Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Kabur


__ADS_3

"Lihat sikapnya padamu! Mama masih bingung kenapa kamu masih mau bertahan dengannya?!" Herra mengungkapkan kekesalannya kepada Hanna tapi dengan suara yang sangat pelan.


Hanna diam tidak membalas kalimat sang Mama. Pandangannya pun kosong, tidak memperhatikan Alicia yang tengah bermain boneka di pangkuannya.


"Lebih baik kamu tinggalkan dia dan menikah dengan teman Mama," lanjut Herra.


Hanna menoleh ke arah Herra.


"Mama ingin menjual ku? Begitu maksud Mama?"


"Tapi kita bisa hidup layak jika kamu bersedia menikah dengannya. Mama sudah lelah hidup seperti ini, mau sampai kapan?"


"Jangan bicara sembarangan Mah, jika Barra mendengarnya dia bisa mengusir kita dan kita akan menjadi gelandangan."


Herra tertawa mendengar kalimat anaknya itu.


"Kita sudah menjadi gembel Hanna, tinggal selangkah lagi untuk menjadi gelandangan."


Hanna kembali membisu.


"Apa kamu tidak ingin kita hidup serba kecukupan seperti dulu? Kamu tidak ingin shopping, spa atau liburan?" Herra mulai meneteskan air matanya mengingat masa-masa ketika mereka masih memiliki segalanya.


"Mama capek Hanna... Mama tidak bisa hidup seperti ini lebih lama lagi... Mama tidak tahan... " lanjut Herra sambil menahan isaknya agar tidak terdengar oleh penghuni rumah yang lain.


"Lihat pakaian kita sekarang," Herra memandang dirinya sendiri dengan tatapan miris.


"Dulu Mama menyentuh kain seperti ini saja tidak mau," kenang Herra sambil kembali terisak.


"Bagaimana dengan Alicia?"


"Kenapa Alicia? Bukankah sekarang Barra membencinya? Dia tidak punya masa depan di tempat ini?"


Hanna kembali terdiam. Semua yang dikatakan Mamanya itu benar. Alicia tidak akan mendapatkan kehidupan yang layak jika dia tetap bersama Barra. Tapi dia juga tidak mau jika harus menikah dengan laki-laki yang usianya jauh darinya, bahkan bisa dibilang kakek-kakek.


Hanna tampak berpikir. Mungkin ini memang jalan satu-satunya agar dia bisa kembali hidup layak. Sementara karirnya sebagai artis media sosial telah hancur sejak Affandi di penjara.


"Aku sudah tidak seperti dulu Mah ... Lihat wajahku sekarang, aku jelek dan kusam. Mama yakin teman mama masih mau menikah denganku?" Hanna tersenyum miris sambil menatap kosong ke depan.

__ADS_1


Kalimat Hanna membuat Herra sadar jika Hanna sudah tidak cantik seperti dulu. Yang duduk di depannya sekarang hanyalah wanita biasa dengan penampilan dekil dengan rambut kusut dan daster kedodoran.


Tidak ada yang bisa dia banggakan lagi dari dirinya. Wajahnya yang dulu glowing sekarang gelap dan kusam. Jangankan untuk perawatan di salon, membeli krim wajah yang dijual di warung saja dia tidak mampu. Baju-bajunya sekarang pun hanya baju bekas yang di jual di pasar. Bersyukur dia masih bisa makan karena Widia memberinya uang dari hasil dari menarik uang kost. Itupun dia gunakan untuk belanja kebutuhan sehari-hari.


"Hanna..!!!" Terdengar Barra berteriak memanggil namanya. Hanna segera menyerahkan Alicia ke pangkuan Herra dan mendatangi Barra.


"Ada apa?!"


"Buatkan aku kopi!"


Hanna tidak segera melakukan perintah Barra. Dia hanya berdiri dan menatap laki-laki itu dengan tatapan dingin. Laki-laki yang tadinya menyelamatkan dia dari aib atas kehamilannya, sekarang justru menjerumuskan dirinya ke jurang kesengsaraan.


"Kenapa hanya berdiri daja di sana? Dan kenapa kamu menatapku seperti itu?!" Barra balik melotot ke arah Hanna.


"Kita kehabisan kopi!" jawab Hanna dingin.


"Beli di warung sana! Begitu saja harus di beri tahu!!" bentak Barra sambil membanting gelas kopi yang sudah habis di depan Hanna.


"Aku tahu itu, tapi mana uangnya?!" jawab Hanna tak kalah sewot. "Semuanya perlu uang Barra! Jangan cuma duduk dan minta dilayani jika kamu tidak punya uang! Carilah pekerjaan!!!"


