
"Malik ... hentikan!" Rania mencoba menghentikan Malik yang masih terus menciumi lehernya. "Aku sudah bersuami ... Mmmph ... " Malik justru kembali ******* bibir Rania. Malik mencium bibir Rania dengan lembut hingga membuat Rania terbuai. Kenangan akan masa-masa indahnya dulu bersama Malik membuatnya semakin menikmati ciuman ini.
Mengetahui Rania menikmati ciumannya, Malik menjadi semakin berani. Tangannya sudah bergerilya menjelajahi tubuh Rania. Sementara itu Rania sudah tidak bisa berpikir jernih, dia lupa statusnya yang masih sah sebagai istri Barra. Dia terbuai oleh sentuhan lembut dari tangan dan bibir Malik yang dulu sudah pernah dia rasakan.
Tak perlu waktu lama, pakaian mereka berdua sudah berserakan di lantai. Keduanya sama-sama menikmati perbuatan terlarang ini.
* * *
Rania dan Malik terbaring di tempat tidur dengan posisi Malik memeluk Rania dari belakang. Hanya selimut yang menutupi tubuh polos keduanya.
"Apa yang sudah kamu lakukan Malik? Kenapa jadi begini?"
"Aku akan membuatmu menjadi milikku seutuhnya."
"Bagaimana jika suamiku mengetahui hal ini?"
Malik tertawa, "Maka kesempatanku untuk menjadikanmu istriku semakin besar."
"Itu tidak lucu Malik!" Bagaimana kalau aku hamil?!"
"Hamil ...?" Rania mengulangi kata-katanya sendiri. Dia seperti baru saja disadarkan dari lamunan.
"Oh ... Bodohnya aku!" Rania menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya frustasi. Seolah masalah rumah tangganya belum cukup rumit, dia membuat masalah lainnya.
"Kamu punya suami, apa yang kamu takutkan?"
"Malik!!!" Rania terlihat kesal merasa seakan Malik mau lepas tangan. Tapi dia juga tidak bisa menjelaskan kondisi rumah tangganya pada Malik. Tidak mungkin dia mengatakan jika suaminya mandul dan jika sampai dia hamil maka itu pastilah anak Malik.
Rania segera memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan mengenakannya lagi.
"Kenapa kamu marah? Kamu menyesali perbuatan kita?"
__ADS_1
"Sudahlah ... ini memang bentuk kebodohan ku yang lain. Aku tidak bisa menyalakan mu."
"Dengar ... Aku tidak peduli jika kamu hamil entah anak suamimu atau anakku. Yang jelas aku akan tetap berusaha menjadikan kamu istriku."
"Jangan terlalu berharap!" Rania kesal.
"Simpan nomorku!"
"Buat apa?"
"Jika sewaktu-waktu kamu membutuhkanku."
"Aku tidak akan menghubungi mu! Ini pertama dan terakhir kalinya aku melakukan kesalahan fatal seperti ini. Aku tidak akan membuat peluang untuk melakukan kesalahan seperti ini lagi."
"Lagi pula aku tidak berani. Suamiku sering mengecek ponselku. Dia membaca pesan-pesan yang ku terima dan ku kirim, juga membuka media sosialku. Aku tidak diijinkan menyimpan nomor pria lain selain nomornya dan nomor Ayah," terang Rania sambil tertunduk.
"Jika dia sampai tahu aku menyimpan nomor pria lain, apalagi mantan kekasihku, jadi apa aku nanti?!"
Malik tertawa sinis. "Dia mencintai mu atau mencurigai mu? Sini ... berikan handphone mu!"
"Ini ... Nomorku ku beri nama Maharani. Nanti fotoku akan ku ganti dengan foto Mama, agar suamimu tidak curiga. Mudah kan?" Malik menyerahkan kembali handphone Rania.
"Hubungi aku jika kamu membutuhkan sesuatu. Aku hanya di sini sekitar dua Minggu, setelah itu aku kembali ke Bandung untuk beberapa bulan dan setelah baru menetap di sini. Jadi nanti jangan menganggap ku hilang tanpa kabar jika kamu tidak menemukan aku. Kamu mengerti?"
"Terserah. Aku harus pulang sekarang!"
Rania melangkah pergi, tapi Malik mencegat langkahnya. Dia kemudian mencium bibir Rania lembut lembut, kemudian mengecup keningnya.
