Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Bunga!


__ADS_3

Barra dan Rania sudah kembali ke rumah mereka. Saat hendak menaiki tangga, Barra melihat ibunya sedang makan di ruang makan. Mungkin juga dia baru bangun tidur karena terlihat masih berantakan.


"Sayang, tolong ambilkan kertas rincian hutang kemarin, di kamar. Aku akan bicara dengan ibu sebelum dia pergi lagi," bisik Barra. Rania pun mengangguk.


Barra langsung berbelok menuju ruang makan sementara Rania langsung menuju kamar.


"Ibu ... Kita harus bicara!" ucap Barra tegas.


"Bicara apa? Kalau membicarakan masalah tadi pagi, aku tidak mau. Itu urusanku," jawab ibunya ketus.


"Baiklah, aku tidak akan mencampuri urusan pribadi Ibu. Ini masalah hutang ibu." Barra menahan diri.


"Hutang apa lagi sih?"


Kemudian Rania terlihat turun dan menghampiri Barra.


"Ini kertas yang kamu minta," ucapnya sambil menyerahkan kertas pembawa berita buruk itu kepada Barra. "Aku akan ke atas saja, aku tidak mau ikut campur."


Barra mengangguk.


Fokus Barra kembali kepada ibunya setelah Rania tidak terlihat.


"Tolong jelaskan padaku Bu, untuk apa ibu hutang sebanyak ini?" tanya Barra sambil menyerahkan kertas itu. Ibunya menerima kertas itu, kemudian membuka dan membaca isinya.


"Apa ini Barra?"


"Kenapa ibu bertanya padaku?! Harusnya ibu yang menjelaskan padaku apa itu?!"


"Tapi aku tidak mengerti apa ini!"


"Itu rincian hutang ibu!" bentak Barra. "Ibu tidak tahu apa pura-pura tidak tahu?! Buat apa uang sebanyak itu Bu?!!" Barra mulai emosi. Ibunya bersikap seolah-olah dia tidak tahu apa-apa.


"Hutangku? Aku memang punya hutang tapi tidak sebanyak ini!!"


"Ibu masih mau mengelak?"

__ADS_1


"Tapi aku memang tidak hutang sebanyak ini." Ibunya tetap tidak mau mengakuinya.


"Apa ibu tahu mereka akan menyita rumah ini dan memasukkan Ibu ke penjara kalau ibu tidak melunasinya dalam waktu satu bulan?"


"Apa??? Aku tidak salah dengar???" Sepertinya ibunya memang tidak tahu apa-apa tentang itu.


"Ibu mendengar ku dengan jelas!!! Mereka akan menyita rumah ini dan juga akan memasukkan ibu ke penjara jika ibu tidak melunasinya dalam waktu satu bulan!! Ibu dengar?!!"


"Tapi tidak ada perjanjian seperti itu sebelumnya!"


"Tapi sekarang ada. Buktinya ada ditangan ibu!!" ucap Barra kasar. "Jadi tolong jelaskan padaku untuk apa uang sebanyak itu dan sekarang ada di mana uangnya?!! Apa benar yang ibu katakan tadi pagi kepada wanita hamil itu? Ibu menggunakannya untuk membiayai hidup laki-laki yang sedang dekat dengan ibu itu?!!!" Barra terus membentak ibunya. Selama ini dia terus menahan sabar menghadapi kelakuan ibunya tapi kali ini kelakuan ibunya sudah melampaui batas.


"Eh ... itu memang aku bersamanya, tapi ... " Ibunya sedikit ragu menjelaskannya.


"Kenapa Bu? Apa ibu masih ingin bilang aku tidak usah mencampuri urusan pribadi Ibu? Bagaimana jika hutang-hutang ibu ini aku anggap urusan pribadi ibu? Jadi aku tidak perlu pusing memikirkan bagaimana cara melunasinya?! Bagaimana Bu?? Apa ibu mau?!!!"


"Barra ... kamu tidak boleh seperti ibu pada ibu ..."


"Atau aku biarkan saja ibu dipenjara karena ibu sudah berulangkali menyuruhku untuk tidak mencampuri urusan pribadi ibu? Bukankah hutang ini urusan pribadi ibu, kan ibu menggunakannya untuk bersenang-senang dengan kekasih ibu?" sindir Barra.


"Sekarang tolong jelaskan bagaimana ibu bisa punya hutang sebanyak itu. Ibu tahu? Bahkan jika aku menjual rumah ini dan seluruh aset-aset yang kita punya pun belum bisa untuk melunasi hutang ibu."


