
Kembali ke ruangan Malik,
Rania dan Malik berpelukan meneruskan tadi yang sempat terganggu di ruangan Santi.
"Kamu hamil gadis nakal ...?" ucap Malik tidak percaya. "Aku senang sekali."
Rania sendiri berkaca-kaca mengetahui dirinya kembali hamil.
"Aku bahagia sekali ... ucap Rania haru. "Terima kasih sudah bersedia menerima ku dan membuat hidupku sempurna." Rania mengecup bibir Malik.
Untuk sesaat mereka saling tatap dalam keharuan dan kebahagiaan.
"Aku tidak akan membiarkan kamu terluka lagi. Kita tidak akan kehilangan bayi kita lagi."
"Maaf aku tidak bisa menjagamu waktu itu." Malik menatap manik Rania dalam.
"Kita pulang sekarang? Mama harus segera diberi tahu."
Rania mengangguk tapi kemudian air matanya menetes.
"Jangan menangis ... ini kan berita gembira." Malik mengusap pipi Rania yang basah. Tapi bukannya reda tangisnya, Rania justru memeluk Malik erat dan semakin terisak.
Malik dengan penuh kasih membelai rambut Rania yang sedang terisak di pelukannya. Diciumnya pucuk kepala Rania.
"Tidak ada yang perlu disesali."
Dia mengerti kenapa Rania bisa seperti ini. Hidup yang dijalani nya selama ini tidaklah mudah. Penderitaan yang dia rasakan dulu bersama mertuanya dan mantan suaminya pasti sangat membekas di hatinya dan menyisakan trauma mendalam. Dan satu hal lagi tentu saja, perubahan hormon.
"Bertahun-tahun mereka mengatai aku perempuan mandul ..." ucap Rania dalam tangisnya.
"Dan ketika aku hamil mereka membuatku kehilangan bayiku. Aku takut kehilangan bayiku lagi Malik ...." Sepertinya Rania benar-benar sedang bersedih. Kenangan saat dia diusir lewat tengah malam yang menyebabkan dia harus kehilangan bayinya kembali muncul berlarian di kepalanya.
"Sssttt ... Tidak akan ada yang mengatakan seperti itu lagi kepadamu. Tidak akan ada lagi yang menyakitimu," ucap Malik berusaha menenangkan Rania.
Rania melepaskan pelukannya kepada Malik setelah mendengar kata-katanya.
"Apa aku lebay?" tanyanya sambil mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya.
Malik menggeleng. "Tidak ada yang lebay untuk hal semacam ini. Mereka memang sudah keterlaluan padamu. Kamu trauma sayang ..."
"Dengarkan aku ... Lakukan apa yang kamu suka untuk menghilangkan rasa sakit hatimu. Kamu boleh membalas perbuatan mereka semau kamu. Aku akan mendukungmu."
Aku bahkan belum melakukan apapun pada mereka atas meninggalnya anakku dulu. Bagiku yang terpenting saat ini adalah kamu bersamaku. Aku tidak peduli dengan kehidupan mereka selama kamu ada di sisiku.
"Kamu mau makan es krim dulu sebelum kita pulang?" tanya Malik yang melihat Ranai masih sedih.
Rania mengangguk. "Boleh," jawabnya. Dia tidak pernah bisa menolak es krim bagaimanapun suasana hatinya.
"Benar kata Mama, kamu memang gadis kecil. Nangis-nangis begitu di kasih es krim langsung diam," goda Malik.
__ADS_1
Rania memasang wajah cemberutnya.
"Aku jadi ingin nangis lagi lho ini."
Mata Rania kembali berkaca-kaca. Bukannya menenangkannya seperti sebelumnya, Malik justru ******* bibir Rania.
"Jangan membuatku gemas karena kita masih di rumah sakit. Kalau di rumah pasti kamu sudah aku ***** habis-habisan." Dia kecup lagi bibir Rania.
"Memangnya kapan kamu tidak gemas melihatku?!" Rania mendengus dan berjalan meninggalkan Malik.
"Tunggu aku gadis nakal ..." teriak Malik mengejar Rania yang sudah berjalan lebih dulu.
Sampai di kediamannya, Malik dan Rania langsung mencari Maharani di taman belakang.
"Mah ... Mamah ... " teriak Malik.
"Apa sih teriak-teriak?" balas Maharani.
"Kami punya berita bagus buat Mama ... "
Maharani mengangkat alisnya. "?"
"Mama akan segera punya cucu," ucap Malik dengan mata berbinar.
"Beneran?"
Maharani segera merentangkan tangannya dan Rania segera menghambur ke pelukannya.
