
Rania berdiri di taman belakang sebuah rumah, yang kalau dia bilang lebih mirip istana daripada sebuah rumah. Ini bukan pertama kalinya, Rania pernah kesini sebelumnya. Tapi itu dulu, waktu dia masih menjadi kekasih Malik, dia masih awal duduk di bangku kuliah sedangkan Malik sudah hampir lulus.
Rania berjalan mendekati seorang wanita yang tengah duduk di kursi roda sambil menyirami tanaman bunga. Di sampingnya ada pelayan yang setia menemaninya yang tak sengaja menoleh dan melihat Rania datang. Pelayan itu terdiam melihat Rania, sepertinya dia sedang mengingat-ingat sesuatu. Rania mengangguk dan tersenyum kepada pelayan itu yang juga dibalas anggukan oleh sang pelayan.
Sementara wanita yang duduk di kursi roda belum menyadari kehadiran Rania. Didekatinya wanita yang sedang membelakanginya itu.
"Tante ... " panggil Rania. Wanita itu menoleh.
Cukup lama dia memandangi Rania, hingga akhirnya tersenyum dan merentangkan tangannya.
"Rania ..." balas wanita itu. Rania berlari ke pelukan wanita itu. "Gadis kecilku," ucap wanita itu pada Rania.
"Aku sudah besar Tante," jawab Rania berkaca-kaca. Entah kenapa dia terharu mendengar wanita ini memanggilnya "gadis kecil". Sudah lama sekali dia tidak mendengar panggilan itu.
"Tante apa kabar?" Rania melepaskan pelukannya.
"Seperti yang kamu lihat, Tante baik-baik saja."
"Tante masih kelihatan cantik," puji Rania.
"Dan kamu terlihat semakin cantik," balas wanita itu.
"Dimana Malik?"
"Tidak tahu Tante, dia bilang ingin mengambil sesuatu di kamar."
"Ayo kita cari tempat yang enak untuk ngobrol," ajak wanita itu.
"Bi ... " Wanita itu bermaksud meminta pelayannya untuk mendorong kursi rodanya.
"Biar aku saja." Rania mengambil alih. Kemudian dia mendorong kursi roda itu dan menyusuri taman. Rania begitu terkesima dengan puluhan bunga anggrek yang menghiasi taman tersebut, belum lagi mawar dan tanaman bunga yang lain yang juga sedang bermekaran.
"Tante masih suka menanam bunga?" Tanya Rania sambil terus mendorong kursi rodanya.
"Memangnya Tante mau apa lagi. Hanya itu yang bisa Tante lakukan. Selain itu, bunga-bunga ini juga membuat Tante merasa seperti sedang refreshing, kalau anak-anak muda sih bilangnya healing gitu," ucap wanita itu sambil tertawa.
__ADS_1
Rania pun ikut tertawa. " Tante bisa aja."
"Ayo kita kesana," wanita itu menunjuk kursi di sebelah kolam ikan buatan. Rania berhenti tepat di depan kursi yang dimaksud wanita itu.
"Duduklah ..." Wanita itu menepuk kursi kosong di depan kursi rodanya. Rania mengikuti perintahnya.
"Bagaimana kabarmu gadis kecil?" tanya wanita itu.
Sekali lagi Rania merasa terharu mendengar panggilan darinya. Dipandanginya lagi wanita di depannya ini. Wanita yang masih terlihat cantik walaupun umurnya sudah tidak muda lagi. Wanita yang dulu selalu menyambutnya dengan gembira saat dia datang ke rumahnya padahal dia tahu wanita yang dia sebut gadis kecil ini berbeda kalangan dengannya. Dan sampai sekarangpun tidak berubah meski sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Dialah Maharani Hammani, Mama Malik.
"Tante ... Aku sudah bukan gadis kecil lagi," rengek Rania.
Wanita itu tersenyum. "Benar ... kamu sudah dewasa, dan lihatlah ... kamu sangat cantik Rania."
"Tante sudah dong memujiku." Rania semakin salah tingkah.
"Umur berapa ya dulu kamu pacaran sama Malik?" Maharani mencoba mengingat-ingat.
