
Beberapa bulan kemudian ...
Rania sedang berjalan di lorong sebuah supermarket. Dia sedang belanja kebutuhan rumah bersama sang calon mertua dan salah seorang pelayan. Sekarang dia sudah tinggal satu rumah bersama Maharani dan Malik meskipun dia belum menikah dengan Malik. Mereka tinggal menghitung hari sampai hari bahagia itu tiba.
Memang proses perceraian Rania sedikit lama karena Barra membuatnya sulit. Beberapa kali dia mencoba menemui Rania tapi Rania tidak bersedia. Dan Rania belum pernah lagi bertemu dengan Barra setelah terakhir di restoran itu.
Rania sedang memilih buah-buahan saat tak sengaja tangannya menyenggol seseorang.
"Maaf ya mbak, saya nggak sengaja," ucap Rania.
"Nggak apa-apa Bu," jawab orang itu. Rania seperti mengenal suaranya.
"Mbak Imah?" sapa Rania.
"Eh ... Bu Rania, Ibu apa kabar?" balas Imah.
"Aku baik, mbak Imah gimana? Masih kerja di rumah ... itu?" Rania kesulitan menyebutkan rumah lamanya.
"Iya Bu."
"Bagaimana kabar mereka?" tanya Rania berbasa-basi.
"Begitulah Bu ... Beda sama ibu. Auranya serem sekarang."
"Mbak Imah ini udah kaya kerja di rumah hantu saja, dibilang serem," gurau Rania.
"Sekarang saya cuma disuruh melayani Bu Hanna, Beliau kan sudah melahirkan, jadi sya disuruh fokus sama Bu Hanna saja."
"Benarkah?" Rania tidak percaya. " Hanna sudah melahirkan?" Imah mengangguk. " Rasanya belum lama ..." gumam Rania.
"Bi Yani juga kerja bareng Mbak Imah lagi?"
"Enggak Bu, saya sendiri."
"Terus yang ngerjain pekerjaan rumah siapa kalau mbak Imah hanya melayani Hanna?"
"Pekerjaan rumah dikerjakan Bu Widia."
"Benarkah?!" Rania kembali terkejut. Mantan mertua yang dulu tinggal perintah-perintah saja sekarang harus mengerjakan pekerjaan rumah. Apa mungkin?!
"Bapak yang memberi perintah seperti itu?"
"Bukan Pak Barra yang ngasih perintah, tapi Bu Hanna. Di rumah, semua orang tunduk sama Bu Hanna."
"Ooo ... begitu... "
"Ya sudah Bu, saya harus cepat-cepat, nanti kalau saya kelamaan Bu Hanna bisa marah."
"Iya mbak Imah, hati-hati." Rania masih terheran-heran mendengar sedikit cerita Imah tadi. Masa iya mertuanya mau mengerjakan pekerjaan rumah?
"Gadis kecil ... Kamu ingin membeli yang lain lagi?" tanya Maharani mendekat didorong oleh pelayan setianya.
"Enggak Mah ... sudah," jawab Rania. Maharani secara resmi memintanya memanggil Mama.
"Setelah ini kamu dan Malik harus fitting baju pengantin kan?"
Rania mengangguk. "Mama ikut kan?"
__ADS_1
"Tidak, Mama sudah capek. Mama di rumah saja."
* * *
Di ruang keluarga di kediaman Malik.
"Nanti kamu ikut aku ya ... "
"Kemana?" tanya Rania sambil mengelus rambut Malik yang kini menyandarkan kepalanya dia pangkuan Rania.
"Menjenguk putrinya Affandi."
"Affandi siapa?"
"Affandi yang waktu itu kita bertemu di restoran, kamu bilang kamu sedang membuat kesepakatan dengannya."
"Oh ... maksudmu kamu mau menjenguk Hanna?"
"Iya, dia habis melahirkan. Kita harus memberikan kado."
"Malik ... Apa kamu yakin?"
"Kenapa?"
"Nanti aku bertemu Barra."
"Kok bisa?"
"Kok bisa gimana? Dia kan istrinya Barra sekarang?!"
"Ya Tuhan ...!!! Aku sampai lupa. Maafkan aku ..." Barra segera duduk dan menciumi tangan Rania.
Rania mendorong tubuh Malik.
"Kamu yang minta maaf, kamu juga yang menang banyak!" gerutu Rania.
"Iya ... maaf," ucap Malik lagi sambil mengecup bibir Rania.
"Nah kan ... main sosor nggak ijin dulu!" mendorong tubuh Malik lagi. Rania cemberut tapi hatinya gembira.
