
Rania tidak bisa mengalihkan pandangannya dari perempuan muda yang sedang menggendong bayi itu.
"Ran ... jangan memandangi perempuan itu terus!" Ini sudah ketiga kalinya Barra mengingatkan. Tapi Rania tetap saja tidak bisa mengalihkan pandangannya dari perempuan muda itu dan bayinya.
Perempuan itu ragu-ragu untuk masuk. Dia hanya berdiri sambil terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling, entah mencari tempat duduk kosong atau mencari seseorang, karena rumah makan ini ramai sekali.
Untuk kesekian kalinya dipandanginya lagi perempuan itu dari atas ke bawah. Pakaian sederhana jauh dari kata mewah dan sendal jepit yang warnanya sudah mulai pudar. Belum lagi gendongan bayi lusuh yang dipakainya untuk menggendong anaknya. Sungguh pemandangan yang membuat hati Rania bergetar.
Rania seperti melihat dirinya di masa yang akan datang ketika sudah bercerai dari Barra. Mungkin nasibnya akan persis seperti perempuan itu. Menggendong bayi dan tidak punya tujuan mau pergi kemana juga tidak punya uang.
Akhirnya perempuan itu melangkah masuk. Dengan kesulitan dia mengambil piring dan makanan. Kemudian berjalan menuju sudut ruangan yang tampak ada tempat kosong. Mata Rania masih belum bisa terlepas dari perempuan itu.
Perempuan itu duduk sambil tetap menggendong bayinya. Sepertinya dia benar-benar lapar hingga tidak mempedulikan bayinya yang mulai menangis. Setelah perutnya terisi beberapa suapan kemudian dia berdiri untuk menenangkan bayinya. Saat dia kembali duduk dan hendak melanjutkan makannya, bayinya menangis lagi. Begitu terus sampai akhirnya perempuan itu tidak jadi makan.
"Apa aku juga akan seperti itu nanti?"
Rania kasihan sekali melihatnya. Dia berdiri dan menghampiri perempuan itu. Barra tidak bisa mencegahnya.
"Mbak ... Boleh saya bantu gendong bayi nya? Biar mbaknya bisa makan." Rania menawarkan bantuannya.
"Terima kasih Bu. Apa tidak merepotkan Ibu?"
"Ngga apa-apa. Saya sedang hamil jadi sekalian latihan gendong bayi."
Perempuan itu perlahan melepaskan gendongan bayinya tanpa rasa curiga sedikitpun. Dia terlihat sangat kelelahan dan lapar terlihat dari caranya makan tadi. Dengan hati-hati Rania menerima bayi mungil itu dalam gendongannya.
"Mbak makan saja dengan tenang, aku akan menggendong bayi mbak di sini," ucap Rania kepada perempuan itu. Kemudian dia mulai menimang bayi itu sambil menatapnya.
"Oh ... Sayang ... Jangan nangis ya, biar ibu kamu makan dulu," ucap Rania kepada bayi itu.
Barra yang memandang Rania dari tempatnya duduk tersenyum melihatnya.
Untuk sesaat bayi itu tenang, tapi baru saja suapan kedua masuk ke mulut perempuan itu, bayinya kembali menangis.
"Apa dia ingin ASI?" tanya Rania.
__ADS_1
Perempuan itu menghentikan makannya dan kembali meraih bayinya.
"Asi saya tidak keluar Bu, mungkin karena kecapekan dan saya juga belum makan dari kemarin sore."
Apa?? Belum makan dari kemarin sore??
"Lalu Mbak ngga bawa botol susu?"
"Ada, tapi dibawa suami saya," katanya sambil terus berdiri dan menimang bayinya.
Oh ... Jadi dia punya suami. Entah kenapa Rania lega mendengarnya.
"Terus suami Mbak dimana sekarang?"
"Sepeda motor kami macet. Suami saya masih di bengkel. Tadi saya jalan kaki sampai kesini," cerita perempuan itu sambil berdiri dan terus menimang bayinya.
Pada saat yang bersamaan seorang laki-laki muncul diantara mereka.
"Dik maafkan mas, kamu sudah makan?" tanya laki-laki itu tergesa-gesa. Dia bahkan mengabaikan Rania yang juga berdiri diantara mereka.
