Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Kebenaran 3


__ADS_3

Hanna membelalakkan matanya tidak percaya. Dia tidak bisa menyangkal lagi jika Alicia bukanlah anak Barra. Apapun alasan yang dia berikan tidak akan bisa melawan fakta jika Barra mandul.


"Jadi ... sekarang apa kamu masih mau mengatakan jika Alicia adalah anakku?!" sama seperti sebelumnya, nada bicara Barra terdengar pelan tapi sangat menakutkan.


Hanna mendadak menjadi seperti orang bisu. Tidak ada satu kata pun yang bisa keluar dari mulutnya.


"Jawab aku!!! Apakah Alicia darah dagingku?"


Hanna masih diam. Dia tidak berani menatap mata Barra.


"Tatap mataku dan jawab pertanyaan ku!!!" teriak Barra tepat di depan wajah Hanna.


"Aku ... aku ... Apa benar kamu mandul?" Hanna bingung dengan apa yang akan dia katakan.


"Ya ... Aku katakan dengan jelas, aku mandul!!! Jadi sudah pasti Alicia bukanlah anakku!!!" suara Barra kembali datar dan menakutkan seperti sebelumnya. Tangannya masih memegang leher Hanna dan menempelkan tubuh Hanna ke tembok.


"Jadi selama ini kamu juga membohongiku? Kamu hanya memanfaatkan aku untuk menjadi ayah bagi anakmu?!!"


"Aku ... aku ... tidak bermaksud seperti itu ..." jawab Hanna.


"Lalu apa maksudmu? Sejak awal kamu tahu anak itu bukan anakku tapi kami tetap meminta pertanggungjawaban dariku!!! Jadi bisa kamu jelaskan apa maksudmu?!"


"Maafkan aku Barra ... " Hanna mulai ketakutan. Dia sudah tidak bisa membela dirinya sekarang.


Barra sangat marah. Dia membenturkan kepala Hanna ke tembok. Hanna hanya bisa menjerit.


"Jangan menyalahkan aku sepenuhnya Barra. Kamu juga menikahi aku karena membutuhkan uang untuk melunasi hutang-hutang ibumu. Kamu juga hanya memanfaatkan aku," balas Hanna terbata.


Tidak terima dengan kata-kata Hanna, Barra memukul wajah Hanna hingga darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


"Barra jangan lakukan ini ... kita bisa bicarakan ini baik-baik," Hanna ketakutan.


"Jika aku tidak mengetahui kondisiku, apa selamanya kamu tetap akan merahasiakan ini dariku?"


"Aku hanya ingin anakku punya ayah Barra, itu saja ... Aku tidak tahu jika ternyata kamu mandul."

__ADS_1


"Katakan siapa laki-laki yang telah membuatku harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan?!!"


Hanna diam, dia semakin ketakutan. Jelas dia tidak tahu siapa ayah dari Alicia.


"Jawab aku!!!" bentak Barra lagi.


"Aku tidak tahu Barra ... Aku tidak tahu siapa yang menghamili aku ..."


"Hah?!! Kamu tidak tahan siapa yang menghamili kamu? Memangnya berapa laki-laki yang meniduri kamu? Kamu ini pelacur atau apa?!!"


Rania meronta mendengar kata-kata Barra. Ingin sekali dia menampar mulut Barra. Tapi dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena Barra masih memegang lehernya.


"Kamu tidak berhak mengatai aku seperti itu Barra. Kamu tidak tahu apa-apa."


Barra melemparkan tubuh Hanna hingga dia tersungkur mencium lantai. Barra mengambil vas bunga di nakas dan membantingnya tepat di samping tubuh Hanna hingga pecah. Hanna hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia berteriak sekeras-kerasnya berharap ada yang mendengarkannya.


"Hentikan teriakan mu karena tidak akan ada yang mendengar!" Hanna teringat jika dia menyuruh mertuanya belanja sayuran bersama Imah yang membawa serta Alicia. Barra berjalan mendekati Hanna yang sedang meringkuk di lantai.


"Lalu aku harus menyebutmu apa jika bukan pelacur?" lanjutnya. Di tariknya rambut Hanna persis seperti yang dia lakukan kepada Rania sebelumnya.


"Berarti bayi yang dikandung Rania waktu itu juga bukan anakmu?!"


"Seandainya dulu kamu tidak datang dan meminta pertanggungjawaban dariku, mungkin saat ini hidupku baik-baik saja bersama Rania. Kami baik-baik saja sampai kamu datang dan mengatakan kamu hamil. Kamu sudah menghancurkan hidupku!!!"