"Selamat ya sayang ... Kamu akan menjadi seorang ibu. Terima kasih sudah memberi kebahagiaan di rumah ini," ucap Maharani tulus. "Rasanya Mama sudah tidak pantas memanggilmu gadis kecil lagi," ucapnya lagi sambil tersenyum.
Rania kembali meneteskan air matanya setelah tadi di rumah sakit Malik susah payah menenangkannya.
Kenangan saat dia muntah di depan mertuanya dulu kembali muncul di kepalanya. Bahkan dia harus memberitahu mereka tentang kehamilannya dengan pertengkaran bukan kebahagiaan. Meskipun itu bukan anak Barra, tapi setidaknya itu menghentikan ocehan mertuanya tentang perempuan mandul yang disematkan padanya.
Bukannya Rania belum move on, tapi luka bertahun-tahun tidak akan hilang dalam beberapa bulan saja.
"Jangan menangis, sudah banyak air mata yang kamu keluarkan dulu. Sekarang saatnya kamu bahagia sayang ... Selama di rumah ini, maka air mata yang keluar dari matamu haruslah air mata bahagia. Kamu mengerti?"
Rania mengangguk. Malik merengkuh Rania yang sejak tadi sensitif ke dalam pelukannya.
"Sebaiknya kita ke kamar," ajak Malik.
"Aku akan mengajaknya istirahat dulu Mah, tadi dia bilang agak pusing."
Maharani mengangguk. "Jaga dia baik-baik."
Malik mengajak Rania ke kamar mereka. Setelah itu dia turun menemui Mama nya.
"Dia tidak apa-apa?" tanya Maharani.
__ADS_1
"Entahlah mah, mungkin dia teringat kenangan buruknya."
"Seburuk itukah mereka memperlakukannya?"
"Sangat buruk," jawab Malik pelan.
"Apa sebaiknya Rania tidak usah bekerja? Aku khawatir dengan kandungannya. Dia pernah keguguran sebelumnya."
Maharani mengambil nafas dalam.
"Mama hanya ingin dia punya kesibukan dan tidak teringat kenangan buruknya. Selain itu Mama ingin melatihnya nya menjadi wanita kuat dan mandiri."
"Tapi aku khawatir Mah."
"Terserah kamu, keputusannya ada di tanganmu. Sebaiknya kamu bicarakan dulu dengannya karena sepertinya dia sedang menikmati kehidupan barunya. Mama sih terserah kalian saja. Yang penting kalian bahagia."
Malik kembali ke kamarnya setelah berbincang dengan Mama nya.
"Kamu tidak tidur?" tanya Malik yang melihat Rania hanya berguling-guling di tempat tidur.
"Aku sudah tidak pusing lagi. Aku hanya pusing jika habis berdiri cukup lama, setelah itu aku tidak apa-apa."
"Ran ...barusan aku bicara dengan Mama. Aku bilang pada Mama kalau sebaik kamu tidak usah bekerja. Aku ingin kamu di rumah saja untuk menjaga kandungan kamu." Malik duduk di tepi tempat tidur.
"Kamu tidak membicarakan ini sebelumnya denganku?!"
"Itu muncul saja di kepalaku. Aku tidak kepikiran itu sebelumnya."
"Tapi aku baru saja mulai bekerja. Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan kondisi ku." Rania tidak terima.
"Kamu pernah keguguran sebelumnya."
"Iya ... tapi itu kan bukan karena kandungan ku tidak sehat. Tapi karena masalah lain. Kamu juga tahu sendiri sebabnya."
"Aku hanya ingin kamu baik-baik saja sayang."
"Tidak mau, pokoknya aku akan tetap bekerja!" Ranai ngambek. Dia membalikkan badannya sehingga sekarang membelakangi Malik.
Malik mendesah menahan kesabaran. "Ya sudah, kamu boleh bekerja, tapi ... dengan pengawasan ketat dariku!"
Barulah Rania membalikkan badannya dan tersenyum. "Terima kasih suamiku." Satu kecupan di bibir Malik.
"Gitu doang terima kasihnya?" Gantian Malik cemberut.
Tanpa aba-aba Rania membuka kancing bajunya hingga kedua gunung kembarnya menyembul. Kemudian menyibakkan selimut yang menutup sebagian tubuhnya dan menarik rok nya ke atas hingga terlihat ce**na d***m nya Malik terus memperhatikan setiap gerakan Rania.
"Apa seperti ini yang kamu inginkan?" tanya Rania menggoda.
Tentu saja Malik tidak bisa menolaknya. Dia langsung menerkam Rania seperti singa kelaparan. Tak perlu waktu lama keduanya sudah sama-sama tidak berbusana.
__ADS_1