Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Pesta


__ADS_3

"Pah ... Jangan keras-keras ngomongnya. Barra sedang menidurkan si kecil," bisik Hanna mengalihkan Affandi agar tidak memperhatikan wajah Barra.


"Apa maksud Papa?" Hanna kembali berbisik.


"Malik membatalkan undangan pernikahannya untuk keluarga kita. Hanya keluarga kita saja yang dibatalkan!!" Affandi menekankan kalimatnya. "Apa kamu melakukan sesuatu yang menyinggung perasaannya atau tunangannya?"


Hanna menoleh ke arah Barra yang sedang memunggungi mereka. Dia mencoba menghubungkan luka-luka di wajah Barra dan cerita Papa nya.


"Kita bicara di bawah saja Pah," ajak Hanna. Lalu mereka berdua meninggalkan kamar.


Setelah beberapa lama Hanna kembali ke kamar. Dia menemukan bayinya sudah tertidur pulas di pangkuan Barra.


"Apa kamu berkelahi dengan Malik?" tanya Hanna tanpa basa basi. Barra tidak menjawab. Matanya terus memandangi bayi mungil yang berada di pangkuannya.


"Barra! jawab Aku! Apa kamu berkelahi dengan Malik?!"


"Sssttt ... " Barra berdiri dan meletakkan bayi yang sedang terlelap itu ke dalam boksnya. Setelah itu dia menghampiri Hanna.


"Iya ... Tadi aku ada sedikit salah paham dengannya."


"Soal apa? Mantan istri mu?" Barra kembali diam.


"Kamu masih mencintainya?!"


"Tidak, bukan itu. Aku hanya tidak terima mereka tidak memberi tahu aku jika Rania keguguran." Barra tidak menceritakan kejadian sebenarnya.


"Benarkah? Rania keguguran? Pantas saja badannya masih bagus begitu," gumam Hanna.


"Iya ... Rania keguguran malam itu. Malam aku mengusirnya keluar dari rumah ini."


Hanna terlihat menyesal. Melahirkan dan merawat anak telah membuat sudut pandangnya berubah. Bagaimanapun juga dia sekarang seorang ibu yang takut kehilangan anaknya.


"Benarkah yang dikatakan Papa? Mereka membatalkan undangan mereka?" Barra balik bertanya.


"Iya, dan kurasa kamu tahu alasannya," sindir Hanna.


"Itukan hanya undangan pernikahan? Kenapa Papa sampai segusar itu hanya gara-gara laki-laki itu membatalkan undangannya?"


"Itu sangat penting! Papa bisa kehilangan kredibilitas nya di kalangan pengusaha jika sampai tidak diundang. Meraka akan menganggap jika keluarga Hammani sudah ... " Hanna tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia takut keceplosan mengatakan jika Papa nya hanyalah seorang asisten.

__ADS_1


"Sudah apa?"


"Lupakan saja ... Lain kali, sebaiknya kamu bersihkan badanmu dulu sebelum menyentuh si kecil." Hanna berlalu dari hadapan Barra.


* * *


Hari yang dinanti telah tiba. Setelah siang harinya mereka melakukan prosesi pernikahan, acara pesta di gelar malam hari di kediaman Malik, dengan konsep garden party. Taman yang sejak awal sudah penuh bunga bermekaran karena sang Mama rajin merawatnya menjadi semakin indah dengan lampu-lampu temaram dekorasi dari wedding organizer.


Rania sedang duduk di depan cermin memandangi dirinya. Wajahnya yang berseri ditambah sentuhan make up oleh perias profesional membuatnya terlihat cantik. Rambut panjangnya di sanggul sehingga memperlihatkan leher jenjangnya serta gaun putih yang melilit sempurna tubuhnya menambah kesan anggun pada diri Rania.


"Kamu benar-benar cantik," suara Malik membuyarkan lamunan Rania. Dia ikut memandangi Rania lewat pantulan cermin. Dipeluknya Rania dari belakang, dan dia benamkan hidungnya di leher jenjang Rania.


"Apa yang kamu pikirkan?" mengecup leher Rania. "Kamu sangat cantik. Apa yang membuat melamun?"


"Malik ... " Rania ragu-ragu mengatakannya.


"Kenapa kamu masih mau menerimaku? Aku bukan perawan. Maksudku, aku sudah pernah menikah, aku seorang janda. Kamu bisa memilih wanita yang lebih segalanya dibandingkan aku." Wajah Rania berubah sendu.


Malik melepaskan pelukannya. Dia putar tubuh Rania hingga sekarang posisi mereka saling berhadapan.


