Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Lewat Tengah Malam


__ADS_3

Barra membuka pintu kemudian melemparkan ponsel Rania. Beruntung Rania bisa menangkapnya hingga ponsel itu tidak jatuh ke lantai dan dan rusak.


"Barra ...!" Teriak Rania. Barra kembali membanting pintu dan mengunci Rania di luar.


"Jam dua malam," gumam Rania setelah dia melihat jam di ponselnya. Dia memandangi dirinya sendiri dan sekelilingnya. Masih memakai baju tidur dan Koper di samping kanan kirinya Rania tidak tahu mau kemana.


Dia gedor lagi pintu rumahnya.


"Barra ... Buka pintu! Ijinkan aku menginap malam ini saja. Ini sudah lewat tengah malam!" teriak Rania.


Tapi tidak ada sahutan dari dalam. Rania kembali menggedor pintu, tapi tetap saja nihil. Rania tidak menyerah. Dia akan tetap menggedor pintu itu sampai ada yang membukanya.


Akhirnya pintu terbuka. Bukan Barra, melainkan Hanna dan mertuanya yang berada di balik pintu. Mereka berdua tersenyum penuh kemenangan melihat Rania.


"Bagaimana? Kamu mau bermain-main denganku? Belum apa-apa aku sudah bisa menyingkirkan kamu dari rumah ini!" ucap Hanna sinis.


"Jadi kamu yang melakukannya? Menyuruh orang untuk memata-matai aku?!"


Hanna hanya tertawa.


"Huss ... huusss sana! Pergi dari sini! Barra sudah mengusir mu dari sini." Hanna mengusir Rania dengan tangannya seakan Rania adalah hewan kotor yang membawa penyakit menular.


"Asal kamu tahu ya Rania, Barra baru saja melamar ku di depan Papa ku. Dan kami akan menikah secepatnya. Tadi kami juga langsung ke hotel tempat nanti di gelar acara resepsi." Hanna bicara sambil melihat-lihat cincin yang sekarang terselip di jari manisnya. Dia sengaja mengangkat tangannya agar Rania melihat cincin itu.


Tadinya Rania ingin minta diijinkan menginap malam ini saja, baru besok pagi dia akan keluar dari rumah ini. ini sudah terlalu larut untuknya keluar dan mencari tempat tinggal. Tapi melihat tingkah Hanna, dia urungkan niatnya. Dia tidak mau mengemis agar dibiarkan tinggal lebih lama lagi.


"Harga diri!!" seru Rania kepada dirinya sendiri. "Lihat bagaimana aku membalas kalian nanti!" Rania pergi meninggalkan rumah itu. Masih mengenakan baju tidur, dia berjalan sambil menarik koper dan membawa beberapa tas lain.

__ADS_1


Mungkin dulu Rania akan menangis memohon pada Barra agar diijinkan tinggal. Mungkin dia juga akan minta maaf karena telah bertemu laki-laki lain tanpa seizin dia. Tapi tidak sekarang. Rania tidak akan menangis karena Barra dan perlakuannya padanya. Entah pengaruh hormon atau bukan, yang jelas dia tidak takut apapun selain kehilangan bayinya.


Rania menyusuri jalan sendirian. Entah kenapa beberapa kali driver taksi online yang dia dapatkan membatalkan pesanannya. Mau tidak mau Rania harus berjalan kaki.


Sudah jam tiga lebih, itu artinya Rania sudah berjalan kaki selama satu jam lebih. Dan dia juga belum tahu mau kemana. Dia merasa lemas dan kakinya juga sangat pegal. Rania berhenti dan hendak duduk di trotoar. Dia sangat kehausan, sejak tadi berjalan dia tidak menemukan satupun toko yang buka 24 jam untuk mendapatkan minuman. Saat akan duduk, tiba-tiba dia merasakan nyeri yang luar biasa di perut bagian bawahnya. Terasa sakit sekali, rasanya seperti kram perut yang sangat parah.


Rania memaksakan dirinya untuk duduk. Dia tidak tahu apakah mungkin perutnya kram atau mungkin ini akibat dia berjalan terlalu lama. Rania membuka ponselnya dan berniat menghubungi Dewi. Tapi kemudian dia teringat jika Dewi sudah berangkat ke luar kota.


