Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Peringatan Kecil


__ADS_3

"Ran ... tunggu ...!" Barra mengejar Rania sampai ke tempat parkir. Barra berhasil menghalangi Rania agar tidak bisa membuka mobilnya. Dia mencengkeram tangan Rania sehingga Rania tidak bisa kemana-mana.


"Ran ... Tunggu kita harus bicara dulu! Kenapa kamu tidak memberi tahu aku jika kamu keguguran?! Aku berhak tahu Rania!!"


"Apa kamu menyalahkan aku?! Kenapa kamu tidak mencari ku atau setidaknya menelfon untuk menanyakan keadaanku setelah kamu mengusirku?!!"


"Ran ... Maafkan aku ... Aku benar-benar tidak tahu ... "


Rania tertawa sinis. "Minta maaf lagi? Mau berapa kali kamu minta maaf padaku?!" Rania meronta agar Barra melepaskan tangannya.


"Ran ... Kumohon ... Batalkan pernikahan mu! Kamu tahu aku masih mencintaimu."


"Setelah semua yang kamu lakukan padaku kamu masih bisa bilang kamu mencintaiku?!" Rania kembali meronta, tapi Barra semakin mengencangkan cengkeraman tangannya. Bahkan Sekarang dia sudah berhasil membuat Rania terjepit diantara tubuhnya dan mobil.


"Barra lepaskan aku, kamu menyakiti tanganku!" Barra tidak peduli. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Rania.


"Kamu semakin cantik Ran ... Aku rindu sekali dengan bibirmu itu. Dulu kamu tidak secantik ini saat masih bersamaku. Aku tidak rela laki-laki itu menyentuhmu." Barra mencoba mencium bibir Rania tapi Rania berhasil mengelak.


"Lepaskan aku atau aku akan berteriak!" ancam Rania.


Barra tidak peduli. Sekali lagi dia mencoba mencium bibir Rania.


"Lepaskan dia!!!" Suara lantang laki-laki menghentikan aksi Barra.


"Malik ...!! tolong aku," teriak Rania.


Barra melepaskan Rania kemudian berbalik. Belum sempat berkata apa-apa Malik langsung memukuli Barra hingga dia terjatuh.


"Jangan ganggu dia lagi!!!"


"Kamu tidak usah ikut campur!"


"Masih belum bisa mengerti posisimu?!!"


"Aku tidak peduli jika kamu seorang pemilik perusahaan besar, tapi ini urusan pribadiku dengan Rania. Kamu tidak ada hubungannya!" balas Barra sambil berusaha berdiri. Dia menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya akibat pukulan dari Malik.


"Kamu sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan calon istri ku!!!" Malik menegaskan posisi Rania baginya. "Ini hanya peringatan kecil untukmu!!"


Barra berdecih.


"Sekali lagi aku melihat tanganmu mencoba menyentuhnya, ku pastikan itu akan menjadi akhir hidupmu!!" ancam Malik dengan mata penuh amarah.


"Kamu tidak apa-apa?" Malik menghampiri Rania yang masih berdiri kaku di dekat mobilnya. Belum sempat Malik menyentuh Rania, Barra menyerang Malik dari belakang. Malik yang tidak siap menerima serangan pun tersungkur.


"Barra hentikan," teriak Rania.


Malik segera berdiri dan akan membalas serangan Barra tapi Rania mencegahnya.


"Baiklah ... kita pulang," ucap Malik yang mengerti keinginan Rania hanya dari tatapan matanya.

__ADS_1


Di dalam perjalanan pulang Malik menghubungi Affandi.


"Halo ..."


"Iya Tuan Malik, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya menelepon untuk memberitahu kalau saya membatalkan undangan pernikahan saya kepada keluarga anda." Malik langsung menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Affandi.


"Kamu tenang saja gadis nakal, aku tidak akan memberi dia kesempatan untuk bisa bertemu denganmu lagi."


Rania mengangguk. Dia menatap kagum laki-laki yang sekarang menjadi pahlawan baginya itu.


"Terima kasih ... " Rania menggenggam erat tangan Malik.


"Kamu bisa berterima kasih dengan cara lain." Malik mengeluarkan seringai nakal.


"Malik ... Kenapa Affandi sangat segan padamu? Kenapa juga Hanna salah tingkah saat melihat mu?"


"Kamu penasaran?"


Rania mengangguk.


"Cerita nggak ya ... " goda Malik.


"Malik ... jangan menggodaku. Aku sedang nggak ingin bercanda."