"Tante ... jangan bahas itu, aku malu," rengek Rania lagi. Wanita ini sangat berbeda dengan Mertuanya. Dia memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Karena itu Rania bisa menjadi dirinya sendiri saat bersamanya.
"Benar Tante, kami tidak sengaja bertemu waktu itu ..." Rania tidak meneruskan kalimatnya. Dia kembali teringat hari itu. Hari yang telah merubah seluruh hidupnya.
"Tidak apa-apa, Malik sudah cerita semuanya." Maharani mengalihkan pandangannya dari Rania.
"Tante ingin minta maaf sama kamu. Malik rela kehilangan cintanya demi mewujudkan mimpinya menjadi dokter ortopedi terbaik. Obsesinya untuk menyembuhkan Tante membuatnya rela melepaskan kamu. Maafkan Tante ya ..."
"Itu bukan salah Tante. Aku saja yang belum berpikir sejauh itu dengan Malik. Aku masih belum dewasa untuk mengerti bahwa Malik serius denganku Tante. Ketika dia memintaku untuk menunggunya menyelesaikan kuliahnya dulu, aku pikir aku hanya akan buang-buang waktuku saja. Aku pikir Malik pasti akan segera mendapatkan wanita lain di sana. Aku tidak tahu alasan dibaliknya kenapa dia sangat mementingkan kuliahnya itu. Aku yang harusnya minta maaf sama Tante," balas Rania. Matanya kembali berkaca-kaca. Wanita ini sungguh berhati malaikat meskipun fisiknya tidak sempurna.
"Itu sudah berlalu gadis kecil ... Melihat kamu kembali sudah membuat hati Tante sangat senang." Wanita itu meraih tangan Rania.
"Malik bilang dia ingin menikah denganmu," ucapnya kemudian.
Rania terdiam dan menundukkan kepalanya. "Apa Tante merestui hubungan kami?" tanyanya ragu.
"Kenapa tidak?"
__ADS_1
"Tapi ... Aku ... Aku sudah tidak seperti dulu, aku sudah pernah menikah. Aku janda Tante."
Wanita itu tersenyum. "Lalu apa bedanya?" tanyanya. Wanita ini terbiasa tinggal di luar negeri. Cara berpikirnya sangat terbuka jauh berbeda dengan mertuanya dulu.
"Cinta tidak memandang status. Cinta ya cinta, tidak bisa dijelaskan. Mau cantik, jelek, miskin, kaya, dokter, guru, apapun itu, cinta tetaplah cinta. Dan Malik mencintaimu. Tante yakin dia tidak salah pilih."
Rania memeluk wanita itu. "Terima kasih Tante," Rania meneteskan air matanya.
Malik yang sejak tadi mengawasi kedua wanita yang sangat dicintainya dari kejauhan itupun tidak kuasa menahan air matanya.
Dia melangkahkan kakinya mendekati kedua wanita itu.
"Ma ... Apa gadis nakal ini membuat mama menangis?" Malik memecah keharuan mereka berdua.
"Mana mungkin gadis kecil ini membuat ku menangis," balas Maharani sambil menyeka air matanya.
Tiba-tiba saja Malik berlutut di depan Rania yang masih duduk di kursi taman. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, sebuah kotak perhiasan kecil. Di bukanya kota itu dan terlihatlah cincin mungil.
"Rania Fazira, maukah kamu menikah denganku?" ucap Malik.
Rania benar-benar terharu. Malik melamarnya di depan Mama nya. Rania menoleh menatap Maharani dan wanita itu mengangguk.
Rania kembali menatap Malik.
"Ya, aku mau," jawab Rania sambil berlinang air mata. Malik tersenyum kemudian menyematkan cincin itu di jari manis Rania.
"Ayo gadis nakal, sekarang kamu ikut dengan ku!" Malik meraih tangan Rania dan mengajaknya pergi.
"Malik kamu mau bawa dia kemana?" tanya Maharani sedikit berteriak karena Malik dan Rania sudah agak menjauh.
"Sekarang dia milikku ma, nanti Mama bisa memilikinya lagi," balas Malik sambil terus berjalan. Rania sudah seperti boneka lucu yang jadi rebutan ibu dan anak ini.
"Kita mau kemana?"
"Ikut saja," jawab Malik singkat.
__ADS_1