Kemudian Barra menyeret tubuh Hanna menggunakan rambutnya. Dia benturkan kening Hanna ke sudut sofa sama seperti yang dia lakukan kepada Rania.


"Kalian berdua sama-sama membohongi ku, jadi kalian akan aku perlakuan sama!" Barra tertawa.


"Ingat Barra, kamu yang memilihku karena ingin menyelamatkan ibumu. Jangan menyalahkan aku saja, ini salah ibumu juga." Hanna memberanikan diri untuk membela dirinya.


Kembali satu pukulan mendarat di pipi Hanna. Wajah cantik Hanna sudah tidak terlihat tertutup oleh memar dan tanda merah bekas tamparan dan pukulan dari Barra. Belum lagi darah yang mengalir di dahi dan sudut bibirnya.


"Barra ... Kumohon ... hentikan ini. Aku minta maaf ... Aku tahu aku salah." Hanna berusaha bangun dan bersimpuh di kaki Barra. Tapi Barra justru menendang perut nya. Tubuh Hanna terlempar beberapa langkah dari depan Barra. Dia hanya bisa merintih sambil memegangi perutnya.


"Apa permintaan maafmu itu akan membuat semuanya kembali seperti semula? Apa aku akan kembali bahagia bersama Rania? Atau aku akan tetap bangga memiliki Alicia sebagai anakku?!"

__ADS_1


"Andai saja Hanna ... andai saja kamu tidak datang dan mengacaukan semuanya!!!" Barra berteriak-teriak meluapkan emosinya. Dia seperti orang yang kehilangan akalnya dan membanting semua yang sekelilingnya.


Hanna berusaha merangkak dan berlindung di balik sofa sementara Barra terus membanting barang-barang yang ada di dalam kamar. Barra menarik rambut Hanna lagi begitu menyadari Hanna sedang bersembunyi.


"Kamu tidak bisa bersembunyi dariku!!!"


Hanna hanya bisa meringis menahan sakit.


"Barra ... Maafkan aku ... Kumohon maafkan aku demi Alicia." Suara Hanna terdengar putus asa. "Bukankah kamu sangat menyayangi Alicia? Dia tetaplah anakmu walaupun bukan anak biologis mu. Aku akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahanku padamu."


"Setelah kejadian ini apa kamu pikir aku masih menyayangi Alicia seperti sebelumnya?"


Sementara itu di bawah Widia dan Imah baru saja pulang berbelanja sayuran. Mereka langsung menuju dapur untuk meletakkan barang belanjaan.


"Sepertinya Hanna dan Barra sudah pulang, Mobil mereka sudah ada di garasi." ucap Widia kepada Imah. "Aku akan bertanya kepada Barra ingin dimasakkan apa malam ini. Kamu tunggu di sini ya Imah!"


"Baik Bu," jawab Imah pendek.


Widia berjalan menaiki tangga menuju kamar Barra dan Hanna. Sampai di depan pintu dia mendengar suara Hanna menangis.


Widia mengetuk pintu. "Barra ... Apa kamu di dalam?" Tidak ada sahutan dari dalam padahal Widia jelas mendengar Hanna menangis.


Diketuk lagi pintu kamar mereka. "Hanna apa kamu baik-baik saja?" tanya Widia lagi. Widia yang penasaran langsung membuka pintu kamar tanpa menunggu jawaban.


Alangkah terkejutnya Widia melihat kondisi kamar Barra yang sangat berantakan. Barang-barang berserakan dan banyak pecahan kaca di lantai. Dia melihat Barra tengah berjongkok dan menjambak rambut Hanna.


"Barra!!! Apa yang kamu lakukan?!! Lepaskan dia!!!" teriak Widia. Dia masih belum melihat wajah Hanna karena tertutupi sebagian rambut.


Barra menoleh melihat kedatangan ibunya dan melepaskan Hanna.


"Ibu?" Barra terkejut. Dia sibuk menghajar Hanna hingga tidak sadar ibunya sejak tadi memanggilnya.


Widia berjalan mendekati Hanna yang tergolek lemah. Dia menyibakkan rambut Hanna dan melihat wajahnya babak belur penuh luka akibat ulah Barra. Dan untuk pertama kalinya, Hanna merasa senang sekali melihat Widia.


Widia menangis melihat kondisi Hanna. Dia menoleh kepada Barra yang sepertinya baru tersadar dari mimpi.

__ADS_1


"Apa yang sudah kamu lakukan Barra? Kenapa Barra ku jadi seperti ini?" Widia memegangi kepalanya dan kemudian pingsan di samping Hanna.


__ADS_2