Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Kenangan Manis


__ADS_3

Barra menyesap kopinya sendirian di ruang makan. Tadi pembicaraannya dan Rania berujung buntu. Sekarang dia merenungi apa yang harus dilakukannya ke depan. Tidak mungkin dia melepaskan buah hati yang selama ini sudah dinanti-nantikan. Tapi dia juga tidak menyalahkan Rania jika istrinya itu tetap ingin meminta cerai darinya. Dia sadar sikapnya akhir-akhir ini sangat keterlaluan padanya.


"Apa dia tidak mau turun?" Suara ibunya memecah lamunan Barra.


Barra hanya menggelengkan kepalanya.


"Dia tetap akan minta cerai Bu," jawab Barra pelan.


"Tidak bisa, ibu tidak mau dipisahkan dari cucu ibu. Ibu sudah sangat ingin menggendong cucu."


"Bukankah ini yang ibu inginkan? Dia bercerai dari ku?"


"Itu dulu Barra ... sebelum dia hamil! Sekarang jangan sampai kamu bercerai darinya. Kamu sudah mencoba bicara dengannya? Kamu sudah membujuknya?"


"Akan ku coba lagi. Ibu juga harus minta maaf padanya. Sikap ibu kepadanya selama ini juga sangat keterlaluan."


"Kenapa aku harus minta maaf padanya? Aku ini mertuanya, aku jauh lebih tua darinya jadi aku tidak perlu minta maaf!"


"Ibu terus menyebutnya perempuan mandul dan sekarang dia hamil. Apa ibu tidak malu?!" ibunya terdiam.


"Kalau dia tetap minta cerai ya ceraikan saja asal cucuku jangan di bawa. Beri saja dia sedikit uang sebagai gantinya."


"Bu ...! Apa ibu masih belum mengerti juga? Apa ibu tidak memikirkan perasaanku, rumah tanggaku? Bagaimana anakku nanti hidup dengan keluarga yang tidak utuh? Apa ibu tidak berpikir sejauh itu?!!" Barra pergi meninggalkan ibunya dengan kesal. Selama ini dia mengikuti kata-kata ibunya dan sekarang nasib rumah tangganya diujung tanduk karenanya.

__ADS_1


Barra kembali ke atas, ke kamarnya dan Rania. Dia ingin melihat apakah Rania sudah memakan makanan yang tadi dia bawa atau belum.


Rania masih meringkuk di tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Barra mendekatinya lalu duduk di sampingnya.


"Kamu tidak mau makan?" Barra melihat nampan beserta isinya masih sama seperti tadi saat dia meninggalkannya di nakas. Kemudian dia menatap wajah Rania yang semakin terlihat pucat.


"Kamu harus makan, demi janin di dalam perut kamu," ucap Barra lembut.


"Aku takut nanti muntah lagi. Rasanya lemas sekali setiap habis muntah," jawab Rania tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


"Kamu ingin makan sesuatu? aku bisa membelikannya untukmu."


"Tidak terima kasih. Aku bisa memesannya secara online jika menginginkan sesuatu. Kamu tidak perlu repot-repot."


"Ran ... Tolong beri aku kesempatan. Aku ingin kita kembali seperti dulu." Rania terdiam.


"Aku tahu kamu marah sekali padaku, bahkan mungkin dendam kepadaku. Tapi, kalau kamu ingin membalas semua yang sudah ku lakukan padamu maka balas saja kepadaku. Jangan sampai anak kita kena imbasnya."


Rania mengalihkan pandangannya dari ponselnya kemudian menatap Barra. "Berbulan-bulan kamu memperlakukan aku dengan buruk. Apa mungkin hanya dalam dua hari aku bisa melupakannya? Apa karena sekarang aku hamil lantas kamu mati-matian mempertahankan aku di sini?"


"Kamu sudah tidak mencintaiku Barra. Kamu tidak menginginkan aku! Kamu hanya menginginkan bayi dalam perutku saja!"


"Tidak Ran ... Jangan bicara seperti itu. Aku mencintaimu, Aku masih sangat mencintaimu. Aku takut kehilanganmu. Kamu dan bayi kita nanti akan membuat hidupku sempurna." Mata Barra berkaca-kaca.