Malik terkekeh.
"Kita kirim kado sekalian undangan pernikahan kita."
"Kamu juga akan mengundang mereka?"
Malik mengangguk.
"Malik ... Sebenarnya apa hubungan kamu dengan Affandi?"
"Aku? dengan Affandi? Tentu saja kami tidak ada hubungan apa-apa. Apa kamu menuduh ku selingkuh dengannya? Aku ini masih normal!" jawab Barra bersungut-sungut.
Rania menepuk jidatnya. "Maksudku kenapa kamu sampai harus memberi kado untuk cucunya?"
"Oh ... itu ... " Malik menggaruk-garuk kepalanya setelah menyadari kekonyolannya.
"Kamu lagi mikirin apa sih? Kenapa aku ajak ngomong nggak fokus gini?"
__ADS_1
"Aku lagi mikir mau undang mantan suamimu itu atau tidak. Aku takut kamu jatuh cinta lagi sama dia. Kamu dulu kan bucin sama dia." Malik merubah wajah tampannya menjadi cemberut.
Rania tertawa. "Apa bocah tua nakalku ini sedang cemburu?" goda Rania.
"Siapa yang cemburu?"
"Nggak cemburu nih?" Rania semakin menggodanya.
"Nggak!"
"Yakin?"
"Yakin!" jawab Barra mantab.
"Ya udah, kalau gitu nanti malam kita datang ke rumah mereka ngasih kado sekalian nganter undangan," tantang Rania.
"Oke ... Siapa takut?!"
* * *
Rania dan Malik berdiri di depan rumah Barra. Rania memandangi rumah itu dan terlihat ragu. Ada beberapa mobil lain terparkir di halaman yang artinya sedang ada tamu lain di dalam.
Rania melihat ke depan pintu, tempat dimana dia tersungkur dan jatuh karena Barra mendorong tubuhnya malam itu. Rania ingat betul bagaimana dia memunguti tas dan kopernya yang Barra lempar di halaman rumah itu.
Tanpa sadar matanya berkaca-kaca. Dia kembali teringat malam kelam dimana dia kehilangan bayinya.
Malik memeluknya. "Kamu tidak apa-apa? Kalau tidak mau kita bisa pulang."
"Aku harus bisa. Aku harus siap menghadapinya."
"Kamu kuat gadis nakal! Ada aku di sampingmu." Malik mencium kepala Rania. "Kita masuk?"
Rania mengangguk.
Mereka berdua langsung masuk karena sejak tadi pintu depan sudah terbuka.
"Selamat malam," ucap Barra. Semua mata yang sedang berada di ruang tamu langsung menoleh ke arahnya.
"Tuan Malik?" sambut Affandi.
Ada beberapa orang lagi di ruang tamu, mungkin mereka semua adalah rekan bisnis Affandi. Ada pula Barra yang langsung mematung begitu melihat Rania. Matanya tidak berkedip menatap wajah cantik Rania. Rambut panjang yang digerai, ditambah gaun berwarna maroon yang membalut sempurna tubuhnya, Rania terlihat seperti Barbie hidup. Sudah tidak ada lagi daster lusuh dan wajah kusam tidak sempat perawatan.
"Aku dan calon istri ku membawa kado untuk cucu anda."
"Terima kasih Tuan Malik, anda tidak perlu repot-repot."
"Nona Rania ... " Affandi mengangguk pada Rania "Silahkan bergabung dengan para ibu-ibu di atas." Mungkin yang dimaksud ibu-ibu adalah para istri bapak-bapak ini.
"Sayang ... Bawa kado itu ke atas, kamu bisa menyerahkannya langsung kepada putri tuan Affandi."
Rania mengangguk dengan anggun. "Saya permisi."
Rania melangkahkan kakinya menyusuri tangga. Dengan pelan dia naiki satu persatu anak tangga. Dia ingat lagi setiap penderitaan yang dia terima selama di rumah ini. Telinganya terngiang-ngiang suara mertuanya yang sedang mencacinya dan mengatainya perempuan mandul. Rania terus melangkahkan kakinya pelan. Dia tidak mempedulikan Barra yang sejak tadi terus menatap wajahnya.
Pintu kamar terbuka, Rania langsung saja masuk.
"Selamat malam," sapanya formal.
__ADS_1
Ibu-ibu yang ada di dalam kamar menoleh ke arah Rania sebentar kemudian mengacuhkannya. Sebenarnya Hanna terlihat kesal melihat kedatangan Rania, tapi dia menyembunyikannya karena ada Mamanya dan juga ibu-ibu istri dari rekan kerja Papanya.