
Sudah hampir satu bulan Rania keguguran. Malik tidak bisa melarangnya untuk beraktivitas normal karena dia sudah benar-benar pulih. Saat dia tidak ada jadwal praktek pasti dia mengunjungi Rania, sekedar berkunjung, mengajaknya jalan-jalan atau makan di luar.
Rania juga sudah mulai mencari pekerjaan. Sebenarnya, jika dia mau dia bisa melamar ke tempat kerjanya dulu karena dia masih punya beberapa kenalan di sana. Tapi itu akan membuatnya harus bertemu Barra karena Barra masih bekerja di perusahaan itu.
Rania berjalan kaki memasuki halaman rumahnya. Dia menemukan Malik sudah duduk di kursi teras.
"Dari mana?" Malik menatap heran Rania yang tampak kusut dan bajunya basah oleh keringat.
"Mencari pekerjaan," jawab Rania.
"Jalan kaki?"
Rania menggeleng. "Naik angkot."
Malik mengangkat alisnya "...?"
"Aku harus menghemat pengeluaran ku sampai mendapat pekerjaan."
"Dapat?" Rania kembali menggeleng.
"Ran ... aku bisa memberikan kamu pekerjaan jika kamu mau, aku juga bisa membelikan kamu mobil jadi kamu tidak perlu repot-repot naik angkutan umum kemana-mana."
"Tidak perlu. Apa kamu juga akan membelikan aku pesawat pribadi jika tahu aku naik pesawat komersial?"
"Nggak gitu juga sih ... Tapi lihat itu. Bajumu sampai basah kena keringat. Dan juga .... " Malik menutup hidungnya " ... bau."
Rania mengangkat bahunya masa bodoh.
"Dasar ngeyel!" mencubit pipi Rania. "Ayo kita masuk. Aku membawa makan siang." Malik mengangkat makanan yang dia bawa.
"Bukankah kamu punya kunci cadangan? Kenapa menunggu di luar?" tanya Rania sambil membuka kunci pintu.
"Aku malas sendirian di dalam."
Di dalam rumah...
Rania langsung mandi karena Barra memintanya. Rania habis menaiki kendaraan umum, jadi dia takut ada virus atau kuman yang menempel di tubuh Rania dan menyebabkan Rania tertular penyakit. Sementara itu Malik menyiapkan makanan yang tadi dia bawa di meja makan.
Malik sudah mengisi rumah itu penuh dengan perabotan dan barang-barang elektronik lainnya meskipun Rania tidak memintanya.
Barra menyalakan televisi di ruang tengah sambil menunggu Rania selesai. Digantinya terus saluran tv karena tidak ada acara yang disukainya.
"Tunggu ...! Jangan diganti," cegah Rania ketika dia tidak sengaja melihat acara gosip.
"Kita makan di sini saja."
Malik diam saja melihat Rania sudah membawa semua makanan yang tadi dia siapkan ke meja di depannya.
"Terserah kamu yang penting makan sama kamu ..." goda Malik.
Lalu mereka berdua makan di depan televisi sambil menyaksikan acara gosip.
"Sejak kapan kamu suka melihat gosip?"
"Sejak kamu melarang aku melakukan kegiatan apapun," jawab Rania santai sambil terus melihat ke arah televisi.
__ADS_1
"Dulu aku biasanya nonton drama Korea, tapi saluran tv nasional tidak ada yang menayangkan drama Korea jadi ya ..."
Rania terdiam sebelum menyelesaikan kalimatnya. Matanya terpaku ke layar tv dan membisu.
"Ya ... gimana?" tanya Malik ingin mendengar cerita Rania lebih lanjut, tapi Rania tidak menjawab.
"Ran ..." Rania masih membisu.
Malik ikut menatap ke layar tv dan menyaksikan apa yang sedang Rania lihat hingga dia sampai mematung seperti itu.
"Berita tentang seorang artis sosial media bernama Hanna yang sekaligus anak orang berpengaruh menikah dengan pengusaha. Acaranya di gelar secara mewah di sebuah hotel berbintang."
"Ran ... Kamu tidak apa-apa? Kamu mengenalnya?" Malik masih belum mengerti apa yang terjadi.
Rania tetap diam. Dadanya bergemuruh menyaksikan berita itu. Marah, sakit hati, dendam menjadi satu.
"Jadi dia seorang artis sosial media? Dan orang tuanya adalah orang yang berpengaruh?! Aku bahkan tidak sempat mencari tahu siapa dia." Ranai bergumam sendiri.
"Kamu kenal mereka?" tanya Malik lagi.