__ADS_1


Keduanya terdiam.


"Kamu ingat ... dulu kamu bilang ingin memiliki tiga anak? Kamu juga ingin membuat kamar berwarna peach untuk anak kita jika dia perempuan. Aku bilang 'bukankah seharusnya berwarna pink?' tapi kamu tetap ngotot ingin berwarna peach. Kemudian jika anak laki-laki kamu akan membuatkan kamar dengan tema warna merah. Aku bilang lagi, ' bukankah seharusnya biru?' Lalu kamu jawab, ' merah saja yang artinya berani'. Kamu ingin jika nanti kita memiliki anak laki-laki kelak dia menjadi anak yang pemberani. Kamu masih ingat itu?" Barra tak kuasa menahan air matanya.


Sungguh Rania sangat tersentuh dengan apa yang baru saja Barra katakan. Dia tidak menyangka Barra masih mengingat hal kecil seperti itu. Kini matanya pun berkaca-kaca.


"Apa kita akan mewujudkannya?" tanya Barra sambil menyeka air matanya.


"Keluar lah, aku ingin sendiri," jawab Rania kembali memalingkan wajahnya dari Barra.


"Baiklah ... Aku akan memberimu waktu. Aku sudah menyadari kesalahanku dan aku ingin menebusnya. Katakan padaku jika kamu memerlukan sesuatu."


Barra berlalu meninggalkan Rania di dalam kamarnya. Dia berjalan menyusuri taman belakang rumahnya kemudian duduk di kursi dekat kolam renang. Di kembali teringat kenangan manis dulu saat dia dan Rania selalu menghabiskan akhir pekan dengan berenang di kolam renang ini. Bahkan sampai jari-jari mereka keriput karena kedinginan. Rania tidak mau di ajak liburan keluar karena dia merasa kasihan jika ibunya ditinggal sendirian di rumah.


Barra mendesah mengingat semua kenangan manisnya dengan Rania. Istri yang selalu mementingkan dirinya dan ibunya tapi hampir saja mereka buang karena belum bisa memberikan keturunan. Di tatapnya lagi area kolam renang yang terhubung langsung dengan taman belakang. Dia bayangkan bagaimana bisa Rania mengurus taman ini sendirian, belum lagi membersihkan rumah dan mengatur segala keperluannya.


"Bagaimana dia bisa mengurus rumah ini sendiri? Belum lagi menghadapi omelan ibu yang tiada habisnya, dia pasti sangat menderita selama ini," gumam Barra penuh sesal. "Harusnya aku lebih bisa memahami mu." Barra mengusap wajahnya kasar.


"Setelah apa yang kulakukan padanya, aku tahu tidak mudah baginya untuk memaafkan aku. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan mempertahankan kamu di sisiku Ran."


Sementara itu di dalam kamarnya Rania menangis sesenggukan. Kata-kata Barra tadi mengingatkan masa-masa awal pernikahan mereka. Rencana punya anak, desain kamar anak, nama-nama anak, semua yang berhubungan dengan anak sudah mereka rencanakan waktu itu. Mereka berdua selalu antusias saat membicarakan anak. Tapi lama kelamaan pembicaraan itu hilang. Anak yang mereka nantikan tidak kunjung hadir dalam kehidupan mereka.


Rania mengusap air matanya. "Sepertinya hormon kehamilan ini membuat mood ku naik turun," ucapnya menenangkan dirinya sendiri. "Jika kondisinya tidak seperti ini, aku pasti sangat bahagia sekarang. Ini kehamilan yang sudah ku nantikan sekian lama. Tapi kenapa justru dipenuhi air mata seperti ini?"

__ADS_1


"Jika aku memberi tahu Malik, apakah dia akan menerima anak ini sebagai anaknya? Atau dia akan membuang ku juga?" Rania merasakan dilema, jika salah langkah bisa membuat hidupnya semakin berantakan.


"Lebih baik ku simpan sendiri rahasia ini sampai waktunya tiba." Rania mengusap air matanya. Tepat saat itu Barra kembali masuk ke dalam kamar dan menemukan dia duduk di tepi tempat tidur sambil menghapus air matanya.


__ADS_2