"Terima kasih Bu, sudah membantu istri saya. Maaf jadi merepotkan Ibu," ucapnya sopan.
"Tidak apa-apa. Saya senang bisa menggendong bayi mungil kalian. Ya sudah, sekarang sudah ada suaminya, saya permisi mau kembali ke meja saya," balas Rania kemudian dia berjalan kembali ke mejanya.
"Sekali lagi terima kasih Bu," ucap sang suami bersungguh-sungguh.
"Kamu sudah pintar lho menggendong bayi. Ngga ada kikuknya sama sekali," sambut Barra ketika Rania kembali ke mejanya.
Rania kembali duduk di kursinya tadi.
"Aku kasihan melihatnya tadi. Sendirian menggendong bayi padahal dia terlihat sangat lapar." Rania kembali menoleh ke tempat perempuan tadi duduk.
Sudah tidak terdengar lagi suara tangisan bayinya. Tapi pemandangan lain kembali mencuri perhatian Rania. Pasangan suami istri itu berdiri berhadapan. Sang istri berdiri sambil terus mengayun-ayunkan bayinya pelan, sementara sang suami dengan telaten menyuapi istrinya.
Sungguh membuat Rania tersentuh. Gambaran masa depannya kembali muncul di pikirannya. Dia tidak akan pernah merasakan hal itu. Tidak akan ada perlakuan manis dari suami kepadanya nanti. Tidak akan ada yang menyuapinya jika nanti anaknya rewel hingga dia tidak tidak sempat makan. Dia akan merasakan dan menghadapi semuanya sendirian.
__ADS_1
Hati Ranai menjadi bimbang. Masa depannya dan anaknya tergantung pada keputusan yang diambilnya sekarang. Apakah dia akan menjadi seperti perempuan yang pertama kali dilihatnya tadi, sendirian bersama bayinya dan kebingungan. Atau seperti perempuan itu setelah suaminya datang, mendapatkan perhatian dan ketenangan karena ada yang menjaganya.
Tanpa terasa air mata Rania menetes.
Oh ... Aku benci perubahan hormon ini! Mood ku bisa jungkir balik sebentar-sebentar jadi menangis tidak jelas seperti ini, Suara hatinya kembali menyalahkan perubahan hormon atas air matanya.
"Ran ... Kamu kenapa?" tanya Barra.
"Kita pulang sekarang," balas Rania sambil menyeka air matanya.
"Habiskan dulu makananmu, baru kita pulang."
"Aku sudah tidak berselera."
"Baiklah, kita pulang sekarang." Barra tidak bertanya lebih lanjut lagi kenapa dia menangis.
Selama perjalanan pulang Rania hanya melamun. Barra sungguh merindukan Rania yang dulu. Walaupun dia bukanlah tipe perempuan yang cerewet jika sudah mulai bicara maka tidak akan ada habisnya, tapi dia juga bukan perempuan pendiam seperti sekarang.
Pandangan Rania menerawang jauh melewati kaca mobil yang ditumpanginya.
Apakah keputusanku bercerai dari Barra adalah hal yang tepat? Atau sebaiknya aku beri dia kesempatan untuk memperbaiki diri? Semua orang pernah melakukan kesalahan bukan? Bahkan aku bisa hamil juga karena sebuah kesalahan.
"Barra ... berhenti sebentar!" Tiba-tiba Rania minta berhenti.
Barra segera menepikan mobilnya dan berhenti.
"Ada apa? Kamu pusing? Ingin muntah?" tanyanya panik.
"Aku ingin membeli rujak es krim itu." Rania menunjuk ke penjual rujak es krim yang sudah terlewat cukup jauh di belakang. Dia segera membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil. Dengan wajah sumringah dia berlari menghampiri penjual rujak es krim tersebut.
Barra yang panik karena melihat Rania berlari ikut menyusulnya juga sambil berlari. Dia ngos-ngosan sampai di tempat penjual rujak sementara Rania terlihat biasa saja. Masih dengan nafas tersengal dan wajah terbengong-bengong dia memandangi Rania yang sedang asik memakan rujak es krim di pinggir jalan.
Perubahan mood wanita hamil ini memang luar biasa, batin Barra sambil mengatur nafasnya.
"Lain kali jangan berlari seperti itu. Kasihan bayi kamu!" omel Barra. Rania hanya nyengir mendengarnya.
__ADS_1