Ibunya mulai bicara. Dengan gamblang dia menjelaskan hutang-hutangnya, dia gunakan untuk apa, tanggal berapa saja, dan berapa jumlahnya.


"Apa ibu jujur?" tanya Barra setelah ibunya selesai bercerita. "Jadi benar yang dikatakan Bu Sandy."


"Iya ... tidak ada yang ibu tutupi lagi."


"Lalu kenapa disini jumlahnya beda dengan yang ibu sebutkan?" tanya Barra sambil menunjuk tulisan-tulisan yang ada di kertas tadi.


"Ibu juga tidak tahu. Yang jelas hutang ibu tidak sebanyak itu, makanya ibu santai saja. Ibu juga tidak tahu jika mereka akan menyita rumah ini dan ingin memasukkan ibu ke penjara."


"Setelah ini kita pergi ke tempat ibu meminjam uang. Minta penjelasan kenapa hutang ibu tertulis sekian di kertas ini padahal hutang ibu tidak segitu jumlahnya."


"Baiklah, akan aku tanyakan itu."

__ADS_1


"Satu lagi Bu, Sudahi hubungan ibu dengan laki-laki beristri itu. Dia hanya menginginkan uang dari ibu dan ibu menurutinya. Sekarang ibu sudah lihat hasilnya seperti ini."


"Kalau saja uang itu ibu gunakan untuk keperluan lain mungkin aku tidak akan semarah ini. Tapi ibu menggunakannya untuk judi? check in di hotel? pulang pergi ke luar negeri hanya untuk berjudi?!!!" Barra menghembuskan nafasnya kasar. Rasanya dia sudah kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan kekesalannya pada ibunya.


Ibunya terlihat ingin menjawab kata-kata Barra, tapi dia urungkan.


"Kalau memang hutang ibu tidak sebanyak yang tertulis di kertas itu seperti yang ibu katakan tadi,!!!!!! mungkin kita bisa menjual peninggalan ayah, dan sisanya akan aku usahakan. Tapi kalau hutang ibu ternyata memang sebanyak itu, aku tidak tahu harus mencari uang kemana lagi."


"Tolong Ibu Barra, ibu tidak mau dipenjara."


"Aku akan istirahat sebentar, ibu bisa bersiap-siap dulu. Setelah itu kita pergi ke sana."


"Baiklah," jawab ibunya pasrah.


* * *


Barra memasuki rumah dengan wajah yang terlihat gusar. Sejak tadi di dalam mobil di sudah uring-uringan. Ingin sekali dia memaki-maki ibunya tapi dia tahan.


"Sekarang ibu puas? Ibu sudah menghancurkan hidupku, kerja kerasku!"


Ibunya hanya bisa tertunduk.


"Ibu dengar sendiri tadi? Jumlah yang tertera di kertas ini adalah jumlah hutang ibu beserta bunganya! Bunga Ibu ... bunga!!! teriak Barra. "Ibu pinjam uang ke rentenir?!!! Apa ibu tidak berpikir dulu sebelumnya?!!" Barra masih berteriak. Saat ini ibunya benar-benar ketakutan. Barra belum pernah terlihat semarah ini sebelumnya, apalagi sampai berkali-kali berteriak padanya.


"Aku tidak tahu kalau bunganya akan sebanyak itu. Maafkan Ibu Barra ... " Ibunya mulai menangis.


"Ini rumahku ibu, hasil kerja kerasku! Mobil, tabungan, deposito dan barang-barang ku yang lain semuanya harus aku jual untuk melunasi hutang ibu! Bahkan aku belum sempat menebus mobil Rania dari Bu Sandy!!!"


"Mereka tidak main-main dengan ancaman mereka Bu, mereka bisa bertindak semau mereka sendiri!! Sekarang ibu sudah tahu apa yang ibu hadapi?!!"


"Ibu tidak mau di penjara Barra, tolong Ibu ... Ibu minta maaf ... Sekarang Ibu tahu Ibu salah." Air mata sudah membanjiri pipi ibunya.


"Bukannya menakut-nakuti ibu, tapi kalau kita tidak bisa melunasinya, mungkin setelah ibu keluar penjara kita sudah menjadi gelandangan karena tidak punya rumah dan semua harta kita sudah kita jual, dan itupun baru bisa membayar setengah dari hutang ibu."


"Ibu akan coba meminta kembali pada Deni apa yang sudah ibu berikan padanya." Barra tidak menggubris perkataan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2