat ibunya.
Barra berhenti dan bersandar di dinding rumah sakit. Dia benturkan kepalanya pelan ke dinding untuk mengurai benang kusut di otaknya. Andai saja dia bisa menahan emosinya dan tidak menganiaya Rania ataupun Hanna, tentu sekarang kondisinya tidak akan serumit ini. Ibunya juga tidak akan terkena stroke akibat melihatnya menganiaya Hanna.
Satu-satunya jalan adalah tetap menjadi suami Hanna. Dengan begitu dia bisa meminta uang kepada mertuanya untuk pengobatan ibunya. Selain itu jika nanti dia harus masuk penjara lagi, maka akan ada yang merawat ibunya. Barra meraih ponsel dari sakunya dan berniat menghubungi Hanna. Barra tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Hanna dan orang tuanya.
"Aku akan minta maaf padanya. Dia pasti bisa memaafkan aku," gumam Barra sebelum menelfon Hanna.
* * *
Malik dan Rania masih bergumul di bawah selimut mereka. Rania masih belum diijinkan bekerja oleh Malik. Sekarang dia benar-benar seperti ratu. Semua yang dia inginkan dipenuhi dan dia juga tidak perlu melakukan pekerjaan apapun. Dia juga tidak perlu cemas memikirkan masalah uang karena dia memiliki saham terbesar di perusahaan.
"Aku ingin lagi," bisik Malik.
"Sudah Malik, sudah cukup." Rania berusaha melepaskan tangan Malik dari tubuhnya. Sementara bibir Malik sudah tidak bisa dikontrol, mencium bagian tubuh Rania yang mana saja yang bisa dia cium.
"Malik ... Sudah cukup! Aku ingin makan, aku sudah lapar," rengek Rania.
"Apa itu bukan alasanmu saja?"
"Tentu saja bukan! Ada dua bayi dalam perutku kamu ingat?" Rania mulai melotot.
"Baiklah ... Sepertinya anak-anak Daddy tidak ingin melihat Daddy bersenang-senang dengan Mommy." Malik berbicara di depan perut Rania, sementara Rania tersenyum penuh kemenangan.
Malik meraih baju tidurnya yang berserakan di lantai. Kemudian dia mengambilkan baju Rania yang juga berserakan dilantai.
"Kamu ingin makan apa? Biar aku minta pelayan memasaknya untukmu," tanya malik sambil membantu Rania mengenakan bajunya.
__ADS_1
"Aku ingin makan sup ayam, atau bakso atau soto, pokok sesuatu yang berkuah."
Belum sempat Malik menjawab Rania, handphone-nya berdering.
"Tunggu sebentar," ucapnya pada Rania. "Aku angkat telepon dulu." Rania mengangguk. Malik menjauh dari Rania saat mengangkat teleponnya.
"Ada apa?"
"Maaf Pak, kami masih belum bisa menemukannya. Kami sudah mengawasi rumahnya dan semua tempat yang mungkin dia datangi selama dua hari tapi dia tidak terlihat. Istrinya juga tidak keluar rumah selama dua hari ini."
"Bawa alat berat. Hancurkan rumah dan semua bangunan yang dia miliki kemudian ratakan dengan tanah!!! Pastikan dia tidak punya tempat lagi untuk pulang!!!"
"Baik Pak!""
Malik menutup teleponnya dan kembali kepada Rania.
"Bukan siapa-siapa." Malik mengecup kening Rania. "Aku akan turun dan meminta pelayan memasakkan makanan yang kamu inginkan." Malik berbalik dan akan melangkah meninggalkan kamar, tapi Rania lebih dulu menarik tangan Malik sehingga Malik membatalkan niatnya.
"Katakan siapa yang menelepon mu, jangan bohong padaku! Kalau itu bukan siapa-siapa pasti kamu tidak perlu menjauh saat mengangkat telepon itu. Aku yakin tadi telepon penting."
Malik berjongkok hingga posisinya wajahnya sekarang tepat di depan wajah Rania.
"Aku menyuruh orang-orang ku untuk menghancurkan rumah laki-laki itu juga semua bangunan yang dia miliki sampai dia tidak punya tempat lagi untuk sembunyi."
Rania tidak percaya mendengar apa yang baru saja Malik katakan. Malik ini bukan orang yang mudah terpancing emosi. Tapi begitu marah dia bisa mengambil tindakan yang menakutkan."
"Malik ... " Rania tidak meneruskan kalimatnya.
"Maaf sayang, aku tidak akan berubah pikiran meski kamu memohon padaku. Aku tidak mau membahayakan anak-anakku lagi, apalagi sampai kehilangan anak lagi!" Malik berdiri dan menghindari tatapan mata Rania.
__ADS_1
"Dia harus diberi pelajaran sayang. Tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginannya."
Malik berlalu meninggalkan Rania sebelum dia benar-benar memohon padanya. Dia tahu jika Rania mulai memohon maka dia tidak akan bisa menolaknya. Dan dia juga tahu Rania pasti akan membujuknya untuk membatalkan keinginannya menghancurkan rumah Barra.
* * *
Hanna dan Herra sedang berdebat sengit mengenai hidup mereka kedepannya setelah Hanna mendapatkan telepon dari Barra. Barra dan ibunya sudah dua hari tidak pulang. Tadinya Herra mempertanyakan keberadaan mertua Hanna dan Barra, tapi setelah ada telepon dari Barra dia berhenti bertanya.
"Sebaiknya kamu terima permintaan maaf suamimu. Apa yang terjadi kamu tetap harus menjadi istrinya. Setidaknya dengan begitu kita tidak perlu memikirkan tempat tinggal. Dan dia juga masih punya pemasukan dari aset-asetnya yang lain meski tidak bekerja."
"Tiap Mah, dia sudah melakukan kekerasan padaku! Mana mungkin aku bertahan dengan laki-laki seperti itu?!"
"Kita membutuhkan dia Hanna! Apa kamu mau kita tinggal di jalanan?!"
"Apa tidak ada pilihan lain?"
"Ada, Kamu bercerai dari Barra dan menikah dengan laki-laki yang lebih kaya. Tapi itu tidak akan terjadi melihat kita sekarang bukan siapa-siapa dan wajahmu juga tidak secantik dulu lagi. Laki-laki kaya pasti akan berpikir dua kali untuk menikahi mu. Kalaupun ada laki-laki kaya mau menikahi kamu pasti orang itu seusai dengan Papa mu dan kamu hanya dijadikan istri kedua atau lebih buruk lagi sebagai simpanan!"
"Mah ...!!! Apa Mama menginginkan aku seperti itu?!"
"Mama tidak ingin kamu seperti itu. Mama hanya membicarakan kemungkinan terburuk jika kamu bercerai dari Barra!"
"Kalau orang-orang itu seusai papa, kenapa bukan mama saja yang jadi simpanan mereka? Jadi aku tidak perlu mengorbankan hidupku!"
"Harusnya kamu sadar Hanna! Kita semua jadi seperti ini karena menuruti keinginanmu! Coba saja dulu kamu tidak merebut Barra dari Rania, pasti semuanya tidak akan seperti ini. Rania tidak akan menikah dengan Malik dan Malik juga tidak akan membenci papa mu karena telah membantu Barra!"
"Apa yang mama bicarakan?! kenapa malah mengungkit-ungkit masalah itu?!" teriak Hanna tidak terima.
"Memang begitulah kenyataannya. Aku sudah bicara dengan papa mu di penjara kemarin. Papa sudah menceritakan semuanya pada Mama!"
__ADS_1