"Aku akan menunggumu!"
Rania tidak menjawab. Dia terus saja melangkah keluar dari kamar yang sudah menjadi saksi bisu perbuatan terlarang mereka.
__ADS_1
* * *
Rania sampai di rumahnya. Sebelum turun dari mobilnya dia melihat lehernya dari kaca, memastikan tidak ada tanda merah akibat perbuatan Malik. Kemudian dia persiapkan hatinya karena pasti mertuanya akan membuat masalah. Setelah itu barulah dia turun dari mobil dan memasuki rumah.
Ini pertama kalinya Rania pergi cukup lama tanpa Barra. Biasanya dia hanya pergi keluar seperlunya dan jika membutuhkan waktu lama maka Barra akan menemaninya. Sikap Barra yang posesif kepadanya membuat Rania membatasi pergaulannya sendiri.
Rania tahu pasti kali ini mertuanya mengomelinya habis-habisan.
"Enak ya ... Barra capek-capek kerja kamu nya keluyuran ngga jelas!" Suara mertuanya terdengar menggema di seluruh ruangan tepat saat Rania akan menaiki tangga.
Nah ... benar kan dugaan ku! Mak Lampir ini tidak bisa membiarkan hidupku tenang sebentar saja!
Rania mengacuhkan suara mertuanya, dia tetap melangkah menaiki tangga.
"Apa kamu tidak dengar kata-kata ku tadi?!"
Sebenarnya Rania malas meladeni mertuanya tapi jika dia tidak menjawab mertuanya ini akan semakin menjadi-jadi.
"Aku sudah pamit sama Barra tadi Bu ..." balas Rania tanpa menghentikan langkahnya ataupun menoleh pada mertuanya.
"Heiii ... !!! Diam di tempatmu saat aku bicara padamu perempuan mandul!!!" bentak mertuanya kepada Rania.
Rania menghentikan langkahnya. Dia memejamkan matanya dan menghirup nafas dalam-dalam untuk menahan diri agar tidak terpancing emosi. Karena setiap kata yang keluar dari mulutnya nanti akan diputar balikkan oleh mertuanya di depan Barra.
Rania kemudian teringat hasil tes tadi. Dia memasukkan tangannya ke dalam tas untuk mengambil amplop coklat tadi. Dia akan melemparkannya ke hadapan mertuanya dan menamparnya dengan hasil tes yang menunjukkan bahwa Barra lah yang mandul.
"Dasar perempuan mandul tidak tahu diri!! Kamu sudah berani melawanku sekarang?! Aku tidak sabar melihat Barra menceraikan kami dan mengusir mu dari rumah ini tanpa uang sepeser pun!! Tanpa anakku, kamu hanya akan menjadi gembel!!"
Wajah Rania panas mendengar cacian dari mertuanya yang tidak punya perasaan. Tangannya yang tersembunyi di dalam tas yang tadinya hendak meraih amplop mengepal kuat. Semakin hari kata-kata yang keluar dari mulut mertuanya semakin menyakitkan.
Diurungkannya niat untuk menunjukkan hasil tes itu kepada mertuanya. Akan dia simpan rahasia ini untuk dirinya sendiri. Tidak ada jaminan Barra tidak jadi menceraikan dirinya setelah mengetahui semuanya. Kalaupun Barra jadi menceraikannya, sudah pasti Rania tidak akan diberi apa-apa karena dia tidak memiliki anak darinya.
__ADS_1
Sekarang fokus Rania bukan lagi rumah tangganya, ataupun keinginan untuk memiliki anak. Yang menjadi tujuan utamanya sekarang adalah harta dan uang. Bukan dia perempuan matre, tapi dia butuh modal untuk melanjutkan hidupnya. Setelah lima tahun menikah dan tidak memiliki penghasilan sendiri, dia tidak punya sesuatu yang bisa dia klaim sebagai miliknya sendiri. Selain mobil, semua yang dia miliki sekarang adalah pemberian Barra.
Perempuan lain pasti menganggap apa yang sudah diberikan oleh suaminya adalah miliknya seutuhnya, tapi tidak bagi Rania. Apa yang sudah diberikan Barra padanya bisa saja diminta kembali oleh mertuanya, baik itu uang, perhiasan ataupun benda-benda lainnya. Bagi mertuanya, apapun yang di beli oleh anaknya adalah miliknya juga walaupun itu sudah diberikan kepada Rania.