Perut Rania terasa semakin sakit. Sambil meringis menahan sakit dia membuka satu persatu nomor telepon yang ada di handphonenya yang mungkin bisa dia mintai pertolongan. Rania berhenti ketika membaca nama "Maharani".


Dia buka nomor itu dan dia lihat foto profilnya. Seorang wanita yang dia rasa sangat familiar tapi dia lupa siapa.


Rania ingat-ingat lagi, "Maharani ... Tante Maharani ... Mamanya Malik! Ini nomornya Malik. Kenapa aku sampai lupa!" Rania terlihat lega.


Dia segera menelfon nomor itu. Sudah cukup lama tapi belum juga diangkat. Dia mencoba menelfon nya lagi. Ini sudah hampir pagi, pasti Malik sedang tidur. Rania tidak menyerah. Dia mencoba menghubungi nomor itu lagi. Dan tidak berapa lama langsung di jawab.


"Halo ..." Suara Malik diseberang telfon terdengar malas. Mungkin dia juga sambil menutup matanya saat menerima telfon ini.


"Rania?" Suara Malik langsung terdengar jelassetelah mendengar siapa yang menelfon.


"Jam berapa ini? Kenapa kamu menelfon ku tengah malam begini? Oh ... Ini bahkan hampir pagi! Kamu kenapa? Ada apa?"


Malik langsung khawatir. Tidak mungkin tidak terjadi apa-apa jika Rania sampai menelfon dirinya jam segini.


"Boleh aku minta bantuan mu?"


"Katakan ada apa?"

__ADS_1


"Maukah kamu menjemput ku? Aku diusir dari rumah." Suara Rania lemah karena menahan sakit.


"Katakan kamu dimana?" Aku jemput sekarang."


"Aku tidak tahu ada dimana, tapi aku akan mengirimkan lokasimu padamu."


"Baiklah! Kirimkan sekarang. Aku langsung ke sana."


"Malik ... Kalau bisa secepatnya ya ..."


"Iya ... kamu tunggu aku."


Rania menutup telfonnya. Dia mengirimkan lokasinya sekarang pada Malik agar dia bisa segera menjemputnya.


Wajah Rania semakin lama semakin pucat. Sebisa mungkin dia menahan rasa nyeri yang luar biasa di perutnya dan mencoba tetap sadar sampai Malik datang. Beruntung sejak tadi dia tidak bertemu preman ataupun orang yang berniat jahat.


Dia pikir lagi bagaimana Barra bisa kalap hanya dengan melihat foto-fotonya bersama Malik. Apalagi kalau dia sampai tahu bahwa anak yang dia kandung adalah anak Malik. Rania jadi tidak sabar melihat bagaimana reaksinya nanti jika dia mengetahui bahwa dirinya mandul.


Tapi tidak sekarang, belum waktunya. Akan aku biarkan kalian hidup tenang dulu, nikmati apa yang kalian bisa nikmati. Akan ada waktunya kalian terlunta-lunta di jalanan seperti yang aku rasakan sekarang! Aku hanya akan fokus ke anakku dulu sekarang! Rania mengepalkan tangannya. Dia menahan sakit juga menahan dendam di hatinya.


Rania semakin lemas. Rasanya dia ingin berbaring di sana, di pinggir jalan seperti gelandangan. Tapi dia takut jika tiba-tiba ada orang yang berniat jahat padanya ketika dia tidak sengaja tertidur di sana.


Rania melihat ada mobil melambat dari arah kanannya dan berhenti tepat di depannya. Lalu seseorang turun dan berlari ke arahnya, dengan baju tidur sama seperti dirinya.


"Malik .... "Rania tersenyum lega walaupun tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang pucat.


Malik segera memeluk Rania. "Apa yang terjadi padamu?" tanya Malik sambil mengusap lembut pipi Rania.

__ADS_1


Rania pasrah menyandarkan tubuhnya di pelukan Malik. Aroma mint itu kembali lagi. Seketika Rania merasa tenang dan damai. Dia merasa sudah menyandarkan dirinya kepada orang yang tepat.


"Aku lemas sekali, dari tadi perutku sakit," jawab Rania dengan mata terpejam di pelukan Malik.


__ADS_2