"Kamu pikir siapa dirimu berani berkata seperti itu padaku?!"


"Aku istrimu Barra. Suka atau tidak suka aku masih sah sebagai istrimu jadi kamu berkewajiban untuk menafkahi aku dan anakku!"


"Kalau aku tidak mau bagaimana?!"


"Kalau begitu aku akan meminta cerai!!"


Barra tersenyum sinis mendengar jawaban Hanna.


"Memangnya kamu mau tinggal dimana jika bercerai dariku? Mau makan apa? Kamu dan ibumu sama sekali tidak punya kemampuan apa-apa!"


"Memangnya kamu pikir ada wanita lain yang mau denganmu selain aku?! Ingat Barra, kamu sudah tidak punya apa-apa, dan satu hal lagi... kamu juga mandul!!! Harusnya kamu bersyukur aku masih mau menerima mu!!"


Barra semakin mengeraskan cengkeraman tangannya hingga Hanna meringis kesakitan. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya.


"Berubahlah Barra... kita perbaiki hidup kita. Aku tidak ingin selamanya kita seperti ini ..."

__ADS_1


Barra melepaskan cengkeramannya dari tangan Hanna setelah mendengar kalimat Hanna. Dia mengusap wajahnya kasar.


"Apa selamanya kamu akan seperti ini?! Jangan menyalakan aku atas hancurnya hidupmu! Ini salah kita berdua dan juga ibumu! Jangan membebankan semuanya padaku seolah hanya aku sendiri yang punya andil dalam hancurnya hidup kita semua!"


"Plakk... !!!" Satu tamparan mendarat di pipi Hanna. Hanna sudah tidak meringis menahan sakit lagi karena dia sudah mulai terbiasa. "Diam kamu wanita tidak tahu diri!"


"Dengar Barra ... Sekarang aku memang bergantung padamu karena aku tidak punya tempat tinggal! Tetapi jika sikap kamu terus menerus seperti ini aku pun bisa meninggalkan kamu!"


Barra tersenyum sinis.


"Coba saja kalau berani. Kita lihat jadi apa kamu nanti!"


"Aku muak Barra! Aku sudah berusaha bertahan denganmu dengan kondisi yang paling buruk seperti ini tapi kamu tetap memperlakukan aku seperti binatang! Aku tidak peduli jika aku harus melacur untuk bisa menghidupi Alicia, yang penting aku tidak bersamamu!" balas Hanna dengan keberanian yang masih tersisa.


Barra tampak tertegun mendengar kalimat Hanna. Dia tidak menyangka Hanna seserius itu. Tadinya dia pikir Hanna hanya menggertak dia saja.


"Satu lagi Barra, jangan sampai kamu menyesal nanti! Karena jika aku pergi maka kamu akan sendirian mengurus ibumu yang penyakitan itu! Nikmati masa tuamu nanti dalam kesepian karena tidak akan ada wanita yang mau dengan laki-laki kasar seperti kamu!"


Hanna berlari ke kamarnya. Dia kemasi barang-barangnya yang tidak seberapa banyak lalu dia temui ibunya.


"Kita pergi dari sini Ma, aku sudah tidak tahan lagi! Kemasi barang-barang Mama," ucap Hanna sambil menarik Alicia dari gendongan Mamanya.


"Kita mau kemana Hanna?"


"Tidak tahu, yang penting kita tidak di rumah ini lagi. Cepatlah Ma, nanti kalau Barra lihat dia bisa menghajar ku," ucap Hanna sambil mengintip keluar lewat jendela.


"Mungkin mama benar, aku akan menikah dengan teman Mama. Jadi istri siri, simpanan, atau istri ketiga tak masalah. Atau Mama mau menjualku ke germo, aku tidak peduli! Yang penting kita tidak menderita lagi."


Herra tersenyum. Bergegas dia kemasi barang-barangnya.


"Mama senang akhirnya pikiranmu terbuka."


"Aku akan melihat ke depan apakah Barra masih ada di sana atau tidak."


Akhirnya Hanna dan Herra membawa serta Alicia meninggalkan rumah itu. Entah apa yang mereka nanti akan lakukan untuk bertahan hidup, yang jelas mereka sudah tidak ingin berurusan dengan Barra lagi.


Sementara Barra tetaplah Barra. Dia tidak pernah bisa belajar dari pengalamannya dan kebodohannya. Dia lepaskan wanita yang mungkin menjadi wanita terakhir yang mau mendampinginya, meski terpaksa.

__ADS_1


__ADS_2