"Affandi adalah asisten almarhum Papa. Dan perusahaan yang dia kelola sekarang adalah perusahaan Papa. Jadi dia hanya menjalankan perusahaan Papa, atau lebih tepatnya perusahaan ku."


Malik tertawa. "Anak manja itu? Mereka berusaha membuat aku menyukai anak itu. Jika mereka berhasil dan aku sampai menikah dengannya, maka mereka bisa menguasai perusahaan. Itu adalah cara paling mudah untuk membuat perusahaan menjadi milik mereka seutuhnya. Dulu Hanna sering sekali menggoda ku, mungin karena itu dia salah tingkah saat melihatku kemarin."


"Kamu tidak tergoda?" selidik Rania.


"Dengan anak manja seperti itu? Aku lebih tergoda dengan gadis nakal sekaligus janda muda," Malik tertawa mendengar kata-katanya sendiri.


"Tapi dia cantik dan hmmm .... 'seksi'," Rania mendesah dibuat-buat saat menyebutkan kata seksi.


Malik bergidik. "Hii ... "


"Lalu kenapa kamu tidak meneruskan perusahaan saja?"


Malik terdiam. Dan Rania tahu penyebabnya. Dia rela meninggalkan semuanya demi Mama nya. Dia tidak berminat menjalankan perusahaan karena fokus utamanya adalah kesembuhan sang Mama.


"Aku punya panggilan baru untukmu?" Malik memecah kesunyian.


"Apa itu?"


"Bagaimana kalau janda muda nakal?"


"Tidak sekalian janda muda nakal dan gatal?!" Rania mendengus.

__ADS_1


Malik tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat Rania. "Kamu memang gadis nakal!"


Sampai di rumah ...


"Kalian sudah pulang?" sapa Maharani yang berada di ruang keluarga.


"Mama belum tidur?" tanya Rania sambil memeluk Maharani yang duduk di kursi rodanya.


"Belum sayang ... Mama masih ada sedikit urusan," jawab Maharani setelah Rania melepaskan pelukannya.


"Malik ... kenapa penampilan kamu berantakan seperti itu? Kamu habis ngapain?"


"Tanya saja gadis nakal itu Mah, dia mengerjai ku tadi," jawab Malik asal.


Rania melotot ke arah Malik. "Memangnya apa yang aku lakukan?" tanyanya tanpa dosa.


"Kalian sudah makan?" sela Maharani.


"Sudah," jawab Rania.


"Belum," jawab Malik.


Maharani hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan calon menantunya.


"Malik, mandi dan bersihkan badanmu lalu makan! kamu gadis kecil temani Malik makan!" perintah Maharani.


"Baik Mah," jawab Rania.


"Mamah tidak menyuruhnya memandikan aku?"


"Jangan coba-coba Anak nakal!!!" gertak Maharani. Malik bergegas ke kamarnya.


"Ya sudah ... Mama pergi dulu." Maharani pergi meninggalkan ruangan di dorong oleh pelayan pribadinya.


Sementara itu di kediaman Barra,


"Barra kamu kenapa? Kamu berkelahi dengan siapa sampai wajahmu berantakan seperti itu?" tanya Hanna.


"Aku tidak apa-apa. Bagaimana si cantik? Apa dia rewel?" tanya Barra langsung menghampiri boks bayi anaknya terbaring. Hanna yang tadi meradang melihat penampilan Barra pun luluh. Dia memang bukan suami yang baik, tapi sebagai ayah dia sempurna.


Perhatiannya untuk putrinya sangat berlimpah. Tidak jarang Barra lah yang bergadang karena anaknya rewel sementara Hanna tidur lelap. Setiap kali di rumah, Barra lah yang fokus mengasuh anaknya mengganti popok, memandikan dan semuanya dan dia terlihat sangat menikmatinya.


Bagaimana kalau nanti dia tahu putriku bukanlah anaknya?


Hanna menatap Malik yang sedang menggendong anaknya haru. Bagaimanapun juga dia seorang ibu sekarang. Dia ingin yang terbaik untuk putrinya termasuk kasih sayang seorang ayah. Apalagi dia tidak tahu siapa yang telah menghamilinya. Saat tengah memandangi malik tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut bawah.


"Hanna ... Hanna ... " terdengar suara teriakan Affandi dari bawah. Suaranya semakin lama terdengar semakin dekat.


"Apa kamu sudah melakukan sesuatu? Kenapa Malik Hammani membatalkan undangan pernikahannya kepada keluarga kita?" Affandi sudah berdiri di pintu kamarnya.

__ADS_1


Hanna terlihat bingung karena tidak tahu maksud Papa nya.


__ADS_2