"Itu suamiku dan dia wanita itu ... wanita yang mengaku sedang mengandung anaknya!"
"Kamu masih menganggap dia suamimu?" tanya Malik sedikit kecewa.
"Secara hukum, dia masih suamiku! Selebihnya dia bukan siapa-siapa bagiku."
"Ran ... Tatap aku ... " Rania menoleh.
"Kenapa kamu diam saja dengan apa yang sudah kamu alami?"
Malik berpikir mungkin inilah waktu yang tepat untuk membicarakan keinginannya untuk balas dendam kepada mereka. Keinginan itu dia tahan selama ini karena ingin menjaga perasaan Rania yang mungkin belum siap untuk menghadapi mereka atau mungkin juga dia masih mencintai suaminya itu.
"Aku ingin sekali membalas mereka tapi itu harus dengan persetujuan mu. Gara-gara mereka, kita kehilangan calon anak kita. Apa kamu mengijinkan aku melakukannya?"
Rania tetap diam membisu.
"Kenapa kamu diam? Apa kamu masih mencintainya?"
Rania tetap diam.
"Aku juga tidak terima Rania, Aku kehilangan anakku!"
"Akan aku pikirkan dulu."
Aku akan melakukannya sendiri Malik. Mungkin aku membutuhkan bantuan dan dukungan mu. Tapi selebihnya, aku sendiri yang akan membalas mereka.
Rania segera mematikan televisi. "Sudahlah ... kita makan saja."
* * *
"Halo..."
"Ada apa Ran ...?"
"Bolehkah besok pagi aku meminjam mobilmu? yang paling mahal kalau boleh?"
__ADS_1
"Hmm ... Memangnya kamu mau kemana? Pakai milih yang paling mahal segala?"
"Kenapa memangnya?"
"Tidak apa-apa, hanya tidak seperti karaktermu," Malik tertawa di ujung telepon.
"Besok pagi tolong di antar ke rumah ya."
Hari berikutnya pagi-pagi sekali Malik sudah mengantarkan mobil yang Rania maksud. Dia langsung masuk ke dalam rumah begitu saja karena tahu Rania ada di dalam.
"Ran ..." teriak Malik mencari Rania.
"Iya .... Aku di dalam kamar!" balas Rania dari dalam kamarnya. "Aku sudah memasak sarapan, kamu makan saja dulu, aku belum selesai," lanjutnya masih berteriak dari dalam kamar.
"Kamu sudah makan?" tanya Malik pelan karena dia sudah berdiri di depan pintu kamar Rania.
"Belum ... Kamu duluan saja."
"Nggak ... Aku tunggu kamu. Kamu ngapain sih?!"
Tak berapa lama pintu kamar terbuka. Rania keluar kamar dan dia tampak cantik sekali. Dia memoleskan sedikit make up di wajahnya tidak seperti biasanya. Dan memakai gaun warna pastel yang simpel tapi terlihat elegan sekali dikenakan olehnya. Rambutnya yang panjang dan lurus dia biarkan tergerai dengan sedikit diberi sentuhan curly di ujungnya. Dengan heels yang senada dengan gaunnya, Rania terlihat anggun seperti wanita-wanita berkelas pada umumnya.
Malik terpana. Dia reflek berjalan mendekati Rania dan langsung ingin mencium bibirnya.
"Kamu tidak boleh mencium ku seenaknya Malik," ucap Rania bahkan sebelum Malik sempat mendaratkan bibirnya.
"Sedikit saja tidak boleh?!"
"Tidak! Aku tidak mau make up ku rusak," jawab Rania acuh.
Malik justru tertawa. "Kamu sudah mulai galak lagi!" mendaratkan ciuman di pipinya.
"Katakan kamu mau pergi kemana dandan secantik ini?"
"Melakukan sesuatu yang berguna," jawab Rania santai.
"Boleh aku ikut?"
"Tidak."
"Kamu akan bertemu seseorang?"
"Iya."
"Laki-laki?"
"Mungkin ... Apa kamu cemburu?"
"Iya," jawab Malik tegas. "Tidak mungkin kan kamu berpakaian seperti itu untuk melamar kerja?!"
Rania tertawa. Sudah lama sekali Rania tidak tertawa seperti ini.
Malik merasa ada yang janggal dengan Rania, dandan secantik ini dan meminjam mobilnya, itupun memilih yang paling mahal karena Malik memiliki beberapa mobil.
"Sudah ya ... Aku akan pergi. Kamu sarapan sendiri."
__ADS_1
"...?"