"Seandainya kamu tahu aku tidak perjaka kamu tidak mau menerima ku? Apa seandainya kamu tahu aku pernah berhubungan dengan dengan wanita lain sebelumnya, kamu juga tidak mau menerimaku?"


Mata Rania berkaca-kaca.


"Jangan menangis gadis nakal! Kamu bisa merusak riasanmu," ledek Malik.


Rania tersenyum, tapi air matanya justru menetes tak tertahan. Dengan penuh kasih Malik mengusap air mata itu. Dia peluk lagi pujaan hatinya itu.


"Kamu gadis nakal, kenapa jadi cengeng begini?" Rania terdiam tidak bisa mengeluarkan kata-kata. "Para tamu sudah menunggu," bisik Malik.


Setalah tangisnya reda Rania melepaskan pelukan Malik. Dia mengambil tisu untuk membersihkan wajahnya dari sisa air matanya. Kemudian bercermin untuk melihat kembali riasannya. Setelah itu dia kembali pada Malik.


"Aku sudah siap," ucapnya tanpa berani menatap mata Malik.


Malik mengangkat dagu Rania. "Senyum dulu," godanya.


Tapi Rania yang justru mengerucutkan bibirnya yang membuat Malik semakin gemas.


Tunggu sampai nanti selesai pesta, bibir itu pasti habis aku ***** dan yang lainnya juga. Pikiran Malik sudah kemana-mana dan matanya sudah tidak fokus pada tempatnya.

__ADS_1


"Kenapa melotot seperti itu?" judes Rania setelah menyadari tatapan mata Malik mengarah pada dua gundukan bulatnya.


"Kenapa? Aku kan memandangi tubuh istriku sendiri? Lagian aku juga sudah pernah melihat isinya," gerutu Malik.


"Apa kamu juga melotot seperti itu pada pasien-pasien mu?" tanya Rania sambil mencubit perut Malik.


"Mana Ada?? Pasienku datang pasti menunjukkan penyakitnya, bukan datang-datang menunjukkan itunya." Malik menunjuk dada Rania.


"Kalian ini malah pada ngapain sih, ayo ... tamu-tamu sudah pada nungguin tuh," Maharani tiba-tiba muncul di depan pintu kamar.


Wajah Rania langsung memerah. "Iya Mah."


Rania berjalan anggun digandeng Malik yang berjalan dengan gagahnya menyusuri jalan setapak menuju taman. Tidak banyak tamu yang diundang, mungkin hanya puluhan orang saja dan rata-rata adalah keluarga dekat dan rekan Dokter dari rumah sakit tempat Malik bertugas. Hampir semuanya terpesona melihat pasangan ini.


Tak terkecuali orang tua Rania yang datang dari luar kota. Mereka hanya bisa tersenyum bahagia melihat putrinya menikahi untuk yang ke-dua kalinya. Mereka tidak mengetahui derita apa yang telah dialami anaknya selama ini. Yang mereka tahu Rania berpisah dengan suaminya terdahulu karena tidak kunjung dikaruniai momongan.


Suasana semakin syahdu tatkala suara musik mengalun pelan mengiringi langkah mereka memasuki taman. Semuanya begitu terbuai dengan suasana yang terasa seperti di negeri dongeng. Hingga tidak ada yang menyadari jika seseorang telah menyelinap dan memasuki tempat acara berlangsung.


Satu persatu tamu mulai menyalami dan memberi selamat kepada Malik dan Rania. Tapi kemudian Malik meninggalkan Rania bersama Maharani karena beberapa rekan rumah sakitnya mengajaknya ngobrol.


Rania mendorong kursi roda Maharani mendekati orang tuanya. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya jadi Rania memperkenalkan mereka. Maharani menyambut ramah orang tua Rania dan mereka pun ngobrol.


Rania meninggalkan orang tuanya bersama Maharani ketika melihat Dewi datang. Dia sambut satu-satunya sahabatnya itu dengan senang.


"Selamat ya Ran, akhirnya kamu menemukan kebahagiaanmu. Semoga langgeng sampai maut memisahkan."


"Terima kasih Dew, kamu yang paling mengerti bagaimana jatuh bangun hidupku." Mereka berpelukan.


"Nikmati hidangannya, aku ke belakang sebentar," ucap Rania meninggalkan Dewi bersama tamu-tamu yang lain.


Setelah beberapa saat Rania tak kunjung kembali ke tempat pesta berlangsung.


"Dew, kamu lihat Rania nggak? Aku cari-cari kok nggak kelihatan," tanya Malik.


"Tadi sih bilang ke aku mau ke belakang sebentar. Tapi sampai sekarang nggak balik-balik."


Malik terlihat khawatir.


"Aku susul ke belakang deh," ucapnya kemudian.

__ADS_1


__ADS_2